Generation to Generation, Tentang Dendam yang Diwariskan
Bukan saudara, tapi kok wajahnya mirip? Banyak kasusnya ya? Ada Diman Ramadhan yang mirip Raffi Ahmad, ada yang mirip Jokowi, mirip Prabowo dan seterusnya.
Namun ada juga wajah mirip sesudah operasi plastik. Sering disebut doppelganger hasil oplas, sehingga membuat seseorang mirip dengan yang lain, demikian seterusnya sampai kita melihat sekelompok orang dengan wajah yang mirip.
Ternyata ada beberapa penyebabnya:
Teknik Operasi Seragam (Standardized Beauty):
Dokter menggunakan teknik yang sama untuk pasien yang berbeda, terutama jika pasien meminta hasil seperti artis atau mengikuti tren kecantikan tertentu.
Standar Kecantikan Populer:
Banyak pusat kecantikan menggunakan prosedur operasi dengan bentuk ideal tertentu (hidung lebih mancung, dagu V-shape, mata belo), membuat wajah berbeda terlihat mirip.
Faktor Genetik (Kebetulan):
Secara ilmiah, orang dengan wajah mirip (bukan saudara) sebenarnya memiliki kombinasi DNA yang tumpang tindih, sehingga operasi plastik menonjolkan kemiripan genetik tersebut.
Pendekatan "Kecantikan Etnik":
Teknik operasi tertentu, seperti Asian plastic surgery, sering kali disesuaikan dengan fitur etnik serupa, sehingga hasilnya konsisten.
Drama China “Generation to Generation” berkisah tentang perubahan wajah dan tubuh, tapi tentu saja bukan dengan operasi plasik, melainkan ilmu sihir mengubah tubuh yang dimiliki sekte Qianmian. Hasil akhirnya orang tersebut bisa plek ketiplek sama dengan bentuk wajah dan tubuh orang yang dia tiru.
Tentu saja ini hanyalah imajinasi Guan Xin Ze Luan, penulis novel "Ten Years Lantern on a Stormy Martial Arts World Night" (江湖夜雨十年灯) yang diadaptasi menjadi drama China “Generation to Generation”.
Diperankan oleh Zhou Yi Ran dan Bao Shang En, aktor dan aktris muda yang diharapkan membawa angin segar bagi regenerasi drama China, drama ini mendapat rating 8,2/10 dari Mydramalist dan 7,9/10 dari IMDb. Rating yang lumayan tinggi ya?
Apakah sebagus itu? Yuk kita kupas:
Baca juga drama Zhou Yi Ran lainnya
The Legend of Zhuohua, Belenggu Intrik Politik
Twelve Letters, Surat yang Mengubah Takdir
Zhou Yi Ran sebagai Mu Qing Yan / Chang Ning
Ada dendam harus dibalaskan
Ada sakit hati harus diluapkan
Berbeda dengan buku cerita yang mengisahkan bahwa iblis adalah mahluk kejam yang haus darah, sebagai keturunan sekte iblis Mu Qing Yan bukanlah mahluk yang menakutkan, bahkan ayahnya yang seharusnya menjadi penguasa klan iblis, dengan rela memberikan tahta tersebut pada saudara-saudaranya.
Mu Qing Yan baru marah sesudah diusik. Ayahnya tewas akibat ilmu sesat. Pendekar Ning, ayah angkat yang merawatnya kala hampir mati terkena racun, juga tewas dalam upaya melindungi Mu Qing Yan.
Demi bisa membalas dendam, Mu Qing Yan menyamar sebagai Chang Ning, anak Pendekar Ning. Dia bertekad menyusup masuk Sekte Qingque, untuk menemukan kitab berisi ilmu tinggi yang dapat mengalahkan musuh-musuhnya.
Bao Shang En sebagai Cai Zhao
Kapanpun dan dimanapun
Selesaikan yang harus diselesaikan
Putuskan apa yang harus diputuskan
Agar hati tidak memiliki beban
Dan terjerumus ke dalam penderitaan abadi
Kata Chang Ning pada Cai Zhao yang ragu dalam mengambil keputusan.
Sebagai anak perempuan satu-satunya dari pemimpin Lembah Luoying dan sudah dijodohkan dengan Zhou Yu Qi, anak laki-laki pemimpin Wisma Gunung Peiqiong, Cai Zhao hanya ingin hidup nyaman, dan selamanya begitu.
Malangnya sebagai keturunan penyihir, Cai Zhao tak bisa seenaknya. Dia punya tugas, yaitu menambah ilmu dibawah bimbingan Qi Yun Ke, ketua Sekte Qingque.
Ternyata itulah awalnya. Cai Zhao harus memasuki dunia nyata yang penuh akal muslihat, jauh dari kenyamanan.
Synopsis Generation to Generation Chinese Drama
Cai Zhao kaget. Sosok yang dipanggilnya paman Qi Yun Ke, ketua Sekte Qingque telah dipalsukan. Pelakunya menggunakan ilmu mengubah tubuh yang dimiliki sekte Qianmian, sehingga tak seorang pun menyadari, termasuk istri dan anaknya.
Bermula dari keengganan Cai Zhao menimba ilmu di Sekte Qingque, dia terpaksa pergi. Penyebabnya tidak saja karena dia merupakan keturunan Lembah Luoying, bagian dari enam sekte Beichen, juga hal tersebut merupakan amanah almarhum bibinya, pendekar Cai Pingshu.
Di lingkungan Sekte Qingque yang dijaga ketat, dan tak mudah dimasuki orang sembarangan ini, Zhao berkenalan dengan keturunan pemimpin enam sekte Beichen lainnya, seperti Qi Ling Bo anak Qi Yun Ke, Song Yu Zhi anak ketua Sekte Guangtian, Yang Xiao Lan anak Ketua Sekte Siqi dan masih banyak lagi.
Namun yang menarik perhatiannya adalah Chang Ning, anak pendekar Ning. Sebulan silam Cai Zhao, orang tuanya dan Qi Yun Ke menemukan Chang Ning dan ayahnya terkapar dijalan.
Pendekar Ning tewas dalam upaya melindungi anaknya. Sebagai penghormatan, Qi Yun Ke membawa Chang Ning untuk diobati di markas Sekte Qingque.
Selama hidupnya Pendekar Ning terkenal suka menolong. Termasuk kala musuh mengancam Lembah Luoying, tanpa segan Pendekar Ning ikut membantu.
Betapa gusarnya Cai Zhao, ketika menginjakkan kaki di kawasan Sekte Qingque, dia melihat Chang Ning dalam keadaan terluka sedang dirundung Qi Ling Bo. Sebagai anak tunggal Sekte Qingque, Qi Ling Bo memang terkenal arogan dan manja.
Cai Zhao yang baik hati dan selalu mengingat kebaikan Pendekar Ning berusaha melepaskan Chang Ning dari perundungan Qi Ling Bo. Dia juga membantu Chang Ning memulihkan tubuh dari racun yang bersarang di tubuhnya. Walau gara-gara berduaan dengan Chang Ning, Qi Ling Bo menuduhnya melakukan tindakan amoral.
Cai Zhao pastinya tak menduga bahwa kedatangannya di Sekte Qingque akan membawanya ke petualangan dunia pendekar yang sesungguhnya. Diantaranya penyusupan sekte iblis yang berhasil mengubah paman guru Qi Yun Ke dengan sosok palsu. Hal ini tentu saja berbahaya karena sang paman merupakan ketua enam sekte Beichen.
Untuk membantu mengatasi bahaya, Cai Zhao harus menemukan penawarnya. Dari Qian Xueshen, keturunan terakhir Sekte Qianmian, pemilik ilmu mengubah tubuh, Cai Zhao mendapat penjelasan bahwa penawarnya adalah air liur naga sisik salju.
Untunglah Chang Ning mau membantu. Dengan mengendarai Burung Feng, milik Chang Ning, dalam waktu yang relative cepat mereka bisa menemukan tempat naga sisik salju berada.
Sayangnya tak mudah memperoleh liur naga sisik salju. Binatang itu sangat kejam. Sang naga tak ragu memburu mangsa untuk memangsa atau menyemburkan racun hingga korban tewas.
Review Generation to Generation Chinese Drama
Mereka adalah mereka
Kamu adalah kamu
Jadi paham alasan judul drama ini menjadi “Generation to Generation” padahal diadaptasi dari novel berjudul "Ten Years Lantern on a Stormy Martial Arts World Night".
Penyebabnya drama China “Generation to Generation” berkisah tentang kasus yang belum tuntas di generasi sebelumnya, dan menjadi beban generasi berikutnya.
Seperti FL yang hanya tahu bahwa bibinya telah gugur secara terhormat untuk membela kedamaian dunia dari aliran iblis. Ternyata kasusnya tak sesederhana itu.
Serta ML yang membalas dendam atas kematian ayah angkat dan ayah kandungnya akibat ilmu sesat yang telah dilarang penggunaannya.
Digawangi sutradara Lü Hao Ji Ji yang telah membesut beberapa drama berating tinggi seperti drama China “Moonlit Reunion” dan drama China “The Double” harusnya karyanya kali ini juga bagus ya?
Sayang hasilnya kurang oke. Sebagai aktris muda, Bao Shang En yang diharapkan membawa angin segar, ternyata gak mampu menampilkan karakter pendekar perempuan berkarisma yang punya ilmu bela diri tinggi, dan membuat banyak pria muda jatuh hati.
Akting Bao Shang En gak jauh beda dengan perannya sebagai Ming Tan, putri bangsawan yang manja dalam drama China “Youthful Glory”. Sementara drama “Generation to Generation” membutuhkan kedalaman emosi yang ditampilkan dalam mimik wajah dan gestur tubuh.
Apalagi ya ampun, (salahin Make-up Artist (MUA)nya, ya?) di beberapa adegan Bao Shang En memakai lip gloss kebanyakan sampai seolah-olah ada cairan yang menetes dari bibirnya. So sad.
Bagaimana dengan tandemnya, Zhou Yi Ran? Berperan sebagai Mu Qing Yan / Chang Ning yang dingin, tertutup dan penuh emosi balas dendam, Zhou Yi Ran cukup berhasil, walaupun sayangnya kedua pemeran utama ini gagal membangun chemistry yang bikin penonton meleleh.
Selain akting FL, yang bikin jengkel adalah editingnya, berantakan banget. Adegan-adegan melompat tiba-tiba, tanpa transisi. Jika sekali mungkin masih dimaklumi. Ini sih berulangkali.
Seperti adegan ketua Sekte Guangtian dengan istri ketua Sekte Qingque sedang bercakap-cakap sambil minum teh. Adegan awal menampilkan keduanya duduk berhadapan. Baru 1-2 kalimat, tiba-tiba keduanya berdiri. Eh 1-2 kalimat berikutnya tiba-tiba saling duduk lagi. Tanpa transisi.
Namun yang paling mengganggu, penulis skenario menyajikan kisah tanpa story telling yang mumpuni. Adegan-adegan terjadi begitu saja. Tanpa jeda, membuat keseluruhan kisah terasa terputus-putus.
Selebihnya drama China “Generation to Generation” lumayan menyenangkan untuk ditonton. Bukan saja didukung efek CGI (seperti biasa drama China selalu jor-joran), juga karena drama ini bertaburan aktor dan aktris muda, yang diharapkan bisa membantu regenerasi agar drama China selalu menyajikan kebaruan.
Baca juga:
The Unclouded Soul, Kisah Cinta Raja Siluman
When Destiny Brings the Demon, Kala Mahluk Abadi Jatuh Cinta Pada Iblis Cantik
Profile
Title: Generation to Generation
Native Title: 江湖夜雨十年灯
Also Known As: A Decade of Nightscape Lights , Jiang Hu Ye Yu Shi Nian Deng , Jianghu Night Rain Ten Years of Lights , Ten Years Lantern on a Stormy Martial Arts World Night , 江湖夜雨十年燈
Screenwriter: Shao Si Han
Director: Lu Hao Ji Ji
Type: Drama
Format: Standard Series
Country: China
Episodes: 37
Aired: Feb 22, 2026 - ?
Genres: Mystery, Romance, Wuxia, Fantasy
Original Network: iQiyi, Tencent Video






.png)


No comments
Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat