Covid-19 itu Ada! Ini dia 5 Jurus Tega Menangkal Covid-19

     
freepik.com


 

Covid-19 itu Ada! Ini dia 5 Jurus Tega Menangkal Covid-19


“Telah meninggal dunia, istri tercinta Profesor Suhono” 

Untuk sekian detik, saya mengira yang meninggal adalah ibunya Prof. Suhono. Hingga akhirnya tersadar, innalillahiwainnailaihirojiun …. istrinya Prof. Suhono kan teman baik saya, Lusi Sadili? 

Hati saya rasanya remuk! Sakit sekali. Pertahanan saya bobol. Saya menangis sejadi-jadinya. Saya sedih bercampur takut. Baru terhenti setelah mengucap asma Allah untuk kesekian kali. Baru terhenti ketika rasa ikhlas muncul. 

Saya tahu, Covid-19 itu ada. Tapi saya tak tahu bahwa virus Covid -19 begitu dekat!

Baca juga:
Atasi Stres Dengan 5 Hobi Penghasil Uang, Yuk Coba! 

5 Cara Cerdas  Bekali Anak Agar Siap Menghadapi New Normal

Daftar Isi

  • Covid-19 itu Nyata, Tapi Saya Tak tahu Bahwa Covid !9 Begitu Dekat
  • Jurus Tega Menegur di Kerumunan
  • Memasak Sendiri, Pilih Frozen Food, Minimalisir Beli Masakan Matang
  • Utamakan Mencuci Tangan daripada Hand Sanitizer
  • Debit Card dan e-Wallet Untuk Berbelanja
  • Minimalisir Baca Berita yang Bikin Parno

Sebelum mendapat kabar tentang Lusi,  3 saudara sepupu yang anaknya kerap wara-wiri ke rumah, memberitahu via WhatsApp grup keluarga, bahwa mereka terkena virus Covid-19. Berasal dari anak-anak mereka yang berlibur ke Jakarta. Emang enggak mudah melarang anak. Apalagi jika mereka sebaya, dan kerap berbagi cerita. 

Berita ini tentu saja membuat WhatsApp grup heboh, terlebih anak-anak saya ada di sana. 

“Mama jangan lupa pakai masker. Double ma,” kata anak saya, mungkin dia ingat ibunya udah uzur, rentan tertular virus Covid-19.πŸ˜€πŸ˜€

“Mama jangan kemana-mana,” kata anak saya yang lain. 

Tanpa permintaan anak-anak saya, diam di rumah memang yang terbaik. Sayang, terkadang saya harus keluar rumah untuk belanja sayur, check-up ke dokter, serta membeli obat. 

Agar terhindar dari virus Covid-19, saya menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Serta  menggunakan jurus berikut:
  

maria-g-soemitro.com


Jurus Tega Menegur di Kerumunan

“Pak, maaf tolong mundur.” 

Itu yang saya katakan saat sedang transaksi di kasir supermarket, dan terganggu dengan konsumen lain di belakang saya. Dia gak mau menunggu saya menyelesaikan transaksi. Gak peduli kemungkinan lengan kami saling bergesekan, saat saya mengetik PIN debit card, dan dia mengeluarkan barang belanjaan di meja kasir. 

Padahal lihat deh gambar di atas, terlihat  jelas garis batas yang gak boleh dilewati. Seharusnya dia bersabar menunggu saya menyelesaikan transaksi, baru maju dan meletakkan barang belanjaannya. 

Waktu itu rasanya ingin saya potret, tapi malas ribut. Eh, kebetulan kemarin lihat kasus yang hampir mirip. Perempuan di gambar atas harusnya berdiri di belakang garis, bukan di depan garis.. Ngapain coba merangsek maju? Toh waktu tunggunya sama. Kasir akan melayani sesuai antrian.  

Menjauhi kerumunan termasuk 5 M protokol kesehatan. Jika terpaksa mengunjungi suatu tempat, sebisa mungkin saya gak berdekatan/bersentuhan orang lain. Jadi ketika mau memasuki suatu lorong supermarket dan melihat banyak pembeli di situ, saya pilih mundur. Nggak jadi atau menunggu lorong agak sepi. 

Saya sudah berusaha untuk berbelanja di waktu sepi pembeli lho. Sekitar pukul 14.00-16.00  atau waktu tidur siang, biasanya supermarket/minimarket sepi. Walau pernah juga saya apes. 

Waktu itu langkah saya terhalang seorang perempuan yang sedang asyik menelepon dengan suara keras dan hampir menutupi area keluar masuk pengunjung. Apa boleh buat, saya terpaksa menegurnya: 

“Maaf bu, jangan ngalangin jalan!” 

Saat pandemi harus tega. Demi gak tertular dan menulari virus Covid-19. πŸ˜‰πŸ˜‰

  

maria0g-soemitro.com


Memasak Sendiri, Pilih Frozen Food, Minimalisir Beli Masakan Matang

Kecuali lalapan, saya memastikan makanan harus matang. Lalapan dipilih karena saya membutuhkan enzim dan vitamin sayuran yang akan hilang saat dimasak. Sedangkan masakan harus matang merupakan ajaran leluhur bahwa kuman penyakit akan mati saat proses pemasakan. Setuju? πŸ˜€πŸ˜€

Termasuk snack dan cemilan, saya membuat sendiri. Bahkan secara berkala membuat nugget yang bisa disimpan dalam freezer. Ternyata mudah dan ngirit lho. Saya menyesal baru melakukannya sekarang. Nugget buatan sendiri lebih lezat dan tasty karena full daging ayam. 

Harganya pun jauh lebih murah. Iyalah, masakan dapur sendiri gak pakai biaya kemasan produk, biaya tenaga kerja langsung/tak langsung, biaya marketing …deesbe…deesbe.πŸ˜€πŸ˜€

 

freepik.com


Utamakan Cuci Tangan daripada Hand Sanitizer

“Ma, jangan lupa pakai hand sanitizer,” kata anak saya yang bermukim di Solo. 

Dia enggak sembarang menyuruh, tapi mempraktikannya. Saya memilih menggunakan sanitizer ketika darurat, seperti sedang di luar rumah. Jika berada di dalam rumah, saya mencuci tangan sesering mungkin. Dikutip dari Popular Science, Preeti Malani, seorang profesor medis yang berfokus pada penyakit menular di University of Michigan mengatakan:

"Tidak ada alasan apapun yang membuat alkohol lebih baik daripada mencuci tangan secara efektif.”

Sesuai banget dengan tulisan saya mengenai Ignaz Semmelweis, Bapak Cuci Tangan Dunia, dia menemukan bahwa tenaga medis yang mencuci tangan dapat mengurangi kematian ibu bersalin akibat kuman penyakit yang dibawa dokter dari ruang bedah. 

Sementara sanitizer, yang terbuat dari isopropil alkohol, gel, dan minyak esensial, sejak awal dirancang dan diproduksi untuk tenaga medis yang tidak sempat mendisinfeksi diri sebelum bertemu pasien.

   

freepik.com


Debit Card dan e-Wallet Untuk Berbelanja

Pernah ngebayangin perjalanan  selembar uang? 

Wuih, pastinya seru. Dari bank, uang beredar ke toko kelontong, retail modern, penjual sayur/penjual daging/penjual ikan di pasar, tukang becak/supir angkot, driver ojol, termasuk ke tangan kita dan anggota keluarga. Pastinya penuh dengan kuman penyakit ya si uang? 

Sebelum pandemi Covid-19, saya berusaha meminimalisir jumlah uang tunai di dompet. Jumlah uang yang terlalu banyak di dompet membuat pemiliknya cenderung boros. Paling tidak seperti itulah pengalaman saya, yang rupanya diamini pakar keuangan Dipa Andika Nurprasetyo. Dia memberikan tips keuangan dan pembiayaan di sini: Ingin Kaya Raya di Usia Muda? Ini 7 Cara Cerdasnya! 

Apalagi saat pandemi Covid-19. Saya hanya mengambil uang sesuai kebutuhan. Untuk pos-pos yang tidak bisa dibayar melalui debit card dan e-wallet, seperti membeli gas, sayuran di warung dan lain sebagainya. Selebihnya saya menggunakan m-banking, e-wallet dan debit card. 

Dengan cara ini saya merasa lebih “bersih” dari kuman penyakit, pengeluaran juga lebih hemat.

freepik.com


Minimalisir Baca Berita yang Bikin Parno

"Bayangin, kita berpapasan (dengan penderita COVID-19) dengan jalan cepat saja, mungkin menular. Walaupun berpapasan satu meter, itu dahsyatnya. 

Dahsyat kedua adalah masa inkubasinya. Masa inkubasi COVID-19 kan 3-7 hari. Dalam tiga hari aja dia (varian Delta) sudah bisa menimbulkan gejala. 

Ketiga, semua yang terserang varian baru itu minta ampun. Demamnya berbeda, sakitnya berbeda," ujar ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono, (sumber

Serem gak bacanya?  Saya mengambil dari situs media online terpercaya lho.  

Selain diharuskan di rumah saja yang membuat masyarakat merasa tertekan, situasi bertambah rumit dengan berita menakutkan dan hoaks. 

Sebagai anggota masyarakat, kita perlu baca berita agar mengetahui instruksi pemerintah serta melakukan tindakan preventif menangkis virus Covid-19. Sayang, terlalu banyak berita di internet. Yang diperlukan adalah kemampuan menyaring berita. Berita mana yang harus dibaca, serta yang cukup dibaca judulnya saja.

Bagaimana?

Kok serasa jadi manusia asosial ya?

Gakpapa lah demi mengamankan diri dari virus Covid-19. Setuju? 😊😊
 

Baca juga:
Stop Hoaks, Agar Kesehatan Pulih Ekonomi Bangkit! 

4 Kiat Menghilangkan Kecemasan Selama Pandemi Covid 19

 

sumber gambar cover, 3,4,5 : freepik.com


30 comments

  1. masih gak habis pikir sama yang gak percaya sama covid.. Semoga banyak orang semakin tergerak untuk divaksinasi supaya bisa mencegah gejala atau efek mengerikan dari Covid

    ReplyDelete
  2. Saya marah sama orang yang ga percaya, kesal apalagi yang bilang ini rekayasa, ya rabb beneran itu Covid ada. Makasih tipsnya bu, semoga sehat selalu.

    ReplyDelete
  3. Itulah hidup dalam masa pandemi atau disebut dengan nama baru new normal. Kita perlu adaptasi dan memberlakukannya demi keamanan kesehatan sendiri. Betapa mahalnya hidup jika kita tak mau memathuinya.

    ReplyDelete
  4. Aduuhh, Ambu... itu yg namanya orang antre bayar di minimarket kok yaaa, bikin stok sabar auto koret2
    sukanya dempet2 eikeh sebel bangett! Biasanya aku pura2 BATUK KENCENG aja dah uhuuuk uhuukk, biar mereka auto melipir wkwkwkw

    soale, kadang kalo dibilangin baik2 tuh makin ngeyel
    banyak yg ga percaya ama covid ini koook

    ReplyDelete
  5. Dari judulnya langsung bikin wow dong, hehehe. Suka gemes juga sama orang yang masih enggan menjaga jarak dan malas menggunakan protokol kesehatan. Pengen do'ain jelek enggak baik, ya sudahlah doain yang baik saja biar doa baik juga kembali ke kita. Sehat terus untuk mbak Maria sekeluarga.

    ReplyDelete
  6. Berbagai jurus yang diinfokan oleh Mba Maria ini memang cocok dilakukan saat situasi seperti ini. Saya yang masih belum terlalu sering lakukan saat ada kerumunan apalagi di tempat yang ada penjual makanan. Paling hanya bisa melihat dari kejauhan saja karena serba salah saat mau ditegur. Terkadang masih banyak juga yang bilang lebay ketika mau sungguh-sungguh ikuti prokes,memang harus tega deh ini.

    ReplyDelete
  7. Saya kayaknya nggak pelihara uang tunai lagi di dompet, wkwkwk..
    Mungkin di mobil, buat bayar parkir depan Indomaret..

    Soalnya meminimalisir transmisi kuman juga sih.

    ReplyDelete
  8. Saya pun merasa sedih begitu tahu kabar kematian itu dekat, adik kelas, tetangga. Ah, Corona ini bener-bener memakan banyak korban.


    Sayangnya Kita engga bisa terus-terusan di rumah,memang harus sesekali ke luar. Kalau di minimarket, saya juga sering sih bilang permisi, maaf Jaga jarak, ya. Memang harus tegas begini. Namanya juga menjaga ya Ambu

    ReplyDelete
  9. Menjadi manusia asosial di dunia nyata dan tetep silaturahmi, so akrab tetep di dunia online mah ya Ambuu,say hello.

    Setuju sama Ambu harus tega, dan berani. Kalo ku tega ko sama sodara/adek2 ga menerima tamu ke rumah semasa pandemi gini,bahayaaa. Mendingan di bilang sombong, dari pada kerumunaan.

    Ambuu,sehat selalu ya,makasih udah reminder

    ReplyDelete
  10. Untuk saat ini tinggalkan kerumunan ya ... Cuci tangan pake sabun dengan air yg mengalir dan jgn bersentuhan tangan lebih baik belanja pake e-wallet pembayarannya.

    ReplyDelete
  11. Beberapa orang yang kukenal juga akhirnya berpulang karena covid. Sedih banget Ambu. Dan saat mengetikkan ini pun, beberapa orang terdekat masih berjuang melawan covid.

    Aku suka tipsnya, terutama cuci tangan. Aku prefer ke cuci tangan pakai sabun ketimbang pakai handsanitizer. Terasa lebih ramah kulit. Sehat-sehat semua ya kita. Amin.

    ReplyDelete
  12. Panjang perjuangan kita selama pandemi ini ya Mbak. Banyak keterbatasan dan aturan yg musti kita jalani. Sesuatu yg bakal masuk dalam barisan kenangan hidup kita.

    Sehat-sehat terus ya Mbak. Semoga Allah SWT senantiasa melundungi kita

    ReplyDelete
  13. Baca berita yang gak saya suka apalagi tentang kasus covid, baik itu di WAG maupun medsos, saya lebih baik skip dan buru-buru clear chat hehe.. biar tenang jiwa memang

    ReplyDelete
  14. Penting sekali kurangi baca cerita yang bikin parno berlebihan. Cukup jadikan situs terpercaya saja sebagai referensi semisal situs Kemenkes. Karena di Indonesia itu kalau ada sesuatu yang ramai, mendadak banyak ahlinya. Kita masyarakat awam justru jadi bingung karena banyaknya perbedaan pendapat yang dikemukakan banyak orang.

    ReplyDelete
  15. Ah iya, harus pake jurus tega ya Ambu
    Paling penting yang terakhir tu, apalagi akhir akhir ini
    Sedih, tiap hari banyak kabar duka karena covid, bikin parno

    ReplyDelete
  16. Terus memberikan semangat prokes di masa pandemi dan tips lainnya, setidaknya memulai dari lingkungan terkecil

    ReplyDelete
  17. Lain kali kasih tahu cara buat nugget rumahannya kak? soalnya biasanya saya beli di supermarket...

    Btw, jurus tega memang harus dilakukan ya kak, misal di tempat kerja/di sekolah saya ada rekan kerja gak mau pake masker, saya seringkali tegur mereka supaya gak bandel. Karena ini demi kepentingan bersama supaya sama2 sadar dengan kondisi darurat seperti PPKM ini.

    ReplyDelete
  18. Relate banget nih ku juga sering temui kalau lagi antri kasir orang ga mau jaga jarak senanngnya nempel2 heran.. padahal udah ada garis pembatas biasanya saya halangi pake troli trus kalau dia maju tak sodok aja badannya hehehe emang harus tega ya

    ReplyDelete
  19. Betul ambu, lebih aman makan masakan sendiri. Aku termasuk ibu yang ga jago masak, tapi aku pastikan keluargaku makan masakanku daripada beli matang. Kalau dikasih orang, aku pastikan yang ngasihnya sehat dan masakan itu bisa aku panaskan ulang. Misal kue/roti, aku panggang dulu dengan cara masukin microwave. Kalau gulai, ya aku panasin.

    Sekarang aku belanja online terus, semua bayar transfer. Bahkan tukang sayur keliling (pakai mobil) bisa dibayar transfer haha. Kerenlah tukang sayur sekarang, ngerti kalau duit lagi bahaya kalau pindah dari tangan ke tangan.

    Semoga kita semua selalu sehat ya ambu.

    ReplyDelete
  20. Makasih banget ambu, aku juga udah seminggu tumbang sedih
    tapi harus bangkit, allhamdulillah selama ini udah ngehindarin kerumunan
    dan berita ini aku juga agak menghindari biar nggak stress

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menghindari berita pun penting banget ya Mba agar terhindar dari stres masa kini. Kadang informasi yang terlalu banyak memang membuat pikiran semakin kacau di situasi pandemi gini.

      Delete
  21. Poin terakhir nih Ambu yang benar benar perlu dihati hati banget. Kadang saking banyaknya terpapar berita yang bikin parno, serasa ikutan mulai ngedrop aja gitu.

    Apalagi kalo beritanya udah bercampur hoaks. Haduuu bukannya bikin tenang nalah ngajakin teman sendiri berdebat ala debat kusir. Lelah.

    Berita cukup dicari tahu seperlunya saja biar tetap merasa baik baik saja, walaupun dalam status waspada.

    ReplyDelete
  22. bener nih ambu, harus banget tega dan berani juga yaa. Berani bilang mundur, berani mengingatkan untuk memakai masker yang benar itu perlu keberanian banget memang.

    Semingguan ini ada banyak orang2 dekat jg yg kena dan beberapa sampai meninggal. Ya Allah bulan -bulan penuh duka. semoga kita yg sehat senatiasa sehat dan yg sakit segera pulih ya. aamiin

    ReplyDelete
  23. Aku juga termasuk yang tega menegur. Nggak pakai masker dekatku langsung ditegur deh. Udah kondisi gini. Nah bener drmah juga aku milih cuci tangan, bu

    ReplyDelete
  24. Kewarasan zaman now lagi pandemi begini emg penting bgt ya bu. Haduuh bisa runyam kalo stres atau ga pake jurus tega begini karena virus bertebaran dmn2

    ReplyDelete
  25. Berita yang bikin parno tuh emang bikin stres, aku sendiri udah gamau baca. Sekarang baca yang happy saja, demi imun yang makin kuat. Termasuk tega ya menegur kalau ada yang berkerumun

    ReplyDelete
  26. memang harus tega ya Ambu
    Biar semuanya nggak kendor, tetap disiplin menjaga protokol kesehatan
    harapannya pndemi ini bisa segera berkahir
    semoga kita smua sehat selalu

    ReplyDelete
  27. Bener. Mesti tega, termasuk tega diomelin orang tua karena ngelarang beliau ke kondangan dan pengajian. Tapi ya sudahlah demi kebaikan bersama.

    ReplyDelete
  28. Ahhh, bener banget, Ambu. Emang kudu jadi raja tega. Aku juga punya pengalaman yang sama persis kayak Ambu di antrian supermarket. Yang lebih setuju lagi, padahal ya si kasir tetap akan melayani sesuai antrian kan, kenapa harus mepet-mepetin kita.

    ReplyDelete
  29. bener nih mbak, covid itu nyata dan beneran jahat!
    bener deh mesti bisa tega dan berani negur di luar.

    begitu juga untuk masalah kebersihan. mending cuci tangan langsung. trus pulang dr luar harus langsung mandi bersih dan cuci pakaian deh biar aman

    ReplyDelete