Pengalaman Mengurangi Insomnia dengan Cara Aman dan Nyaman

     
maria-g-soemitro.com

Pengalaman Mengurangi Insomnia dengan Cara Aman dan Nyaman

“Jadi kebalik ya dok? Saya sakit flu berat karena insomnia, akibatnya epilepsy saya kambuh.” Saya mengulang penjelasan dokter spesialis saraf (neurologi) agar tidak salah paham, dan dijawab dokter berwajah ramah ini dengan tersenyum seraya mengangguk.

Mungkin karena sudah lama mengalami insomnia, saya jadi berkawan dengan kondisi kesulitan tidur. Sehingga ketika mengalami kekambuhan epilepsy, saya menuduh sakit flu sebagai penyebabnya.

Sering banget saya melek hingga menjelang pukul 2 pagi, bahkan terkadang pukul 4 pagi. Jika sudah begitu, saya pun minum obat alergi (antihistamin) untuk memperoleh efek ngantuk. Saking seringnya, terkadang saya baru tertidur setelah minum 2 pil obat.

Bukan tanpa usaha sih. Saya gak tidur siang, dan gak minum kopi beberapa jam sebelum tidur, tapi kondisi sulit tidur tetap datang.

Dan itu merana banget. Semalaman gulang guling di tempat tidur, sudah membaca doa serta tips lainnya yang banyak beredar di internet, namun tetap gak bisa tidur.

Sebagai pengidap epilepsi fokal atau kekambuhan kejang di tangan kiri, setiap bulan saya harus konsultasi ke dokter, dan bisa curhat tentang penderitaan sulit tidur. Hasilnya saya mendapat obat tidur. Gak banyak. Cuma 4-5 pil, agar saya tidak kecanduan.

Baca juga:

Sekam Padi untuk Bahan Bakar Boiler Biomassa, Demi Kesehatan Bumi dan Manusia

Jangan Cuma Gemas! Yuk, Ikut Kembangkan UMKM Bersama Amartha

Daftar Isi:

  • Ternyata, Insomnia yang jadi Trouble Maker
  • Fase Tidur pada Penderita Insomnia
  • Cara Alami Mengusir Insomnia
  • Pengalaman Memakai Sprei California by My Love untuk Atasi Insomnia

Berdamai dengan insomnia rupanya tak bisa dibiarkan berlama-lama, tugas ke luar kota dan terakhir mengunjungi Kota Sukabumi, membuat saya ambruk. Saya terserang virus influenza hingga harus meringkuk di tempat tidur selama seminggu.

Padahal selama ini saya selalu berusaha hidup sehat. Saya aktif berolah raga dan mengonsumsi makanan bernutrisi. Saya juga rutin minum minuman herbal seperti jahe dan kulit jeruk kering untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Andai mulai terasa pusing atau tenggorokan gatal, saya akan minum obat analgesik, dan biasanya segera sembuh dalam waktu 1-2 hari.

Karena itu ketika sakit flu tak kunjung sembuh, malah disusul kekambuhan epilepsy, saya menuduh virus influenza penyebabnya. Sampai dokter menjelaskan bahwa biang keroknya adalah: insomnia.

Dokter menjelaskan bahwa insomnia yang saya derita menyebabkan imunitas tubuh berkurang. Jumlah sel pelindung tubuh menurun (seperti sel T dan antibody), akibatnya tubuh gak punya pertahanan yang memadai dan virus influenza menyerang dengan mudahnya.

Gak heran, walau saya tertib minum obat (tidak putus obat) saya mengalami kekambuhan epilepsy. Hal yang sangat saya hindari karena selain menyakitkan, kekambuhan epilepsy sangat merepotkan. Aktivitas harian jadi terganggu. Sebisa mungkin saya harus menghindari kegiatan yang membahayakan seperti memasak menggunakan kompor gas dan naik/turun tangga.

 

maria-g-soemitro.com
sumber: Pexels/cottonbro studio

Fase Tidur pada Penderita Insomnia

Apa yang sesungguhnya terjadi pada penderita insomnia? Apa bedanya dengan mereka yang setiap malam bisa tidur dengan pulas?

Dari penjelasan dokter serta beberapa sumber, saya mendapat penjelasan bahwa pengidap insomnia juga mengalami 4 fase tidur, namun siklusnya sering rusak. Kurang lebih uraiannya sebagai berikut:

NREM Tahap 1 (N1: Tidur Ayam)

Non penderita mengalami transisi antara bangun dan tidur. Durasinya sekitar 1–7 menit. Dalam fase ini mata mulai terasa berat, napas melambat, otot mulai rileks, serta masih mudah terbangun oleh suara atau cahaya.

Penderita insomnia merasa "tidur-tidur ayam", mudah terbangun oleh suara kecil, dan sulit masuk ke fase tidur yang lebih dalam.

NREM Tahap 2 (N2: Tidur Ringan)

Non penderita memasuki tahap tidur yang lebih dalam. Berlangsung lebih lama, sekitar 10–25 menit, dan porsinya paling besar. Detak jantung dan pernapasan menjadi sangat teratur, suhu tubuh menurun, dan aktivitas otak melambat.

Penderita insomnia bisa berada di fase ini terlalu lama. Mereka terjebak dalam keadaan setengah sadar. Otak mereka terlalu aktif berpikir sehingga gagal menuju ke tahap berikutnya.

NREM Tahap 3 (N3: Tidur Nyenyak / Deep Sleep)

Non penderita memasuki fase paling krusial untuk pemulihan fisik. Dengan rentang waktu 20-40 menit, detak jantung, napas, dan aktivitas otot berada di titik terendah. Otak memancarkan gelombang delta. Tubuh melakukan perbaikan sel, penguatan imun, dan regenerasi jaringan.

Penderita insomnia sering kekurangan fase ini. Akibat tidur kurang nyenyak mereka merasa lemas, pusing, dan tidak bugar saat bangun tidur.

REM (Rapid Eye Movement) / Tidur Bermimpi

Non penderita memasuki fase bermimpi. Durasinya sekitar 10–60 menit. Pada tahap ini mata bergerak cepat di balik kelopak mata, namun otot-otot tubuh mengalami kelumpuhan sementara (atonia) agar tidak bergerak mengikuti mimpi. Denyut jantung dan napas kembali meningkat menyerupai saat sedang terjaga.

Fase ini sangat penting untuk fungsi kognitif, memori, dan regulasi emosi. Dalam satu malam, tubuh orang sehat biasanya melewati siklus ini secara berulang sebanyak 4 hingga 6 kali.

Penderita insomnia sering kali terbangun sebelum mencapai fase REM. Jika mereka bermimpi, mimpi ini bisa sangat mengganggu karena otak tidak beristirahat dengan baik.

Setelah menyimak penjelasan tersebut, saya jadi merasa ngeri. Ternyata serem banget ya? Pengidap insomnia seperti zombi yang tak berdaya ketika virus mendobrak pertahanan tubuhnya.

Cara Alami Mengusir Insomnia

“Setiap hari harus tidur 8 jam,” kata dokter sambil menulis resep. Isinya selain obat untuk epilepsy, dokter meresepkan 2 macam obat tidur yang hanya boleh diminum secara bergantian.

Dokter juga berpesan agar saya mencoba cara alami. Analoginya seperti kebakaran, obat hanya untuk memadamkan api, selanjutnya saya harus berusaha agar tidak terjadi lagi.

Tentu saya kali ini saya mengangguk patuh. Saya gak ngeyel lagi. Terlebih menyadari dampak insomnia sangat menakutkan, apalagi jika sampai kecanduan obat tidur, duh!

Sepulang dari konsultasi dokter, saya mulai merancang beberapa perubahan yang bisa saya lakukan, baik kebiasaan maupun suasana kamar sebagai zona relaksasi yang membantu mempermudah proses tidur.

1. Disiplin Waktu Tidur

Selama ini saya suka-suka aja, terlebih ketika sedang marathon menonton drama Korea, wah saya bisa beranjak ke peraduan menjelang pagi hari.

Sekarang saya menetapkan paling malam pukul 22.00 WIB harus masuk kamar untuk tidur, serta setop semua gawai minimal sejam sebelumnya.

2. Memasang Lampu Tidur

Sudah lama lampu tidur rusak dan saya mengabaikannya. Nah, saya wajib membeli lampu tidur yang baru. Lampu tidur akan memberi sinyal pada otak untuk memproduksi melatonin (hormon tidur) secara alami.

3. Menggunakan Sprei dan Bantal yang Mendukung

Kebetulan saya baru saja membeli bantal, karena bantal lama sudah terasa gak nyaman. Rupanya ini keputusan yang tepat. Bantal berfungsi mengisi ruang kosong di antara leher dan kasur. Ini mencegah sakit leher dan menjaga posisi tulang belakang tetap lurus.

Sedangkan untuk sprei, saya berencana membeli yang baru. Selama tinggal di Cinanjung ini saya menggunakan bed cover dan sprei yang ada dan kurang mempedulikan dampaknya.

Tentu saja gak sembarang merk sprei, harus dipilih dari bahan lembut, awet, dan punya reputasi keringat agar bisa mencegah rasa gerah.

Sewaktu sedang hunting, saya menemukan sprei California by My Love yang motifnya mengajak kita beranjak ke pulau kapuk. Warna-warnanya bikin nyaman dan hangat. Terlebihnya review-nya (di blog maupun marketplace) sangat bagus. Wah, patut dicoba nih.

 

maria-g-soemitro.com

Pengalaman Memakai Sprei California by My Love untuk Atasi Insomnia

Ternyata gak gampang, saya kesulitan memilih. My Love Bedcover menyediakan beberapa varian, motifnya pun banyak banget. Bikin bingung. Semua bagus.

Tapi nanti deh, saya pilih motif nichi dari California by My Love untuk pengalaman pertama. Saya naksir warna-warnanya: merah muda lembut (pink pastel) dan hijau toska muda (mint green), yang saya harap bisa membantu lebih relaks dan menemani ke alam mimpi.

 

maria-g-soemitro.com

Akhirnya pesanan saya tiba. Rasanya gak sabar ingin segera mencoba. Tapi eits nanti dulu, setiap produk tekstil wajib dicuci dulu karena pastinya masih tersisa bahan kimia, diantaranya dari proses finishing.

Saya senang karena gak luntur! Huhuhu nangis aja apabila luntur ya? Warna kain bakal mbluwek dan kusam. Sedangkan sprei California by My Love sesuai penjelasannya menggunakan disperse printing sehingga tidak luntur dan warna tetap kinclong.

Sesudah kering, saya gak perlu pakai tenaga untuk menyetrika, tekstur kain terasa nyaman dan licin seperti kain beludru. Hal ini dimungkinkan karena penggunaan kain microtex ya?

 

maria-g-soemitro.com

Dari beberapa sumber, dan kebetulan saya pernah bekerja di perusahaan tekstil, saya jadi tahu bahwa microtex merupakan pengembangan teknologi baru dari bahan microfiber dengan menggunakan serat kain halus ekstra lembut. Namun tebal dan kuat sehingga kain tidak mudah melar, rusak, atau berpasir meskipun sering dicuci.

Keunggulan lainnya adalah spreinya lembut yang sangat membantu saya tidur nyenyak dari kebiasaan sepanjang malam gelisah, bolak balik di tempat tidur.

maria-g-soemitro.com

Hasilnya pemakaian sprei California by My Love? Tidur terasa nyaman, hangat dan bikin mager. Rasanya males banget bangun dari peraduan.

Bagaimana dengan insomnianya? Gak langsung sembuh. Penyebabnya kebiasaan yang sulit diubah nih. Susah banget setop ponsel sebelum tidur. 

Tapi udah berkurang banyak kok. Saya gak lagi bergantung pada obat tidur. Bangun tidur juga terasa segar, gak sakit kepala lagi.

Nah rencana berikutnya menambah bedcover dan sprei dari merk My Love Bedcover, karena ada varian dan motif yang saya taksir hihi. 

Harga bedcover dan spreinya sangat terjangkau. In this economy, jika ingin punya banyak sprei agar bisa gonta ganti, harganya harus ramah di kantong bukan?

Baca juga:

Ingin Menang Lomba Blog? Ini Rahasianya!

AI, Lawan atau Kawan?


No comments

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat