Mini Library dan Bekal Anak Belajar di Luar Negeri
“Sebagai ibu, saya kok pesimis dengan masa depan anak saya di Indonesia. Punya saran kalau mau menyekolahkan anak ke luar negeri?” Utas tersebut muncul di Threads, aplikasi media sosial berbasis teks mirip seperti X (sebelumnya Twitter).
Agak berbeda dengan X yang lebih banyak mempercakapkan kondisi terkini (politik, sosial, budaya, olah raga dan lainnya), pengguna Threads lebih banyak curhat.
Utas tersebut dengan segera mendapat banyak komentar. Rata-rata komen memberi cara mengumpulkan uang untuk membiayai anak sekolah di luar negeri. Tipsnya lengkap, mulai dari biaya pendidikan sekolah lanjutan sampai kuliah.
Semula saya mau nimbrung, tapi urung. Komentar saya bakalan panjang, bisa sih disingkat, tapi takutnya menimbulkan pemahaman yang keliru, yaitu:
Nyambung gak keinginan ortu dengan anaknya?
Saya punya pengalaman, yaitu pingin punya anak lulusan fakultas kedokteran. Dengan pertimbangan, selain kelak saya bisa bertanya tentang gejala penyakit, juga profesi dokter tuh menurut saya mulia banget. Saya pikir keberadaan dokter sangat bermanfaat untuk banyak orang.
Ternyata, dari 4 anak saya, gak ada satu pun yang menempuh pendidikan kedokteran, dengan alasannya masing-masing.
Baca juga:
Kremasi dan Perjalanan Menuju Keabadian
Healthy Boundaries, Agar Kamu Gak Meledak!
Daftar Isi:
- Bekal Anak Sekolah (tidak hanya) untuk ke Luar Negeri
- Adversity Quotient (AQ) Sejak Dini
- Peranan Mini Library
Tentu saja saya gak boleh memaksakan kehendak. Anak-anak saya punya tanggung jawab pada masa depannya masing-masing. Mereka bebas memilih dan mewujudkan cita-citanya.
Walau demikian, boleh dong saya kilas balik, berkontemplasi untuk mencari penyebabnya. Dan saya menemukan bahwa sejak awal saya gak mengondisikan anak-anak saya untuk menjadi dokter.
Faktor anomali selalu ada, tapi probabilitasnya sangat kecil. Bisa dibandingkan dengan seorang anak yang berasal dari keluarga dokter, potensi meneruskan profesi dokter akan lebih tinggi.
Nah kisah ibu yang ingin anaknya kuliah di luar negeri, mirip dengan kasus saya. Selain menyiapkan kebutuhan biaya pendidikan, dia juga harus menyiapkan mental, fisik, kemandirian dan (yang penting) keinginan anak.
Tentang bekal kemandirian, tanpa diduga ternyata mengantar anak saya nomor 2 menyelesaikan S3 nya di Ehime University, Jepang. Anak saya membiayai sendiri kuliahnya, dari beasiswa dan bekerja paruh waktu, karena kami tak punya cukup uang untuk membiayai.
Adversity Quotient (AQ) Sejak Dini
Dulu, dengan alasan mengidap epilepsy, saya dilarang menyetir mobil. Dan itu sangat ngeselin! Sudah lama saya tidak mengalami kekambuhan, jadi saya pikir cukup mampu mengantar jemput anak ke sekolah.
Saya ngiri banget pada teman-teman yang bisa ngobrol dengan anak-anak di waktu pulang/pergi ke sekolah. Dengan nyetir mobil sendiri, saya juga bakal bisa mengantar anak-anak ke tempat les dengan leluasa. Saya ingat banget keribetan setiap les renang, anak-anak harus bertukar pakaian dulu di WC dan kerudetan lainnya.
Sekarang, saya bersyukur pernah berada dalam situasi itu. Anak-anak jadi terpaksa pulang sendiri naik angkutan umum (Alhamdulilah sekarang udah ada ojek online ya?).
Walau demikian, pernah ada kejadian yang bikin pilu. Uang mereka hilang ketika olah raga, dan mereka terpaksa pulang jalan kaki! Menurut GMap, jarak sekolah SD Taruna Bakti di Jalan Riau- ke rumah di Jalan Cigadung Bandung sekitar 2,5 - 3,5 km! Hiks, kala itu rasanya pingin nangis darah.
Kisah di atas hanya contoh, yang tanpa sengaja saya lakukan pada anak-anak untuk melatih problem solving, salah satu bagian dari Adversity Quotient (AQ)
Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan mengatasi kesulitan serta tantangan hidup. Dikembangkan oleh Paul G. Stoltz, AQ mengukur seberapa gigih seseorang dalam menghadapi rintangan, mengubah masalah menjadi peluang, dan tetap berkinerja baik di bawah tekanan.
Nah apa saja latihan kemandiran lainnya terkait AQ atau kecerdasan bertahan hidup?
Eksplorasi Penyebab Masalah
Lahir dan tumbuh dalam keluarga yang terlalu mengkultuskan bidang eksakta ternyata membuat anak saya nomor 3, sangat tertekan. Dia lebih menyukai ilmu sosial, budaya dan lainnya.
Karena itu sewaktu duduk di bangku SMA dan harus memilih jurusan, saya menganjurkan memilih IPS, agar dia tidak harus mempelajari Fisika, Kimia, pelajaran Matematika pun tak serumit IPA.
Melatih Kemandirian
Hasil prakarya anak buruk? Biar saja. Jangan lupa, yang dibutuhkan seorang anak adalah “proses”. Hasil baik/buruk hanya bonus.
Jangan lupa juga, prakarya tersebut merupakan tugas anak-anak kita, bukan tugas orang tuanya.
Memberi Contoh
Kesal melihat anak malas merapikan kamarnya? Cukup 1-2 kali menyuruhnya. Asalkan kita selalu menjaga kerapian seluruh rumah, anak akan menirunya.
Saya melihat ini sewaktu anak-anak kuliah dan kost di luar kota. Kamar dan tempat tidur mereka selalu rapi.
Mengembangkan Rasa Percaya Diri
Kemampuan akademis dimiliki setiap anak, tidak demikian halnya dengan keterampilan. Perlu dilatih. Karena itu sejak usia TK-SD, saya memasukkan anak ke tempat les menggambar, berenang, musik, menari dan keterampilan lainnya.
Tempat les semacam ini biasanya mengadakan lomba atau menggelar pementasan, sehingga mereka bisa berlatih muncul di depan publik.
Sesudah naik ke sekolah lanjutan pertama, anak-anak didorong mengikuti ekstrakurikuler, yang menumbuhkan rasa percaya diri serta membantu mereka membangun networking.
Oiya jangan lupa mengenali minat/bakat anak dengan bantuan psikolog. Sangat membantu orang tua membimbing anak dalam memilih bidang studi (sekolah lanjutan dan kuliah).
Peranan Mini Library
Selama di Jogja, saya sering tersenyum mendengar celoteh anak-anak yang medok dalam bercakap-cakap menggunakan Bahasa Indonesia. Padahal orang tuanya (yang berlogat medok) selalu mengajak mereka berbahasa Indonesia lho, bukan Bahasa Jawa.
Hal ini membuktikan bahwa lingkungan sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Jadi, kondisikan lingkungan jika berharap kelak ananda menempuh sekolah di luar negeri.
Salah satunya dengan menyediakan mini library yang penuh buku-buku berbahasa asing, baik buku Bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya. Bacakan buku-buku ini sejak dini. Jangan marah ketika buku sobek, atau basah tersiram air minum.
Orang tua gak fasih berbahasa Inggris? Gak papa, anggap saja sedang belajar bersama anak-anak menguasai bahasa asing dan ilmu baru.
Dulu saya gak beruntung punya buku berbahasa asing. Tapi di rumah banyak buku-buku terjemahan bahasa asing yang di kemudian hari sangat membantu,
Salah satu buku (saya lupa judulnya) berkisah tentang harian seorang perempuan Uni Soviet yang bersama keluarganya melarikan diri dari kekejaman Nazi Jerman, dan ada percakapan tentang mata uangnya (rubel), sehingga sewaktu ujian sekolah muncul pertanyaan tersebut, hanya saya yang bisa menjawab. (sombong mode on 😀😀)
Dengan kata lain, anak senang membaca karena terkondisikan. Dia melihat orang tua senang membaca. Buku-buku tersedia. Anak-anak pun mendapat stimulasi, baik wawasannya maupun ketertarikan untuk sekolah di luar negeri.
Area di sekitar mini library yang nyaman juga bisa merupakan tempat berbagi ide. Sambil lesehan, mengobrol dengan anggota keluarga, kerabat atau teman, keberadaan mini library memudahkan untuk mengambil referensi yang dibutuhkan, mulai dari berkebun, pernak-pernik hobi hingga tentang bisnis dan wirausaha.
![]() |
| baru sebentar di Jogja, buku udah numpuk 😀😀 |
Cara lain mengembangkan kemampuan anak berbahasa asing adalah dengan mengondisikan lingkungannya (seperti kisah anak-anak di atas yang mendengar orang tuanya berbahasa Indonesia medok).
Tips ini saya dapat dari seorang teman yang hanya memperbolehkan anaknya menonton video berbahasa Inggris, bermain game berbahasa Inggris dan seterusnya. Sehingga anak-anaknya terbiasa mendengar percakapan Bahasa Inggris.
Saudara sepupu saya membuktikannya. Dia dan suaminya tidak lancar berbahasa Inggris, karena itu dia terkaget-kaget melihat anak bungsunya cas-cis cus ngobrol dengan kakaknya dalam Bahasa Inggris.
Ternyata dimulai dari sang kakak yang rajin menonton video berbahasa Inggris, adiknya gemar main game berbahasa Inggris, akhirnya nyambung deh.
Saya sendiri sangat mendukung anak-anak yang berambisi sekolah di luar negeri. Karena dengan keluar dari “tempurung” bernama Negara Indonesia, wawasan mereka akan bertambah dan muncul ide-ide untuk memajukan Indonesia, seperti membuat air kran siap minum, dan inovasi-inovasi lain yang lumrah di luar Indonesia, namun entah mengapa kok nampak sulit banget diterapkan di Indonesia.
Baca juga:
Ibu Rumah Tangga Jago Bahasa Inggris? Mengapa Tidak?
Tantangan Blogger, Belajar Menulis Tanpa Batas
Bodo Katotoloyoh vs Minat Baca Gen Z





.png)


Ulasan yang menarik dan inspiratif...
ReplyDeleteSetuju, anak suka membaca dan punya kebiasaan baik lainnya sebab terkondisikan, kita orangtua yang menjadi teladan.
Tentang memiliki mini library di rumah, memang sangat efektif untuk meningkatkan budaya literasi keluarga, menciptakan area yang tenang untuk fokus bagi anak, dan mendukung perkembangan akademis serta kosa kata mereka. Termasuk satu upaya jika ingin menyiapkan anak bisa sekolah di luar negeri
Aaah ... saya ada di bagian ortu yang KOMPROMI
ReplyDeletesuami dan saya berbeda pendapat. Saya suka anak mandiri, saya suka anak sekolah di luar kota atau bahkan luar negeri (udah saya buatin, loh vision board sejak mereka masih bayi) dan suamiku kebalikannya!
Dan saya setuju :
Adversity Quotient (AQ) adalah kemampuan atau kecerdasan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan mengatasi kesulitan serta tantangan hidup. AQ mengukur seberapa gigih seseorang dalam menghadapi rintangan, mengubah masalah menjadi peluang, dan tetap berkinerja baik di bawah tekanan.
Alhamdulillah di balik tekanan terutama ekonomi dan pressure keluarga yang besar, anak anakku berprestasi di bidang yang mereka sukai.
Saya dan suami besar dengan nuansa dan kewajiban mandiri. Sejak SMA kami hidup jauh dari orang tua dengan tanggung jawab yang tidak sedikit. Alhamdulillah meski awalnya gak yakin dengan diri sendiri malah akhirnya merasakan banyaknya hal positif yang didapatkan dari menjadi mandiri. Hal ini saya tularkan ke anak-anak. Kuliah kost, jauh dari orang tua. Saya juga gak nge-drama ini itu. Kasih anak kepercayaan aja. Kita dari jauh mendoakan. Semoga semua jadi manfaat bagi anak-anak ya Mbak. Karena gak selamanya ortu akan mendampingi.
ReplyDeleteBetul sekali, bila ingin menjadikan anak seorang Dokter, maka harus di setting dan di persiapkan sejak dini untuk mau dan tertarik menjadi dokter. Ini baru aku dapatkan ilmunya saat belajar parenting ketika keponakan sempat tinggal di rumah aku dan ortu.
ReplyDeleteMini library dan kesiapan mental buat anak kuliah di luar negeri emang ngaruh banget. Kalau dibiasakan sedari kecil, membentuk dan menyakinkan mereka. Bahkan aku pun masih ada kesempatan buat LPDP kan, masih 32 tahun, udah mulai kepikiran mau coba di salah satu univ luar negeri sambil asah lagi bahasa Inggris nih. Makanya aku salut sama ortu yang membiasakan anak-anak belajar dan bercakap bahasa Inggris dan bahasa lainnya di keseharian ini kasih impact positif buat anak juga.
Ambu saya setuju banget kalau anak senang membaca karena terkondisikan. Terbiasa melihat orang tua senang membaca. Buku-buku tersedia. Karena saya dulu begitu.
ReplyDeleteTapi untuk generasi anak saya tantangan lebih sulit Ambu. Dunia yang berpacu lebih cepat serta godaan gawai kadang membuat anak sampai tak seluang saya dulu waktunya untuk baca buku.
Semoga anak saya juga ada yang termotivasi dan mendapat jalan untuk keluar negeri melanjutkan kuliahnya kelak ya ambu