Atasi Stres Dengan 5 Hobi Penghasil Uang, Yuk Coba!


Apa yang terjadi jika terpaksa harus work from home (WFH) ?

Ternyata pada beberapa kasus,  berdampak negatif pada produktivitas dan kesehatan mental.

Dikutip dari Vox.com, Nicholas Bloom, seorang profesor ekonomi di Stanford University menjelaskan bahwa jika WFH merupakan pilihan, maka karyawan akan lebih produktif dan kecil kemungkinannya untuk berhenti.

(Karyawan yang berhenti, juga menyulitkan perusahaan lho. Stabilitas perusahaan akan terganggu apabila turn over karyawan sangat tinggi. Karyawan baru harus adaptasi dan membuat operasional perusahaan terganggu)

Nah, dalam kasus pandemi Covid-19, karyawan bukan memilih, melainkan dipaksa untuk bekerja jarak jauh/WFH. Membuat mereka merasa sangat kesepian dan terisolasi. Nicholas Bloom memberi analogi yang tepat untuk kondisi ini:

“Anda harus terjun payung pada waktu makan siang, Anda diberi parasut dan terlempar keluar dari pesawat. Tanpa pelatihan, tanpa persiapan”

Serem ya?

Sering dilupakan bahwa manusia adalah mahluk sosial yang membutuhkan interaksi agar kesehatan mental terjaga. Sewaktu ngantor mereka bisa mengobrol, menggunakan baju bagus, bergosip, serta beragam interaksi sosial yang tidak bisa digantikan seluruhnya oleh media sosial.

Lebih lanjut Nicholas Bloom mengutarakan ketakutannya bahwa WFH dalam jangka panjang bisa mengakibatkan turunnya produktivitas serta karyawan yang kehilangan inovasi. Bahkan secara ekstrim Bloom mengatakan  “2020 akan menjadi tahun inovasi yang hilang”.

Harus menjaga kesehatan mental agar tidak mengalami depresi, serta selalu mampu berkreasi menjadi pekerjaan rumah yang berat. Perusahaan umumnya sibuk mengkalkulasi kemungkinan paska pandemi. Sehingga abai akan kebutuhan karyawannya.

Dan seperti kasus kesehatan mental lain, menyisihkan waktu untuk melakukan hobi  selalu menjadi jalan keluar yang manjur. Terlebih andai berharap hobi bisa menjadi ladang income sampingan, malah sangat mungkin menjadi ladang penghasilan baru.

Situasi perekonomian yang membuat banyak orang ketar-ketir, harus disikapi secara positif. Mereka yang ketakutan akan terkena PHK bisa membuat banyak persiapan.

Apa saja hobi yang dimaksud?

source: freepik.com

Urban Farming

“Jika sedang merasa tertekan, cobalah ke area kebun, melihat tumbuhan. Jika memungkinkan, pegang batang/daunnya. Maka rasakan perbedaannya: damai, nyaman,“ kata Ridwan Kamil, sekitar tahun 2010, jauh sebelum menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

Alasan itulah yang membuat Kang Emil, nama panggilan Ridwan Kamil, membuat gerakan urban farming sebagai penyembuh urban stres. Gerakan yang mampu menginfluence puluhan kota dan komunitas dibawah bendera “Indonesia Berkebun”, sehingga mendapat apresiasi Google.

Baca juga:

My Resolution isUrban Farming ala Michelle Obama

Urban Farming alaAtalia Praratya Ternyata Mudah, Yuk Ikutan ...

Tidak hanya sebagai healing, gardening juga merupakan lahan bisnis yang menjanjikan. Seorang tetangga di Cigadung berhasil membeli rumah, kendaraan, menyewa kantor dan menyekolahkan anak di sekolah internasional dari bisnis bunga potong.

Sang tetangga berkisah karena lahan pertaniannya tidak luas dia kerap membeli bunga potong dan daun tanaman hias dari petani disekelilingnya. Emang lebih keren ya, pelaminan yang dihias tanaman asli?

Pernah melihat tanaman hias dalam pot yang dijual di supermarket, hotel atau area mall? Mereka juga memulainya dari hobi. Semula hanya di pekarangan rumah, kemudian menyewa lahan dan seterusnya.

Walau tanpa itu semua, pelaku urban farming tetap mendapat keuntungan lho. Bisa memanen tomat, cabai, pakchoy dari pot di pekarangan rumah. Bisa memberi tetangga sayuran hasil panen. Dan yang terpenting memberi asupan semangat positif bagi kesehatan jiwanya.

source: freepik.com

Menggambar

Apa beda komikus, ilustrator, kartunis dan storibordis?

Pertanyaan  tersebut menjadi judul tulisan mbak Tanti Amelia, seorang blogger yang hobi menggambar. Mbak Tanti memulai aktivitas menggambar dari hobi, mengikuti kelas doodle, dan kini kerap membuat ilustrasi. Salah satu kumpulan karyanya bisa dilihat dilihat pada buku “Aku dan Alam Semesta”.

Baca juga: SecangkirKopi Bersama De laras, Penulis Buku “Aku dan Alam Semesta”

“Membuat  karya seni adalah cara yang bagus untuk mengalihkan perhatian dari pemicu stres (Laura Horne MPH)

Karena itu ketika mengalami tekanan, menggambarlah dan nikmati proses kreasinya. Mengekspresikan diri secara visual akan memudahkan berpikir bebas, jangan terlalu kritis dan judgemental.

Pajang hasil karyamu di tempat yang mudah terlihat, untuk membuat mood menjadi lebih baik.

Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, merupakan salah satu sosok yang senang menggambar. Selain hasil karyanya yang diunggah di Instagram, Kang Emil memiliki banyak karya lain di ruangannya. Paling tidak, itu yang saya lihat sewaktu Kang Emil masih berkantor di Pendopo Kota Bandung sebagai Walikota Bandung.

Sedangkan bidang pekerjaan yang bisa ditekuni selain 4 profesi di atas, kini terbuka lebar, seperti hand lettering, kaligrafi, melukis mural, melukis henna, serta masih banyak lagi.

source: pixabay.com

Menulis

Membuat tulisan dalam sebuah jurnal dianjurkan banyak terapis untuk mengusir stres dan membantu agar bisa tidur nyenyak.

Michael J. Breus, psikolog yang acap muncul dalam acara “Dr Oz Show” menganjurkan menulis jurnal 3 jam sebelum waktu tidur. Serta saat pikiran terasa jenuh dan tertekan.

“Tulislah hal-hal positif yang patut disyukuri”, katanya.

Untuk pemula, Michael menyarankan untuk membagi dalam 3 bahasan, yaitu: “Hal-hal yang perlu diperhatikan”, kemudian “Hal yang harus diingat”, serta”Hal-hal yang membuat khawatir”. Jangan lupa cantumkan solusi untuk setiap masalah.

Nah, jika sudah mampu menuangkan unek-unek,dan menemukan solusinya, beri aja tambahan 5 W +1 H yang diperlukan, tambahkan quote atau semacamnya, jadi deh tulisan di blog.

Baca juga: 

7 Kiat Menulis Mudah ala Carolina Ratri

5 Langkah Mudah Menulis Semudah Memasak Mie Instan

Setelah blog memuat banyak tulisan, bisa banget mendaftarkan blog ke google adsense, untuk meraup income melalui iklan. Juga sponsor post, karena angin sedang berhembus ke dunia on line. Kini pencari berita membuka gadgetnya untuk mendapatkan data akurat dengan cepat dan mudah.

source: freepik.com

Handy Craft

Survey yang diprakarsai Hochanda (Home of Craft, Hobbies and Arts) mengungkapkan bahwa 52 % responden dengan usia  18 – 34 tahun menggunakan waktunya ketrampilan. 30 persen memilih mewarnai, 28 persen melukis dan 19 persen merajut.

Dikutip dari Female First, 39 persen orang memilih mengalihkan pikiran dari hal-hal yang membuat stres dengan crafting. Kerajinan tangan akan membuat mereka sibuk dan menyalurkan energi ke sesuatu yang baru dan bermanfaat.

Hasil crafting selain bisa digunakan sendiri, juga bisa dijual. Bahkan menjadi karya yang unik yang “nggak pasaran”.

Winda Krisnadefa, salah seorang blogger yang menggunakan ketrampilan menjahitnya untuk membuat masker gratis terbuat dari kain perca. Kini meneruskan aktivitasnya dengan membuat patchwork dan mulai berjualan masker.

Baca juga: Masker yang (Pernah) Jadi Polemik Saat Pandemi Covid-19  

Sementara itu para hobbies rajut memenuhi media sosial, khususnya Instagram dengan masker rajut. Lengkap dengan cara membuatnya. Jadi bebas, mau bikin sendiri atau beli jadi. Kemajuan teknologi memungkinkan keduanya.

Baca juga:

Punya Limbah Bungkus Kopi? Yuk Sulap Jadi Handy Craft

Katanya Handy Craft Daur Ulang, Kok Bahan Bakunya Masih Baru?

source: freepik.com


Memasak

Di era pandemi Covid-19 ternyata banyak seleb yang caper. Selain Luna Maya yang saya tulis dalam “Luna Maya dan Blunder Covid-19”, baru-baru ini seleb  lainnya, sebut saja MG, mengimbau untuk jangan pamer makanan di media sosial.

Alasannya menggelikan:

“Diluar sana banyak yang kelaparan, nggak pantes pamer makanan”

Saya cuma mau titip jawaban:

“Hallo neng geulis, orang lapar mah mana bisa beli kuota internet untuk lihat medsos? Andaikan saya dalam keadaan lapar, cuma punya uang Rp 50,000. Ya mending beli mie instan atuh, dapat 20 bungkus.”

Dengan kata lain, empati harus ditempatkan secara semestinya. Karena seperti dikutip dari Smithsonian Mag, memasak (cooking dan baking) termasuk kegiatan yang dianjurkan untuk mengusir stres.

Memasak mengandung unsur kreativitas yang memberi dampak positif pada pelakunya. Dia merasa “berkembang”, istilah psikologis yang menggambarkan perasaan bahagia melihat hasil masakan sesuai harapan. Terlebih jika ada yang mencicipi dan memuji masakannya.

Nah, setelah berulang kali praktek dan berhasil mendapatkan rasa yang pas, maka bersiaplah untuk mendapat penghasilan.

Ada 2 tulisan dalam pengerjaan (draft) mengenai pengalaman saya membuat kue dan menjualnya. Sayang belum selesai, keburu ikut challenge 30 hari One Day One Post bersama Blogger Perempuan. Next month ya?

source: freepik.com

Penutup

Sewaktu menulis ini, sebuah artikel memuat kisah seorang perempuan yang terpaksa menjadi PSK setelah terkena PHK, dampak pandemi Covid-19. Sementara sang perempuan harus memberi makan 2 anaknya yang masih kecil-kecil.

Saya ingin membatah tulisan tersebut. Jangan serba menyalahkan covid-19, manusia merupakan satu-satunya mahluk Allah yang diberi akal. Sehingga harusnya bisa beradaptasi, mencari solusi dan bergerak maju.

Baca juga: TiadaSelembar Daun Gugur Tanpa Seizin Allah

Jika ada perempuan yang memilih menjadi PSK, bisa diartikan dia tak mempercayai kuasa Allah SWT. Atau mengambil istilahnya suami Pungki, salah seorang blogger kondang, si perempuan PSK  telah tergelincir, menjadi atheis.

 


13 comments

  1. Kalau saya lebih suka nulis Mba, menulis jadi kayak candu buat saya, dan menghilangkan stres banget.
    Asyiknya lagi sekarang menulis bisa menghasilkan uang ya, salah satunya menulis di blog.
    Lumayan kan ya, di rumah aja, lebih banyak menulis, agar rezeki selalu datang, aamiin :)

    ReplyDelete
  2. Stress manusiawi ya Ambu, tapi harus dikelola dengan benar agar dapat jalan keluar. Syukur-syukur jalan keluarnya menghasilkan kayak di atas. Hehe

    ReplyDelete
  3. Saya juga mulai ancang-ancang apa yg bisa menghasilkan uang tambahan. Kaki Lasak travel gulung tikar sementara hehe

    ReplyDelete
  4. Suami saya belajar berkebun hidroponik selama masa pandemi ini, sepertinya sih bakal jadi hobi. Semoga kalau sudah masuk kantor lagi tanamannya nggak terbengkalai ��

    ReplyDelete
  5. Bener bgt ambu, memasak memang jd salah satu obat stress.. Sy klo ada dline tulisan malah mending masak dl bukannya ngedraft tulisan, biasanya abis masak malah keluar ide hehe

    ReplyDelete
  6. Hari ini saya mulai panen buncis mbak.
    Eh tapi kalau ini bukan hobby sih, emang kerjaan suami saya petani hehehe....

    ReplyDelete
  7. Aku nyari hobi baru nih, Ambu. Yang murah meriah (kalo bisa nol modal) tapi menyenangkan. Salah satu kerecehanku adalah ngulek kulit telur buat stok pupuk :D. Ngurangin sampah juga kan jadinya.

    ReplyDelete
  8. Iya juga ya kalo biasa aktif di kantor atau traveling untuk kerjaan gitu, kondisi sekarang bisa bikin ide buntu. Alhamdulillah kita udah merasakan nikmat rejeki dari nulis ya mbak. Aku sejak stay at home juga banyakin merawat tanaman. Lihat ada bunga calon buah muncul aja seneng banget

    ReplyDelete
  9. Saat di rumah aja memang rentan stres ya mbak apalagi kalo enggak ada duit. Saat begini cocok nih jalani salah satu dari 5 hobi ini biar bisa fokus menghasilkan uang dan tidak dilanda stres.

    ReplyDelete
  10. Semuanya aku suka melakukannya, Ambu. Alhamdulilla banyak hal yang bisa dilakukan untuk stress realease..

    ReplyDelete
  11. Dari lima pekerjaan itu, saya paling bisa menulis dan menjual barang sebagai reseller. Khusus jualan, sudah saya lakukan sejak kuliah, tapi belum diseriusi padahal sudah ikut byk training ��

    ReplyDelete
  12. Aku sepakat,
    Terutama yang Memasak, Alhamdulillah channel kami (Keluarga Wijaya) dapat berkah, setelah lama gak tembus 1k selama 2thn (gak fokus).k
    Akhirnya fokuskamk konten masak dan hari ini sudah 6,5k Subscriber

    ReplyDelete
  13. Paling seneng pas wfh biasanya jajan go food grab food..:D
    klo masak kadang2 aja

    ReplyDelete