5 Penyebab Drama Cina Disukai di Indonesia, Sineas Indonesia Kemana Aje?

 


5 Penyebab Drama Cina Disukai di Indonesia

Mata bulatnya mengerjap, meninggalkan tetesan air mata pada lentik bulu mata dan pipi. Tetes air mata nakal yang meluncur turun menuju bibir ranum nan merekah. Bibir yang mengucap: “Wo ai ni” pada Dewa Tertinggi Dong Hoa Di Jun.

Bisa menebak siapa dia? Jika Anda penggemar Drama Cina, minimal pemerhatinya, pasti bisa langsung mengetahui, bahwa perempuan cantik yang dimaksud adalah Dilraba Dilmurat, aktris Negara Tiongkok yang berasal dari etnis Uighur.

Tidak hanya dihuni aktris/aktor yang cantik/ganteng, drama Cina umumnya mengusung plot kisah sederhana. Khas tontonan hiburan. Nggak ruwet. Ngga aneh-aneh seperti drama Korea yang punya kisah jatuh cinta pada robot, atau jatuh cinta pada manusia dari masa lalu. Beuh πŸ˜€πŸ˜€

Drama Cina juga bermain dengan sinematografi yang ciamik. Gebyar busana menawan. Dukungan musik yang membuat penontong ikut bergoyang. Serta latar belakang yang bikin penonton berdecak kagum.

Membuat saya merintih sedih, duh Indonesia punya semua atuh.  Aktor/aktris yang ganteng/cantik. Sineas dan seniman lagu yang mumpuni. Juga latar belakang pemandangan yang tak kalah dengan Negara Tiongkok.

Mengapa di sektor dunia hiburanpun, Indonesia dijajah negara lain?

Dibanding drama Korea yang lumayan “berat”, kisah yang diusung drama Cina termasuk ringan. Maklum, drama Korea harus mampu memproduksi drama baru setiap bulannya. Durasi drama Korea juga pendek, hanya sekitar 16 – 20 episode/judul.

Sedangkan drama Cina lumayan panjang, bisa mencapai 70-an episode perjudul. Namun masih masuk akal, nggak sampai ratusan seperti sinetron Indonesia.

Jumlah 30 – 70-an per episode sebetulnya worth it lah ya? Bukankah usai menonton satu judul,  penggemar drama akan mencari judul yang lain?

Nah selain jumlah episode, faktor lain apakah yang membuat drama Cina begitu disukai?


source: mydramalist.com


5 Penyebab Drama Cina Disukai di Indonesia

Tema Drama Cina Lekat Dengan Budaya Indonesia

Masih ingat Sun Go Kong? Kera sakti yang melakukan perjalanan bareng Pendeta Tong ke India, untuk mencari kitab suci. Berkat  kegigihannya, Sun Go Kong diangkat menjadi dewa yang tinggal di kayangan.

Kisah mahluk abadi yang tinggal di kayangan terpatri dalam relief pada candi-candi di Indonesia. Kita juga mengenal Dewi Sri, dewi kesuburan penjaga ladang pertanian di Indonesia.

Walau mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, namun masih setia menjalankan ritual seperti midodareni, peringatan kematian 7 hari, 100 hari dan 1000 hari.

Almarhum ibunda, pemeluk Katolik yang amat taat, sangat percaya bahwa keluarga harus memotong kambing pada 1000 hari meninggalnya kerabat, “Untuk tunggangan yang meninggal,” katanya.

Hal ini berkaitan erat dengan budaya yang telah tertanam selama beradab-abad, keberadaan kerajaan di Indonesia yang masih setia menggelar ritual, juga masyarakat adat yang mempercayai campur tangan leluhur pada kehidupan mereka.

Tak heran drama Cina yang bergenre legenda/kerajaan terlebih yang based on novel, begitu disukai. Sebutlah “Legend of Fu Yao” (perebutan kekuasaan/kerajaan)  “Ashes of Love”(kisah mahluk abadi/celestial)  serta masih banyak lainnya

Baca juga:

Legend of Fu Yao, Cinta Terganjal Rantai Takdir

Ashes of Love, Ayah Berulah Anak Kena Tulah

The Eternal Love, Chinese Drama ala Sinetron Indonesia

Sedangkan drama Cina yang berkisah mengenai kehidupan modern, masih berpegang teguh pada tradisi dan nilai-nilai tradisional. Bahkan ada nilai plus dari pemeran utama  perempuan yang mandiri dan enggan yang dikasihani. Mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri. Salah satunya Dong Shan Cai dalam Meteor Garden (2018) yang berhasil menjadi juara memasak. Semacam liga master chef-lah.

Aktor/Aktris Drama Cina Ganteng/Cantik dan Muda Belia

Keberanian drama Korea memasang aktris/aktor senior (bayangin pemain utama The World of The Married, Kim Hee Ae, kelahiran tahun1967, alamak!) dijawab oleh drama Cina dengan pemeran utama yang muda belia. Rata-rata kelahiran 1990-an.

Bisa dipahami sih, drama Korea nampaknya berkiblat ke drama/perfilman barat. The World of The Married merupakan remake dari Doctor Foster (BBC One), dengan pemeran utama Suranne Jones yang lahir tahun 1978.

Kelebihan bintang senior terletak pada kepiawaiannya berakting. Tak peduli penonton agak jengah melihat keriput pada Kim Hee Ae yang memerankan sosok berusia 37 tahun.

Baca juga: The World of The Married: Selingkuh Dibayar Selingkuh

Drama Cina memilih memasang sosok yunior yang mencrang, kulitnya mulus, cantik tanpa oplas berlebih. Hasilnya, mata jadi seger. πŸ˜ƒπŸ˜ƒ

Selain Dilraba Dilmurat (lahir tahun 1992) sederet aktris cantik dan ganteng wara wiri di layar kaca, dan layar perak.Mereka adalah Kabby Hui (1994), Liang Jie (1994), Peng Xiao Ran (1990) dan masih yang lainnya. 

Aktor prianya ganteng-ganteng nan macho, sebutlah Oliver Chen (1996), Johny Huang (1992), Allen Deng (1992), bahkan Dylan Wang pemeran “Meteor Garden” kelahiran tahun 1998.

Beruntung mereka masuk dunia peran di  Negara Cina. Andai mereka masuk dunia hiburan  Korea nampaknya sulit menjadi pemeran utama. Kecuali dia adalah anggota K-Pop seperti  Do Kyung-Soo, member EXO yang berperan sebagai Pangeran Lee Yool dalam 100 Days My Prince.

Baca juga: 100 Days My Prince, Janji Setia Seorang Pangeran Cilik

Genre Romantisnya Bikin Baper

Sadar genre drama menjadi kekuatan, sebagian besar drama Cina diperankan para bintang yang memiliki chemistry amat kuat. Mereka seolah membentuk team yang membuat keseluruhan karya  bikin baper. Membuat penonton lupa bahwa mereka sedang menonton drama.

Terlebih genre legenda/kerajaan dengan dukungan setting/latar belakang yang nyaris mirip aslinya. Seperti drama Goodbye My Princess  di Padang Rumput Bashang yang keren abis.

Akting yang belum mumpuni tertutup indahnya panorama, gebyar busana yang panjangnya menyapu lantai, serta sinematografi ciamik. Drama Cina benar-benar fokus memanjakan mata penonton.

Drama Cina Bak Tiramisu

Keju mascarpone yang lembut, berpadu dengan whipped cream, kocokan telur dan lady finger mengelus lidah, meninggalkan sensasi “wah” nan menggoda. Sepotong terasa kurang.

 Kurang lebih demikian analogi drama Cina. Bandingkan dengan drama Korea yang bak masakan rendang berbumbu pekat. Lezat dan nagih.

Pilih mana?

Sama-sama bagus sih, tergantung suasana hati. Sedang pingin mengunyah nasi panas dengan sepotong rendang, atau memilih camilan tiramisu.

Karena kedua jenis drama kuat dalam hal  sinematografi, efek, dan panorama. Bedanya tiramisu bisa dinikmati sambil rebahan, sedangkan nasi rendang nampaknya harus duduk manis ya? Jika mau nekad makan nasi rendang sambil rebahan, bisa-bisa ada bulir nasi yang masuk ke lubang hidung. πŸ˜‚πŸ˜‚

Drama Cina Mudah Ditonton

Menonton drama Cina sangat mudah. Buka aja You Tube, ketik Chinese drama atau drama Mandarin maka akan muncul sederetan judul drama, baik lama maupun baru.

Drama baru di You Tube biasanya untuk pemancing agar penonton mau meneruskan ke WeTV dan iQIYI, dua aplikasi yang memuat banyak drama Cina. Juga ada di  Viu dan Netflix. Walau dua aplikasi terakhir lebih didominasi drama Korea.

sumber: mydramalist


Sineas Indonesia, Kemana Aje?

Pernah dengar The Publicist, Switch dan Sunshine? Judul-judul drama lawas tersebut hanya sebagian dari hasil karya sineas Indonesia yang tayang di aplikasi Viu.

Selain drama,  juga ada film Indonesia. Saya pernah nonton film 3 Dara (2016) tapi stop di tengah jalan. Penyebabnya , saya jengah melihat Tatyana Akman yang berperan sebagai Bebe, si anak bungsu, kisseu dengan hotnya, sampai naik ke tubuh sang pacar!

Ha ha ha …

Mungkin genrenya tidak saya sukai. Atau mungkin adegan vulgar seperti itu kurang pas untuk saya. Bandingkan dengan drama Korea serta drama Cina yang kerap menggunakan simbol untuk penanda.

Goyangan kelambu dan lilin menyala dalam beberapa drama Korea dan Cina kerap menggantikan aktivitas pasangan berbeda jenis yang sedang kasmaran. Penonton langsung mafhum.

Drama/film Indonesia memang terlalu boros kata-kata. Salah seorang wartawan bahkan pernah menulis di statusnya bahwa dia kapok nonton film Indonesia. Film terakhir yang ditontonnya adalah Ayat Ayat Cinta. Itupun hanya 30 menit, sesudah itu dia keluar dan hanya mewawancarai aktor/aktris serta sutradara.

AS Laksana, seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra, dan wartawan Indonesia mengerucutkan problem film Indonesia dengan: “Tidak ada kedalaman, cerewet, namun tidak memberikan banyak informasi, jarang menyiratkan ada lapisan makna di bawah apa yang diucapkan dan cara penyampaiannya biasa-biasa saja. Hampir tidak ada ucapan yang bisa kita ingat beegitu kita keluar dari gedung bioskop”

Waduh parah ya?

Mungkin harus ada iklim yang kondusif agar para sineas Indonesia mau bergerak maju. Iklim yang tercipta dengan dukungan swasta, pemerintah dan media. Tentunya termasuk media non mainstream dan media sosial.

Berkat medsos, FTV Tilik yang sebelumnya sepi penonton, tiba-tiba menjadi trending topic. Walau yang menjadii trending topic adalah Bu Tejo, sang pemeran utama, tapi lumayanlah.

32 comments

  1. Mbak, aku juga penikmat drama Cina..dan alasan di atas benar bangets
    Kini mengamati film dan drama a.k.a sintron Indonesia, sedih rasanya...Episode ratusan tapi cerita enggak bermakna, enggak karuan juntrungannya tapi kok ya masih tayang. Tapi yang nonton juga masih banyak sih mungkin
    Kalau drama Cina, puluhan saja dah kelar. Terus enggak vulgar..ada pesan moralnya, jadi habis nonton dapat lesson learned kita...

    ReplyDelete
  2. Wahhh, ulasan yg padat berisi bangeett Ambu.
    Ini kalo di Kompasiana bisa jadi HL atau malah featured :D
    Eniwei, saya sekarang jarang bgt lihat drama China.
    Kayaknya abis gini mau mulai pantengin dah
    Kena racunnya Ambu nih :D

    ReplyDelete
  3. "Ngga aneh-aneh seperti drama Korea yang punya kisah jatuh cinta pada robot, atau jatuh cinta pada manusia dari masa lalu." hahaha aku ngakak pas baca ini. Emang iya, drakornya emang aneh, halu tingkat dewa, ga nanggung2 kalau bikin cerita fiktif wkwkw

    Ohya bu, berkat tulisan ibu, aku waktu itu jadi nonton The eternal love :))
    Artis Cina cantik2 dan tampan banget ya. Entah kenapa aku merasa mereka ini wajah2nya asli no oplas2....Jadi penasaran pingin cari tahu. Soalnya beda banget

    ReplyDelete
  4. Klo Cina mah peradabannya memang udah tinggi, lihat aja baju, rambutnya aku suka banget, belum kepintarannya. Keren deh😍

    ReplyDelete
  5. Baca tulisan ini jadi pengen nonton drama Cina. Sebelumnya sempat ragu karena jumlah episodenya yang banyak bukan kepalang. Takut gak betah euy hahahaha. Buat new viewer, kira-kira judul apa yang wajib ditonton duluan Mbak?

    ReplyDelete
  6. Aku setahunan terakhir setia sama drama china mbak... Yuhuu selain belia muda bener ceritanya ringan banget. Happy aja bawaannya

    ReplyDelete
  7. Saya juga suka nonton drama cina tapi ga seintens drama Korea entah, ngeliat episodenya yg cukup panjang jadi mundur teratur.
    Padahal dahulu tuh suka banget saat ada di tayangkan di tv nasional,
    Sineas kita memang masih harus berbenah untuk menampilkan film2 yang berkualitas tapi sejauh ini, perkembangan nya sudah cukup baik (menurut saya)

    ReplyDelete
  8. udah lama nggak nonton drama china. kalo pas nonton tv kabel paling nonton channel celestial movie. baidewei, drama cina & taiwan beda kan ya? kalo dulu tv swasta Indonesia kan sering muterin serial drama taiwan hehe

    ReplyDelete
  9. Saya setuju dengan ulasan ini
    Jadi saya tak bisa memberikan komentar banyak
    Karena semua sudah disampaikan diartikel diatas
    Sineas Indonesia? ah pengen komen panjang ,takut ada yang tersinggung
    Cukup jadi menyimak sajalah

    ReplyDelete
  10. Semoga A.S. Laksana sudah menonton Ave Maryam. Banyak kalimat dari dialog yang menyentak kesadaran kita sebagai manusia. Salah satunya ucapan Suster Monic," Jika surga belum pasti buat saya, untuk apa aku mengurusi nerakamu." ...

    BTW, tentang drama - drama Cina, dulu saya seringnya nonton serial Kungfu. Dramanya dapet, sejarahnya banyak, dan aktor aktrisnya enak banget dilihat. Soundtrack-nya pun memikat. Salah satu yang sangat berkesan kisah romantis Yoko dan Bibi Leung. Ibu pasti kenal kaan? 😁
    Monkey King juga menarik, penuh hikmah kehidupan.

    ReplyDelete
  11. Saya belum pernah nonton drama Cina euy. Ini malah baru aja terjerumus sama Drama Korea wkwkkw. Nanti deh kapan-kapan nonton drama Cina juga. Penasaran setelah baca postingannya ini.

    ReplyDelete
  12. Aku belum pernah nih ... nonton drama cina, biasanya sih adegannya penuh dengan action ya , kapan kapan nontron ah ...

    ReplyDelete
  13. Film dan Serial menurut aku gimana nontonnya. Sering pas awal nonton nggak suka, eh pas lain waktu nonton jadi suka. Buat aku nonton ya hiburan, cukup diterima aja, hehehhe. Lama nggak ketemu Ambu, sehat terus yaa Ambu <3

    ReplyDelete
  14. "Drama Cina bak tiramisu. Drama Korea bak rendang berbumbu pekat"

    Duh, valid banget bu!:)

    Sekarang sy lagi di mode 'engap' sama drakor. Sejak awal tahun, drakor yg sy tonton temanya seriuss semua. Di real life udh mumet, nongton drakor otak makin panas...

    Sampai akhirnya semggu yl mutual sy di twitter share drama cina yg lagi dia tonton. Hati lgsg tergugah liat pic lead male dan female nya yg gemesin hahaha

    Trus cek sinopsis. Kok oke.

    Akhirnya memberanikan diri untuk nonton...dan gak terasa udh kelar 10 ep. Buahahahahahaha.

    Sekarang sdh masuk ep 20. Makin gak tahan buat lanjut. Dan sy sudah di fase ngubek-ngubek behind the scene nya. Ngesave fanpic dr pinterest. Hingga download OST nya di spotify.

    Persis kya apa yg sy lakuin klo lg nyandu sama 1 drakor :')

    Doakan saya langgeng sampai ep terakhir ya bu. Udh ngecek spoiler endingnya...insha Allah happy ending. Jadi makin semangat deh saya hahahahaha

    Oh, judul drama yg lg sy tonton: Love and Redemption. Suwerrr bagusss dan seruuuu plotnya.

