Brulee Bomb Kimpul, Cara Asyik Menuju Kesejahteraan Pangan di Indonesia

 


Pernah nyicipin brulee bomb yang sedang viral?

Apabila belum pernah, nggak usah penasaran. Camilan yang dipopulerkan oleh Nagita Slavina ini hanya bulatan tepung terigu, susu, keju, kemudian digoreng. Dunia kuliner telah lama mengenalnya sebagai bitterballen. Namanya berubah menjadi kroket, ketika  posisi tepung diganti dengan kentang.

Jadi sah saja saat tepung terigu diganti kimpul (talas belitung), dan muncul nama baru: brulee bomb kimpul!

Bedanya, saat dikudap brulee bomb kimpul terasa pulen, gurih dan nagih. Nggak eneg seperti umumnya camilan yang terbuat dari tepung terigu.

Bedanya yang lain, kimpul mudah ditemui. Hampir seluruh penduduk Indonesia mengenal keluarga talas-talasan ini.

Kimpul dan saudara-saudaranya dengan riang gembira tumbuh di pematang sawah, tepian sungai, kawasan hutan, bahkan di secuplik lahan. Beda banget dengan gandum, bahan baku tepung terigu yang harus diimpor, serta kentang yang butuh penanganan khusus.

Karena itu, saat Food and Agriculture Organization (FAO) memperingatkan adanya krisis pangan akibat pandemi Covid-19, Indonesia tidak usah takut.  (sumber)

Indonesia berbeda dengan negara lain, di sini tongkat kayu jadi tanaman. Matahari bersinar sepanjang tahun, air mengalir dan jumlah penduduknya menempati posisi ke -4 di dunia.

Indonesia tidak hanya punya beras, tapi juga beragam talas,  ubi, jagung, sukun, singkong, sagu ….. dan masih banyak lagi.

Andai terjadi krisis pangan, mirip tikus mati di lumbung padi dong.

Dibutuhkan semangat generasi muda untuk berkreasi, semangat mengeksplorasi pangan, dan kesediaan berubah demi terwujudnya kesejahteraan pangan di Indonesia.

petikan pidato pada HUT RI tahun 1964 (doc:AFP)


Andai Memiliki Kewenangan, Bersama Generasi Muda Saya Akan Mewujudkan Kesejahteraan Pangan

“Beri aku 10 Pemuda niscaya akan kuguncang dunia” kutipan orasi Presiden RI pertama ini begitu terkenal.

Jika dikaitkan dengan pidato pada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia 1964,  maka sangat terasa betapa peran generasi muda yang energik dan idealis, sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kesejahteraan pangan.

Karena puluhan tahun berlalu, bukannya berkurang, kita malah kecanduan beras. Terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017,  tingkat konsumsi beras per kapita di Indonesia sebesar 114,6 kg per tahun, sementara konsumsi rata-rata beras dunia hanya 60 kg per kapita per tahun. (sumber)

Penduduk Indonesia juga sangat bergantung pada gandum, bahan baku tepung terigu. Bergantian dengan Mesir, Indonesia menjadi pengimpor gandum terbesar di dunia. (sumber)

Tentunya ini bukan prestasi yang membanggakan.

Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati. Umbi-umbian, buah-buahan dan biji-bijian tumbuh subur dari Sabang sampai Merauke. Banyak diantara pengganti karhohidrat tersebut yang belum dikenal masyarakat luas.

Generasi muda harus semakin dilibatkan dalam perubahan. Terlebih teknologi komunikasi sudah semakin maju.

Jadi andai saya menjadi pemimpin yang mempunyai kewenangan, maka saya akan:

1. Mewajibkan Pengenalan Alternatif Pangan di Sekolah Sekolah Indonesia

“Ini bengkuang pak”, kata seorang anak sambil menunjuk pada kimpul.

