Omongan Nyinyir? Tangkal Dengan 6 Cara Bijak Ini


sumber: ibelieve.com   

Usai Lebaran, seorang teman marah-marah dan mencurahkannya dalam status facebook. Apa pasal? Rupanya ketika mudik dia mendapat pertanyaan dari kerabatnya: “Kapan nikahin anak?”
Anaknya yang pertama memang sudah gadis dan sudah bekerja. Sedangkan anak kedua, perempuan juga, masih kuliah. Menurut sang teman, walaupun tubuh anak-anaknya bongsor, tapi usianya belum genap 20 tahun. Jangankan menikah, hidup jauh dari ibunyapun mereka belum siap.
Pertanyaan nyinyir seperti kapan nikahin anak, kapan menikah, kapan punya anak, selalu bermunculan dalam pertemuan keluarga besar. tidak bisa dihindari. Terasa membebani tapi harus diterima dengan legowo.
Memang tidak mudah. Untuk itu cobalah beberapa kiat berikut:
awesome


1.      Anggap sebagai perhatian. Menganggap pertanyaan sebagai ungkapan perhatian mungkin akan membuat terasa lebih nyaman. Karena pertanyaan sering dilontarkan tanpa tedeng aling-aling. Seorang kakak ipar (62 tahun) yang belum menikah, masih sering mendapat pertanyaan kapan menikah. Sang penanya beralasan kasihan pada kakak yang tidak punya pendamping hidup. Mereka tidak mempedulikan kenyataan bahwa  pendamping tidak harus suami dan anak, tapi bisa juga keponakan.


2.      Terima perbedaan. Ikan di laut, asam di gunung merupakan peribahasa yang pas untuk kasus teman di atas. Di pedesaan pernikahan gadis belasan tahun dianggap biasa saja.  Tidak demikian halnya diperkotaan. Wah bakalan dibully: “kecil-kecil jadi manten”.
Demikian juga pandangan bahwa sebuah keluarga haruslah terdiri dari sepasang suami istri dan anak-anaknya. Semua orang berharap memiliki hidup ideal, tapi kelahiran, jodoh dan kematian merupakan rahasia Illahi.


3.      Siapkan template jawaban. Sebelum mendatangi pertemuan akbar yang umumnya dipenuhi pertanyaan klise, siapkan template seperti: “Ya doakan saja” “Terimakasih perhatiannya”. Jawaban-jawaban standar seperti itu  memutus percakapan lebih jauh yang membuat suasana semakin tidak nyaman. Contoh kasus jika dijawab “Iya, ini sedang berusaha”. Bisa dipastikan muncul pertanyaan lanjutan yang membuat perih telinga. Jomblongers mungkin akan mendapat ucapan: “Makanya jangan pilih-pilih”. Sedangkan mereka yang belum punya anak, akan mendapat timpalan jawaban: “Angkat anak aja jeng, supaya timbul rasa sayang ke anak”. Waduh!!



4.      Temukan framing dan ikhlaslah. Butuh pengendapan sebelum memperoleh framing atau sudut pandang yang lain. Seorang teman telah puluhan tahun hidup tanpa anak kandung. Pasangan suami istri ini beralasan sudah cukup sibuk mengisi hari, dan tidak berminat mengangkat anak untuk pancingan. “Angkat anak harus tulus, jangan dijadikan pancingan. Saya sih sudah pasrah, gimana Tuhan aja deh. Diberi anak ya syukuri, ngga ya ngga papa. Toh akhirnya mereka nanti pergi meninggalkan kita berdua”, kata sang kawan dengan wajah penuh senyum.


5.      Jangan mengambil keputusan karena tekanan. Berbeda dengan teman di atas, teman saya lainnya menikah karena sudah bosan didorong menikah oleh orang tuanya. Bahkan adiknya mengancam tidak akan menikah jika si kakak menolak menikah dengan jodoh yang disodorkan orang tua.
Ada yang bilang menikah itu ibarat judi. Jika beruntung bisa tiba di tujuan dengan selamat. Bila tidak, perceraianlah solusinya. Apa yang dialami kawan saya tadi sungguh apes, suaminya ternyata tidak menyukai lawan jenis alias homoseksual. Maka bisa ditebak, sebelum perceraian terjadi dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang cukup parah.



6.      Jangan stres. Tidak hanya dilontarkan di hari Lebaran atau hari besar keagamaan lain, pertanyaan yang sama kerap terdengar di acara resepsi pernikahan/khitanan.  Menghindari event jelas bukan solusi yang bijaksana karena kita manusia social. Harus ada penyeimbang agar tidak timbul stres. Penyeimbang yang menimbulkan kebahagian seperti menekuni hobby atau kegiatan berorganisasi.
Teman saya yang tidak memiliki anak kandung (kasus di atas) menjadi ketua dan anggota beberapa majelis taklim. Bisa dibayangkan sibuknya dia. Hampir setiap hari pergi ke pengajian, sesekali mendatangi rumah yatim piatu dan panti werdha (rumah jompo) untuk memberi santunan atau sekedar bercengkrama dengan penghuninya.

Setiap orang berhak hidup bahagia. Kalimat itu teramat mudah diucapkan tetapi sungguh sulit diwujudkan.  Terlebih jika kebetulan jalan hidup yang tengah dijalani dianggap aneh karena berbeda.
Kultur membuat orang umumnya berpendapat bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih jika seorang perempuan menikah, punya anak dan punya lagi, begitu seterusnya. Tidak membuka ruang pengecualian. Dan ketika seorang perempuan terperangkap disitu, yang harus dia lakukan hanyalah bijak memahami situasi dan cerdas menentukan pilihan.

Comments