Sejuta Wajah Di Pasar Tradisional





Mengapa sejuta wajah? Karena sesudah memeriksa hasil berburu, ternyata memotret wajah pembeli serta penjual di pasar tradisional sungguh menarik. Lebih menarik dibandingkan produk yang merupakan objek transaksi. Banyak kaum pria disana. Sementara umumnya kita menganggap pasar tradisional pastilah diisi kaum hawa.
Mengapa ya? Saya mengambil kesimpulan ala saya :) , yaitu:

  • Hari telah siang sehingga penjual laki-laki mengganti tugas istri/ibunya

  • Pedagang yang saya bidik, awalnya adalah PKL yang berjualan di trotoar, mereka umumnya laki-laki sehingga bisa berlari kencang jika satpol PP datang. Mereka pindah ke dalam pasar karena kawasan trotoar sekarang dibersihkan satpol PP. Diganti peranannya oleh pot-pot besar berisi tanaman yang menghalangi mobilitas pejalan kaki dan penyandang difabel. Lagi-lagi survey ala saya. .. :D


Yang jelas ini bukan masalah kesetaraan jender. Bukankah perempuanpun banyak menggeluti profesi satpam, supir angkutan umum bahkan supir bis kota?

Tapi apapun itu, saya jadi melihat satu topik bagus yaitu keunikan pasar tradisional sebagai ajang pertemuan pembeli dan penjual. Perhatikan pemuda gaul yang asyik mendengarkan lagu sambil menunggu jualannya. Seingat saya penjual tahu di kios ini adalah seorang perempuan agak sepuh. Mungkin remaja laki-laki ini mengganti posisi ibunya, karena hari sudah beranjak siang bahkan hampir waktu Ashar.

Remaja gaul nan keren inilah yang membuat saya bolak balik ke pasar Cihaurgeulis Kota Bandung. Karena awal memotret, hasilnya kurang sreg. Walau akhirnya diedit juga. Hasilnya lumayan bisa ditampilkan disini: 





Penjual area buah-buahan, kelapa parut dan ubi, entah kenapa umumnya pria. Mungkinkah karena harus mengangkat barang dagangan yang cukup berat? Bukankah kaum perempuan juga terbukti mampu mengangkat barang berat. Jadi ya siapapun bisa menjadi penjual disini, kebetulan saja yang saya temui adalah kaum pria.

Pasar tradisional memang menyenangkan. Kebetulan sekarang saya selalu mampir di waktu siang. Sekalian pulang kerumah, saya memilih membeli buah-buahan. Sekalian pula memotret dengan cahaya seadanya. Pasar tradisional kan umumnya  gelap, tanpa jeda antar penjual.
Beruntung, saya pernah membaca kiat-kiat Raul Renanda, fotografer yang menekuni urbanography. Begini salah satu kiatnya:

 "Jangan pernah mencari-cari cerita. Kalau tempat itu menarik, sudah ada cerita di situ dengan sendirinya, bukan dicari-cari,"

 Lha kebetulan dong, saya memotret ibu sepuh yang sedang asyik belanja sendirian di siang hari. Mungkin karena seperti saya, dia tidak perlu membeli sayur. Hanya mampir ke pasar tradisional untuk membeli buah-buahan segar yang murah harganya. Dibanding harga di pasar swalayan, huuuuu… kita bisa menghemat puluhan ribu rupiah.



Kemudian ada lagi kiat Raul Renanda:

“Kualitas foto seperti ketajaman, fokus atau blur bukan tujuan utama. Menangkap momen adalah yang terpenting. 50 persen perhatian harus tertuju pada subjek, selebihnya lupakan saja.
"Cukup bermain pada 3 elemen utama, foreground, main subjek, dan background. Itu saja," papar Raul.


Karena itu walau ponsel sudah memberitahu bahwa kekuatan lampu baterei sudah hampir habis, saya nekad motret dengan risiko agak ngeblur. Hasilnya? Diedit sana sini dengan aplikasi gratisan , jadi deh …… 


Tidak sempurna. Foto diatas tidak bisa saya crop penuh karena framming buah petai akan terpotong. Sedangkan foto dibawah terpaksa saya crop habis karena hasil candid terhalang dinding pasar.
Kemudian, ada yang saya banget:

Jangan pikirkan pandangan orang sekitar saat kita memotret. Biarkan apa yang mereka ekpresikan, senang, sebel, kesal atau marah sesaat. Kalau perlu minta izin, lakukan. Hormati lingkungan dan orang yang akan kita foto. Tetaplah tersenyum dan tunjukan effort bahwa kita orang baik.

 "Ibarat kata kalau mau motret ke pasar, cukup beli jengkol satu kantong kresek. Kita tenteng, kita memotret juga nggak akan dicurigai," saran Raul.


Sedangkan foto jengkol dan penjualnya ini:


Usai difoto, dia mau mengulang pose yang macho. Tapi ketika saya persilakan, dia malah menolak. Kebetulan flash tidak bisa digunakan. Baterei ponsel menunjukkan angka satu digit. Wahhh ...... Perjalanan memotret pasar tradisional memang mengasyikkan. Saya perlu belanja buah, sekalian deh motret, sekalian juga ngobrol ngalor ngidul dengan penjualnya dan pulang membawa oleh-oleh foto yang diinginkan. Memotret objek diam-diampun berhasil, asalkan mereka menyetujui sesudahnya. Karena terkadang mereka keberatan dan kita harus menghargai hal tersebut. Setuju?

Sumber : inet.detik.com



 

Mengapa sejuta wajah? Karena sesudah memeriksa hasil berburu, ternyata memotret wajah pembeli serta penjual di pasar tradisional sungguh menarik. Lebih menarik dibandingkan produk yang merupakan objek transaksi. Banyak kaum pria disana. Sementara stereotype pasar tradisional pastilah diisi kaum hawa. Mengapa ya? Saya mengambil kesimpulan ala saya :D , yaitu: Hari telah siang sehingga penjual laki-laki mengganti tugas istri/ibunya Pedagang yang saya bidik, awalnya adalah PKL yang berjualan di trotoar, mereka umumnya laki-laki sehingga bisa berlari kencang jika satpol PP datang. Mereka pindah ke dalam pasar karena kawasan trotoar sekarang dibersihkan satpol PP. Diganti peranannya oleh pot-pot besar berisi tanaman yang menghalangi mobilitas pejalan kaki dan penyandang difabel. Lagi-lagi survey ala saya. .. :D

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/gawirawian/kampretjebul4-sejuta-wajah-di-pasar-tradisional_55310f4e6ea83458578b4573

Comments