Sontak Ganjar Pranowo tertawa. Orang nomor satu di Provinsi Jawa Tengah tersebut mengadakan kuis bersama sejumlah siswa SD pada peringatan Hari Pangan Sedunia (25/10/2019).

Ternyata kesalahan berulang pada anak lain. Ada yang menyebut lengkuas untuk talas, dan wortel putih untuk umbi garut. (sumber)

Jika anak Indonesia tidak mengetahui sumber daya hayatinya, bagaimana dia bisa mengeksplorasi dan mewujudkan kesejahteraan pangan?

Karena itu, sudah seharusnya sekolah-sekolah di Indonesia menyajikan diversifikasi pangan dengan sentuhan kekinian. Bisa seminggu sekali atau 2-3 kali dalam sebulan. Pengadaannya dapat  melalui kantin sekolah atau orang tua murid.

Anak-anak yang terbiasa pada keberagaman pangan, di kemudian hari akan mudah melakukan eksplorasi kekayaan hayatinya. Juga termotivasi untuk berinovasi dan berkreasi membuat menu baru.

Seperti diketahui, cita-cita anak milenial dan gen Y bukan lagi dokter atau insinyur, melainkan profesi yang dulu dipandang sebelah mata. Koki/ juru masak misalnya. Tak heran beberapa pemenang lomba masak di stasiun televisi nasional, masih sangat belia.

Baca juga: Kabut Peradaban dan 3 Tips Berkomunikasi Dengan Generasi Z

2. Mengajak Para Pesohor dan Kreator Pangan Mendukung Kesejahteraan Pangan

Marketing dan inovasi kerap menjadi problem suatu gerakan sosial. Pada awal masa jabatan Presiden Jokowi, singkong dan jagung rebus sering menjadi camilan rapat di kementerian. (sumber)

Sayang tak terdengar lagi kabarnya. Penyebabnya, mungkin peserta rapat kerepotan harus menggigit jagung dan membuka kacang tanah rebus di suasana formal.

Mengapa tidak diolah menjadi camilan praktis ya?

Teknologi komunikasi yang semakin berkembang memungkinkan kreasi baru serta memopulerkannya. Contoh kasus camilan buatan Nagita Slavina yang menjadi viral. Dia hanya mengubah sedikit bahan, kemudian memberi nama baru,  maka ….… boomm!! Makanan zaman baheula, menjadi booming lagi.

Kreasi istri Raffi Ahmad ini memenuhi media sosial seperti Instagram, Faceebook dan  YouTube. Bisa dipahami karena Gigi, nama panggilan Nagita mempunyai puluhan juta pengikut.

Gigi dan pesohor lain pastinya akan senang jika mendapat kesempatan menjadi duta kesejahteraan pangan di Indonesia.

Demikian juga para  foodgram dan food vlogger. Mereka haus konten, akunnya harus selalu diisi konten baru yang menarik followers. Adanya kerja sama dengan pemerintah dalam mewujudkan program kesejahteraan pangan, pasti akan disambut dengan suka cita.

3. Setiap Provinsi Wajib Mempunyai Makanan Andalan

Pernah mendengar “rasi” atau beras singkong?

Rasi merupakan makanan utama masyarakat adat Cireundeu, yang berlokasi di Leuwigajah, Cimahi. Telah seabad lamanya mereka mengonsumsi rasi sebab kawasan hunian mereka berada diperbukitan.

Baca juga: Beras Singkong, Simbol Kedaulatan Pangan Dari Hutan

Indonesia mempunyai 34 provinsi, berarti minimal ada 34 bahan makanan utama yang dapat diunggulkan. Dimulai lomba antar RW atau antar kelurahan untuk mencari potensi menu pangan baru.

Kemudian dilanjutkan ke tingkat kota dan berakhir di level nasional. Indonesia tidak hanya kaya akan budaya dan bahasa,  juga kaya akan makanan pokok yang beraneka ragam.

4. Memberi Benefit Untuk Perusahaan Pemroduksi Substitusi Pangan

Sungguh mengherankan, tepung terigu yang kita tahu adalah bahan pangan impor lebih murah dibanding mocaf, produk lokal.

Harga mocaf, singkatan dari Modified Cassava Flour, menurut online store pada 16 November 2020 berkisar Rp 17.000- Rp 27.000/kg. Sedangkan harga tepung terigu curah hanya Rp 7.000/kg.

Bisa dibuat mi, bolu serta pangan lain yang berbahan tepung terigu, tepung modifikasi singkong ini merupakan hasil penelitian para ahli pangan di Indonesia, agar kita tidak terpaku pada pangan impor.

Tapi tanpa benefit, tak mungkin pengusaha makanan mau berpindah dari tepung terigu impor dengan tepung modifikasi pangan lokal. Pemerintah harus turun tangan agar sektor swasta mau bergerak, salah satunya dengan memberi subsidi pada harga beli bahan pokok di tingkat petani.



Kimpul, Tak Kenal Maka Tak Sayang

Mengapa kimpul dan kawan-kawan tidak dikenal oleh generasi Z dan Y ?

Kemungkinan penyebabnya adalah anggapan bahwa kimpul hanya untuk orang miskin. Tatkala paceklik/gagal panen, petani memang terpaksa makan umbi-umbian.

Sedangkan “kaum menak/bangsawan” mengonsumsi nasi serta roti.

Kini, stereotip tersebut harus diubah. Kesejahteraan pangan hanya dapat  terwujud jika kita mau melakukan diversifikasi pangan dan meniadakan pangan impor.

Khusus keluarga talas-talasan. Pakar botani LIPI Made Sri Prana, dalam laman biotek.lipi.go.id, menyatakan bahwa Indonesia mempunyai 600 jenis yang tersebar di setiap pulau.

Sayangnya hanya talas Bogor yang dikenal publik.  Padahal di beberapa daerah seperti Mentawai dan Papua, kimpul menjadi makanan pokok pengganti nasi. Demikian juga di beberapa negara seperti Filipina, Fiji, Samoa, Melanesia, Samoa, Fiji dan Brasil.

 

brulee bomb kimpul

Tingginya karbohidrat menjadi penyebab umbi kimpul dijadikan makanan pokok. Daunnya dijadikan pembungkus olahan buntil sedangkan daun dan batangnya biasa diolah penduduk Provinsi Jabar menjadi sayur lompong.

Umbi talas juga kerap dijadikan obat tradisional. Akar rimpang talas dibuat bubur untuk obat encok. Cairan akar rimpang digunakan sebagai obat bisul.

Getah daun/pelepah kimpul kerap digunakan untuk menghentikan luka serta penawar racun akibat sengatan serangga, (sumber)




Resep Brulee Bomb Kimpul

Dibanding talas Bogor, kimpul/talas belitung lebih mudah ditemukan di pasar. Kemarin saya membeli kimpul di pasar Ciroyom Kota Bandung. Harganya, Rp 8.000/kg. lebih mahal sedikit dibanding harga singkong Rp 5.000/kg.

Sesampainya di rumah, talas tersebut saya kupas, potong-potong dan lumuri garam. Kemudian diremas-remas untuk menghilangkan lendir/getahnya. Rebus setengah matang. Tiriskan. Kimpul pun siap diolah menjadi beragam menu masakan.

Susu cair dan mozarella juga sangat mudah didapat karena produk KPSBU Lembang. Di Kota Bandung penjualnya wara wiri depan rumah. Anda bisa membelinya lewat online store, harganya lebih terjangkau lho.

Dari 1 kg kimpul, 1 bungkus mozarella  dan 1 liter susu, saya membuat Kimpul Schotel dan Brulee Bomb Kimpul. Tapi kali ini  saya baru cantumkan resep Brulee Bomb Kimpul ya? Kimpul Schotelnya saya tulis di postingan berikutnya.

Bahan Brulee Bomb Talas:

🌱 500 gram talas.
🌱 100 ml susu cair
🌱 50 gram keju mozarella iris kotak
🌱 2 siung bawang putih cincang halus
🌱 1 batang daun bawang, cincang halus
🌱 1 buah wortel, parut dengan parutan keju
🌱 1/2 sdt garam
🌱 1/4 sdt merica bubuk
🌱 1/2 sdt gula
🌱 1/4 sdt pala bubuk
🌱 1 sdm margarine /minyak untuk menumis

Coating/Lapisan luar (campur rata)

🌷 2 buah putih telur
🌷 1 sdm tepung maizena/tepung beras
🌷 1/2 sdt garam

Cara membuat

  1. Tumis bawang bawang putih, bawang daun, aduk perlahan hingga harum, angkat
  2. Dalam wadah campur talas yang sudah dihaluskan, tumisan bawang, wortel parut, susu, garam, merica, pala dan gula. Koreksi rasa.
  3. Buat bulatan, pipihkan, isi dengan potongan keju mozzarella, bulatkan kembali. Proses membuat bulatan lebih mudah dibanding bahan tepung atau kentang.
  4. Dinginkan dalam lemari es. Atau bisa langsung digoreng.
  5. Cara menggoreng dengan menggulirkan di adonan coating.
  6. Goreng dengan api sedang hingga berwarna kuning kecoklatan.
  7. Sajikan 😋😋

59 comments

  1. Nama global cita rasa lokal! keren mbak maria. Aku kira tadi makanan dari luar, eeee ternyata sesederhana itu bahan dan cara bikin. Semakin kreatif untuk mengelola berbagai macam jenis makanan dengan bahan lokal yang tersedia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebetulnya lebih ke pendekatan kekinian yang pastinya dimiliki generasi muda sekarang

      mereka cerdas dan kreatif bangvet

      Delete
  2. Saya kok kudet ya, nggak tahu ada makanan viral bernama brulee bomb.

    Sampai sekarang saya masih suka makan kimpul. Tapi nggak pernah mengolah jadi macam-macam. Cukup dikukus dan ditaburi sedikit garam, udah enak banget rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pas tadi pagi ke pasar, nemu ada yang jual kimpul masih seger baru nyabut kemarin. Ntar akhir pekan mau praktek bikin brulee bomb ah

      Delete
    2. enak lho, swear .... cara mudah mengenalkan diversifikasi pangan pada anak-anak kita

      Delete
  3. Kalo kroket sering.. tapi brulee bomb kimoul belum pernah rasain mbak. Rasanya samakah kayak kroket?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kroket umumnya terbuat dari kentang kan ya?

      Kimpul lebih pulen dan legit mbak Fida. Sewaktu dibentuk nggak ngepyur seperti kentang

      Delete
  4. Aku generasi Y yang termasuk dalam tulisan Ambu.. gak kenal kimpul..
    Beneran kaya banget keanekaragaman hayati di Indonesia ini ya Ambu..
    Langkah yang Ambu tulis sidah tepat, apalagi bagian yang Ambu tulis soal mengajak content creator buat memperkenalkan keanekaragaman hayati yang banyak belum diketahui generasi Y, Z bahkan alpha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. mirip anak-anak di acaranya pak Ganjar ya?

      Nggak tau kimpul, lobak dll .... malah akrab dengan pasta, spaghetti dll :D

      Delete
  5. wahhh kukira dari namanya brulee bomb kimpul makanan dari mana gitu.. ternyata dari talas belitung. Dulu waktu saya tinggal di Papua sih kimpul ini disebut sebagai keladi dan memang banyak dijual di pasar jadi ya sudah biasa sih makannya.