    Yuk ikut nonton, bu! :)

    ReplyDelete
  15. sy paling suka tentang yoko itu dulu pas tahun 90an kali ya, lupa tapi apa yg ada di atas itu betul semua

    ReplyDelete
  16. Belum pernah saya nonton drama Cina mbak..tapi liat review nya menarik ya jalan ceritanya keren ..bener noh sineas kita kemane aje hehehe

    ReplyDelete
  17. Jadi penasaran pengin nonton film Cina. Sdh lama banget tak pernah melihatnya. Wah ternyata ada kemajuan dari film Cina, bukan sekedar gemulai tapi ada pemaknaan.....

    ReplyDelete
  18. Kalau aku dulu sukanya cerita putri Huan Zhu dan yang paling aku suka dari drama cina ini emang cantik2 dan wardropnya juga bagus, suka sekali lihat pemerannya pakai kimono2...

    ReplyDelete
  19. Buuu storytelling nya cakep ih di artikel ini, saya pun suka Drama China Bu terutama yang konsepnya tradisional makanya di first media saya ada Celestial Movies yang nampilin drama China seharian semalaman kenyang pokoknya, aku suka sama Fan Bing Bing yang cantiknya minta ampun itu :)

    ReplyDelete
  20. Pada masanya ini drama-drama cina cukup mendominasi. Kalau sekarang beradu sama drama korea yang luar biasa antusiasnya haha.
    Oya salam kenal ya mba kalau berkenan followback biar makin akrab. Hehe

    ReplyDelete
  21. Aku juga suka drama Cina. Terakhir nonton Meteor Garden versi Cina. Hehe

    ReplyDelete
  22. Chinese drama tuh bikin anteng ditonton sih yaa... Alus gitu alurnya juga.
    Klo sinetron kita mah entahlah sejak dulu hingga kini aku blom pernah jatuh hati hehehe...
    Klo film layar lebar indo ada sih bbrp yg lumayan buta jd tontonan

    ReplyDelete
  23. Aku noted drama yang kakak rekomendasikan. Segera meluncur ke play store untuk download aplikasi WeTV. Thanks kak menjadi penolong kegabutanku

    ReplyDelete
  24. saya masih akrabnya sama film kera sakti alias sun go kong, selain itu film2nya jacky chan aja tahunya. Bisa jadi film wishlist nih, nanti kalo senggang tak cari deh itu filmnyaa. Menarik sekali Ambu reviewnya, sukaaa.

    ReplyDelete
  25. Wah aku belum nonton drama Cina nih kak tapi emang setuju sih kalo orang Indonesia yang cinta-cintaan emang laku banget. Nggak cuma sinetron, lagu aja laku banget wkwk

    ReplyDelete
  26. Aku dulu suka banget drama Cina. Sekarang jarang nonton. Tapi memang bagus mba. Selalu suka apalagi yang kolosal.

    ReplyDelete
  27. Klo kera sakti jaman dlu itu drama cina bukan sih mba?hahahah ku enggak paham drakor jga soalnya πŸ˜†

    ReplyDelete
  28. Dari banyak sisi Drama Cina ternyata punya banyak keunggulan. Saya pribadi lebih suka nonton serial silat sih. Dan benar gampang banget ditemukan di Youtube. Film Silat Jadul Aja diupload lagi macam serial kwee Chen dan Kaka Yoko

    ReplyDelete
  29. aq klu film cina suka drama yg kolosalnya hahahha

    ReplyDelete
  30. Oh Ada juga ternyata drama cina yaaa saya itu baru tau lhoo hahaha, kudet ya. Kalau sinetron Indonesia mah, Dari tertarik ampe bosen saking panjang nya episode

    ReplyDelete
  31. wah jujur aja ambu aku belum menjadi penikmat drama Cina, sehabis ini mungkin aku mau coba sedikit kepo-kepo soal drama Cina ini

    ReplyDelete
  32. Belakangan ini sya lihat, tren mini series di Indonesia diadopsi dari K-drama atau hollywood TV Series. Atau ada hubungannya dengan tema bergosip dan misteri.

    Memang haus tontonan kaya nilai dan pesan di Indonesia. Karena penontonnya sedikit, makanya sutradara pilih tema yang aman-aman saja.
    Salut dengan sineas Indonesia yang mau mengangkat tulisan pak Pram ke dalam film.
    Kalau saya tertarik tema sejarah Indonesia dan budayanya.

    ReplyDelete