
pexels/shvetsa

Rokok Herbal, Hampir Merenggut Nyawa Kakakku
“Aduh aku sesek, susah napas.” Dengan wajah pucat, kakak perempuan saya memegang dadanya. Dia terduduk. Matanya terpejam. Setahu saya dia punya riwayat hipertensi, karena itu saya mencoba mengukur dengan tensimeter.
Entah mengapa, mendadak tensimeter error. Tangan kakak saya dingin. Bersimbah keringat dingin. Waktu menunjukkan pukul 23.15 malam. Saya panik campur bingung.
“Saya harus ke dokter,” katanya. Untuk sesaat saya terpana. Ini Jogja, bukan Bandung. Saya tidak familier pada kota ini. Satu-satunya yang terpikir hanya Ludira Husada Tama, rumah sakit terdekat tempat selama ini saya menjalani terapi osteoarthritis.
Untunglah, mungkin karena rumah kami terletak di tengah kota Jogja, GrabCar yang saya pesan segera tiba. Waktu menunjukkan pukul 23.23, kakak berhasil masuk kendaraan dengan kesadaran terakhirnya. Setelah itu dia tak sadarkan diri.
Sempat ditolak RS Ludira Husada Tama karena petugas medis mengira pasien mengalami stroke, sementara mereka gak punya CT scan. Kami dianjurkan ke RS PKU Muhammadiyah.
Beruntung driver GrabCar menyanggupi, dan beruntung IGD PKU Muhammadiyah, khususnya dokter Mahda Adil Aufa sat set memberi pertolongan. Andai terlambat, mungkin saya akan kehilangan seorang kakak perempuan, satu-satunya kakak yang saya punya.
Baca juga:
Osteoartritis sebagai Kado Ulang Tahun
Pengalaman Mengurangi Insomnia dengan Cara Aman dan Nyaman
Daftar Isi:
- Terima Kasih Orang-orang Baik
- Rokok Herbal yang Jadi Biang Kerok
- Kisah Lain tentang The Golden Hour
- Terima kasih BPJS Kesehatan Yogyakarta
Ya saya beruntung, kakak belum melewati golden period ketika masuk IGD. Dalam dunia kegawatdaruratan medis, seseorang yang mengalami “gagal napas” (hiperkapnik) sangat tergantung pada penanganan 1 jam pertama (The Golden Hour).
Apa penyebabnya?
Paru-paru kakak saya gagal mengeluarkan karbon dioksida (CO₂) secara efisien, sehingga gas tersebut menumpuk di dalam darah. Di dalam darah, CO₂ yang terus menumpuk tanpa bisa dikeluarkan, akan bereaksi dengan air dan membentuk asam karbonat.
Akibatnya darah menjadi terlalu asam (Asidosis Respiratorik Akut). Apabila dalam hitungan jam, tingkat keasaman darah (pH) turun drastis di bawah 7,25 maka akan berisiko terjadinya henti jantung, kerusakan otak permanen, koma, hingga kematian.
Untuk menyelamatkan nyawa pasien, tim medis akan memasang alat bantu napas sebelum otot-otot pernapasan pasien kelelahan (respiratory muscle fatigue) yang bisa memicu henti jantung.
Tentu saja saya menulis ini sesudah paham apa yang terjadi pada kakak saya. Setelah berjam-jam yang membingungkan dan menegangkan. Setelah beribu-ribu doa dipanjatkan, sambil menunggu kabar baik dari para tenaga medis yang diketuai dokter Mahda Adil Aufa.
Sewaktu akhirnya dokter memutuskan kakak saya boleh meneruskan perawatan dari IGD ke ICU, rasanya ingin menjura dan mengucapkan terimakasih tanpa henti.
Vibes ICU itu sendiri terasa sangat horror. Penuh pasien berambut putih dengan mulut menganga, tubuhnya dipenuhi berbagai selang (entah apa namanya), serta botol-botol infus yang bergelantungan.
Termasuk kakak saya. Dia masih tak sadarkan diri. Perawatan terapi oksigen dosis tinggi diberikan bersamaan dengan pemasangan ventilator. Sesak napasnya sudah jauh berkurang. Tangannya bengkak. Kulit, bibir, serta ujung kuku tampak kebiruan.
Waktu menunjukkan sekitar pukul 04.00 pagi ketika akhirnya saya bisa meninggalkan RS PKU Muhammadiyah, Jalan KH. Ahmad Dahlan No.20, Yogyakarta. Pulang untuk tidur, karena sebagai penyandang epilepsy saya harus tidur 8 jam/hari.
![]() |
| biang keroknya |
Rokok Herbal yang Jadi Biang Kerok
Bagaimana ceritanya kakak saya bisa mengalami gagal napas?
Begini, bermula dari kabar adanya ulama agama yang memberi layanan pengobatan alternatif, kakak saya dan seorang paklik (bapak cilik) adik almarhum ibunda berangkat ke sana.
Paklik saya ini pernah mengalami serangan jantung. Untuk itu, sang paman harus menjalani pemasangan ring jantung agar aliran darah yang tersumbat lancar kembali.
Sementara kakak saya menderita hipertensi. Dia juga pernah mengalami serangan asma yang lumayan parah sehingga sempat melewati serangkaian pengobatan.
Ajaibnya, dengan riwayat penyakit seperti itu keduanya terkecoh dengan cara pengobatan rokok herbal sebagai media terapi kesehatan.
Alasannya, rokok herbal tidak menggunakan tembakau sehingga “bebas nikotin”. Rokok herbal terbuat dari campuran tumbuhan memiliki zat aktif yang berkhasiat dalam pengobatan, seperti cengkeh, ginseng, srigunggu dan tanaman lain
Andai dibedah satu persatu, emang sih tanaman herbal tersebut sangat bermanfaat, misalnya srigunggu atau senggugu (Clerodendrum serratum) sering dipakai dalam pengobatan tradisional, terutama untuk kesehatan saluran pernapasan dan bahan utama terapi gurah.
Cengkeh memiliki kandungan senyawa aktif eugenol yang membantu menjaga kepadatan massa tulang serta mencegah osteoporosis. Sifat antimikroba di dalamnya efektif menghambat pertumbuhan bakteri seperti E. coli.
Demikian juga ginseng yang merangsang produksi sel-sel imun sehingga tubuh lebih kuat melawan virus. Serta meningkatkan sensitivitas insulin, agar kadar gula darah pada penderita diabetes bisa terjaga.
Namun seperti yang dikatakan dokter Ramaniya Kirana, spesialis paru-paru yang merawat kakak saya:
“Herbal itu untuk diminum, bukan untuk dirokok.”
Karena proses merokok herbal sama berbahayanya dengan rokok konvensional. Membakar tanaman apa pun tetap menghasilkan asap beracun, yaitu tar, karbon monoksida, dan zat pemicu kanker.
Seorang perokok (termasuk perokok herbal) akan mengalami kerusakan saluran pernapasan dan pembuluh darah, sehingga meningkatkan risiko stroke, jantung, kanker, dan gangguan paru kronis.
Dalam hal gagal napas yang dialami kakak saya, terjadi kerusakan jaringan paru pemicu emfisema yang mengganggu pertukaran oksigen dan karbon dioksida di dalam darah.
Akibatnya, dia mengalami infeksi saluran pernapasan yang memperparah kondisi sesak napas hingga berujung pada kegagalan fungsi pernapasan.
Dokter yang ramah tersebut menjelaskan sambil menunjukkan hasil rontgen kakak saya. Paru-paru yang seharusnya berwarna hitam (kanan dan kiri) dipenuhi warna putih pertanda infeksi/peradangan.
Mungkin ada yang bertanya, kok saya gak berusaha menghentikan kebiasaan merokok yang jelas-jelas salah?
Jangankan menasehati, dia malah mengajak saya untuk menggunakan rokok herbal sebagai penyembuh penyakit saya yang seabrek! :D
Selain itu, dia telah “diracuni” beberapa teman dan kerabat yang bertestimoni bahwa rokok herbal telah menyembuhkannya. Ada yang sembuh dari kanker, diabetes, jantung dan masih banyak lagi.
Banyaknya testimoni, didukung penjelasan tokoh agama tentang manfaat rokok herbal, rupanya menumbuhkan keyakinan pada kakak saya. Bahkan ketika sedang sakit batuk parah, dia tetap merokok herbal.
Termasuk paman saya yang bertanggung jawab mengajak kakak berobat rokok herbal. Melihat kakak saya terkapar di ICU, dia malah menyalahkan kakak saya yang beli di toko bebas.
Dia bilang harusnya beli dari stok jualan tokoh agama tersebut, dengan alasan sudah difermentasi.
Ah, embuhlah!
![]() |
| pexels/Mizuno Kozuki |
Kisah Lain tentang The Golden Hour
Takut kehilangan orang yang disayangi pernah saya alami beberapa puluh tahun silam. Ketika itu sore hari, bapak mertua saya tiba-tiba memanggil. Dan apa yang saya saksikan persis seperti yang dialami kakak saya.
Bapak mertua saya memegang dadanya. Sempat tiduran sambil tersengal-sengal, kemudian beliau tak sadarkan diri. Saya bingung. untunglah, gak lama kemudian bapaknya anak-anak pulang dari kantor.
Naas, bukannya membawa ayahnya dengan kendaraan pribadi ke rumah sakit terdekat, (hal yang di kemudian hari sangat saya sesali), dia malah menyuruh menelepon ambulance, yang lama banget baru sampai.
Rupanya sore hari atau waktu pulang kerja, membuat ambulance gak bisa sat set menjemput dan mengantar pasien, sehingga nyawa bapak mertua saya tak tertolong.
![]() |
| salah satu bangunan balai kota Yogyakarta, rating 10 untuk pelayanannya 😊 |
Terima kasih BPJS Yogyakarta
Selain pengetahuan tentang “golden hour” yang membuat kita tetap berkepala dingin, hal lainnya yang harus disiapkan adalah jaminan kesehatan.
Kerasa banget manfaatnya sewaktu saya harus mengurus biaya pengobatan kakak saya. Setahu saya, dulu dia punya premi asuransi kesehatan swasta (karena dia beli dari sepupu saya 😀😀 ).
Nah teman saya, seorang Lifestyle Blogger Madura banyak menulis tentang seluk beluk mengelola keuangan keluarga, termasuk menganggarkan biaya kesehatan, silakan klik blognya ya?
Ketika mengurus pendaftaran rawat inap, saya kaget dong ketika mengetahui kakak saya sudah lama di menyetop dan menggantinya dengan BPJS Kesehatan. Itu pun tak diurus!
Untunglah saya mendapat informasi bahwa mengurus BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran) di Kota Yogyakarta sangat mudah, khususnya untuk kakak saya yang tidak memiliki keluarga (tidak bersuami dan tidak punya anak) serta telah lama tidak bekerja.
Kemudahan pengurusan BPJS PBI sangat terkait dengan kepedulian Wali Kota Yogyakarta saat ini, yang memiliki nama lengkap Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K).
Kesehatan warga kota Yogyakarta menjadi salah satu fokusnya. Tanpa banyak bicara (apalagi dibuat konten :D ), warga yang sudah lansia mendapat layanan BPJS PBI langsung dari puskesmas terdekat, termasuk penyediaan KIS (Kartu Indonesia Sehat) -nya.
Ada pun kakak saya karena masih tertera status pekerjaan sebagai “karyawan swasta” pada KTP, fasilitas BPJS PBI-nya sempat terganjal. Namun segera beres dalam waktu 1 hari!
Bayangkan andai kakak saya masih tinggal di Kota Bandung, pelayanan KTP di kota kembang ini membutuhkan waktu 2 bulan, dengan alasan mesin rusak.
Minta ampun deh, semiskin itukah Kota Bandung sampai gak bisa beli mesin cetak KTP? 😭😭
Baca juga:
Clear Mind dan Cara Membersihkan Sampah Pikiran
Air Murni, Cara Mudah Lindungi Keluarga agar Tetap Sehat dan Produktif




.png)


No comments
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat