Spring of the Blade, Tentang Dendam Sang Putri

  
maria-g-soemitro.com

Spring of the Blade, Tentang Dendam sang Putri 

Sebagai penggemar drama China bergenre historical, saya suka penasaran dengan hiasan di dahi pemeran perempuan.  Apa sih itu? Berbentuk bunga, bintang atau symbol tertentu, hiasan tersebut membuat pemakainya bertambah cantik.

Ternyata namanya adalah huadian (花钿), suatu hiasan atau pola riasan wajah tradisional yang ditempelkan atau dilukis di dahi wanita Tiongkok kuno, biasanya terletak di antara kedua alis, sekaligus penanda status sosial pemakainya.

Rakyat jelata atau pelayan rumah tangga biasanya menggunakan bahan-bahan yang murah dan sederhana, seperti kertas warna yang digunting, cat merah biasa, kelopak bunga asli, atau sisik ikan.

Sedangkan perempuan bangsawan lebih jor-joran, maklum mereka punya duit. Bahan huadian yang mereka pakai mewah dan mahal, seperti lempengan emas tipis, perak, serpihan giok, bulu kingfisher (raja udang), hingga mutiara asli.

Sebagai contoh huadian emas terbuat dari emas yang ditempa hingga menjadi lembaran yang sangat tipis, lalu digunting membentuk kelopak bunga (seperti bunga plum), burung phoenix, atau kupu-kupu.  Untuk merekatkan ke kulit, mereka menggunakan lem khusus yang disebut He Jiao (lem dari kandung kemih ikan).

Wah kayanya butuh artikel khusus untuk mengupas huadian ini, ya? Sementara sekarang ini cukup menuntaskan rasa penasaran pada riasan di dahi Zhou Ye, pemeran Xie Qing Yuan dalam drama “Spring of the Blade”.

Berpasangan dengan Xu Kai, aktor top-tier atau kelas A, drama yang diadaptasi dari novel "Yi Ou Chun" (一瓯春) by You Si Jie (尤四姐) ini sempat hanya mendapat rating 7,9/10 saja dari Mydramalist dan 7,0 dari IMDb di awal penayangannya. Jadi penasaran, apa ya penyebabnya?

Baca juga drama Xu Kai lainnya:

Story of Yanxi Palace, Tentang Balas Dendam dan Intrik Kerajaan

Wonderland of Love, Kisah Sepasang Merpati di Tengah Kobaran Perang

She and Her Perfect Husband, Terbongkarnya Kawin Kontrak Sang Pengacara

maria-g-soemitro.com

Xu Kai sebagai  Shen Run | Yan Rui

Tak peduli apa yang terjadi

Harus tetap hidup, 

Dengan hidup, baru bisa punya harapan

Demikian kata Yan Rui untuk menguatkan Xie Qing Yuan, perempuan muda yang  9 tahun silam pernah ditemui dan diselamatkannya.

Kini keduanya bertemu kembali di Kota Hengtang. Yan Rui yang menekuni karir militer telah memegang jabatan tinggi, yaitu sebagai Penasehat Agung Kementerian Keuangan. Dia mendapat tugas untuk 3 hal: Menanggulangi bencana, memberantas korupsi dan menumpas bandit

Pertemuan kembali dengan Xie Qing Yuan, kemudian menjalin kerja sama dengannya, membuat keduanya saling mencintai.

maria-g-soemitro.com

Zhou Ye sebagai  Xie Qing Yuan | Chen Yun Ya

Aku hidup

Hanya untuk membersihkan nama baik ibuku

Berkat tekad tersebut Xie Qing Yuan bisa kuat dan tegar walau hidup terlunta-lunta jauh dari keluarga ayahnya, dan akhirnya masuk kembali ke lingkaran keluarga Xie yang red flag.

Kemalangan Xie Qing Yuan bermula dari kisah ibunya, seorang pemain panggung opera yang menikah dengan Xie Yu, pejabat yang kaya raya, sebagai selir ke-4.

Latar belakang sang ibu menjadi santapan empuk istri-istri Xie Yu lainnya. Dia difitnah menggunakan racun euphorbia untuk membunuh istri ke-5 Xie Yu, dan diusir dari rumah keluarga Xie.

Xie Qing Yuan yakin ibunya tak bersalah, karena itu dia menyimpan dendam dan bertekad membongkar misteri kejahatan tersebut.

maria-g-soemitro.com

Synopsis Spring of the Blade Chinese Drama

Mendadak punya keluarga besar, itulah yang dialami Xie Qing Yuan. Semula sebatang kara, setelah masuk kembali ke keluarga Xie, sekarang dia punya nenek, punya banyak ibu dan punya banyak saudara sebapak.

Tragedy yang dialami Xie Qing Yuan dan ibunya memang mengenaskan. 19 tahun silam, sebagai selir ke-4 keluarga Xie sang ibu difitnah hingga terpaksa keluar rumah dan melahirkan Xie Qing Yuan seorang diri.

Hidup berdua dengan ibunya sangat menyenangkan, malah di usianya yang ke-sepuluh, dia punya teman bernama Shen Run. Sang teman inilah yang membantu Xie Qing Yuan selamat dari kebakaran yang menewaskan sang ibu

Takdir membawanya kembali masuk ke keluarga Xie, keluarga ayahnya. Seolah memuluskan niat Xie Qing Yuan untuk balas dendam.

19 tahun silam, kala masih mengandung Xie Qing Yuan, ibunya difitnah telah mengakibatkan selir ke-5 meninggal dunia.

Demi memperoleh kekuasaan, Xie Yu memang harus menikah dengan banyak perempuan, seperti selir pertama yang dinikahi karena pengaruhnya, selir ke-2 karena kekayaannya. Hanya ibu Xie Qing Yua,  selir ke-4 yang tidak memiliki apa-apa, dia seorang pemain panggung opera yang dinikahi dengan alasan Xie Yu mencintainya.

Perjuangan Xie Qing Yuan membongkar misteri ibunya sungguh tak mudah. Dia harus berhadapan dengan Xie Qing Rong, anak selir ke-5 yang beranggapan ibu Xie Qing Yuan telah membunuh ibunya.

Juga Xie Qing Ru, anak istri pertama yang  cemburu melihat Li Cong Xin, gebetannya, ternyata malah menyukai Xie Qing Yuan.

Namun yang paling menyebalkan adalah tingkah Bibi Rong, tangan kanan selir Mei atau selir ke-2 yang dipercayai mengelola kekayaan keluarga Xie. Secara sewenang-wenang Bibi Rong berani menghina dan menyiksa Xie Qing Yuan.

Beruntung seorang pemuda yang nampak slengean hadir membantu Xie Qing Yuan. Dia adalah Yan Rui, utusan kaisar. Dengan alasan mengumpulkan pangan untuk menanggulangi bencana, dia wara-wiri masuk ke keluarga Xie.

Sebagai Penasehat Agung Kementerian Keuangan, sebetulnya tujuan  Yan Rui ke Kota Hengtang untuk membekuk pejabat yang korup dan telah menggelapkan bantuan pangan bagi korban bencana.

Yan Rui membidik keluarga Xie karena menduga keluarga ini terlibat. Keluarga Xie sangat kaya raya. Mereka sanggup dengan cepat membangun kembali bangunan yang terbakar, meski harus mengeluarkan biaya yang luar biasa banyak.

Hubungan take and give yang saling menguntungkan antara Yan Rui dan Xie Qing Yuan, seiring waktu berkembang menjadi saling menyukai, terlebih setelah keduanya menyadari pernah bertemu 9 tahun silam.

Ya, Yan Rui adalah Shen Run, anak laki-laki yang pernah membantu saat Xie Qing Yuan  mengalami tragedy kebakaran yang menewaskannya. Pasca peristiwa tersebut keduanya berjanji untuk bertemu kembali, dan langit rupanya membantu pertemuan mereka.

maria-g-soemitro.com

Review Spring of the Blade Chinese Drama

Sebagai penggemar drama, pengalaman apa yang paling ngeselin? Saya sih ketika aktris favorit berakting seadanya, bahkan cenderung nyebelin. 😭😭

Salah satunya dalam drama China “Spring of the Blade”, akting Zhou Ye enggak banget. Seolah cuma sekadar hilir mudik untuk pamer kecantikan. Tanpa jiwa pada mimik wajah dan gesture tubuh. Tanpa pendalaman karakter.

Ditambah plot kisahnya bikin ilfeel, duh ….

Kebetulan saya nonton drama ini sambil jumping drama China “Against the Current”, drama yang bikin pingin penasaran episode selanjutnya. Sementara drama China “Spring of the Blade” malah bikin pingin skip, minimal speed-watching 1,5 x atau bahkan 2 x 😀😀

Apa sebabnya? Yuk kita kupas:

Premis drama drama China “Spring of the Blade” klise banget, tentang seorang anak perempuan yang kembali ke keluarga besar ayahnya untuk balas dendam.

Okelah untuk cerita klise, banyak kok drama dengan ide daur ulang. Mungkin penulis skenario kehabisan ide. Tapi bisa dong bikin kisah yang detai, seperti siapa sih ML? Apa latar belakangnya?

Penonton juga bisa dibuat nyaman dengan alur kisah yang runut dan transisi adegan yang mulus, jangan seperti drama China “Spring of the Blade”, penyuntingannya bikin mata capek.

Saya setuju banget dengan usul seorang reviewer agar jangan maksain tayang. Jangan kejar tayang. Gapapa kok tayangan dihentikan dulu untuk diperbaiki, sebelum merilis episode selanjutnya.

Ilfeel berikutnya justru berasal dari akting Xu Kai (ML) dan Zhou Ye (FL). Aktingnya duh kaya amatiran, padahal keduanya termasuk aktor dan aktris papan atas atau kelas A / A+ (Tier 1) di industri hiburan China, lho.

Terlihat banget di adegan FL kerasukan. Aktingnya gak natural. Terasa dipaksain. Ditambah musik dan set latar yang gak menunjang, bikin penonton bingung: "FL sedang ngapain sih?"

Bisa ditebak chemistry FL dan ML berantakan. Mirip elu elu gue gue. Gak ada sensasi romansa yang muncul pada adegan FL meletakkan kepalanya di pundak ML.

Hal ini diperparah dengan riasan dan kostumnya, Zhou Ye (28 tahun) terlihat lebih tua dibanding Xu Kai (31 tahun). Saya menduga pemilihan warna dan detail kostum. Mirip pengantin tradisional Jawa yang terbuat dari beludru itu lho.

Gak di sepanjang penayangan sih. Untunglah, karena saya suka Zhou Ye, sehingga berharap episode berikutnya akan membaik. Demikian pula pengisi suara yang kerap gak nyambung dengan ekspresi para pemeran, baik FL, ML maupun pemeran pendukung.

Harapan berikutnya, Xu Kai dan Zhou Ye lebih berhati-hati memilih proyek drama. Meski penggemar keduanya selalu setia, terlihat dari rating yang meningkat dari 7,9/10 ke 8,3/10 dari Mydramalist, namun saya lebih setuju pemberian rating IMDb untuk drama China “Spring of the Blade”,  yaitu 7,0/10 saja.

Baca juga drama Zhou Ye lainnya:

Scent of Time, Tentang Cinta, Mimpi dan Penyesalan

Legend of the Female General, Kelindan Cinta dan Dendam sang Jenderal 

Back from the Brink, Akibat Terlalu Bucin



Profile

Title: Spring of the Blade

Native Title: 一瓯春

Also Known As: A Cup of Love , Yi Ou Chun

Director: Pan An Zi

Screenwriter: Li Qiang

Genres: Historical, Romance, Family, Political

Type: Drama

Format: Standard Series

Country: China

Episodes: 30

Aired: Sep 17, 2026 - ?

Original Network: iQiyi, Youku

Duration: 40 min.


No comments

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat