
sumber: pexels/Mikhail Nilov

Clear Mind dan Cara Membersihkan Sampah Pikiran
Pernahkah terjebak dalam “kebanyakan mikir”? Contoh kasusnya saya ambil dari suatu utas di Threads (aplikasi media sosial berbasis teks yang dikembangkan oleh Meta).
Seorang perempuan berkisah, selama ini gaji suaminya dipegang dia. Jadi ketika sang suami ingin mentraktir ibu dan saudara perempuannya jajan bakso, dia minta sang istri mentransfer sejumlah uang.
Dengan perhitungan harga bakso yang sangat terkenal di kota tersebut Rp 20 ribu/porsi, sang istri mentransfer Rp 100 ribu.
Pulang kerja, sang istri menanyakan sisa uang, yang dijawab sang suami sudah habis.
Mengapa dia menanyakan sisa uang? Karena dia ingin suaminya membelikan bakso yang ternyata diam-diam dia inginkan juga. Dia marah. Dia pikir suaminya harusnya pengertian. Jangan jajan enak tanpa mikirin istri.
Tau apa komentar warga Threads?
Mayoritas komen memarahi perempuan tersebut! Lha seluruh gaji kan dipegang dia, kenapa gak beli sendiri? Atau ketika sang suami minta uang, sekalian dong dia bilang untuk minta dibelikan juga.
Urusan mudah kok dibikin ribet?
Baca juga:
The Art of Listening, Antara Mendengar dan Mendengarkan
Resolusi 2025: Slow Living agar Lebih Bersyukur
Daftar Isi:
- Clear Mind sebagai Bagian dari Praktik Mindfulness.
- Kenali “Sampah” Pikiranmu
- Cara Membersihkan “Sampah” Pikiran
- Kebanyakan Mikir yang Bikin Kantong Bolong
Selain kasus yang menimpa warga Threads, saya juga punya pengalaman akibat “kebanyakan mikir”. Bermula ketika laptop saya bermasalah, muncul garis-garis vertical di layar hingga saya kesulitan mengoperasikan laptop, bahkan mematikan laptop pun gak bisa.
Gak langsung parah sih. Semula hanya melintang sekitar 2 cm dan berwarna cerah. Lama kelamaan memenuhi sebagian layar dan berwarna gelap.
Karena sedang berada di Jogja, saya segera searching tempat reparasi laptop terdekat, yang punya rating lumayan tinggi. Setelah dapat (ternyata lokasinya berseberangan dengan rumah sakit yang biasa saya kunjungi), saya segera ke sana.
Petugasnya sangat ramah dan professional, dia segera memberitahu bahwa layar LCD/LED saya rusak, harus diganti. Biayanya Rp 950K dan bisa diambil dalam waktu 1-2 jam.
Saya pun mengiyakan, tak lama kemudian saya pulang ke rumah dengan happy karena masalah laptop yang bikin saya bete berhari-hari, akhirnya terselesaikan.
Anehnya beberapa minggu kemudian muncul pikiran “gak jelas”, yaitu: “Jangan-jangan kerusakan layar gak separah itu.”
“Jangan-jangan si pemilik service computer “memalak” secara halus.”
“Jangan-jangan review bagus di Google, berasal dari karyawannya sendiri, atau orang suruhan.”
“Kebanyakan mikir” ini menurut Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag. dalam Ngaji Filsafat melalui akun Masjid Jenderal Sudirman (MJS) Yogyakarta yang tayang di channel YouTube, merupakan sampah yang membebani pikiran.
Dan yang namanya sampah, harus dibersihkan melalui “Clear Mind”, bagian dari praktik Mindfulness.
Mindfulness merupakan cara terhubung dengan diri sendiri, melatih pikiran untuk sadar penuh, fokus, dan menerima keadaan saat ini (momen sekarang) tanpa menghakimi.
Mengapa harus melakukan Mindfullness? Agar kita gak stress! Bayangin punya pikiran yang gak penting seperti dua kasus di atas.
Dengan melakukan Mindfullness, kita bisa meningkatkan ketenangan emosional, memperbaiki kesehatan mental (mengurangi depresi/kecemasan), serta meningkatkan fokus dan produktivitas dalam aktivitas sehari-hari.
Kenali “Sampah” Pikiranmu
Apa saja “sampah pikiran” itu?
Pak Faiz, nama panggilan akrab untuk Dr. Fahruddin Faiz, S.Ag., M.Ag membaginya dalam 3 kategori , yaitu:
1. Negative Thinking
Negative thinking (nethink) merupakan kecenderungan untuk menilai suatu hal dari sudut pandang negatif. Nethink kerap muncul ketika bertemu orang baru, atau menghadapi hal yang belum pernah dialami.
Namun nethink juga bisa muncul dalam aktivitas sehari-hari, misalnya melihat tetangga yang diketahui beragama Islam, dan dia gak pergi Shalat Jumat di Masjid, maka muncul nethink dalam bentuk penghakiman bahwa tetangga tersebut telah berdosa.
Andai pun sang tetangga pergi Shalat Jumat, nethink tetap muncul, dalam bentuk: “Ah dia cuma pencitraan.”
Bentuk nethink lainnya kerap terkait dirinya sendiri, seperti: Aku gagal, aku tidak berharga, tidak ada yang menyayangiku, dan seterusnya.
Ketika ada yang menolong, muncul pikiran: “Kamu merendahkanku”, tapi ketika ada yang menolong, dia berpikir: “Tidak ada yang empati padaku”.
Sifat-sifat nethink:
- Otomatis. Muncul begitu saja, tanpa diupayakan.
- Terdistorsi. Berasal dari persepsi. Hanya melihat dari sisi jeleknya, gak melihat manfaatnya.
- Menghalangi untuk memperoleh tujuan. Seperti batal berangkat ke kampus karena pikiran takut sepeda motornya dicuri. Jika naik angkutan umum, dia takut terlambat
- Masuk akal. Biasanya pemilik nethink menerima alasan sebagai pembenaran yang masuk akal. Seperti kasus takut sepeda motor dicuri, dia melihat sebagai fakta, dan tidak terpikir untuk mempertanyakan.
2. Over Thinking
Suatu kebiasaan memikirkan sesuatu secara berlebihan, berulang-ulang, dan mendalam, baik masa lalu (ruminasi) maupun masa depan (kekhawatiran), tanpa dibarengi proses penyelesaian atau problem solving secara efektif.
Sifat-sifat Over Thinking
- Berpikir yang tidak perlu
- Berpikir yang tidak tepat
- Berpikir terlalu banyak
3. Dirty Mind
Berasal dari frasa bahasa Inggris "dirty mind", yang dalam bahasa Indonesia berarti pikiran kotor atau mesum.
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang pikirannya sering mengarah pada hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas, sering kali dengan cara yang dianggap tidak senonoh, cabul, atau menyinggung, meskipun konteks pembicaraan aslinya mungkin netral atau tidak berhubungan dengan seks.
![]() |
| sumber: Pixabay |
Cara Membersihkan “Sampah” Pikiran
Cara Membersihkan Pikiran dari Nethink
- Memulai berpikir positif
- Pahami/kenali kelebihan dan capaian-capaian hidup
- Tulis hal-hal yang patut disyukuri , seperti kesehatan yang prima, memiliki keluarga yang menyayangi, bahkan udara segar yang dihirup merupakan hal-hal yang patut disyukuri.
- Cari circle yang positif. Ada pepatah yang sangat pas, yaitu: “Berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan ikut wangi. Sebaliknya, jika berteman dengan penjual ikan, kita akan ikut amis".
- Afirmasi dan self talk positif. Berbicara pada diri sendiri dengan hal-hal positif, seperti "Saya mencintai dan menerima diri saya apa adanya" ; "Saya percaya diri menghadapi tantangan hari ini". dan seterusnya.
- Jaga kesehatan, karena tubuh sehat akan memudahkan berpikir positif
- Relax dan humor. Seperti yang saya lakukan akhir-akhir ini asyik membaca utas konyol di Threads, yang bikin saya tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut.
- Belajar hal baru agar tidak sibuk dengan nethink
Mengatasi Over Thinking
Ubah self talk negative
Orang yang over think kerap mengatakan hal hal yang negatif pada diri sendiri. Seperti: “Saya selalu terlambat ke kampus, deh.” Jangan heran jika dia akhirnya selalu terlambat sampai ke kampus.
Yakinlah bahwa setiap orang Istimewa. Bedanya ada yang mau melihat dirinya positif, ada yang tidak.
Relakan yang sudah terjadi
Sampah pikiran menjadi beban ketika muncul pikiran tentang masa lalu: Seandainya dulu saya ……Seharusnya saya …
Sementara kita tahu tidak dapat mengubah masa lalu, bahkan satu detik yang lalu. Ambil pelajaran dari masa lalu dan pastikan utk tidak mengulangi kesalahan yang sama
Kenali ketakutan-ketakutan kita
Ketakutan irrasional menjadi beban pikiran, karena ketakutan tersebut kerap hanya muncul dalam imajinasi. Seperti takut mengalami kecelakaan lalu lintas ketika mengendarai sepeda motor ke kampus.
Lakukan strategi terbaik utk mengatasi ketakutan:
- Biarkan ia hadir, hadapi saja
- Ambil tindakan. Saat kita mengambil tindakan adalah saat memenangkan pertempuran melawan over thinking
Nikmati saat ini
Orang dengan over thinking terjebak pada masa lalu, dan takut akan masa depan. Tinggalkan kebiasaan tersebut dan fokus saja pada momen saat ini
Fokus pada apa yang bisa dikontrol. Kasus saya dan laptop mungkin bisa jadi contoh sampah pikiran yang harus dibuang.
Jelas-jelas saya gak bisa menangani kerusakan laptop, dan sudah mencari tenaga ahli dengan bantuan Google (di Jogja saya gak punya referensi lainnya), ketika akhirnya laptop bisa digunakan, harusnya saya berpikir positif karena sudah berusaha dengan optimal.
Menggusur Dirty Mind
- Kenali dan hindari pemicu
- Abaikan dan ganti fokus
- Ibadah
- Olah raga
- Kembangkan hobi positif
- Cari kesibukan positif
- Berkumpul dengan orang positif

sumber: Pexels/Towfiqu Barbhuiya

Kebanyakan Mikir yang Bikin Kantong Bolong
Betul, kebanyakan mikir bisa bikin “kantong bolong”. Terjadi pada seorang kerabat yang mengeluh pompa air di rumahnya mendadak rusak.
Sewaktu dibawa ke tempat service, sang kerabat diberitahu, gara-gara sarang semut, ada elemen yang rusak. Biaya penggantian elemen Rp 300K.
Bukannya menyetujui, kerabat saya tersebut malah membawa pulang pompa airnya dan menggunakan pompa air bekas dari gudang kemudian mulai memasang instalasi baru.
Ternyata gagal dong. Mungkin karena pompa air bekas ini sudah berusia lanjut.
Selanjutnya apa yang dia kerjakan? Tetap gak mau membawa pompa air yang rusak. Menurutnya penyebab kerusakan adalah sarang semut terlalu mengada-ada.
Dia malah membeli pompa air baru dari market place. Harganya murah sih, hanya 1/10 dari harga pompa airnya. Apa alasannya? Saya juga gak paham.
Dan ternyata pompa air murah ini tidak bisa menyedot air ke kamar mandi, maklum rumahnya lantai 3.
Akhirnya apa boleh buat, dia mengambil langkah awal: Membawa pompa air lama ke bengkel service!
Bisa dibayangkan effort yang habis untuk pasang instalasi baru, mencoba ini dan itu. Termasuk biaya yang dikeluarkan jadi berlipat. Harusnya cukup Rp 300K dia sudah bisa duduk tenang karena air di rumah sudah mengalir.
Gara-gara over thinking dan negative thinking dia harus merogoh kocek: Rp 150K (instalasi baru) + Rp 300K (harga pompa air baru) dan Rp 300K (biaya service pompa air lama)
Terkait sampah pikiran, ada quote bagus berikut:
Hidup kita dibentuk pikiran kita. Kita menjadi apa yang kita pikirkan. Kegembiraan mengikuti pikiran jernih seperti bayangan yang tidak pernah pergi (Buddha)
Bagaimana tertarik untuk selalu terhubung dengan diri sendiri, dan secara periodik melakukan Clear Mind? Bisa banget mengunjungi Mindful Lifestyle Blogger , banyak bahasan menarik di sana. Diantaranya tentang “main character energy” agar hidup gak sekadar dijalanin.
Baca juga:
Broken String dan Target Baca Buku
Sikap Asertif dalam Bertetangga, Antara Akal Sehat dan Takut Konflik



.png)


No comments
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat