5 Manfaat Blog di Masa Pandemi Covid 19

   
freepik.com


5 Manfaat Blog di Masa Pandemi Covid 19


“Jangan menunggu kaya untuk berbagi” 

Pastinya sering mendengar kalimat di atas ya?  Dan berbagi/sedekah punya banyak bentuk, gak harus berbentuk uang. Di masa pandemi Covid 19, kala penghasilan menurun drastis bahkan nyaris megap-megap, bisa banget mengisi blog dengan tulisan bermanfaat terkait virus Covid 19. 

Sebetulnya ide ini muncul sesudah melihat banyak berita simpang siur terkait virus Covid-19. Berita yang ajaib, seperti panic buying  susu Bear Brand. Dilanjut kisah dokter Lois yang menyarankan minum vitamin C 1 gram/jam. 

Kok pada ngaco gini sih? 

Yang lebih mengenaskan, kok jadi konsumtif kebablasan sih? Bukankah situasi perekonomian di masa pandemi Covid sangat sulit? Si kaya maupun si miskin kerepotan menghadapinya. Setiap rupiah yang dimiliki harus digunakan sebijak mungkin. Jangan membeli barang yang gak dibutuhkan.  

Dannn ….gak ada jurnal ilmiah yang bisa membuktikan susu Bear Brand. Juga gak ada penjelasan ilmiah bahwa vitamin C 1 gram bisa mengusir virus Covid 19 

Yang ada ginjal bolong akibat kebanyakan vitamin C! (sumber)

Daftar Isi

  • Yuk Membumikan Kasus Virus Covid 19
  • Imunitas Tubuh sebagai Benteng Pertahanan Terhadap Virus Covid 19
  • Gaya Hidup 5 M dan Pandemi Covid 19
  • Pandemi Covid 19 dan Vaksinasi
  • Hoaks Pandemi Covid 19 yang Ngeri Ngeri Sedap
  • Pandemi Covid 19 dan Serba Serbinya
  • Sehat itu Murah, Sakit Covid 19 itu Mahal

Gemes kan ya? 

Dunia bukan kali ini saja terserang pandemi lho. 

Dulu, sebelum penderita influenza cukup minum “obat warung”, pandemi akibat virus yang menyebabkan demam, pusing, meler dan batuk pada tahun 2018 ini telah menewaskan sekitar 100 juta penduduk bumi. 

Apa penyebabnya? Menurut The Journal of Infectious Diseases, penyebab kematian yang begitu besar disebabkan sanitasi dan gizi  yang buruk serta kepadatan jumlah penduduk.
Nah untuk membumikan kasus pandemi Covid 19, saya berencana mengisi blog dengan tulisan-tulisan sekitar 5 hal berikut:

 

maria-g-soemitro.com


Imunitas Tubuh sebagai Benteng Pertahanan Terhadap Virus Covid 19

Berapa sih dosis vitamin C yang dibutuhkan per harinya? 

Ternyata gak sampai 1 gram per hari lho. Menurut alodokter.com, jumlahnya terkantung usia dan jenis kelamin:

  • Usia 0-9 tahun: 40-50 mg/hari.
  • Remaja laki-laki usia 10-15 tahun: 50-75 mg/hari.
  • Laki-laki 16 tahun ke atas: 90 mg/hari.
  • Remaja perempuan usia 10-15 tahun: 50-60 mg/hari.
  • Perempuan 16 tahun ke atas: 75 mg/hari.
  • Ibu hamil: 85 mg/hari.
  • Ibu menyusui: 120 mg/hari.

Gak banyak ya? Seorang perempuan berusia si atas 16 tahun cukup mengonsumsi 1 buah jeruk (54 mg vitamin C) dan 1 buah tomat (34 mg vitamin C), atau sebuah jambu biji (125 mg vitamin C), atau semangkuk pepaya (90-100 mg vitamin C atau sebuah mangga (75 mg vitamin C) dan masih banyak lagi. 

Gak hanya buah-buahan, sayuran juga sarat vitamin C. seperti kol yang mengandung 48,4 mg vitamin C,, 1 cup brokoli matang mengandung 51 mg vitamin C, 100 gram kacang panjang kukus mengandung 20 mg vitamin C, 1 cup bayam jepang mengandung 195 mg vitamin C dan seterusnya. 

Relate banget dengan program gizi “isi piringku” yang sedang gencar dipromosikan kemenkes RI untuk mencegah stunting. 

Huhuhu di masa pandemi Covid 19, promosi isi piringku bagus banget untuk membangun imunitas tubuh. Daripada beli vitamin C dalam kemasan. Pastinya mahal kan? Mending cukupi gizi keluarga dengan “isi piringku”, vitamin C nya terpenuhi, kita juga mendapat manfaat lain berupa karbohidrat, lemak, mineral, vitamin lainya, serta serat. 

Jadi, yuk coret pembelian suplemen dari daftar belanja. ^^

  
maria-g-soemitro.com


Gaya Hidup 5 M dan pandemi Covid 19

Berbeda dengan membangun imunitas tubuh yang masih berbentuk draft tulisan, saya sudah banyak menulis tentang 5 M, gaya hidup baru yang muncul sebagai adaptasi terhadap pandemi Covid 19, diantaranya: 

Masker Yang (Pernah) Jadi Polemik Saat Pandemi Covid-19   

Virus Corona, Tak Kenal Maka Panic Buying 

Ignaz Semmelweis, Bapak Cuci Tangan Dunia 

5 Jurus Tega Menangkal Covid-19 

Dan masih banyak lainnya, tidak hanya disebabkan isu yang sexy, kebetulan saya juga ikut One Day One Post (ODOP) yang diadakan komunitas Blogger Perempuan pada tahun 2020, sedangkan tahun2021 saya mengikuti challenge ODOP dari komunitas ISB. 

Salah satu manfaat yang didapat kala bergabung dengan komunitas blogger adalah dukungan untuk naik kelas bukan? Agar sebagai blogger kita gak hanya menulis paid post, tapi juga mengisi blog dengan informasi yang berguna bagi masyarakat. Amal jariyah bagi penulisnya.



Pandemi Covid 19 dan Vaksinasi

“Ah udah divaksin masih kena Covid” 

Demikian kalimat yang banyak bersliweran di masyarakat, paling tidak itulah yang saya dengar sewaktu ke warung sayur, mengobrol dengan tukang sayur dan tukang gas. Emang gak banyak yang saya temui, tapi memperjelas alasan banyaknya pendukung dr. Lois. 

Tulisan tentang dr. Lois yang telah mempersulit kerja pemerintah dalam menanggulangi pandemi Covid-19 saya tulis di sini:
dr. Lois dan Menghargai Diri dengan Tolak Hoaks 

Dokter Tan Shot Yen dalam “Vaksinasi dan Gaya Hidup Baru” menjelaskan bahwa vaksin Covid 19 yang kini disuntikkan memang tidak dalam keadaan ideal atau emergency use authority

Berbeda dengan vaksin yang telah lebih dulu diproduksi, seperti vaksin cacar, telah melalui serangkaian proses dan membutuhkan waktu lama. Minimal sepuluh tahun.

Sayang, dunia tak bisa menunggu. Vaksin Covid 19 dibutuhkan sekarang. Didukung teknologi semakin maju dan para ilmuwan bekerja tanpa mengenal lelah. Pandemi Covid 19 harus segera diatasi agar perekonomian segera pulih. Ancamannya bukan hanya kematian akibat virus Covid 19, juga disebabkan kelaparan. 

Jadi bisa dipahami jika efektivitas vaksin tidak mencapai 100 %, hanya sekitar 60 %. Sehingga tenaga medis yang telah divaksin masih rentan terpapar Covid 19. Khususnya kala imunitas tubuh menurun karena meningkatnya volume pekerjaan. 

Duh, tulisan saya tentang pengalaman divaksin masih dalam bentuk draft. Semoga bisa segera tayang ya? 

 

compromiso.atresmedia.com


Hoaks Pandemi Covid 19 yang Ngeri Ngeri Sedap

Obat cacing Invermectin untuk mengobati pasien Covid-19 

Jreng…jreng….dan yang ngomong sekelas menteri, sehingga produksi besar-besaran pun segera dilakukan. 

Parah! 

Lebih parah lagi sewaktu staf ahli menteri tersebut mati-matian membela atasannya. Tak mau mendengar penjelasan dokter yang notabene belajar kedokteran sekian tahun. Dia juga marah terhadap BPOM, yang tak kunjung memberi izin. 

Namun yang paling parah ketika dia menyudutkan kualitas latar belakang epidemiolog yang memberi pernyataan tentang Invermectin. 

Masyaallah, epidemiolog tersebut sehari-harinya melakukan penelitian lho.  Berhasil menyelesaikan Post  Doctoral setelah melakukan serangkaian penelitian. Sekarang pun kerjanya meneliti. Jika keilmuan mereka tidak kita percayai, harus percaya pada siapa dong? 

Nampaknya tulisan-tulisan tentang hoaks kesehatan harus saya perbanyak ya? Karena selain tentang dokter Lois di atas, saya baru menulis:

Stop Hoaks, Agar Kesehatan Pulih Ekonomi Bangkit!

 
maria-g-soemitro.com



Pandemi Covid 19 dan Serba Serbinya

Pernah lihat anak balita duduk di trolley supermarket? 

Duh, rasanya ingin nyubit pipinya yang chubby ya? Saya pernah mengalami masa itu, sampai suatu hari membaca status teman blogger yang sedang berduka. Bayinya sakit dan meninggal usai acara aqiqah.  Kebayang kan hebohnya suasana aqiqah? Ada yang merokok. Kemudian sang bayi digendong kesana kemari, dicium para sesepuh dan anak-anak mereka. 

Akibatnya? Bayi yang sehat wal afiat, paska aqiqah mendadak demam, harus diopname (rawat inap), sembuh, opname lagi,  begitu seterusnya, sampai akhirnya Sang Pencipta memanggil pulang sang bayi mungil. Dalam diagnosanya dokter menjelaskan  kemungkinan kuman penyakit menghinggapi raga sang bayi yang masih rentan. 

Sejak saat itu, apabila melihat balita, walaupun gemas, saya hanya tersenyum dan mengajak bercanda dari jarak jauh. 

Kebayang kan gimana gregetnya saya melihat ada orangtua yang membawa bayi seperti gambar di atas? Seperti nantang gitu. Udah tau betapa menakutkannya serangan virus Covid-19, kok ya tega dibawa ke supermarket. 

Gimana jika tiba-tiba ada orang tanpa gejala (OTG) tanpa sengaja batuk dekat si bocah? 

Oh iya saya punya pengalaman dengan sulung saya yang terkena pneumonia. Next saya tulis ya? Saya ketakutan setengah mati saat sulung saya bernafas satu persatu. Jalan menuju RS Boromeus terasa panjang, lama dan gak berkesudahan. 

Nah sesak nafas, bernafas tersengal-sengal hingga seolah setiap saat nafasnya akan berhenti menjadi salah satu kesakitan yang  dialami penderita virus Covid 19. Mau anaknya seperti itu?

 

tribunnews.com


Sehat itu Murah, Sakit Covid 19 itu Mahal

Kenapa sih ribet banget? Sebaliknya, mengapa menyepelekan keberadaan Covid 19? 

Pandemi Covid 19 itu nyata. Untuk menghadapinya, pahami tubuh kita. 

Kemudian, pahami lingkungan yang mengganggu kesehatan tubuh dan memungkinkan virus Covid meraja lela.  

Karena berhubungan dengan virus Covid 19, pahami sifat si virus. Dia senang menyerang tubuh yang lemah. Dia juga betah berlama-lama di lingkungan tertentu. 

Jadi yang harus dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh. Andai virus Covid 19 sempat singgah, buat si virus gak nyaman dan segera minggat dengan mengkondisikan lingkungan tertentu, misalnya udara bersih yang selalu mengalir. 

Jika semua telah kita lakukan, akan terasa kebenaran ucapan dokter Tan Shot Yen, bahwa:

Sehat itu Murah, Sakit Covid 19 itu Mahal

Setuju?

Baca juga:
5 Kiat Kelola Keuangan Kala Pandemi Covid 19


25 comments

  1. Yg jelas, menulis di blog adalah salah satu coping mechanism saya di era pagebluk ini, Ambu.
    Dan saya seneng bangeettt, karena di blog Ambu buanyaaakk artikel2 yg bergizi, bernyawa, dan super informatif.
    Seneng kan kalo nulis sambil berbagi inspirasi ya.

    ReplyDelete
  2. Betul sekali ambu, suplemen² harganya kan mahal,ya... lebih baik makan sayur dan buah saja, isi piring dengan gizi seimbang itu sudah lebih dari cukup jika memang tak mampu beli suplemen yang ada dijual.

    Anyway hoax luar biasa ganas efeknya kan ya, ambu....hmmm jadi gemez sendiri aku

    ReplyDelete
  3. Saya termasuk yang kesal deh ambu, banyak orang memanfaatkan situasi yang sullit ini untuk meraup rupiah loh, segala alkes (masker, oximeter, thermogun dsb) dimahalin, produsen jg saling adu produk suplemen yang harganya selangit, duh Gusti kemana hati nuraninya yaa

    ReplyDelete
  4. Masya Allah artikelnya komplit plit mbak, banyak info yang bermanfaat.

    Setuju mbak, realitanya masih ada beberapa yang menyepelekan covid-19 ini. Padahal jelas-jelas bahaya, tapi mereka pikir biasa aja. Gemes akutuhhh!

    ReplyDelete
  5. Covid-19 ini emang banyak sekali hoaxnya. Harus banyak tulisan informatif yang mengedukasi agar tak salah. Terima kasih inspirasinya mbak, sangat informatif

    ReplyDelete
  6. Memang di masa pandemi ada banyak informasi dan hoaks berseliweran. Kembali ke kita diolah dg logika dan ilmu, apakah semua itu benar

    ReplyDelete
  7. Setuju mbak Maria, kita menulis di Blog ini sebagai sarana mencegah hoaks. Semoga mbak Maria sekeluarga tetap sehat dan bahagia

    ReplyDelete
  8. Ya..selama hampir 2 tahun pandemi melanda seluruh muka bumi ini..kita cuma bisa berusaha menaati prokes, jaga kebersihan dan kekebalan tubuh, dan vaksin ya..Semangat sehat selalu...

    ReplyDelete
  9. Menulis bisa meningkatkan imunitas juga ya Ambu jadi pikiran bisa lebih produktif dan terjaga..noted deh

    ReplyDelete
  10. Betul banget Ambu, covid itu mihil, bikin down, dan bikin rempong.
    Jadi paling pas tuh jaga diri, jaga imun, dan patuh prokes deh.

    Buat saya blog sangat bermanfaat di masa pandemi, baik blog saya untuk mewadahi saya menulis yang bisa jadi me time dan mood booster saya, sampai blog sebagai penunjang dalam menyebarkan informasi yang bukan hoax :)

    ReplyDelete
  11. Nah iya, sehat itu sederhana dan kena Covid-19 jadi sulit ya mbak, saudara saya yang sempat positif mengaku blm fit padahal udah hampir sebulan. Tiap hari juga udah nyoba jalan kaki dikit-dikit biar enggak sesak nafas kata beliau.

    Terimakasih ya Ambu, udah menginspirasi dengan tulisan-tulisan bergizi. Saya juga sempat mampir di tulisan ttg dr Lois beberapa waktu lalu

    ReplyDelete
  12. Suka banget tulisannya mbak, saya juga beberapa bulan ini berpikir kalau mau hidup sehat biaya sebenarnya gak mahal ya. Kita ini semua korban hoax dan bisnis industri makanan agar jualan laku. Awal-awal pandemi cari vit. C susah banget karna pada diborong padahal ya kebutuhan tubuh kita sedikit kalaupun dikonsumsi banyak terbuang melalui BAK sayang tuh uangnya

    ReplyDelete
  13. ngeblog berguna banget saat pandemi
    bisa jadi stress healing dan sarana mencari penghasilan tambahan
    hohoho

    ReplyDelete
  14. Jadi pengen cubit juga tuh pipi si dr. lois..hehe, vitamin itu unsur hara mikro dan dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil, dan setiap rentang umur itu sudah punya takarannya masing2. Walaupun mau makan jeruk 1 bakul setiap hari gak ada gunanya sama sekali karena tubuh hanya butuh sekian miligram (mg), yang ada malahan mencret kalo kebanyakan konsumsi vitamin C. hehe. 1 gram saran dari dokter Lois itu sangat fatal dan nyata bahwa dia dengan sengaja menyebar berita hoax. miris banget....

    Btw, saudara saya juga ada yang bayinya kena pneumonia akibat ayahnya yang perokok aktif dan setiap merokok dekat bayinya. Waktu itu sampe dikasih tabung oksigen juga karena hampir sekarat bayinya. Miris memang dengan kelakuan manusia yg bertindak tidak pakai ilmu ya...semoga kita bisa memberikan informasi yang valid dan tidak bikin gaduh. Sama2 berbenah yuk..

    ReplyDelete
  15. Ambu, saya jadi merasa tertampar baca tulisan Ambu. Saya sering menyia nyiakan waktu, harusny drpd mager menulis lebih bermanfaat ya

    ReplyDelete
  16. Mbak masalah ginjal akibat minum banyak obat, suplemen dll ini memang menakutkan aslinya ya mbak. Ya kalau sampai sempat ketahuan Dan bisa cuci darah. Kalau sampai dokter nyerah, kalau nekad dicuci darahnya pasien nggak bakal kuat. Eh pas nunggu keadaan stabil baru bisa dicuci trus tetiba meninggal. Nggak satu dua orang nih kerabat dekat meninggal dengan Cara begitu 😭😭

    ReplyDelete
  17. melakukan aktifitas seperti publisher membuat kita berfikir dan menyebarkan tulisan melalui blog. Kreatifitas dan kemanfaatan terbaca banyak pengguna.

    ReplyDelete
  18. Makasih banyak tuk informasinya Ambu..ngomongin soal suplemen, biasanya saya jarang mengkonsumsi suplemen karena merasa tidak perlu..tapi semenjak pandemi saya ikutan "latah' rutin mengkonsumsi suplemen. So mulai sekarang saya coret deh itu suplemen dari daftar belanja hehe. Info seputar kesehatan yang beredar di masyarakat emang kadang cenderung membingungkan antara fakta dan kepentingan bisnis.

    ReplyDelete
  19. Wah, kebutuhan vitamin C untuk ibu menyusui besar juga ya. Ini saya banget nih sekarang. Dan parahnya, sehari-hari saya kurang memenuhi gizi tsb. Kalau pas ngedrop, baru boost pakai vitamin. Duh, beneran pola yang buruk ya 😪

    ReplyDelete
  20. Langsung berasa sesak pas baca pertanyaan ini "Mau anaknya seperti itu?" hiks kebayang menderitanya anak-anak yang terkena covid. Semoga pandemi cepat berlalu ya Ambu, biar anak-anak juga bebas ke mana-mana ngga terkurung dalam rumah lagi

    ReplyDelete
  21. Setuju sekali sehat itu murah dan sakit itu mahal. Pandem membuat kondisi segalanya was was. Perlindungan diri sangat penting untuk jadi bentengnya termasuk saat memperoleh informasi di era digital saat ini

    ReplyDelete
  22. Ya Allah..
    Berita hoax mengenai covid ini sungguh meresahkan. Dan ternyata pelaku penyebaran hoax itu gak hanya sekelas ibu-ibu rumahtangga via grup wa aja yaa.. Tapi petinggi juga bisa melakukan hal yang bisa menyesatkan banyak pihak.

    Semoga senantiasa diberi kesehatan, pikiran dan hati.
    Agar selalu bisa menyebarkan kebaikan di sela-sela tulisan yang kita goreskan yaa..Ambu.

    ReplyDelete
  23. capek banget membaca simpang siur soal covid 19 ini, perlu sekali tulisan inspiratif seperti ini agar tidak banyak yang salah kaprah

    ReplyDelete
  24. Iya juga ya, suplemen aja dibeli terus, nah gizi makanan kurang diperhatikan :( Kadang suka lupa. Hoaks selama pandemi tuh paling ngeri. Jadi bikin sebagian masyarakat salah kaprah.

    ReplyDelete
  25. sejak pandemi memang kebutuhan vitamin nggak seperti biasa, kalau dulu mana pernah minum vitamin kalau ga pas sakit
    sejak kena covid, beli vitamin udah jadi kebutuhan penting juga karena sehat beneran mahal

    ReplyDelete