Tantangan Blogger, Belajar Menulis Tanpa Batas

        
maria-g-soemitro.com

Tantangan Blogger, Belajar Menulis Tanpa Batas

“Ah saya mah nulis WA aja gak bisa,” kata seorang ibu menimbrung obrolan kami. Awal mula percakapan ini terjadi di warung sayuran milik Ibu Haji Eni. Sang pemilik warung gak bisa memasukkan nama dan nomor kontak baru ke HP,  dan minta bantuan ke calon pembeli di sebelah saya.

Permintaannya ditolak, karena orang tersebut juga gak bisa!

Heran ya? Saya pun heran. Apalagi mendengar calon pembeli lainnya bilang bahwa jangankan memasukkan kontak baru, nulis pesan di WA  (WhatsApp) pun dia gak bisa.

Akhir obrolan bisa ditebak, saya segera turun tangan membantu pemilik warung, sambil kebingungan: “Punya ponsel, tapi fitur sederhana aja kok gak bisa sih?” (tentu saja hanya di dalam hati)

Bagaimana tidak? Warung yang terletak dekat rumah saya tersebut termasuk kawasan sub-urban kota Bandung, atau sebagai zona penyangga (buffer zone) dan kawasan pendidikan yang tumbuh pesat di sebelah timur Kota Bandung.

Sehingga harusnya penduduk di kawasan ini gak gaptek. Terlebih saya tebak mereka termasuk generasi X dan Y (milenial),  generasi yang menurut pakar sudah melek teknologi informasi. 

Baca juga:

Broken String dan Target Baca Buku

Makin Tambah Umur, Kok Makin Susah Berteman ya?

Daftar Isi:

  • Jomplangnya Kemampuan Digital Masyarakat
  • Blogger, Belajar Menulis Tanpa Batas
  • Blogger, Wajib Belajar Menghindari Hoaks

Ternyata jomplang banget ya pengguna teknologi informasi di masyarakat Indonesia. Ketika sebagian masyarakat menulis pesan di ponsel dengan jari yang begitu lincah, sebagian lagi gak bisa menulis pesan di WA.

Ketika banyak pedagang menjual barangnya via online, pedagang lainnya menjajakannya dari rumah ke rumah.

Ketika sebagian masyarakat sudah bertransaksi menggunakan QRIS, sebagian lagi masih menyimpan uangnya di bawah bantal, karena mereka masih kesulitan mengakses perbankan yang terkesan angkuh dan tak mudah didekati.

Peristiwa di atas juga mengingatkan saya pada kejadian lainnya, kala itu Ridwan Kamil (RK) masih menjabat sebagai walikota Bandung. Ketika sedang menyusuri jalan Riau Bandung dalam perjalanan menuju kantor, saya bertemu serombongan demonstran yang sedang meneriakkan yel-yel untuk menyeret Kang Emil (panggilan untuk RK) ke meja hijau.

Penasaran dong saya, jadi pada seorang demonstran terdekat, saya bertanya:”Kang Emil korupsi? Salah apa? Ada buktinya?”

Dengan polos, pemilik wajah beringas itu menjawab: “Ada buktinya di YouTube!”

What? ? 😀😀

Hingga habis masa jabatan sebagai walikota Bandung, tak satu pun kasus yang menyinggung Kang Emil,  Saya sungguh mengharapkan jawaban “Korupsi ini di sini.” Lebih jauh mungkin bisa dijawab “Beritanya ada di media ini”. 

Saya menulis beberapa kisah di atas usai menonton obrolan Bhima Yudhistira Adhinegara, ekonom terkemuka dan Direktur CELIOS  dengan Gita Wirjawan, pemilik channel YouTube “Endgame” yang kerap mengulas tentang pendidikan di Indonesia.

Mantan Menteri Perdagangan Indonesia tersebut menduga rendahnya pendidikan di Indonesia disebabkan jumlah kepala keluarga (KK) di Indonesia yang lulus S1 tidak mencapai 20 persen. Sewaktu Pak Gita menanyakan solusinya, Bhima menjawab, konten bermanfaat bisa menjadi salah satu solusi mencerdaskan masyarakat.

Saya setuju banget. Daripada mengeluh, sebagai pemilik blog, kita bisa lho berkontribusi, walau potensi pengaruhnya hanya sebutir debu, asalkan mau menaklukan tantangan dengan terus belajar menulis dan harus anti hoaks.

maria-g-soemitro.com

Blogger, Belajar Menulis Tanpa Batas

Menjadi seorang blogger berarti harus siap belajar tanpa batas. Saya baru menyadarinya sesudah nyemplung ke profesi ini, terlebih setelah “berani” membuat blog pribadi.

Memosting tulisan di blog pribadi berbeda dengan di User Generated Content (UGC) seperti Kompasiana. Di platform UGC, seorang blogger gak perlu repot mempromosikan kontennya, malah Kompasiana akan mengganjar tulisan dengan hadiah highlight (tulisan pilihan) dan paling top tentunya headline (tulisan utama), persis seperti media mainstream cetak yang meletakkan headline di halaman depan.

Tentu saja setiap pilihan ada kelebihan dan kekurangannya. Salah satunya, melalui blog pribadi, seorang blogger bisa langsung mendapatkan penghasilan dari pengiklan, baik melalui content placement yang disediakan maupun harus ditulis sendiri oleh blogger.

Nah apa saja yang harus selalu dipelajari seorang blogger agar blognya bermanfaat?

Peningkatan Kualitas Konten

Apa alasan seorang pembaca menyukai suatu tulisan? Banyak penyebabnya, bisa tulisannya aktual, inspiratif, menarik atau bermanfaat. Untuk itu seorang blogger harus selalu belajar, agar punya wawasan mendalam dan bisa memenuhi kebutuhan tersebut.

Seorang blogger juga  wajib mematuhi kaidah PUEBI. Gak lucu kan jika pembaca bingung ketika muncul kata “merubah” (kata dasar rubah=jenis hewan), padahal seharusnya “mengubah”.

Perkembangan Teknologi

Hari gini ternyata gak cukup membuat konten tulisan. Seorang blogger wajib memiliki media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk mempromosikan tulisannya.

Nah mau gak mau, blogger harus belajar membuat video. Untunglah kini semakin banyak aplikasi yang membantu membuat video short maupun video standar.

Adaptasi dengan Algoritma & SEO

Mesin pencari seperti Google sering memperbarui algoritma mereka. Walau kepala nyut-nyutan sewaktu mempelajarinya, mau gak mau sebagai blogger saya harus melakukannya.

Pertemanan dan bergabung dengan komunitas blogger akan sangat membantu tugas ini. Saya beruntung berkenalan dengan Maria Tanjung, seorang Blogger Surabaya yang banyak menulis topik keuangan di blognya.

Mbak Maria menginformasikan manfaat arisan backlink, yaitu suatu cara untuk membantu meningkatkan peringkat blog di halaman pertama Google, mempercepat indeks konten baru, mendatangkan referral traffic (pengunjung rujukan), serta membangun domain authority dan reputasi blog.

Monetisasi dan Pendapatan

Selain mendapat penghasilan dari pihak pengiklan, seorang blogger bisa banget hanya mengisi blog secara teratur dan mendapat penghasilan. Caranya dengan mendaftarkan blog ke Google AdSense. Blogger akan dibayar berdasarkan impresi (tayangan) atau klik pengunjung pada iklan tersebut. 

maria-g-soemitro.com

Blogger, Wajib Belajar Menghindari Hoaks

Alih-alih musuh, buat saya AI  adalah teman setia yang sangat membantu. Dulu, saya harus membuka banyak sumber untuk mendapatkan data, dan pastinya menghabiskan banyak waktu.

Sekarang, dengan cepat saya bisa memperoleh data tersebut. Cukup menuliskannya di kolom pencarian, maka AI akan mengerjakan tugasnya mencari dan menyajikan data.

Tapi ………..

Hati-hati, AI bisa salah. Contohnya ketika saya mencari data Bhima di atas. Saya lupa menyertakan huruf “h”, hanya nama “Bima”, maka munculah informasi Bima Arya Sugiarto sebagai mantan Walikota Bogor, dan Wamendagri (2024-)

Bahkan media mainstream sekelas Tempo bisa kepeleset. Media tersebut menulis Ade Armando ikut mendirikan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), sebuah gerakan yang lahir dari kesadaran bahwa disinformasi merupakan racun demokrasi. 

maria-g-soemitro.com

Artikel yang dirilis 15 April 2026 telah dikoreksi, itu pun sesudah Mafindo mengirim klarifikasi pada Tempo.

Nah sebagai blogger, apa yang harus dilakukan supaya tidak tergelincir membuat konten hoaks?

Saring Sebelum Sharing (3S)

Seorang blogger wajib punya sikap skeptis yang sehat dan kebiasaan memverifikasi informasi sebelum memasukkan ke dalam artikel. Emang sih wajib punya wawasan yang cukup untuk melakukannya.

Seperti kisah Bima Arya di atas. Sewaktu mendapat data yang salah, saya segera menyertakan promt tambahan, dalam hal ini “Celios”, hingga saya menemukan data yang benar tentang Bhima Yudhistira.

Memeriksa Sumber Berita

AI bisa salah. Beruntung selain menyajikan data, AI juga menyertakan sumber berita, sehingga kita dapat menerapkan kebiasaan berpikir kritis: Apakah berita ini benar?", "Apa tujuannya?", dan "Siapa yang menyebarkannya?".

Beberapa cara berikut ini untuk mengetahui sebuah sumber informasi terpercaya atau tidak:

Cek Institusi Resmi: 

Pastikan informasi berasal dari lembaga resmi (seperti pemerintah, situs berita terverifikasi, atau instansi terkait), bukan situs blog gratisan atau pesan berantai.

Periksa Alamat Situs: 

Cek tautan (link) yang dibagikan, apakah mencurigakan atau tidak.

Gunakan Metode "Cross-Check" (Cek Silang)

AI bisa salah. Karena itu saya selalu membandingkan setiap data informasi yang disajikan, misalnya antara dengan ChatGPT, Google Gemini, Microsoft Copilot, dan lainnya.

Bahkan saya kerap bertanya pada orang yang paham dengan topik yang akan saya tulis. Banyak lho, pedagang sayuran yang kita temui di pasar, driver ojol, hingga anak sendiri bisa jadi narasumber.

Kelemahan AI memang hanya menyajikan data berdasarkan informasi yang diunggah oleh banyak pihak, baik dalam bentuk website maupun  caption media sosial (Instagram, TikTok, Facebook).

 Gak percaya? Minta deh AI membuat gambar “jengkol” pasti hasilnya bakal aneh. 😀😀

Baca juga:

Bodo Katotoloyoh vs Minat Baca Gen Z

Yuk Kenalan dengan Founder dan Admin Happy Family Support Community


No comments

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat