Skip to main content

Hijab Syar'i Itu Yang Gimana Sih?



Temans muslimah, sudahkan berhijab syar'i?
Ternyata berhijab syar'i tidak sekedar menggunakan kerudung hingga menutupi sebagian besar tubuh lho, kalo hanya itu sih kita hanya dianggap memakai khimar.



Berhijab syar'i harus mematuhi beberapa kaidah. Pertama, ia menutupi seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Ini definsi yang sangat jamak dipakai. Tapi itu saja belum cukup. Syarat lain, tidak boleh ketat hingga menampakkan lekuk-lekuk tubuh, termasuk tonjolan buah dada. Pemakaian khimar tujuannya bukan sekedar menutupi kepala, tapi juga agar terjulur ke bawah menutupi dada. Tentu saja pakaian tidak boleh tipis menerawang. Terakhir, tidak boleh menyerupai laki-laki. Begitu ketentuan yang sering disampaikan para ulama.

Lebih lanjut Hasanudin Abdurakhman menjelaskan dalam blognya sebagai berikut :

 Istilah hijab syar’i sebenarnya sebuah istilah yang rancu. Hijab adalah pakaian wanita sesuai tuntunan syariat Islam. Kalau sesuatu disebut hijab, maka ia sudah sesuai ketentuan syar’i. Jadi tidak perlu ditambahi lagi dengan kata sifat syar’i. Adapun sesuatu yang tidak sesuai kaidah, bukanlah hijab.
Kesalahan istilah ini bermula dari salah persepsi. Banyak orang menganggap selembar kain penutup kepala itulah hijab. Kain itu sebenarnya disebut khimar. Memakai khimar tidak sama dengan berhijab. Nah, kalau mau diberi embel-embel syar’i, khimar lebih cocok. Ada pemakaian khimar sesuai syar’i ada yang tidak.
Bagaimana ketentuan hijab menurut syariat? Pertama, ia menutupi seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan. Ini definsi yang sangat jamak dipakai. Tapi itu saja belum cukup. Syarat lain, tidak boleh ketat hingga menampakkan lekuk-lekuk tubuh, termasuk tonjolan buah dada. Pemakaian khimar tujuannya bukan sekedar menutupi kepala, tapi juga agar terjulur ke bawah menutupi dada. Tentu saja pakaian tidak boleh tipis menerawang. Terakhir, tidak boleh menyerupai laki-laki. Begitu ketentuan yang sering disampaikan para ulama.
Nah, apakah pakaian muslimah di sekitar kita sudah sesuai ketentuan itu? Terus terang, saya jaran melihat yang sesuai. Hampir 100% masih terlihat punggung tangannya. Itu sudah salah. Kemudian tidak sedikit yang terlihat sampai ke lengan dan betis. Sangat banyak pula yang ketat. Salah kaprah yang umum adalah mengira khimar itu hanya untuk menutup kepala atau rambut. Maka banyak yang bakai khimar yang ujungnya dililitkan ke leher, tidak menutupi dada. Buah dada bertonjolan jadinya. Kemudian pakai pula celana ketat, hingga tidak hanya pantat yang jelas kelihatan lekuknya, tapi juga tonjolan di daerah kemaluan. Imi semua salah kaprah.
Lho, kok jadi nyinyir ngurusin baju orang? Bukan, ini bicara soal bagaimana seharusnya kalau syariat dijadikan standar. Artinya apa? Artinya, banyak orang yang mengaku atau merasa sedang menjalankan syariat, tapi sebenarnya tidak. Baik karena dia tidak tahu, atau karena merasa bahwa yang sesuai ketentuan syariat secara penuh itu merepotkan.
Ya, kita jujur saja, kalau mau dipenuhi 100% akan repot benar. Bagaimana menutupi punggung tangan? Pakai sarung tangan? Wanita-wanita Arab biasanya menempatkan tangannya di balik khimar, sehingga punggung tangan yang tidak tertutupi oleh lengan baju terlindung di situ. Tapi kan repot jadinya? Ya, memang. Karena itulah di Arab Saudi gerak wanita di ruang publik dibatasi.
Kita bisa bayangkan betapa sulit bahkan mustahilnya bagi wanita untuk melakukan hal-hal yang biasa kita lihat dilakukan oleh wanita dalam kehidupan sehari-hari kalau mereka berhijab, dalam pengertian 100% sesuai ketentuan tadi. Mau naik turun kendaraan saja sudah sulit. Bekerja hampir mustahil kalau tempat kerjanya tidak diset khusus untuk perempuan.
Tak heran bila kemudian banyak yang menuduh bahwa ketentuan pakaian ini sebenarnya adalah alat pengekang agar wanita tidak keluar rumah. Tuduhan ini dibantah. Tapi kalau kita ikuti alur logika tadi, memang begitulah adanya.
Bagaimana kita memaknai fakta ini? Kita hidup di abad 21, dengan sejumlah orang yang mencoba menerapkan ketentuan-ketentuan yang diperkenalkan pada abad ke 7. Kita hidup di berbagai belahan dunia dengan aneka ragam budaya, dengan sejumlah orang yang mencoba menerapkan aturan-aturan yang diperkenalkan kepada masyarakat Arab abad ke 7. Benturan itulah yang terjadi dan kita saksikan.
Dalam benturan-benturan itu terjadilah koompromi dalam berbagai bentuk. Ada yang kompromi, punggung tangan boleh terlihat. Ada yang mentolerir lengan terlihat. Begitu seterusnya. Dengan berbagai kompromi itu orang masih percaya diri bahwa dia sedang melaksanakan syariat. Apa iya? Embuh.
Syariat compang camping seperti itu adalah wajah Islam saat ini. Sudah berulang kali saya tulis, orang mengaku anti riba, tapi memakai uang kertas (uang nominal, fiat money), yang jelas-jelas adalah produk riba.
Tapi kan itu darurat? Bukan. Darurat itu sifatnya sementara, yang ini tidak. Orang Islam secara natural akan digiring untuk menjauh dari syariat. Bukan karena ada usaha sistematis oleh orang-orang yang membenci Islam. Bukan. Bukan itu. Semata karena kita memang sudah sangat jauh dari Arab abad ke 7, dan akan semakin menjauh.
Lalu bagaimana? Saya orang sekuler. Saya tidak punya niat untuk menjalankan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Saya hanya tertarik untuk menjadikan Quran dan Islam sebagai referensi moral untuk menegakkan nilai-nilai universal, seperti keadilan dan kemanusiaan. Selebihnya saya hidup sesuai tuntunan akal saya.
Yang merasa wajib menjalankan syariat, silakan. Yang penting Anda sadar bahwa yang Anda sebut syariat itu wujudnya compang camping, sehingga pada titik tertentu sudah sulit untuk disebut sebagai syariat.

disitat dari
 http://abdurakhman.com/hijab-syari/

sumber gambar:

ini dan ini

Comments

Popular posts from this blog

Dewi Kentring Manik, Dewi Cantik Jelita Pelindung Kota Bandung

The Third Charm, Akhir Yang Membuat Penonton Marah

Bagaimana jika tokoh utama yang ganteng bukan main menjalin kasih dengan second lead, gadis cantik, imut dan menggemaskan? Ternyata penonton memilih agar keduanya happy ending. Sementara tokoh perempuan di maki-maki karena dianggap meninggalkan kekasihnya.
Mungkin itu yang menjadi penyebab ending drama Korea “The Third Charm” dibiarkan cukup terbuka. Penonton boleh berkhayal semaunya. Apakah cukup sahabatan atau menikah?
Tokoh utama pria, Seo Kang-Joon dan tokohperempuan, Esom yang membuat saya kepincut untuk menonton drakor ini. Seo Kang-Joon, rupanya dianggap sukses dalam setiap perannya sehingga tahun 2018, saya menonton 2 dramanya. Marema ya?
Sedangkan Esom, saya jatuh cinta pada sosoknya di Because This Is My First Life. Berperan sebagai sahabat tokoh utama, Esom keren banget. Hihihi tentu saja yang dimaksud keren adalah postur tubuhnyayang tinggi dan penuh. Seksi, tanpa harus berbaju pendek. Bahkan balutan kostum hitam atau putih yang dikenakan, bikin Essom nampak berkelas. Sebetul…

100 Days My Prince; Janji Setia Seorang Pangeran Cilik

“Aku menyukaimu” “Aku akan mengawinimu” Kata seorang anak laki-laki pada gebetannya, Yoon Yi-Seo,  perempuan cilik yang periang, cantik dan pemberani.
Sekian puluh tahun berlalu, Lee Yool, nama anak laki-laki tersebut, rupanya selalu  berpegang teguh pada janjinya dan Yi Seo pun selalu mengingatnya.
Mengambil  genre sageuk fusion alias kisah dengan setting masa lalu yang dimodifikasi (fiksi, bukan berdasarkan sejarah sebenarnya), drama Korea “100 Days My Prince”  sebetulnya ngga terlalu spesial. Khususnya jika dibandingkan dengan drakor bergenre serupa.
Pemeran utama mengalami lupa ingatan. Ide klise yang telah digunakan sejak “Meteor Garden”nya drama Taiwan. Kemudian diramu dengan kehidupan sang pangeran sebagai rakyat jelata selama 100 hari.
Yang menjadi pembeda adalah aktor dan aktrisnya yang sedang naik daun. Sang pangeran Lee Yool diperankan D.O. personil EXO, sedangkan Yoon Yi-Seo atau Hong Shim diperankan aktris cantik Nam Ji-Hyun.
Apabila Anda mencari tontonan yang menghibur, “100 Da…

Nostalgia 7 Majalah Favorit

Punya majalah favorit?
Maksudnya tentu majalah cetak. Skip majalah Bobo ya? Selain karena udah kelamaan eranya, juga ngga ada saingan. Sementara 7 majalah favorit yang terpilih karena target segmen serta  ragam topik  yang disajikan.
Tentu  beberapa majalah sudah almarhum alias rest in print. Huhuhu sedih, padahal walau udah ngga berlangganan, sesekali saya masih suka beli. Rasanya lebih nyaman membaca versi cetak dibanding online-nya. Mata ngga capek. Ketika  lelah, si majalah bisa menjadi penutup wajah, pengantar tidur. Coba deh membaca via   ponsel atau tab, kan ngga bisa untuk penutup wajah.  :D  :D
Oke langsung aja kita ngobrolin  majalah favorit yang dimaksud. Ini dia:
Majalah Horison
Awalnya saya membaca majalah Horison karena terpaksa. Sebagai anak ABG yang gemar melahap habis semua bacaan, saya kehabisan buku serta majalah, eh ada majalah isinya cerpen, baca ah ..... Ternyata, ... bahkan hingga kini, saya masih sering mengulang paragraf demi paragraf artikel/cerpen/puisi  yang dimu…

Bukit Batu, Destinasi Mistis di Palangka Raya yang Wajib Dikunjungi

“Indonesia ngga cuma Jabar, mbak” Untuk sekian kalinya Gilang meledek. Kalimat ledekannya diberi penekanan emoji. Dan untuk kesekian kali pula, saya hanya bisa menimpali dengan emoji tertawa lebar. “Kesini mbak, ke Palangka Raya. Jangan kaya katak dalam tempurung. Nanti kita kulineran sampai kenyang”.
Seperti itulah Gilang. Sangat baik hati. Kami bisa ngobrol berjam-jam untuk membahas banyak topik. Mulai dari harga telur yang naik turun hingga gonjang ganjing pilpres dan pileg. Dan semua kami lakukan via dunia maya. Dunia maya yang membantu kami berkenalan dan bersahabat hingga kini.
Profesi blogger dan minat pada photography menautkan kami sejak tahun 2011. Sangat erat, walau selisih usia terpaut jauh. Awal berkenalan, saya sudah menjadi ibu rumah tangga 4 anak, sedangkan Gilang masih gadis yang bebas berpetualang mencari ide memotret.
Hanya sekali kami bertemu. di acara blogger gathering tahun 2012. Sesudah itu Gilang pindah dari Jogja ke Palangka Raya, bertemu dengan sangpujaan hati kemu…

5 Situs Download Gratis Drama Korea yang Recommended Banget

Suatupagi perbincanganWA Grup Komunitas Memasak yang biasanya riuh dengan berbagi resep makanan, tiba-tiba berubah menjadi: “Download aja teh, ngirit kuota” “Wah saya belum nonton ... . Bikin penasaran!”
Ya, kami sedang bergunjing mengenai drama Korea. Drama Korea apa saja yang bagus, yang belum ditonton dan yang penting ini nih: situs yang direkomendasikan untuk men-download drama Korea bersubtitle Indonesia. Tujuannya tentu saja untuk ngirit kuota. Emak-emak dimana saja umumnya sama: pingin hemat!:D :D
Kala itu, semua cara menonton drama Korea sudah saya coba, hanya mengunduh yang belum.Tentunya jadi penasaran. Selalu ada sesi yang jengkelin ketika menonton drakor . Menonton via player DVD misalnya, banyak keping DVD yang tidak berjalan mulus. Katanya sih proses burningnya yang bermasalah.Tapi pan jadi riweuh,saya harus bolak balik. Menonton via DVDberarti juga nyampah. Usai menonton, kepingan DVD ngga tau harus diapain. Ada usul?
Cara berikutnya melaluisaluran berbayar. Apesnya harus sta…

Ngemil Syantikkk Ala Syahrini Bareng Nenasz Cookies

Syantik. Kata itu dipopulerkan Syahrini bersama sejumlah kata lain seperti cetar, sesuatu,  bulu mata badai,  jambul khatulistiwa dan kata-kata nyleneh lainnya.  Sosok lain yang gemar membuat kata-kata ajaib adalah Viki Prasetyo dan Cinta Laura. Kreator kata yang menjadi kesatuan dengan branding mereka.
Andai mereka berkampanye ... Maksudnya bukan kampanye pilpres atau  kampanye  pileg,  namun kampanye untuk kemaslahatan seperti diversifikasi pangan. Lahan yang belum banyak disentuh. Jangankan selebriti, nampaknya para pejabat juga “pelit” bicara tentang diversifikasi pangan.
Ketinggian miimpinya ya? Gubrak deh .... :D Gini  kisahnya. Berawal rencana membuat tulisan personal branding ala Syahrini part 2, ngga sengaja saya lihat iklan cookies yang dibintangi Syahrini. Langsung deh kepikiran: “Ah, andai Syahrini jadi model iklan cookies non tepung terigu. Bakal sukses deh program diversifikasi pangan kita”
Baca juga: Pingin Personal Branding ala Syahrini? Begini Caranya!Julia Perez; Don’t Judg…