    Indonesia padahal punya banyak makanan yang setara dengan nasi, macam jagung, sagu, dan yang lainnya. Makanya seharusnya kita lebih kenal dengan pangan lokal kita ya..

    jadi kudukung mbak Maria sebagai Presiden Republik Indonesia berikutnya. Semangat!!!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahha .... presiden Indonesia mah ketinggian kali ya?

      karena itu saya ubah redaksinya. Paling nggak tersampaikan pesannya bahwa banyak banget yang bisa dilakukan pemimpin kita untuk membenahi sektor pangan

      Delete
  6. Itu talas belitung diganti talas bogor bisa kali ya ambu. Kekeke. Ngomong-ngomong soal kesejahteraan pangan, anak-anak kita zaman sekarang okelah mereka mulai mengurangi nasi, tapi alternatifnya malah roti-rotian melulu ya ambu. Gak ada yg mau makan jagung, ubi, talas, dan gak semua orang bisa berkreasi dengan ragam karbohidrat. Mungkin kalo semua ibu kayak ambu, waaaah sehat2 atuh anaknya semua. Insya Allah. Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa banget. Mengolah talas bogor lebih mudah dibanding kimpul/talas belitung

      sayangnya talas bogor sulit didapat. Bahkan di Bandung, talas belitung lebih mudah ditemui di pasar tradisional

      Delete
  7. Wowwww lengkap sekali ada resepnya..
    patut dicoba untuk semilan sehari-hari supaya ada cemilan sehat yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, supaya banyak yang coba juga

      jangan sampai saya asbun, ngajak diversifikasi pangan tapi kok gak ada contohnya :D :D

      Delete
  8. Aku baru tahu si Kimpul ini mbak.. jadi penasaran mau nyobain deh. Apalagi bisa dibuat makanan kekinian. Bisa jadi ide kuliner asik nih pakai bahan lokal..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Uchy, bisa banget untuk anak-anak

      pinter-pinternya orang tua mengkombinasikan pangan lokal dengan protein

      Delete
  9. Wowwww lengkap sekali ada resepnya..
    patut dicoba untuk semilan sehari-hari supaya ada cemilan sehat yah

    ReplyDelete
  10. Wowwww lengkap sekali ada resepnya..
    patut dicoba untuk semilan sehari-hari supaya ada cemilan sehat yah

    ReplyDelete
  11. Kalau di Malang nyebutnya Mbothe, emang kurang populer di kalangan anak muda. Keren ya Mama Gigi bisa mengangkat pamor kimpul jadi cemilan kekinian. Mau request ke istri ah untuk bikinin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi salah baca ya?

      Mama Gigi bikin brulee bomb dari tepung terigu, saya menggantinya dengan kimpul

      Delete
  12. Kayaknya enak nih mbak, jadi pingin nyoba

    ReplyDelete
  13. Aku malah baru tau mbak Brulee Bomb, lagi viral ya kak makanan ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, banyak di Tik Tok, YouTube, facebook ..... hayo kemana aja? ^^

      Delete
  14. Aku jadi inget dr Tan Shot Yen yg sangat berapi2 menyemangati kita semua utk cinta produk palawija Nusantara. Resepnya boljug nih Ambuuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Nurul

      tapi harus ada "paksaan" agar mereka kenal dan mau mengonsumsi pangan lokal

      Delete
  15. Wah kuliner lokal dari bahan dasar yang sangat murah dan belum dikenal. Perlu dilestarikan dan dipromosikan agar orang bisa mengenal dan ketahanan pangan nasional terjaga. Terima kasih sudah memperkenalkan kimpul kepada saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak Ina, harusnya kita ngga usah takut krisis pangan karena pangan kita luar biasa

      baik jumlah dan kualitasnya

      Delete
  16. Saya juga nggak kenal talas, Teh. Taunya taro, dalam bentuk bubuk minuman. Karena nggak ada yang ngajarin saya makan talas ini semenjak kecil. Malah nggak tahu juga ada talas Belitung. Apa ada talas-talas non-Belitung? Ya ampun, saya kudu googling lagi.. :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya ampun kemane aje mbak Vicky?

      kayanya saya harus bikin satu tulisan khusus talas ya?

      karena saya punya beberapa resep talas yang mudah aplikasinya

      Delete
  17. Saya baru tahu nih kalo nama lain talas adalah kimpul. Btw bedanya talas Bogor sama talas Belitung apa ya? Dan saya juga baru tahu kalo menu brulee bomb kimpul lagi viral. Duh sayanya kudet banget nih hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. satu family teh Gita

      bedanya kimpul lebih mudah ditemukan, saya sering lihat di tanah kosong Cibeunying

      di pasar Cihaurgeulis juga banyak yang jual.

      Delete
  18. Aku kenal talas Ambuu, suka banget sama olahannya, entah itu di seupan pake kalapa parut ato di goreng, di kriipik. Tapi kalo resep ini dan nama makanan inni ku baru tahu atulaaah, ndeso yaaa.
    TApi jadi pengen nyobain resepnya juga di rumah niih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. agar ada asupan proteinnya teh Nchie

      juga supaya anak anak mau makan, biasanya mereka kan ngga suka makanan ndeso :D :D

      Delete
  19. Kayaknya Kimpul ini pernah aku makan deh mba tapi pas waktu msh kecil hehe. Jadi gak notice klo ini namanya Kimpul hehe. Mau colek kk aku nih biar buat Brulle ala Gigi hehe;)

    ReplyDelete
  20. daku jadi pengin berburu bahan pangan lokal yg sip markosip kayak giniii
    Semoga kita semua makin sehaaattt

    ReplyDelete
  21. Namanya unik ya Brulee Bomb Kimpul, makanan kekinian dengan cita rasa lokal sebagai bentuk diversifikasi bahan pangan. Bagus ini.

    ReplyDelete
  22. kimpul belitung ini apa karena mudah ditemukan di belitung ya, Ambu? saya dulu pas kecil suka makan talas ini dicampur di sayur asem biasanya, ya ampun enak banget rasanya. tapi sekarang nggak tahu kenapa, rasanya susah nemu talas nih

    wah, program dari ambu maria ini menarik banget, bener nih produk2 lokal perlu diangkat dan diboomingkan lagi ya, para influencer semacam gigi punya peran juga nih, coba lebih banyak menggunakan banyak produk lokal ya, syukur2 yang jarang dikenal orang

    ReplyDelete
  23. Kimpul...baru tahu namanya,kenalnya talas. Setuju sama author, di Indonesia apapun bisa tumbuh. Dan paling penting pola hidup masyarakat harus dijaga, sekarang beralih ke fast food, dan makanan lokal banyak kurang diminati. Bersyukur juga kini makin banyak kreasi makanan dari bahan alamni, bahan pertanian lokal.

    ReplyDelete
  24. Aku pun baru tahu Brulee Bomb, huaaah kok bisa ke-skip? haha. Atau bisa jadi sudah tahu makanannya, cuma gak tahu namanya ya, wkwk. Karena aku suka sekali dengan makanan atau cemilan yang berbahan talas seperti ini. Di Garut, banyak banget makanan khas Kampung yang rasanya selalu ngangenin dan bikin pengen pulang. Jadi pengen bikin juga deh Brulee Bomb ini, makasih info resepnya ya Mba :)

    ReplyDelete
  25. haaa aku pernah nih makan biterbalen hihii, ternyata punya nama lain nmanya brulee bomb yak. Enak banget sih ini, tapi ngga bikin sendiri waktu itu, dikasih orang hihi. JAdi kangen pengen makan biterbalen lagiii

    ReplyDelete
  26. Aku kayaknya pernah lihat kimpul di pasar meski agak ragu, karena mirip singkat sekilas.. hehe btw idenga unik Bu. Terkait pangan. Emang udah saatnya sih kurangin konsumsi beras. Akupun d rumah demikian, makan nasi hanya 2kali, sisanya pasta/roti.

    ReplyDelete
  27. Iya nih, brulee lagi hits ya mbk. Ini kreatif banget, bikin brulee dari talas. Ohya rasi, beras singkong ini sama kayak tiwul nggak mbk? Kl di rumah mertua, masih sering makan nasi tiwul. Bahan utama singkong

    ReplyDelete
  28. Aku pikir awalnya bernama kimpul dari "Laris manis tanjung kimpul"
    Ternyata talas belitung.
    Memang Indonesia yang kaya yaa...Ambu.
    Harus banget bisa memanfaatkan makanan tradisional yang potensial di masing-masing daerahnya agar berubah menjadi makanan yang bisa dinikmati seluruh kalangan.

    ReplyDelete
  29. Aku dulu pernah buat kroket lho mba, ternyata sekarang namanya itu ya. Hihi. Semakin variatif dan inovatif saja. Btw izin recook ya

    ReplyDelete
  30. Blum makan klo belum makan nasi, stigma yg sulit dirubah ya, pdhal emg krg sehat, tpu aku krg cocok nih mba ma tekstur si kimpul, klo dikasih susu ma keju mgkin ga bikin seret ya

    ReplyDelete
  31. Brulee Bomb ini saya baru dengar, sama seperti Kimpul. Tapi ternyata Brulee ini sama dengan bitterballen tapi ada isinya. Saya biasanya membeli yang sudah jadi, tapi jadi tertarik mencoba dengan resep yang mbak kasih disini, karena selain terbuat dari talas juga ada varian keju di dalamnya supaya jadi bom.

    ReplyDelete
  32. untungnya ibu ku suka banget dengan olahan hasil palawija jadi dari kecil mau ngga mau ya ikut makan mba, seperti talas, singkong, ubi jalar, jagung, aneka kacang-kacangan.

    ReplyDelete
  33. Iyaya....padahal di negara kita banyak umbi-umbian, cuma direbus aja rasanya udh enak sekali...

    ReplyDelete
  34. baru tau aku ternyata bisa dibikinnya dari talas ya? nikmat bgt nih, dan pasti lebih sehat :)

    ReplyDelete
  35. Aku baru tau kalau kimpul ini sejenis talas, dan bisa dibuat untuk berbagai macam makanan ya, asal kita kreatif dan inovatif kimpul juga bisa jadi kudapan yang lezat ya.

    ReplyDelete
  36. Waduh malah jadi bikin ngiler nih mbak. Memang untuk menjaga ketahanan pangan perlu inovasi dan kreasi. Malah makanan tempo dulu itu sangat menarik untuk dikreasikan dan lebih sehat lagi

    ReplyDelete
  37. saya jadi penasaran sama talas belitung ini. bentuknya kayak singkong ya? kalau di rumah biasa bikin singkong goreng aja sih buat cemilan

    ReplyDelete
  38. guru ngaji di langgar kami waktu kecil dulu namanya mbah kimpul, apa ada hubungannya ya dengan talas belitung? hihi

    ReplyDelete
  39. Saya baru tahu makanan brulee bomb kimpul ini kk dan resepnya pengen dieksekusi di rumah. Btw talas nya bisa diganti dengan jenis lain kah?

    ReplyDelete
  40. Wih enak nih kimpulnya. Aku suka kimpul sejak ibu mengenalkan & suka beli di pasar dulu waktu saya kecil. Hehe. ternyata bisa juga dibikin kue, kapan2 cobain ah 🤩👍

    ReplyDelete
  41. Jadi pengen coba deh Mbak..kayaknya enak..pangan lokal kita kaya banget sayang kalau anak-anak nggak kenal ya

    ReplyDelete
  42. Aku tahu kimpul. Waktu kecil, nenek sama mama suka bikin. Aku tahunya talas aja sih, sebetulnya. Kurang tahu nama kimpulnya hehe

    ReplyDelete