Anak Alergi? Ini Cara Cerdas Mengatasinya!

       
www.maria-g-soemitro.com

Anak Alergi? Ini Cara Cerdas Mengatasinya!

“Delapan kilo bu,”jawab seorang tetangga, ketika saya menanyakan berat badan anaknya, seorang anak perempuan cantik, bermata bundar yang sedang asyik mengudap pudding berwarna-warni.

“Iya, kata bu bidan emang kurang, bu,” lanjut sang ibu ketika melihat saya mengernyitkan dahi. Ada patokan mudah menghitung berat badan (BB) normal pada anak berusia satu tahun, yaitu: 3 x BB saat lahir. Jadi, karena BB lahir sang anak cantik adalah 3 kg, sekarang di usianya yang ke 18 bulan, minimal BB-nya harus mencapai 9-10 kg. 

“Susah naiknya, bu. Anak saya sering banget batuk pilek. Ditambah bentol-bentol seperti ini. Aduh kalo udah gatel, dia gak mau makan. Nangis terus. Senengnya ya ager-ager seperti ini,” kata sang ibu. Saya cuma bisa mengangguk-angguk dan terbersit curiga di dalam hati: Jangan-jangan si cantik mungil ini alergi ya?

Baca juga:

Anak Susah Makan? Pahami 7 Pedoman Berikut!

Optimalisasi Gizi, Kunci Sukses Tumbuh Kembang Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Daftar Isi

  • Galau Karena Anak Anda Alergi? Anda Tidak Sendirian, Yuk Cari Solusi!
  • Anak Alergi dan Peran Serat, Apa Kata Para Ahli?
  • Pengalaman Orang Tua yang Memiliki Anak dengan Alergi

Mengapa saya curiga? Sebab sulung saya serta anak nomor dua, menderita alergi. Sulung saya alergi terhadap susu sapi. Sedih banget, karena dia terpaksa tidak menerima ASI ekslusif sesudah masuk incubator. Dulu, kepedulian dunia kesehatan terhadap  ASI eksklusif memang tidak seperti sekarang. Beruntung ada susu khusus untuk anak alergi, sehingga BB nya normal. 

Alergi pada anak nomor 2 beda lagi. Dia baru mengidap alergi di usia belasan tahun. Setiap pagi dia bersin-bersin hebat dan meler (ingusan). Saya menduga dia mengidap alergi udara dingin, seperti yang saya alami.

Sebagai orang awam, duga menduga bisa salah. Karena itu saya merasa beruntung bisa mengikuti webinar dengan topik: ”Peran Serat Terhadap Kesehatan Saluran Cerna dan Alergi pada Anak” yang diselenggarakan Danone Specialized Nutrition Indonesia.

Webinar padat materi bermanfaat yang diselenggarakan pada Selasa, 23 Agustus 2022 ini menghadirkan narasumber:

  • Corporate Communication Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Arif Mujahidin
  • Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K)
  • Psikolog anak, Anastasia Satriyo M.Psi., Psi
  • Oktavia Sari Wijayanti, ibu yang memiliki anak dengan kondisi alergi

Dalam pembukaannya Bapak Arif Mujahidin menjelaskan bahwa 9 dari 10 anak Indonesia kekurangan serat yang mengakibatkan asupan nutrisinya tidak seimbang.

Terungkap data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2018, 95,5 persen penduduk Indonesia berusia di atas 5 tahun masih kurang konsumsi serat. Asupan serat rata-rata anak Indonesia hanya sebanyak 4,7 gram. Jumlah ini masih jauh di bawah AKG yang direkomendasikan, yaitu 19 gram serat setiap harinya.   

    

www.maria-g-soemitro.com


Anak Alergi dan Peran Serat, Apa Kata Para Ahli?

Penjelasan Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K)

Apa hubungan anak alergi, serat dan tumbuh kembang anak? Secara runtut dijelaskan oleh dr. Endah Citraresmi, Sp.A(K), dimulai dari definisi alergi.

Alergi merupakan bentuk reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap zat lain yang dianggap berbahaya walaupun sebenarnya tidak. 

70% komponen sistem daya tahan tubuh terdapat pada pencernaan. Agar anak bisa tumbuh kembang optimal, khususnya di masa golden period, anak membutuhkan asupan tinggi serat sebagai  salah satu golden nutrition yang dapat menunjang kesehatan saluran pencernaan

Faktanya sekitar 10% anak pada satu tahun pertama mengalami reaksi alergi terhadap makanan yang diberikan. Lebih lanjut dokter Endah menerangkan bahwa ada 3 gejala alergi makanan, yaitu:

  • Diperantara IgE
  • Tidak Diperantara IgE
  • Campuran keduanya

Yang dimaksud dengan IgE adalah antibody yang dikandung darah yang dibuat oleh sistem kekebalan untuk melindungi tubuh dari serangan bakteri, virus dan alergen. Dan ini menjelaskan mengapa reaksi setiap anak berbeda dengan yang lain. 

Bagaimana mengatasinya?

  • Beri makan bakteri baik (probiotik) di saluran cerna yang berperan penting dalam kesehatan, agar jumlahnya tetap terjaga. Makanan yang dibutuhkan bakteri probiotik adalah prebiotik
  • Probiotik dapat ditemui dalam beberapa jenis makanan/minuman, misalnya: yogurt, kefir, kimchi, dan tempe. Juga terdapat pada suplemen, contohnya suplemen dengan kandungan Lactobacillus dan Bifidobacterium.
  • Sedangkan prebiotik umumnya adalah makanan tinggi serat, seperti: sayuran, buah-buahan, whole grains, bawang putih, bawang bombai, daun bawang, asparagus dan masih banyak lagi. Syaratnya makanan tersebut tidak dicerna oleh enzyme pencernaan, sehingga serat tersebut bisa sampai ke usus besar, karena bakteri baik hidup di usus besar.

Apa tantangannya? 

Ternyata gaya hidup modern! Berikut penjelasannya:

  • Penggunaan antibiotik akan membunuh bakteri baik usus. Ini menerangkan bahwa jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik dan harus mematuhi instruksi dokter.
  • Hamburger, pizza, French fries, jenis kuliner gaya hidup modern yang tinggi lemak, rendah serat (tidak ada serat yang dibutuhkan bakteri baik di usus)
  • Hidup di perkotaan tidak terpajan hewan ternak
  • Vaksinasi menurunkan pajanan infeksi
  • Berkurangnya infeksi usus (cacing, H pylori)

Ternyata anak jarang sakit dan gaya hidup serba steril serta jauh dari pajanan infeksi berkorelasi dengan peningkatan alergi.

Bagaimana solusinya? Dokter Endah memberi saran sebagai berikut:

  • Minimal konsumsi 5 porsi buah dan sayur per hari. Termasuk kulit (buah)nya, sebab kulit mengandung lebih banyak serat. Sebaiknya hindari jus sayur dan buah yang hanya sedikit, atau bahkan tidak mengandung serat.
  • Pilih berbagai roti,sereal, beras dan pasta dari biji utuh (nasi merah, roti gandum utuh). Ketika membuat roti/kue sendiri, gantilah Sebagian/seluruh tepung terigu dengan tepung gandum utuh.
  • Minum lebih banyak air kala mengonsumsi makanan tinggi serat, karena serat menyerap air dari tubuh.

    
www.maria-g-soemitro.com

Penjelasan Psikolog anak, Anastasia Satriyo M.Psi., Psi

Kondisi anak dengan alergi ternyata gak hanya mempengaruhi psikologis si kecil, tapi juga orang tua mereka. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 41 % orang tua yang mempunyai anak dengan alergi mengalami dampak signifikan pada tingkat stress mereka.

Secara rinci Psikolog Anastasia menjelaskan sebagai berikut:

  • Anak dengan alergi lebih rentan mengalami kecemasan dan mengembangkan kecemasan tinggi (high anxiety) sampai generalized anxiety disorder (gangguan kecemasan).
  • Di usia sekolah, anak dengan alergi rentan mengalami pengucilan atau isolasi sosial karena tidak bisa beraktivitas seperti teman teman lainnya.
  • Orang tua dari anak dengan alergi, mengalami kecemasan lebih tinggi dan lebih rentan mengalami burn out.

Untuk mengantisipasinya, orang tua perlu berlatih:

  • Mengelola emosi dengan latihan napas sadar dan rileks
  • Berlatih menamai emosi-emosi yang kita rasakan, sehingga bisa membantu anak menamai emosi yang muncul.
  • Anak merasa orang tua menerima dan memvalidasi emosinya.

      
www.maria-g-soemitro.com

Pengalaman Orang Tua yang Memiliki Anak dengan Alergi

Oktavia Sari Wijayanti, kebetulan adalah teman blogger. Kami bersama dalam Danone Blogger Academy 2 pada tahun 2018. Hal ini pastinya sangat membantu, ketika mendapati buah hatinya ternyata menderita alergi.

Okta melakukan 3 jurus penting, yaitu:

  1. Selalu memberikan makanan gizi seimbang, khususnya mengenalkan sayuran dan buah pada anak. Sehingga kebutuhan serat, sebagai salah satu golden nutrition yang dapat penunjang kesehatan saluran pencernaan di masa golden period, bisa terpenuhi.
  2. Tidak denial, tetap tenang kemudian berkonsultasi dengan dokter untuk memperoleh jalan keluar. Berpikiran tenang sangat selaras dengan anjuran Psikolog Anastasia yang menjelaskan bahwa orang tua merupakan arsitek emosinya anak, jika orangtua cemas, anak juga cemas
  3. Mengajak anak berkomunikasi, khususnya ketika si kecil merengek makanan pencetus alergi.

Ada pertanyaan yang sangat menarik dalam sesi tanya jawab, yaitu tentang suplemen vitamin, bolehkah kita berikan pada sang buah hati?

Biasanya cara tersebut menjadi jalan pintas, bukan? Terlebih di era kemajuan teknologi ini berbagai suplemen dipromosikan dengan sangat gencar, mulai dari suplemen standar seperti vitamin C, sampai ekstrak daun-daunan yang dipercaya meningkatkan tumbuh kembang anak.

Bisa ditebak dokter Endah tidak setuju. Daripada memilih cara instan, dokter Endah menganjurkan untuk mengubah pola makan. Mulailah dengan memberi teladan agar anak mau mengonsumsi serat, serta menghindari gaya hidup westernisasi.

Sepakat ya? Jika bisa menyiapkan makanan  bergizi seimbang, dan snack berprotein dan berserat seperti pisang goreng, bubur kacang hijau, mengapa memilih pudding warna warni seperti kisah di atas?

Yup, pudding mengandung serat. Namun sayangnya, pudding miskin gizi. Puding tidak mengandung protein yang sangat dibutuhkan anak yang sedang dalam golden period. Periode yang sangat pendek, yang sayangnya tidak dapat kembali.

Baca juga:

Anak Rewel? Deteksi Penyebabnya dengan Allergy Tummy Checker

Anak Lahir Prematur? Pahami cara Mencegah dan Mengatasinya!


12 comments

  1. Alergi pernah dialami oleh keluarga karena kondisi pas tidak fit kemudian mengkonsumsi sesuatu yang memungkinkan terjadinya alergi. Kiat mengatasi dan perhatian keluarga terdekat menjadi utama.

    ReplyDelete
  2. Serupa dengan putranya Ambu, anak sulung saya sjak kecil juga, kalau pagi bersin-bersin dan hidungnya meler. Memang ada alergi dia...
    Dan ternyata 70% komponen sistem daya tahan tubuh terdapat pada pencernaan yaaa. Yang tentunya asupan tinggi serat diperlukan agar anak bisa tumbuh kembang optimal.

    ReplyDelete
  3. Gabung dengan komunitas bisa jadi nambah ilmu dan wawasan ya. Kita bisa share informasi dan sebagainya, berdasarkan pengalaman langsung. Bukankah pengalaman itu guru paling berharga ya?
    Adakalanya tips dan info dari para orang tua justru terasa lebih mengenal kita terapkan daripada teori yang kita bisa baca

    ReplyDelete
  4. Serat memang punya banyak peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh ya Ambu
    Makanya penting banget ajak anak anak mau CT makan sayur dan buah, biar kebutuhan sertanya terpenuhi

    ReplyDelete
  5. oalah, gitu to. aku kalau ada tersebut alergi pada anak, yang keingetnya film-film bule yang anaknya alergi kacang. dampaknya sangat parah. ternyata banyak alergi lain, bahkan sumber makanan/minuman utama di masa pertumbuhan ya. wajib tau ini para calon orang tua.

    ReplyDelete
  6. Wah serasa dapat ilmu baru ini kak.. Informatif banget.. Kebetulan ponakan ada alergi.. Tulisan ini bisa jadi rujukan ke emaknya nanti

    ReplyDelete
  7. Emang kudu teliti Dan hati-hati ya kak kalau punya anak yang alergian. Beruntungnya anak aku nggak ada alergi terhadap apapun.

    ReplyDelete
  8. Serat ini manfaatnya luar biasa ya buat tubuh.
    Oleh karenanya jangan sampai terlewatkan atau kurang konsumsi seratnya ya?

    ReplyDelete
  9. Iya dikira hanya nutrisi yang tepat aja ya mba.. selain hati2 memberikan faktor pemicu harus juga kita mengontrol emosi biar emosi anak juga tenang

    ReplyDelete
  10. Kalau alergi sudah kambuh ini memang terasa sakit dan tidak nyaman bagi anak yaa.. Ambu.
    Solusinya memang mengurangi triggernya dan memberikan asupan makanan yang baik sehingga anak-anak tetap tumbuh optimal, terlebih di masa-masa emas tumbuh kembang anak.

    ReplyDelete
  11. dan diusahakan mengonsumsi banyak buah ya mam, daripada makanan olahan seperti gorengan
    aku baru tahu kalau hal ini berpengaruh terhadap alergi

    ReplyDelete
  12. Wah dapet ilmu baru aku habis baca ini. Jadi dibanding dibuat jus buah atau sayur, terus konsumsi suplemen emang yang terbaik konsumsi langsung buah dan sayurnya ya Ambu. Minimal konsumsi 5 porsi buah dan sayur per harinya ya. Terus kalau yang kulit buahnya bisa dikonsumsi lebih baik dikonsumsi sama kulitnya karena kaya serat ya. Noted banget ini

    ReplyDelete