Broken String dan Target Baca Buku
Berapa target buku yang dibaca tahun ini? Pertanyaan tersebut membuat saya menoleh ke tumpukan buku yang tanpa saya sadari bertambah tinggi. Padahal ini di rumah eyang Jogja lho, bukan tempat tinggal saya permanen.
Akibat lapar mata, buku-buku yang belum dibaca menumpuk di sini, apalagi di Cinanjung maupun Cigadung, Kota Bandung, bahkan sebagian masih dalam bungkus plastik.
Jika ditambah ebook yang saya unduh dengan alasan “penasaran, pingin baca”, serta tumpukan buku yang sudah saya tuntaskan, mungkin saya sudah bisa membuat perpustakaan mini. 😀😀
Tapi sudahlah ya, saya harus mengukur kemampuan. Dan biasanya buku yang berada di sekitar saya adalah buku yang saya ingin baca. Kali ini berjudul “Canting” karya almarhum Arswendo Atmowiloto.
Baca juga review buku berikut:
Tradisi Makan Siang di Indonesia ternyata Sarat Makna
Buku Digital Public Relations, Konten Kreator Wajib Punya
Daftar Isi:
- Novel “Canting” Membuat Saya Enggan Beranjak
- Alasan Membaca Broken String
- Buku “Omah” dan Target Membaca Buku
Buku setebal 376 halaman ini saya beli lewat jastip teman yang rajin promosi buku-buku diskonan Kompas Gramedia. Jadi pasti bagus ya? Apalagi penulisnya merupakan salah satu favorit saya: Arswendo Atmowiloto.
Namun bukan faktor itu yang membuat saya ingin menghayati setiap halaman, bak minum kopi yang dinikmati setiap sesapnya. Gak heran, udah lama dibaca tapi belum tuntas juga.
Isinya lah yang bikin saya merenung.
Novel “Canting” berkisah tentang kehidupan keluarga Jawa khususnya berpusat pada tokoh Bu Bei. Sosok ini memimpin usaha batik tulis (menggunakan canting) di rumahnya, sekaligus menjual produk batiknya di Pasar Klewer di Solo.
Meskipun menjadi sosok wanita karier yang sukses dalam berdagang, dan membiayai seluruh kebutuhan keluarga, Bu Bei tetap tunduk pada suaminya yang gak pernah kerja. Aktivitasnya hanya duduk-duduk dan berkumpul dengan rekannya, sesama priyayi.
Walau ngeselin, Pak Bei gak sesederhana itu. Dia merupakan sosok priyayi Jawa yang berani mendobrak tradisi dengan menikahi Bu Bei (mantan buruh batiknya). Dalam budaya Jawa, seorang pria emang gak pernah “menyentuh” urusan rumah tangga (nyuci, masak, nyapu, ngepel).
Tentu saja mendiang Arswendo Atmowiloto seperti biasanya berkisah dengan detail dan runut. Termasuk peristiwa Bu Bei ketakutan ketika hamil untuk ke-enam kalinya.
Pak Bei menunjukkan kemarahan sewaktu mendengar istrinya hamil, dia curiga janin yang dikandung istrinya bukanlah anak kandungnya, melainkan anak dari buruh batik bernama Jimin.
Bu Bei yang hidup dalam budaya patriarki Jawa yang kental, hanya bisa diam, menunggu kemarahan suaminya mereda.
Jauh banget dengan budaya modern, khususnya terkait feminisme budaya yang menuntut penghargaan atas peran domestik dan hubungan sosial.
Walau demikian, kisah yang diusung Arswendo masih banyak kita temukan di sekitar kita. Paling tidak selama saya mendampingi komunitas, banyak istri yang keluar rumah harus melalui proses izin dan dikawal suaminya.
Hal yang membuat saya berpikir ulang daripada sekadar protes: “Kok mau sih?” Kemarahan dalam bentuk emosi yang membuat novel “Canting” belum berhasil saya tuntaskan.
Buku berikutnya yang ingin saya baca adalah buku "Broken Strings", memoar reflektif karya aktris Aurelie Moeremans.
![]() |
| sumber: threads.com |
Alasan Membaca Broken String
"Broken Strings" mendadak memenuhi timeline, bahkan masuk ke dalam trending topic X.com (dulu Twitter.com). Malah beberapa akun mengutip beberapa paragraph.
Memoir Aurelie Moeremans ini berkisah tentang pengalaman traumatisnya menjadi korban child grooming dan kekerasan emosional saat remaja, serta proses penyembuhannya.
Semula saya enggan membaca, wong masih ada tumpukan buku yang belum saya baca. Sampai akhirnya saya melihat review Linda Razad, Editor Kompas Gramedia tentang buku “Broken String” di Facebook.
Habis baca pdf buku Broken String lelah saya. Bagi orang yg terbiasa mengeluarkan isi hati atau pendapat, ketika baca tentunya akan muncul pertanyaan kenapa...kenapa....kenapa, dll. Duuhhhh....gemes.
Itu menurut pendapat saya yg baca di usia tua pula. Ketika saya yg mengalaminya sendiri belum tentu akan sekuat Aurelie. Hebat dia bisa keluar dari situasi sekeras itu dan mampu menyembuhkan dirinya.
Btw, tulisannya bagus. Ceritanya mengalir dgn baik. Gambaran tokoh utama cukup detil. Jadi bisa bayangkan sosoknya. Ehhh... si tokoh ke luar dari buku, muncul sebagai sosok 4D. Persis sama seperti yg digambarkan Aurelie.
Hubungan seksual disampaikan dgn halus. Seperti nggak ada kekerasan seksual. Melihat karakter cowoknya, sangat mungkin diperlakukan dgn kasar juga.
Satu lagi yg buat saya salut, bahasa Indonesia baik. Penempatan titik koma pas, EYD benar, penggunaan kata "di" sesuai, dan hebatnya ngga ada typo sama sekali.
Layak dibaca menurutku
Wah jadi penasaran kan? Terlebih tersedia versi pdf, bisa langsung download.
Bagaimana hasilnya?
Saya membaca “Broken String” dalam perjalanan pulang dari Jogja ke Bandung, dan belum tuntas, karena beberapa hal yang mengganjal:
Elemen 5W 1H yang diabaikan
Saya berusaha memahami alasan Aurelie Moeremans mengabaikan elemen 5W 1H (Apa, Siapa, Kapan, Di mana, Mengapa, Bagaimana) karena dia menulis memoir bak buku harian yang pastinya dipahami oleh Aurelie sendiri.
Beda ceritanya setelah dibukukan dan dibaca orang yang gak kenal Aurelie. Pembaca awam seperti saya jadi kebingungan, seperti siapa sih Aurelie? Maaf saya kudet, baru kenal namanya setelah bukunya viral, dan saya pikir banyak pembaca lainnya gak mengenal karya Aurelie sebagai aktris.
Ibunya kemana?
Anak 15 tahun udah pacaran? Duh, Aurelie kan masih punya ibu dan ayah. Apa pun alasannya, kok tega membiarkan anaknya pacaran padahal masih di bawah umur?
Ingat kasus aktris Korea Selatan, Kim Sae-ron yang menyeret nama aktor Kim Soo-hyun sebagai pelaku yang pernah menjalin hubungan dengan anak di bawah umur?
Walau telah berlalu dan Kim Sae-ron sudah meninggal dunia, Kim Soo-hyun terkena cancel culture karena pernah pacaran dengan Kim Sae-ron kala mendiang masih berusia 15 tahun.
Indonesia mengatur kasus ini dalam UU 23/2002 dan yang terbaru KUHP baru (UU 1/2023) Tentang Perlindungan Anak, meskipun anak tersebut setuju atau "suka sama suka" ancaman pidana penjara paling lama 7 tahun tetap berlaku.
Tapi ya sudahlah, ini Indonesia. Orang yang disentil Aurelie masih lalu lalang dengan bebasnya, malah banyak yang menyesalkan tindakan Aurelie menulis memoir ini.
Aneh ya?
Buku “Omah” dan Target Membaca Buku
Jadi, tahun ini berapa buah buku yang ditargetkan untuk dibaca? Jawabnya: Gak ada! Karena:
Bagi seorang content writer, buku bak oksigen untuk bernapas. Dia membutuhkan buku untuk menemukan ide, menulis dan menuangkan kreativitasnya. Tanpa buku, seorang blogger/ content writer hanyalah raga tanpa nyawa.
Sehingga seperti layaknya oksigen, seorang content writer gak butuh target membaca. Terlebih andai dia sangat memperhatikan SEO Content Writer, dengan sendirinya buku menjadi keseharian. Baik dibaca tuntas, atau baru dibaca beberapa bab seperti novel “Canting”, memoarnya Aurelie, dan yang sedang bikin asyik sekarang adalah buku “Omah” karangan Revianto Budi Santosa.
Buku nonfiksi ini saya temukan ketika sedang beres-beres rumah eyang di jogja. Setahun silam saya tak mungkin melakukannya, karena bulik (ibu cilik), adik mendiang ibu saya, pasti ngelarang.
Maklumlah bulik saya ini memiliki keterikatan sentimental, sehingga kami kesulitan membuang barang meskipun tidak bernilai dan mengganggu fungsi rumah. Sesudah beliau wafat setahun silam, barulah sekarang saya bisa membersihkan rumah dan tak sengaja menemukan “harta karun”!
Harta karun itu berupa barang-barang yang tersimpan di lemari, entah sejak kapan, padahal bisa digunakan. Saya juga menemukan banyak buku, baik fiksi maupun nonfiksi.
Salah satunya buku “Omah” yang ternyata merupakan tesis master Revianto pada School of Architecture, McGill University, Kanada.
Mengapa menarik? Karena sebagai orang Jawa saya baru memahami bahwa setiap bangunan rumah Jawa memiliki arti filosofis. Selama ini saya hanya mendengar mertua saya bicara tentang senthong, amben dan lainnya, tanpa mengetahui artinya.
Menurut Revianto, setiap sudut dalam rumah Jawa memiliki nama, yaitu: jogan (tempat tujuan/ruang tengah), senthong (beranda), amben (ruang kerja dan istirahat), pendhapa (ruang anjang-sana), omah (ruang dalam), dan lain-lain.
Setiap struktur rumah Jawa juga berbeda, tergantung pemiliknya. Revianto membagi tiga struktur rumah: struktur tunggal (milik pedagang kecil), multistruktur (milik perajin batik), dan keraton (rumah tinggal bangsawan).
Menarik bukan?
Tunggu saya baca tuntas ya? Nanti saya tulis reviewnya.
Baca juga review buku berikut:
Jejak Diri dalam Buku Dalam Dekapan Zaman
Buku Halusinasi Kopi, Kala Secangkir Kopi Mendulang Kata, Meretas Batas Angan





.png)


No comments
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat