Blogger dan Alasan Setiap Orang Harus Bisa Menulis
Siapa blogger? Dan mengapa setiap orang harus bisa menulis? Secara sederhana, seorang blogger adalah penulis yang memosting artikelnya dalam situs web. Sementara penjelasan lengkapnya sebagai berikut:
Blogger adalah seorang konten kreator yang mengelola, menulis, dan menerbitkan konten (artikel, foto, video) secara rutin di blog pribadi maupun User Generated Content (UGC).
Gak heran, dunia maya menjadi tempat para blogger saling berkenalan dan akhirnya akrab, seperti saling mengunjungi blog (blogwalking), dilanjut mengobrol melalui aplikasi perpesanan instan (contohnya: WhatsApp), dan melalui media sosial (Instagram, TikTok, X (Twitter), Facebook dan lainnya.
Pertemuan luring juga ada sih, biasanya dikoordinir suatu komunitas atau pengelola platform, salah satunya Kompasiana yang rutin menggelar Kompasianival, ajang pertemuan tahunan (karnaval) terbesar bagi konten kreator, blogger, dan komunitas yang berkarya di platform Kompasiana.
Beberapa komunitas blogger juga aktif menggelar pertemuan, diantaranya Bloggercrony Indonesia yang rutin menghelat #BloggerDay dengan tema tertentu di setiap tahunnya.
Selain itu ada pertemuan yang diinisiasi pihak tertentu, seperti suatu brand laptop ternama yang menyelenggarakan blogger gathering dengan komunitas Blogger Bandung sebagai pesertanya.
Atau undangan dari komunitas lain, salah satunya komunitas Festival Film Bandung (FFB), tempat blogger Rafahlevi aktif hampir di setiap event, dan beberapa blogger film bandung lain menulis ulasan perhelatannya.
Baca juga:
Tantangan Blogger, Belajar Menulis Tanpa Batas
Daftar Isi:
- Blogger Gathering, Apakah selalu Manis?
- Keuntungan Menjadi Blogger
- Alasan Setiap Orang Harus Bisa Menulis
Kerap bertemu baik daring maupun luring, memunculkan rasa kangen sebagai tanda pengikat emosional yang kuat. Ada kenangan manis di sana. Ada tawa. Ada kesalah pahaman. Dan yang pasti, ada keinginan untuk mengulang nostalgia tersebut.
Kompasianival pertama kali yang saya ikuti berlangsung di tahun 2012, bertepatan dengan lahirnya Komunitas Kumpulan Emak Blogger (KEB), mereka menggunakan busana tradisional yang cingcirining, manis sekali.
Saya juga untuk pertama kalinya bertemu dengan Anazkia, seorang Buruh Migran Indonesia (BMI) di Malaysia. Di tahun berikutnya dia berhasil menggondol penghargaan Srikandi Blogger Favorit 2013, dan aktif sebagai Koordinator Blogger Hibah Buku.
Blogger gathering seperti Kompasiana juga memungkinkan kami bertemu dengan para tokoh yang selama ini hanya bisa dilihat dari layar kaca, seperti pada Kompasianival 2012 hadir diantara kompasianer (julukan bloggernya Kompasiana) adalah Pak Chappy (Chappy Hakim) yang pernah Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, beliau tokoh militer yang saat itu aktif menulis untuk Kompasiana,
Serta Pak Pray (panggilan Prayitno Ramelan), pengamat intelijen yang merupakan purnawirawan TNI Angkatan Udara bintang dua, beliau juga aktif menulis di Kompasiana dan blog pribadinya, ramalanintelijen.net.
Namun yang paling berkesan, di sela-sela kesibukan perhelatan, saya, Anazkia dan kompasianer lain, lesehan di atas karpet Skeeno Hall, Gandaria City, Jakarta untuk makan nasi rendang jengkol yang dibawa almarhum bapak Dian Kelana. (Al-Fatihah untuk mendiang).
Dari sedikit ulasan di atas, bisa tergambar betapa riuhnya kehidupan para blogger. Hal ini tak lepas disebabkan manfaat yang dinikmati seorang blogger.
Keuntungan Menjadi Blogger
Uni Lubis, jurnalis senior dan pemimpin redaksi di IDN Times pernah menolak ajakan menandatangani petisi, dengan alasan dia mepunyai saluran tersendiri.
Nah blogger juga punya, yaitu blog, tempat dia bisa menunjukkan eksistensinya. Ketika orang lain curhat/bersumpah serapah di media sosial, misalnya tentang Makan Bergizi Gratis (MBG), blogger bisa menuliskannya, lengkap dengan solusinya.
Bahkan blogger punya nilai tambah yang unik , karena dia bisa beropini dan menuliskan pengalaman pribadi, hal terlarang untuk wartawan/jurnalis.
Apa saja keuntungan blogger lainnya? Berikut ini diantaranya:
Menambah Pengetahuan
Proses menulis menuntut blogger untuk membaca dan riset terlebih dulu, sebelum dituangkan dalam bentuk tulisan, jadi otomatis ada asupan informasi dan pengetahuan baru ke dalam otak.
Jangan lupa, menulis juga membantu blogger memahami esensi suatu ilmu, sehingga dia mampu mengubah pemikiran abstrak menjadi tulisan yang terstruktur.
Dengan menulis, seorang blogger menjadi lebih mahir dalam mengolah kata dan mengembangkan kemampuan berbahasa. Seperti mengubah vs merubah, mana yang betul, hayooo … 😀😀
Mencegah Pikun Dini
Menulis merupakan alat yang efektif untuk belajar secara aktif (active learning) dan memperdalam keahlian di bidang tertentu. Hal ini diakui mantan Menlu Marty Natalegawa dalam Real Talk with Uni Lubis dalam saluran YouTube IDN Times.
Pak Pray dan Pak Chappy (tamu Kompasianival di atas) juga mengatakan hal yang sama. Menulis menstimulasi otak untuk tetap aktif, meningkatkan daya ingat, serta memperkuat koneksi saraf, terutama jika dilakukan dengan tangan (menulis tangan).
Menambah Lingkar Pertemanan
Kebutuhan dalam mengelola blog dan mendapat penghasilan dari blog, otomatis membuat blogger bergabung dalam komunitas. Sesuai banget dengan pepatah: “Banyak teman banyak rezeki”
Blog Menjadi Sumber Penghasilan
Ya, gak nyangka diawali dari keinginan bisa menulis, kemudian mendaftar di Kompasiana dan akhirnya membuat blog pribadi, ternyata bisa menghasilkan pemasukan.
Banyak sumbernya, seperti Google AdSense, afiliasi, content placement, paid promote, hingga menjadi brand ambassador. Meski demikian saya baru mencoba Google AdSense, content placement, paid promote.
Sedangkan brand ambassador saya rasakan ketika mendapat penghargaan “Kompasianer of the Year 2012”, beban di punggung serasa bertambah agar sebagai blogger dapat menjaga marwah profesi.
Alasan Setiap Orang Harus Bisa Menulis
Semua orang harus punya skill menulis, demikian tema @MalakaProjectid melalui channel YouTube, dengan nara sumber Dea Anugrah.
Mengapa?
Dalam kelas yang dihadiri mahasiswa dari beberapa universitas ini, secara ringkas Dea menjelaskan bahwa:
Menulis membantu kita melihat isi kepala dengan lebih jelas. Pikiran yang tadinya berantakan jadi lebih terstruktur, dan kita bisa memahami apa yang sebenarnya sedang kita rasakan dan pikirkan.
Dea memberi contoh ketika seseorang ingin membuat elemen visual (gambar/desain infografis), atau video, bukankah dibutuhkan skill menulis agar kontennya lebih menarik?
Dengan menulis draft, dia berkesempatan untuk menyusun konten yang memiliki kedalaman, pengalaman nyata, dan terpercaya (E-E-A-T: Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) yang tidak hanya memikat penikmat konten, juga akan segera masuk radar pencarian Google.
Selain sebagai alat berpikir, Dea membahas kaitan skill menulis dengan:
Komunikasi
Menulis memaksa seseorang untuk menyusun pikiran secara logis, lebih terstruktur sehingga pesannya lebih mudah dipahami dan tidak menimbulkan salah paham.
Public Speaking
Manfaat skill menulis dengan public speaking ngena banget dengan apa yang saya alami. Dulu, saya gagap ketika bicara di depan audiens, meski hanya di pertemuan para tetangga yang saya temui sehari-hari.
Setelah mengasah kemampuan menulis, ternyata dengan mudah saya bisa memaparkan materi, bahkan bisa menyisipkan humor dan pengalaman yang berkaitan dengan materi.
Rupanya terjadi sinergi antara menulis dengan public speaking. Menulis mengasah alur berpikir logis, sementara public speaking menyampaikannya secara verbal
Cara Penyampaian Ide Lebih Akurat
Menulis memaksa otak untuk mengorganisir ide-ide yang acak menjadi alur yang logis. Proses ini memastikan ide dasar tersampaikan tanpa distorsi.
Menulis juga membantu kita memilih kata (diksi) yang tepat, sehingga bisa menyampaikan ide dengan lebih akurat.
“Tangkaplah ilmu dengan menuliskannya,” demikian kurang lebih pesan ustaz Aam Amiruddin pada peserta kajian Islam-nya. Jadi walau kami mendapat materi dalam bentuk hard copy, kami diharapkan untuk tetap menulis.
Pesannya ternyata sangat manjur, karena menulis merupakan proses aktif yang membantu otak mengolah, memahami, dan mengingat informasi dengan lebih baik.
Aktif menulis materi tentu saja tidak otomatis mampu membuat artikel. Untuk itu Dea memberi saran agar mengasah skill menulis setiap hari, meski hanya 100-200 kata. Sesudah rajin menulis maka menyusun sebuah artikel menjadi lebih mudah.
Juga jangan terlalu berekspektasi. Jangan terbebani. Nah, yang ini gue banget. Khususnya saat menulis untuk Kompasiana, karena merasa akan dibaca banyak orang, jadi maju mundur. Draft tulisan berulang kali disusun ulang.
Terlalu ge er ya? Bukankah baik blog pribadi maupun UGC seperti Kompasiana, kita akan merasa senang jika postingan mendapat banyak views?
Baca juga:
Menjadi Blogger, Aku Menulis Maka Aku Ada
Yuk Kenalan dengan Founder dan Admin Happy Family Support Community




.png)


No comments
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat