
sumber: Mydramalist

The King's Warden, Penjaga Terakhir Raja yang Terbuang
Pernah nonton film “The Last Emperor”? Pemenang Oscar ini berkisah tentang Puyi, kaisar terakhir Tiongkok (Dinasti Qing) yang naik takhta saat berusia 2 tahun, kemudian dipaksa turun takhta saat revolusi 1912. Kemudian Puyi menjadi boneka jepang dan meninggal sebagai asisten tukang kebun di Kebun Raya Beijing.
Bagaimana dengan nasib raja-raja di Indonesia, pasca deklarasi sebagai negara kesatuan yang berbentuk Republik dengan sistem presidensiil?
Mereka beruntung, karena tidak dipaksa turun tahta seperti Puyi. Nasib apes lainnya menimpa Kaisar Sunjong, raja terakhir Korea Selatan yang meninggal dalam pengawasan ketat Jepang, di Istana Changdeok pada tahun 1926.
Raja-raja tradisional di Indonesia, salah satunya Paku Buwono, penguasa Kasunanan Surakarta tetap diakui sebagai pelestari adat dan budaya. Bahkan almarhum Pakubuwono X mendapat julukan Kaisar Jawa karena kaya raya dan sanggup membiayai kerajaannya melalui aset tanah, perkebunan, industry, termasuk pabrik gula.
Sayang keturunannya tidak lagi sekaya itu, mereka hanya mengandalkan pengelolaan property serta dana hibah dari pemda setempat.
Walau tak sekaya raya dulu, posisi takhta Raja Keraton Solo ternyata tetap dianggap sexy, terlihat dari pasca wafatnya Pakubuwono XIII pada 2 November 2025, anak sulung dan anak bungsunya saling klaim kepemilikan takhta.
Jika posisi raja yang “hanya” pelestari adat dan budaya diperebutkan, apalagi raja beneran yang hidup bergelimang harta, ya?
Salah satunya terjadi pada Raja Danjong dari Dinasti Joseon yang bertahta dari tahun 1452 hingga 1455. Naik takhta di usia sangat belia, sekitar 12 tahun. Dia dikudeta pamannya, Pangeran Agung Suyang (kemudian menjadi Raja Sejo).
Setelah digulingkan, statusnya diturunkan menjadi Pangeran Nosan, kemudian diasingkan dan dihukum mati pada tahun 1457 di Yeongwol.
Film Korea “The King's Warden” dibuat berdasarkan kisah tragis Raja Danjong, dan figur historis Um Heung-do yang dikenal memiliki peran penting dalam kematian Raja Danjong.
Menarik ya? Terlebih seperti kebanyakan karya sineas Korea, kekuatan film Korea “The King's Warden” terletak pada akting para pemerannya yang mumpuni. Gak heran, pemeran utamanya, Yu Hae-Jin , sang chungmuro berhasil menyabet penghargaan Grand Prize (Daesang) pada 2026 (62nd) BaekSang Arts Awards - May 8, 2026
Baca juga karya sageuk lainnya:
To My Beloved Thief, Kisah Cinta Seorang Maling Cluring
Bon Appétit, Your Majesty, Tentang Gwinyeo yang Pernah Jadi Juara La Poêle d'Or Prancis 2025
Yu Hae-Jin sebagai Eom Heung-Do
Menjadi kepala desa Gwangcheongol, Eom Heung-Do harus selalu putar otak dalam mengelola desanya yang miskin.
Desa mereka terletak di wilayah yang begitu terpencil, sehingga anak-anak mereka kesulitan memperoleh akses pendidikan. Mereka juga harus berburu dan mengambil hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Park Ji-Hoon sebagai King Danjong/ Pangeran Nosan/Lee Hong Wei
Anda bilang, tak mau lagi kehilangan orang-orang yang disayangi
Apakah aku termasuk di dalamnya?
Tanya Eom Heung-Do pada Pangeran Nosan.
Pasca Pangeran Nosan dilengserkan secara paksa oleh pamannya, tangan kanan sang paman, Han Myeong-Hoe, Sekretaris Kerajaan membuang Pangeran Nosan ke Gwangcheongol, desa terpencil tempat dia bertemu untuk pertama kalinya dengan Eom Heung-Do, sang kepala desa.
Berkat Eom Heung-Do, dan kasus-kasus yang menimpanya, Pangeran Nosan membulatkan tekad untuk melawan.
Synopsis Film Korea The King's Warden
Suatu hari seorang lelaki berjanggut panjang datang ke desa kami
Dia adalah Menteri Kehakiman yang diasingkan
Keberadaannya membuat kami harus melayani. Harus menyediakan makanan terbaik, sementara dia menyuruh-nyuruh setiap waktu.
Untuk mengusir kebosanan, dia mulai mengajari anak-anak
Anak-anak yang buta huruf jadi menguasai seribu karakter
Tak terduga, tiba-tiba banyak pengunjung berdatangan.
Mereka membawa keledai yang memuat banyak barang bawaan, mulai dari tanduk rusa dari Dongnae, daging, beras, kesemek sampai sutra.
Rupanya dia tahu bahwa akan kembali ke istana
Dia membawa anak-anak didikannya,hingga salah satu berhasil lulus ujian negara dengan nilai tertinggi
Mendengar kisah tersebut dari Kepala Desa Norugol, Eom Heung-Do merasa iri. Sebagai kepala desa Gwangcheongol yang miskin, dia juga ingin ketiban rezeki. Dia ingin desanya menjadi tempat pengasingan bangsawan dan penduduknya jadi makmur seperti Desa Norugol.
Karena itu, dia mendatangi Kepala Kabupaten Yeongwol untuk mengajukan permohonan, yaitu desanya sebagai tempat pembuangan pejabat dari Hanyang, ibukota kerajaan. Permintaannya didengar Han Myeong-Hoe, Sekretaris Kerajaan, dan dikabukan!
Betapa kagetnya Eom Heung-Do ketika pejabat yang diasingkan itu datang. Tamunya ini tidak berjanggut panjang seperti yang datang ke Desa Norugol, bahkan terlihat masih sangat muda. Sang tamu datang bersama pelayan setianya.
Kejadian selanjutnya juga tidak sama. Dia tidak marah-marah, malah hanya mengurung diri dalam kamar dan menolak makanan yang disiapkan penduduk desa dengan susah payah.
Secara tak sengaja, Taesan anak Eom Heung-Do mendengar bahwa tamunya bukan orang sembarangan. Dia adalah Raja Danjong yang dilengserkan, dan gelarnya diturunkan menjadi Pangeran Nosan.
Tentu saja Eom Heung-Do merasa bebannya jadi bertambah berat. Kesalahan dalam menjamu Pangeran Nosan bisa berakibat hukuman mati bagi seluruh penduduk desa.
Merasa galau, Eom Heung-Do berkeluh kesah sendirian di lereng gunung. Untunglah, karena pada waktu yang sama dia berhasil memergoki dan menyelamatkan Pangeran Nosan yang berniat bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari tebing gunung.
Peristiwa tersebut membuat Pangeran Nosan berubah sikap. Dia jadi menyadari kematiannya akan menimbulkan bencana bagi seluruh penduduk desa Gwangcheongol. Kini dia mau menyantap hidangan yang disajikan. Bahkan menyantap makanan dengan riang sambil mendengar penduduk desa bercerita.
Dan yang paling menggembirakan, Pangeran Nosan mau menjadi guru Taesan, anak laki-laki Eom Heung-Do. Taesan bercita-cita kelak bisa ikut ujian kerajaan dan menjadi pejabat yang adil.
Ilmu tidak terhenti di Taesan. Dia menyalurkannya pada anak-anak desa Gwangcheongol, sehingga mereka bisa menulis dan membaca.
Malang, kebahagiaan dan kedamaian mereka tak berlangsung lama. Han Myeong-Hoe mendengar keberhasilan Pangeran Nosan membunuh harimau demi melindungi warga desa. Han Myeong-Hoe takut semangat hidup sang pangeran muncul dan berniat merebut kembali takhtanya.
Dengan bantuan Kepala Kabupaten Yeongwol, Han Myeong-Hoe menangkap Taesan dan menghukumnya cambuk 100 kali.
Sia-sia Eom Heung-Do, sang ayah memohon ampun. Demikian juga Pangeran Nosan yang datang kemudian untuk memohon keringanan. Hukuman cambuk tetap dilakukan.
Ternyata ini merupakan strategi licik Han Myeong-Hoe. Dia sengaja membuat Pangeran Nosan marah dan bersedia melakukan makar yang telah berulang kali disuarakan pamannya, Prince Geumseong, tapi selalu ditolak sang pangeran.
Dengan berbuat makar, Han Myeong-Hoe punya alasan menghukum mati Pangeran Nosan dan pamannya.
Review Film Korea The King's Warden
Rasanya pingin manggut-manggut pasca menonton akting Yu Hae-Jin dalam film Korea “The King's Warden”. Level chungmuro emang beda. Gak heran pemeran kepala desa bernama Eom Heung-Do ini berhasil memenangkan penghargaan Grand Prize (Daesang) pada 2026 (62nd) BaekSang Arts Awards - May 8, 2026.
Sebetulnya saya menonton film Korea “The King's Warden” karena diperankan Park Ji-Hoon, saya suka aktingnya sejak drama Korea Weak Hero Class (1 dan 2).
Dan rupanya Park Ji-Hoon tak mau mengecewakan penggemarnya. Aktingnya sebagai pemeran Raja Danjong sangat bagus. terbukti dia berhasil memenangkan Best New Actor pada perhelatan yang sama.
Awal menonton, semula saya pikir film Korea “The King's Warden” mirip drama Korea “The Murky Stream” tentang penduduk desa di era jadul yang hidup miskin, kebetulan aktor Park Ji-Hwan ikut berakting sebagai support role dalam keduanya.
Ternyata jauh lebih bagus, bahkan di beberapa adegan, saya ikut emosi dan ngerasa sedih. Keren banget chemistry Park Ji-Hoon dan Yu Hae-Jin.
Jika ada kritik untuk film Korea “The King's Warden” itu adalah musik yang terkesan seadanya. Selebihnya, seperti pengambilan gambar dan tata cahaya, sangat memukau.
Gak heran film Korea “The King's Warden” diganjar penghargaan Gucci Impact Award dalam gelaran 2026 (62nd) BaekSang Arts Awards - May 8, 2026. Karena selain sukses secara komersial, film ini memberi dampak signifikan terhadap budaya dan industri perfilman Korea Selatan,
Baca juga drama Park Ji-Hoon lainnya:
Weak Hero Class 2, Akhir dari Kelindan Bullying?
Tastefully Yours, Sepiring Seopsanjeok yang Mempertemukan
Profile
Movie: The King's Warden (English title) / Man Who Lives with the King (literal title)
Revised romanization: Wanggwa Saneun Namja
Hangul: 왕과 사는 남자
Director: Jang Hang-Jun
Writer: Jang Hang-Jun, Hwang Sung-Goo
Release Date: February 4, 2026
Runtime: 116 min.
Distributor: Showbox
Language: Korean
Country: South Korea





.png)


No comments
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat