Bandung, dari Lautan Sampah Menuju Bandung Bebas Sampah

    
maria-g-soemitro.com
sumber: YPBB Bandung

 

Bandung, dari Lautan Sampah Menuju Bandung Bebas Sampah


“Salam nol sampah!” seru ibu-ibu RW 09 Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler, Bandung saat saya abadikan dengan latar belakang tamannya yang resik. Serempak, jari-jari mereka membentuk angka nol. 

Nol sampah? Ngimpi mungkin ya? Lingkungan mereka di Sukaluyu memang bersih tertata, tapi lihatlah taman di lokasi saya tinggal. Sampah kertas, botol air mineral serta sampah lainnya berserak di rumput. Padahal tak jauh dari taman, nampak  2 (dua) tempat sampah berukuran besar. 

Area publik kota Bandung memang menjadi tempat favorit membuang sampah. Meja dan kursi untuk beristirahat yang disediakan pemerintah maupun swasta, dipenuhi sampah bekas minuman dan makanan. Membuat siapapun mengelus dada: “Pantesan Bandung pernah jadi lautan sampah, udah pada gede gak bisa mengurus sampahnya sendiri.” 

Timbul rasa pesimis. Bandung nol sampah serasa impian di siang bolong. 

Baca juga:
5 Keunggulan Menstrual Pad, Perempuan Wajib Tahu 

Ketika Pilah Sampah Harus Menjadi Etika Kekinian

Daftar Isi

  • Perjalanan Kota Bandung Wujudkan Kawasan Bebas Sampah
  • Pelatihan Pilot, Jejak Awal Menuju Bandung Bebas Sampah
  • Kang Pisman, Penyemangat Warga Bandung dalam Pengelolaan sampah
  • Kawasan Bebas Sampah sebagai Studi Kasus 

Beruntung pada 28 Maret 2022, saya mengikuti konferensi pers: Menjajaki Transisi (Perjalanan Kota Bandung Menuju Zero Waste Cities) yang berlangsung pukul 10.00-12.00 WIB, dengan menghadirkan narasumber:

  • Deti Yulianti, S.T., M.T -  Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung
  • Ir. Ria Ismaria, M.T - Forum Bandung Juara Bebas Sampah
  • Ratna Ayu Wulandari, S.Hut - Zero Waste Cities YPBB Kota Bandung 

Melalui event yang dipandu oleh Hanifa Paramitha Siswanti, S.Ikom - Presenter TVRI Jawa Barat ini, peserta memperoleh kesimpulan bahwa mewujudkan Bandung Bebas Sampah merupakan keniscayaan, asalkan terjalin kolaborasi dari berbagai pihak. 

Kolaborasi tersebut terwujud pada tahun 2013 dengan nama Bandung Juara Bebas Sampah (BJBS). Siapapun, baik komunitas maupun perorangan yang peduli masalah persampahan Kota Bandung, boleh ikut berpartisipasi dalam BJBS. 

Bandung Juara? Kok mengingatkan pada sesuatu ya? Tebakan Anda tepat, kolaborasi ini terjalin tak lama setelah Ridwan Kamil dilantik menjadi Walikota Bandung periode 2013-2018. Seperti diketahui, kang Emil nama panggilan Ridwan Kamil, sangat peduli pada masalah persampahan Kota Bandung. Hal mana dilanjutkan penggantinya almarhum Kang Oded (2014–2017). 

Goals menuju Bandung bebas sampah maju beberapa langkah dengan terlibatnya peranan pemerintah (pucuk pimpinan dan dinas terkait),  lembaga dan individu yang peduli sampah, serta pastinya warga masyarakat.  

Karena banyak sekali manfaat yang diperoleh apabila goals Bandung Bebas Sampah bisa tercapai, diantaranya pengurangan biaya pengangkutan sampah, hunian lebih nyaman, dan yang terpenting: pemerintah kota Bandung tidak ‘dihantui’ akan kebutuhan tempat pembuangan sampah akhir (TPA) yang semakin lama semakin sulit ditemukan.

   

maria-g-soemitro.com
sumber: Bandung Juara Bebas Sampah


Pelatihan Pilot, Jejak Awal Menuju Bandung Bebas Sampah

“Saya udah memisah sampah, tapi oleh si emang disatuin lagi,” keluh seorang ibu. Dia merasa kerja sia-sia melihat hasil pemilahan sampahnya, yaitu sampah organik dan sampah anorganik disatukan lagi oleh petugas pengangkut sampah. 

Namun harus dipahami petugas pengangkut sampah melakukannya karena sistem persampahan di Bandung yang menerapkan cara kumpul, angkut dan buang sampah tidak memberi ruang pada pemilahan sampah. 

Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan (YPBB) Bandung, organisasi non-profit dan non-pemerintah,yang telah menggeluti dunia persampahan sejak tahun 1993 melalui gaya hidup selaras dengan alam, mendeteksi masalah ini. 

YPBB Bandung memahami bahwa dibutuhkan solusi dan sinergi agar warga yang telah tergerak untuk memilah sampah, tidak patah semangat dan meneruskan kebiasaan baiknya. 

Karena itu, pada tahun 2013  YPBB Bandung mendampingi kelurahan Sukaluyu (kisah di atas) dan kelurahan Babakan Sari sebagai kelurahan pilot (pilot project) Kawasan Bebas sampah (KBS). Bekerja sama dengan Ketua RW/Ketua RT, petugas sampah dan anggota masyarakat setempat, YPBB Bandung menunjukkan cara pengelolaan sampah agar masalah sampah selesai di sumbernya. 

Sampah organik dikumpulkan pada hari-hari tertentu oleh petugas sampah untuk dikompos atau sebagai bahan baku biodigester (alat konversi sampah organik menjadi bahan bakar kompor). Sedangkan sampah anorganik, bisa dijual petugas sampah untuk menambah penghasilan mereka. 

Dalam melakukan  pendampingan, YPBB Bandung mengadopsi program Zero Waste Cities ( ZWC) dari Mother Earth Foundation di Filipina yang merekomendasikan adanya perbaikan tata kelola persampahan di kawasan secara holistik. Mulai dari regulasi, kelembagaan, operasional, pembiayaan, serta pelibatan publik.  

Namun seperti yang dikatakan Koordinator Manajer Kota ZWC dari YPBB, Ratna Ayu Wulandari:
“Jika mengandalkan pendamping terus-menerus jadi boros sumber daya. Berapa lama, warga (dapat) mengandalkan itu? Harus diperbaiki terus-menerus.” 

Program Kawasan Bebas Sampah harus mengandalkan partisipasi warga. Ketika pemilahan sampah dari  sumbernya telah menjadi kebiasaan warga, kawasan tersebut dapat menjadi kelurahan pilot bagi kelurahan lainnya.

   

maria-g-soemitro

Kang Pisman, Penyemangat Warga Bandung dalam Pengelolaan Sampah 

“Bu ibu, mulai sekarang kita mengurangi sampah dengan mengganti box snack dengan kotak pastik ini ya?” kata kader PKK, Ibu Komala dalam sebuah pertemuan di Kelurahan Sukagalih Kecamatan Sukajadi kota Bandung. 

Selanjutnya Ibu Komala menjelaskan tentang Kang Pisman, program pengelolaan sampah kota Bandung yang diluncurkan PD Kebersihan sebelum bergabung dengan DLHK Kota Bandung, di bawah koordinasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pengelolaan Sampah. 

Kang Pisman merupakan singkatan dari “Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan”. Penggunaan jargon Kang Pisman yang berarti mengurangi sampah, memisahkan sampah dan memanfaatkan sampah lebih mudah dipahami warga kota Bandung dibanding ajakan“reduce, reuse, recyle” yang telah lebih dulu muncul. 

Terbukti dari kisah di atas, para kader PKK baik dari kelurahan maupun kecamatan, serta ketua RW dan ketua RT bisa mencerna program Kang Pisman dengan baik dan meneruskan sosialisasi pengelolaan sampah dengan mudah pula.

  

maria-g-soemitro.com
sumber: Bandung Juara Bebas Sampah


Kawasan Bebas Sampah sebagai Studi Kasus

Kumpul, angkut dan buang sampah ternyata bukan satu-satunya cara buang sampah di kota Bandung. Sebagian warga ada yang langsung membuang sampah ke tanah kosong atau ke aliran sungai, yang menjadi salah satu penyebab hasil riset peneliti dari Universitas  Georgia, Dr. Jenna Jambeck menempatkan Indonesia di peringkat kedua dari 192 negara sebagai penyumbang sampah plastik ke lautan.(sumber

Solusinya? Telah dimulai oleh BJBS dengan melakukan pendampingan kawasan bebas sampah sebagai pilot project. Serta program Kang Pisman yang menyosialisasikan pengelolaan sampah secara lebih luas. Tugas berikutnya adalah menjajaki transisi kota Bandung menuju kota bebas sampah (Zero Waste Cities) 

Terwujudnya Bandung sebagai kota bebas sampah menjadi sangat penting, karena masalah sampah bukan hanya menimpa kota Bandung, tetapi juga dialami seluruh kota/kabupaten di Indonesia.  

Sayang, banyak hal yang tidak ideal dan harus dikoreksi, seperti ketokohan yang kuat yang berhasil menyukseskan program kawasan bebas sampah. Padahal masa jabatan mereka terbatas, bagaimana kelangsungan program ketika sang tokoh mengundurkan diri? 

Masalah muncul pada kawasan yang tidak mempunyai tokoh yang kuat. Alih-alih warga melakukan pemilahan sampah, malah petugas sampah yang melaksanakannya. Alasannya, mereka merasa sungkan menegur warga yang tidak mau memilah sampah. 

Masalah lain muncul pada kawasan dengan petugas pengumpul sampah swasta atau yang tidak terikat dengan unsur kewilayahan.  Studi kasus dari Kecamatan Coblong menunjukkan, warga langsung membayar biaya angkut sampah pada pengumpul sampah swasta yang tidak dikelola pengurus RW. 

Tidak meratanya upah dan insentif yang diterima petugas sampah menambah daftar masalah. Jika mengacu pada sistem pengelolaan sampah holistik, para petugas semestinya diupah secara resmi oleh pemerintah. Kenyataannya di tahun 2020-2021, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung baru mampu memberikan insentif pada beberapa petugas pengumpul sampah di Sukamiskin dan Cihaurgeulis. 

Dana Program Inovasi Pembangunan dan Pemberdayaan Kewilayahan (PIPPK) menjadi solusi yang diusulkan beberapa tokoh RW di Coblong untuk insentif petugas pengumpul sampah. 

Namun ditolak oleh forum lurah dan camat sebab biasanya dana PIPPK digunakan untuk kebutuhan sarana prasarana atau fasilitas umum. Dana PIPPK menjadi semakin sulit dianggarkan ketika pandemic Covid-19 menyerang. 

Tidak idealnya kondisi lapangan, justru menjadi studi kasus untuk dievaluasi dan diperbaiki dengan menciptakan sistem yang lebih berkelanjutan. Demikian disimpulkan Kepala Seksi Kerjasama Teknis Operasional, Pengawasan Sampah, DLH Kota Bandung, Deti Yulianti  

“Kita bangun dan turunkan rencana teknis pengelolaan sampah pada skala kelurahan. Tahun 2020, mulai diujicobakan sebagai model yang diujicobakan pengembangan KBS tidak fully participatory base tapi dibangun sistem, petugas pengumpul terpilah, pendamping, dan dukungan sarana dari wilayah setempat buat pengolahan sampah,” kata Deti. 

Peranan pemerintah sangat dibutuhkan untuk merancang strategi pengorganisasian pembiayaan baru dan sistem retribusi yang terstruktur , agar dapat menanggung biaya-biaya yang selama ini dikeluarkan masyarakat untuk membayar layanan jasa petugas pengumpul sampah local. 

Dukungan terhadap pengelolaan sampah juga diharapkan dengan segera terwujudnya rencana DLH Kota Bandung mengangkut pilahan sampah organik pada sampah organik setiap hari Senin, Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Apabila program yang diproyeksikan pada 18 TPS ini berjalan lancar, maka bakal diterapkan di seluruh wilayah kota. 

Sedangkan YPBB Bandung yang telah memulai program kawasan bebas sampah, merekomendasikan pemerintah untuk segera mengembangkan model dengan tata kelola ZWC yang holistik.  

Serta membangun kelembagaan dan sistem pembiayaan berkelanjutan untuk sistem pengumpulan terpilah dari sumber mesti menjadi prioritas; mulai dari penguatan regulasi dan kelembagaan dari tingkat kota hingga tingkat kelurahan, pengalihan dan pengorganisasian pembayaran petugas pengumpul sampah oleh pemerintah, pemberian wewenang dan tanggungjawab kelurahan atas pengumpulan terpilah, serta penerapan aturan pemilahan kawasan–termasuk mekanisme pengawasan dan sanksi.  

Baca juga:
Keranjang Takakura, Solusi Mudah Atasi Sampah Perkotaan 

Gengsi Pakai Baju Lama? Kate Middleton Nggak Tuh!

26 comments

  1. Meski belum mencapai target secara keseluruhan tapi sejauh ini sudah bagus pisan ya. Apalagi ada kawasan yang mandiri mengajukan diri sebagai KBS dengan sistem Kang Pisman. Kita bisa mencontoh dari kota Bandung

    ReplyDelete
  2. Aku juga sudah coba ambu memisahkan sampah organik dan anorganik namun saat petugas datang ambil dengan gerobak sampahnya tetap saja dijadikan satu.Semoga tidak saja kota Bandung yang menuju bebas sampah tetapi juga diikuti oleh kota besar lainnya,seperti Jakarta.Karena masalah sampah adalah masalah bersama

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya pun meski bukan warga Bandung tapi sudah mulai mengikuti langkah langkah Zero Waste Cities yaitu pemilahan sampah dari rumah

      Delete
  3. Sejak sekitar tahun 2015 di Lamongan sudah diadakan program green and clean, jadi warganya rerata sudah bisa mengenali dan memilah sampah sesuai jenisnya.
    Untuk sampah kering yang bisa diuangkan langsung dijual ke bank sampah, dan untuk sampah basah dibikin kompos. Tapi sayangnya kegiatan ini sudah berkurang beberapa waktu terakhir, termasuk karena pandemi ini. Tapi karena saya sudah biasa memilah sampah jadi kegiatan ini tetap saya terapkan sehari2

    ReplyDelete
  4. Suka banget dengan jargon KANG PISMAN (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan). 3 poin penting yang wajib dipahami dan dijalankan oleh warga Bandung agar impian mencapai Bandung Zero Waste tercapai.

    Saya mendadak iri deh Mbak. Secara ya di Kabupaten Bekasi tak terdengar program apapun tentang pengolahan sampah. Sementara Cikarang dikelilingi oleh industri dengan sampah yang juga harus diseriusi.

    Semoga suatu saat Kabupaten Bekasi bisa meniru program yang sedang dijalankan oleh Kota Bandung ini. Banyak kebaikan dan manfaat yang muncul karenanya.

    ReplyDelete
  5. Salut banget ya bisa move on dari sampah. Ini semua tentu berkat dukungan dan kerja sama dari semua pihak sehingga Bandung Zero Sampah bisa terwujud. Semoga kota-kota yang lain bisa mencontohi. Karena jujur, sampah ini mengganggu banget kalau nggak di diperhatikan.

    ReplyDelete
  6. Aku pernah ikutan acara soal Kang Pisman ini Mbu, bagus banget diajarin cara memilah sampah lalu membuat kompos pula dari sisa2 makanan.
    Semoga saja Bandung terbebas setidaknya mengurangi sampah yang dimulai dari personal masing2 di rumah yaa.

    ReplyDelete
  7. Bandung memang punya caranya sendiri ya Ambu, dalam mengurai sampah. Memang masalah sampah ini seperti tidak ada habisnya dibahas. Sebisa mungkin dari kita pribadi berusaha untuk tidak menggunakan bahan yang tidak terurai agar lingkungan bebas sampah

    ReplyDelete
  8. Bandung bebas sampah harus diperjuangkan oleh semua pihak. Tidak mungkin hanya oleh warganya saja. Petugas dan pemerintah bersinergi untuk bisa memulai dan meneruskan program yang membuat Bandugn bebas sampah.

    ReplyDelete
  9. keren sekali gerakan memilah sampahnya, aku juga pengen banget praktekin seperti ini. Kalau banyak temannya jadi lebih semangat. Menuju lingkungan yang bebas sampah.

    ReplyDelete
  10. Ho pantesan di Sukaluyu ada toko yang menjual kebutuhan rumah tangga dengan konsep zerowaste. Ternyata Sukaluyu jadi kawasan pilot project ya. Dan sebagai warga Bandung saya mendukung sekali program KangPisMan ini. Semoga program ini bisa berlancar sesuai harapan ya mbu.

    ReplyDelete
  11. keren sekali, semoga bisa menular ke semua daerah nih :) bersyukur juga di komplek tempat tinggal ku sudah banyak yang aware akan memilah sampah. Kami jugga sudah ada bank sampah, semoga terus konsisten ya

    ReplyDelete
  12. Salah satu gerakan dari walikota baru setelah RK ini memang 'Kang Pisman', cukup populer banyak juga pernah saya lihat bannernya di sekitar alun-alun. Kalau di komplek rumah saya sendiri di Sukabumi, sudah dibedakan tempat sampah organik dan anorganik, tapi masih banyak warga yang belum paham perbedaannya.

    ReplyDelete
  13. Konsisten diperlukan dalam pengelolaan sampah agar lebih maksimal.
    Serta para pihak (semua elemen) turut berpartisipasi.

    ReplyDelete
  14. Aku di rumah ngurus sampah sendiri karena di sini nggak ada tukang sampah. Sampah organik aku jadikan pakan ayam/buat pupuk, sampah plastik dibakar, sampah kemasan kayak botol dan gelas plastik aku jual ke tukang loak.

    Sebenernya masih suka merasa bersalah ngebakar sampah plastik, tapi belum nemu solusinya.

    ReplyDelete
  15. