Kremasi dan Perjalanan Menuju Keabadian

  
maria-g-soemitro.com

Kremasi dan Perjalanan Menuju Keabadian

“Adikku tinggal kenangan …..,” kata adik saya (anak nomor 3) tersedu, ketika melihat ban berjalan membawa peti berisi adiknya (anak nomor 4) perlahan masuk ke ruang kremasi, tempat api berkobar membakar tubuh tegap adik saya, dan meleburnya hingga jadi abu.

Mungkin ini yang menjadi pembeda jenazah dikuburkan dan dikremasi. Kesedihan mendalam muncul ketika jasad dikubur dan perlahan tertimbun tanah. Namun masih ada asa, saya bisa mengunjungi adik saya dalam bentuk pusara. Masih bisa ngobrol satu arah dan terkadang memaki kepergiannya.

Tidak demikian dengan kremasi, terlebih kemudian abunya dilarung ke lautan. Hatinya rasanya remuk. Sakit. Gak tega membayangkan jasad  adik tersayang terbakar dengan “kejam”.

Tapi, harus dipahami bahwa itulah pilihan almarhum. Suatu privilege yang tak dimiliki almarhum dalam memilih cara menuju perjalanan keabadiannya. Apakah suatu kesakitan beberapa menit? Atau perlu waktu berminggu, bahkan bertahun sebelum Malaikat Izrail datang untuk melaksanakan tugasnya.

Kematian itu keniscayaan. Pasti datang, tanpa mempedulikan usia, waktu dan tempat. Dan kita gak punya hak prerogatif untuk menunda atau mengubahnya.

Baca juga:

Tradisi Tahlilan, Pilih Adab atau Ilmu?

Mertua Toxic? Begini Cara Mengatasinya

Daftar Isi

  • Kremasi Sebagai Privilege Terakhir
  • Rumah Duka, Tempat Terakhir Kali Kami Bertemu
  • Dikremasi dan Dilarung

Butuh waktu lama untuk saya berkisah tentang maut yang menjemput adik saya tanggal 21 Maret silam. 

Sebagai penjelasan, saya anak kedua dari 6 bersaudara. Kakak saya perempuan, dan saya mempunyai 4 adik laki-laki. Seperti umumnya anak laki-laki,  adik saya (nomor 4) ini acap berkelahi dengan adik saya lainnya (anak nomor 3), seperti saya tulis di awal tulisan.

Semasa kecil kerap berkelahi, namun akur setelah dewasa. Tubuh adik nomor 3 kurus dan tinggi, sedangkan adik saya nomor 4  bertubuh montok. Lasak. Selalu bergerak dan berujung pertikaian dengan kakak laki-lakinya. 

Gak heran kematian adiknya, membuat adik nomor 3 sangat terpukul! Lha wong “partner in crime”-nya meninggal duluan.

Tidak hanya dia,  kami semua tak siap.  Walau telah berulangkali almarhum dirawat di rumah sakit di Sukabumi,  berulangkali pula dia pulang ke rumah dengan riang gembira. 

Wajahnya selalu full senyum. Aktivitasnya padat. Pasca pensiun dari manager cabang salah satu bank swasta, adik saya menyibukkan diri dengan jual beli tanaman anggrek melalui suatu e-commerce.

Kesibukan yang mengherankan, bagaimana mungkin seorang kantoran berganti profesi menjadi entrepreneur? Dan sukses! Yup sukses, berkat kelihaiannya membaca pasar, bisnis anggreknya mampu meraup omzet puluhan juta rupiah.

Berfluktuasi sih. Tapi dalam beberapa bulan mampu menghasilkan puluhan juta rupiah, dan membiayai biaya kuliah anaknya di Binus University, sungguh emejing.

maria-g-soemitro.com

Rumah Duka, Tempat Terakhir Kali Kami Bertemu

“Untuk suami, saya ingin memberikan yang terbaik ,” kata adik ipar saya. Ruang tempat bersemayam jasad adik saya di Rumah Duka Paramarta memang penuh bunga (terakhir saya tahu harganya hampir mendekati sepuluh juta rupiah), sebagai penghormatan terakhir bagi suaminya.

Ini memang kelindan rasa dan kultur. Bahwa sebagai pasangan/anggota keluarga yang ditinggalkan, telah melakukan semua yang terbaik bagi almarhum.

Adik ipar saya merasa terpukul. Dalam keseharian pasangan ini runtang runtung berdua. Terlebih setelah beberapa tahun yang lalu,  adik saya pensiun dan kedua anak laki-lakinya sibuk kuliah. 

Dengan pilu, adik ipar saya berkisah, beberapa waktu sebelum meninggalkannya untuk selamanya, suaminya selalu minta dikeloni. Tidur minta dipeluk istrinya. Atau memeluk istrinya. Bermanja-manja sambil memeluk istrinya. Hal yang bahkan tak pernah dilakukan kala mereka masih pasangan muda.

Bahkan di tempat tidur sempit di rumah sakit, adik saya mengajak istrinya tidur berdua. Hmm… saya tersenyum, ternyata berpelukan di ranjang sempit rumah sakit gak sekadar ada dalam drama Korea. Terjadi nyata. 

Kisah adik ipar, menambah impitan kesedihan yang saya rasakan selama perjalanan dari Cinanjung, Sumedang menuju Terminal Bus Leuwipanjang, baru kemudian ke Sukabumi. 

Perih rasanya! Adik saya ini teramat baik. Ketika masih di bangku TK dan ayah meninggal,  dia harus terpisah dari ibu, kakak dan adiknya.  Almarhum eyang, dengan alasan meringankan beban ibu saya, membawa adik nomor 4 ini ke Yoyyakarta dan sekolah di sana.

Para orangtua ini tak memahami bahwa adik saya merasa dibuang. Dia  merasa tidak dikehendaki ibu, kakak dan adiknya. 

Sakit sekali jika mengingat kesalah pahaman ini. Tambah pilu ketika mengingat betapa adik saya memendam semuanya dan tetap berprestasi. Tidak hanya di sekolah, juga di kalangan pendaki gunung. Adik saya berhasil menaklukan banyak gunung tinggi seperti puncak Rinjani yang kala itu masih belum ramah pada pendaki gunung.

Akhirnya nampak Rumah Duka Paramarta Sukabumi yang dipenuhi tamu dan bunga . Akibat macet, tujuh jam waktu yang harus saya tempuh untuk bertemu almarhum adik saya. 

Ibadah penutupan peti hampir usai, dan saya bisa memegang pipi adik saya. Bisa mengucapkan salam perpisahan, karena kelak saya pun akan menyusul jejaknya, berjalan menuju keabadian.

  

maria-g-soemitro.com

Dikremasi dan Dilarung

“Mau lihat abu dan tulangnya?” tanya adik ipar pasca 2 jam kremasi. Hanya 8 orang yang boleh melihat hasil kremasi yang akan dimasukkan ke guci,  kemudian dilarung ke lautan.

Saya menggeleng. “Gak, saya mau mengingatnya dalam keadaan ganteng begini,” jawab saya sambil memandang wajah tampan adik saya. Ketampanan yang diwariskan pada kedua anak laki-lakinya.

Saya tak siap. Dalam keluarga kami, baru kali ini ada anggota keluarga yang dikremasi. Kedua orangtua dan si bungsu dimakamkan di pemakaman Kerkhof Sukabumi. 

Almarhum adik saya rupanya punya pertimbangan lain. Dia tak ingin merepotkan anggota keluarga, seperti harus mengurus pajak kuburan (padahal jumlahnya gak besar lho) dll. Sehingga jauh hari dia sudah berwasiat pada istri dan anak-anaknya, agar kelak jasadnya dikremasi dan dilarung ke  laut.

Tak sembarang berwasiat, adik saya menyiapkan sejumlah dana untuk proses tersebut. 

Dan demikianlah, setelah kematian tak terduga. Almarhum adik saya tiba-tiba jatuh dari posisi duduknya di dekat meja makan di malam hari tanggal 21 Maret. Walaupun beberapa bulan terakhir, sakit jantung membuat  almarhum harus bolak balik dirawat di RSUD R. Syamsudin Sukabumi. Malam itu anak dan istrinya membawa adik saya ke RS Kartika Kasih Sukabumi,  rumah sakit terdekat dari rumah dan dinyatakan meninggal.

Rumah Duka Paramarta Sukabumi menjadi pilihan persemayaman almarhum.  Sayang, belum ada layanan kremasi di Kota Sukabumi. Sehingga pagi tanggal 23 Maret, kami berangkat bersama menuju  krematorium Sentra Medika Cibinong. 

maria-g-soemitro.com

Sepanjang perjalanan dan selama ibadah terakhir, rasanya remuk redam. Ada rasa sakit yang tak terlukiskan di dalam hati. Terlebih ketika ibadah berakhir dan perlahan ban berjalan membawa peti jenazah adik saya masuk ke ruang kremasi. Tangis pun pecah.

Seperti kata kakaknya, adik saya nomor 3, yang tersisa adalah kenangan. Tak ada lagi senyumnya yang menyambut setiap kedatangan saya di Sukabumi. Tak ada lagi sosok yang kerap tenggelam dalam buku-buku di kamar kerjanya.

Wajahnya yang tampan tinggal kenangan. Krematorium yang berada di perbukitan ini memproses semua kenangan indah. Berkelindan dengan banyak penyesalan yang baru terasa kala adik saya tiada. 

Dua jam kemudian, petugas krematorium memberitahu bahwa bahwa proses kremasi telah usai. Anggota keluarga dan kerabat dipersilakan bertemu adik saya untuk terakhir kalinya. Saya tak sanggup.

Beda halnya dengan adik ipar saya. Dia tegar. Bersama kedua anaknya, kakak perempuan saya, adik saya nomor 3, dan beberapa kerabat lain, hadir untuk mengucap salam perpisahan.

Rupanyan tak tega, adik saya nomor 3 hanya sanggup sebentar melihat. Kemudian segera keluar dan menangis. Tak mudah menerima kenyataan tubuh tegap nan gagah adiknya, berubah jadi abu dan tulang. 

Perjalanan menuju Pantai Ancol merupakan perjalanan panjang, sekaligus teramat singkat. Untuk terakhir kalinya, kami bisa bersama adik tercinta, dalam bentuk abu yang tersimpan rapi dalam guci.

Ini sensasi rasa terakhir berdekatan dengan fisik adik saya. Kedekatan yang sangat bermakna, karena sebentar lagi abu dalam guci akan dilarung ke lautan.

maria-g-soemitro.com

Sepanjang perjalanan dengan  speedboat, adik ipar saya memeluk guci dengan erat. Seolah memeluk suami tercintanya untuk terakhir kali. Berulangkali dia mengucapkan kata terimakasih atas hari-hari indah yang dilalui bersama. Terimakasih karena telah menjadi suami yang menyayanginya. Dan terimakasih karena telah menitipkan dua anak laki-laki yang tampan.

maria-g-soemitro.com

Ketika waktu itu tiba, dengan tegar adik ipar saya melarung guci berisi abu suami tercintanya. Taburan bunga mengiring kepergiannya. Saya terisak:

Selamat jalan adikku, tugasmu telah usai. Tinggal kami meneruskan tugas yang tersisa. Meneruskan hidup agar bermakna dan meninggalkan kenangan manis dan hangat.

maria-g-soemitro.com

Yang mengikatmu dengan almarhum adalah kenangan. Kita merasa kehilangan sosoknya, senyumnya, kebaikannya serta banyak peristiwa yang dilalui bersama. Karena itulah kesedihan datang. 

Tanpa kenangan tentang adik saya, rumahnya di Sukabumi hanya sekadar rumah. Kamar kerjanya hanya sekadar ruangan penuh buku dan kertas. Bahkan istrinya hanyalah perempuan yang dinikahi adik saya.

Seperti itulah hidup. Datang dan pergi seiring  datangnya mentari pagi dan munculnya bulan di malam hari. Keputusan ada di tangan kita, apakah akan mengisinya dengan makna, atau membiarkannya berlalu seperti angin yang berlalu tanpa jejak.

Baca juga:

Guru Mengajiku, Mirip Ibu Sinta Nuriyah Wahid

Stigma Janda dan 6 Cara Mengatasinya

Beda Agama, Ini Cara Menyampaikan Kasih Sayang pada Orangtua yang Telah Tiada


7 comments

  1. turut berdukacita sedalam dalamnya ambu
    Semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisiNYA aamiin

    ReplyDelete
  2. Ikut berdukacita ya ambu, namanya keluarga pasti banyak kenangan yang terukir, salut sama anak dan istrinya almarhum yang tabah dan kuat menjalani semua prosesinya.

    ReplyDelete
  3. Turut berduka cita, Ambu. Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tegar. Omku (adik bungsu bapak) juga memilih dikremasi dan dilarung dengan pertimbangan yang sama seperti adik Ambu.

    ReplyDelete
  4. Turut berduka Ambu.
    Daku pikir, seperti di Korea, ada Columbarium-nya di sini, sehingga semisal muncul rasa kangen bisa ke sana.

    ReplyDelete
  5. Saya mengharu biru dengan mata berkaca-kaca baca ini Mbak. Betapa sesungguhnya kehilangan itu sungguh melukai hati. Apalagi jika ini berkaitan dengan keluarga kandung yang tentunya punya sejarah dalam hidup kita. Semoga sang adik sudah berada dalam ketenangan ya Mbak. Dan seluruh keluarga diberikan ketabahan dan keikhlasan. Khususnya bagi istri dan anak-anak beliau. Saya turut berduka cita yang sedalam-dalamnya.

    ReplyDelete
  6. semoga almarhum adiknya tenang di surga ya ambu. Perpisahan ini semoga tetap memberikan semangat ambu dan keluarga untuk tetap berbuat kebaikan sampai kemudian nanti. Turut berduka cita untuk adiknya ambu

    ReplyDelete
  7. Turut berduka cita, Ambu.
    Rasanya memiliki banyak kenangan dan semoga akan terus terpatri kuat dalam ingatan. Betapa sayangnya kita untuk saudara yang tumbuh bersama.

    ReplyDelete