Makin Tambah Umur, Kok Makin Susah Berteman ya?

maria-g-soemitro.com

Makin Tambah Umur, Kok Makin Susah Berteman ya?

“Ketemuan yuk besok,” ajak Didiet ketika saya mengirim gambar kami berempat. Hasil proses AI-nya Google Gemini dengan menggabungkan 4 wajah kami dan memberi intruksi untuk mendapat latar belakang ruang makan.

Anehnya dalam gambar tersebut wajah saya jadi berbeda (kedua dari kiri dengan kacamata di atas kepala), padahal saya memberikan foto selfie lho. Sedangkan yang lain merupakan foto hasil crop dari album foto mereka di Facebook.

Didiet merupakan teman SMP di Sukabumi, bersama saya, Inna dan Yane, kami merupakan 4 sahabat yang runtang runtung bareng. Kebetulan rumah kami berdekatan, rumah saya dan Yane berseberangan di Jalan Siliwangi. Didiet dan Inna berseberangan di Jalan Rumah Sakit. Jaraknya deket banget, mungkin jalan kaki hanya menghabiskan waktu 5 menit.

Kami “agak” berpisah di SMA, tidak saja karena Yane melanjutkan ke SMAN 1, sementara saya, Didiet dan Inna ke SMA Mardiyuana, juga pertemanan yang semakin luas.

Apalagi sesudah kuliah, walau kami sama-sama di Bandung, kesibukan sangat menyita waktu. Saya dan Yane kerja sambil kuliah di Uninus, Inna di Ekonomi, Universitas Pajajaran dan Didiet di Teknik Sipil Universitas Parahyangan.

Sekali-sekali ketemu sih, khususnya ketika tempat kost saya dan Yane gak ada air (lupa penyebabnya), kami berdua ke tempat Didiet untuk mandi! 😀😀

Baca juga:

Recap 2024, Mulai dari Mantu Hingga Kepergian Adik Tercinta

Resolusi 2025: Slow Living agar Lebih Bersyukur

Daftar Isi:

  • Empat Sekawan sejak SMP
  • Reunian 4 Sekawan Kurang 1
  • 4 Alasan Tambah Umur Makin Susah Berteman

Pasca lulus kuliah kami sempat berkumpul di pesta pernikahan saya. Sayang saya gak bisa hadir di pesta pernikahan Didiet. Saya datang sih ke Sukabumi, tapi malam-malam mobil kami tiba-tiba raib, dicuri. Jadi deh bingung, gak sempat reunian.

Setelah itu saya beberapa kali bertemu dengan Didiet karena anak sulungnya seangkatan dengan anak saya nomor 3, Bimo di sekolah Taruna Bakti Bandung. 

Tapi begitulah, sebagai ibu rumah tangga, kami sama-sama sibuk. Wara-wiri jemput anak, mengantar les dan seterusnya, sehingga pertemuan gak seintens seperti dulu.

Sampai ….. entah dari mana datangnya keisengan ini, saya menyatukan 4 foto kami dengan menggunakan Gemini Google dan Chat GPT, kemudian mengirimkannya ke Didiet, yang disambut dengan: “Ketemuan yuk!”

Walah hari itu saya baru pulang dari berobat ke Bandung. Pulang pergi rumah anak saya di Cinanjung Kabupaten Sumedang-Kota Bandung kurang lebih 2 jam, atau 4 jam PP.  Capek banget!

Akhirnya sepakat lusa kami bertemu, atau kemarin, Kamis 5 Februari 2026. Pertemuan yang direncanakan pukul 10.00 ngaret jadi pukul 11.00 an karena fisik saya belum benar-benar pulih.

maria-g-soemitro.com

Reunian 4 Sekawan Kurang 1 

Setelah tahu saya akan naik bus Metro Jabar Trans, kami janjian bertemu di Pusdai Bandung. Halte bus terletak di seberang Pusdai, tempat Didiet bisa leluasa memarkir mobilnya.

Tapi kok di sana, arah ke Taman Lansia ada mobil putih sedang parkir? Dalam keadaan bingung, saya pun membuka ponsel, dan:

“Nyebrang, nyebrang aja,” pesan Didiet melalui WhatsApp.

Wah ternyata dua sobat saya sedang berdiri di seberang jalan. Jadi tanpa peduli kendaraan yang berseliweran, saya menyeberang untuk memeluk Didiet dan Inna dengan rasa kangen.

Ya, kini kami hanya bertiga yang berdomisili di Bandung, semenjak Yane pindah ke Jakarta dan menikah dengan tambatan hatinya.

Happy sekali rasanya berjumpa lagi. Seperti biasa walau tidak ditunjuk secara resmi, Didiet bertindak sebagai pemimpin, dia yang menentukan kapan bertemu, di mana, termasuk penentuan tempat makan.

Padahal Didiet juga melempar tanya lho:”Kita makan di mana?” Tapi mungkin karena jawaban anggota 4 sekawan antara bingung dan “terserah” 😀😀 , Didietlah yang mengambil keputusan.

Tempat kami makan: Wheels Coffee Roasters at Jl. Ir. H. Juanda 256, Bandung, akan saya tulis di artikel khusus kuliner ya? 

Karena kami sibuk berbagi cerita. Didiet yang sudah lama memutuskan menjadi ibu rumah tangga, sekarang sedang asyik mengurus ibunya yang mengalami stroke.

Didiet emang  tepat banget jadi ketua kami. Sejak SMP dia selalu mendapat peringkat satu di sekolah. Apakah disebabkan ayahnya adalah guru matematika (yang berarti guru kami semua)? Entahlah.

Inna berkisah kedua anak perempuannya belum menikah dan malah asyik mengambil S2. Suaminya sudah meninggal 2 tahun silam dan kini Inna sedang menekuni profesi sebagai dosen.

Juga menyinggung tentang Yane yang semakin sibuk dengan bisnisnya dan suaminya seorang anggota legislatif. Sebagai anggota 4 sekawan yang paling akhir menikah, dibanding kami, usia anak-anak Yane masih dalam tahap “pengawasan” 😊😊

Dari obrolan tentang anak,  kami mengambil kesimpulan bahwa anak-anak semakin menomor duakan pernikahan. Andai menikah, mereka tidak memprioritaskan memiliki anak. 

Sedangkan obrolan tentang alasan semakin sulitnya bertemu, kami menemukan beberapa alasan:

maria-g-soemitro.com

4 Alasan Tambah Umur Makin Susah Berteman

“Sampai kapan di Jogja?”

Pertanyaan basa-basi dari seseorang itu muncul dalam bentuk komentar dalam status Facebook saya, yang sedang kulineran di kota gudeg.

Anehnya, entah mengapa saya merasa gak nyaman dengan pertanyaan tersebut, khususnya karena dia bukan teman dekat, hanya berteman di Facebook.

Dalam hati muncul pertanyaan: “Emang apa urusan dia menanyakan berapa lama saya di Jogja?”   Tentu saja saya gak membalas pertanyaannya. Jawaban hanya saya simpan di dalam hati. Jawaban yang mungkin berbeda andai saya masih muda.

Namun justru menimbulkan tanya dalam hati, apakah ini penyebab pertemanan saya semakin menyempit?

Dari hasil searching saya menemukan beberapa alasan makin tua akan semakin susah terbuka dan mendapat teman baru.

Perubahan Biologis

Pengalaman masa lalu mengajarkan untuk memprioritaskan hubungan yang sudah ada dan lebih selektif dalam mencari teman baru, akibatnya kita menjadi kurang terbuka terhadap orang lain.

Pengalaman juga mengajarkan untuk lebih berhati-hati,  tidak mudah mempercayai orang lain. Seperti pertanyaan di atas, ada kemungkinan jawaban saya akan memberitahu banyak orang bahwa saya sedang meninggalkan rumah dalam keadaan kosong sampai sekian hari.

Parnonya kejauhan ya?

Perubahan Prioritas Hidup

Jelas banget ya ini, sewaktu masih muda kita punya banyak waktu untuk sekadar mengobrol seharian. Semakin dewasa, terlebih di usia lanjut, seperti yang dilakukan Didiet, walau ada caregiver yang mengurus ibunya, dia harus segera pulang untuk mengecek kondisi ibunya.

Pergeseran Kualitas Relasi

Ketika Didiet mengajak ngumpul, saya segera mengiyakan, karena kami punya hubungan yang mendalam dan bermakna. Kala bertemu, kami bisa curhat sepuasnya, tertawa dengan bebas, bahkan menangis bersama.

Tidak demikian halnya jika undangan berasal dari mereka yang tidak punya hubungan emosional kuat. Mungkin saya akan menolak.

Perubahan Nilai Hidup

Kebetulan hal ini tidak terjadi pada kami. Namun bisa banget terjadi pada persahabatan yang bubar gara-gara perubahan nilai hidup. Misalnya salah satu anggota mendadak begitu fanatik pada satu agama/keyakinan tertentu, dan hal tersebut membuat anggota lainnya merasa gak nyaman.

Bagaimana dengan jarak geografis? Bukankah ini juga menjadi penyebab kesulitan mempertahankan persahabatan? 

Bisa ya, bisa juga tidak. Di era digital ini sebetulnya masalah interaksi sosial bisa diatasi. Bukankah persaudaraan melalui WhatsApp Group masih bisa terjalin?

Terkait persahabatan, tergantung cara pandang setiap individu. Saya pernah punya “sahabat” yang terasa mengganggu karena selalu menempel. Sementara saya lebih menyukai persahabatan hanya untuk bertemu dan tertawa bersama. Andai ada tangis, itu disebabkan salah seorang dari kami duluan menghadap Sang Pencipta.

Baca juga: 

Sikap Asertif dalam Bertetangga, Antara Akal Sehat dan Takut Konflik

Ibu Rumah Tangga Jago Bahasa Inggris? Mengapa Tidak?





No comments

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat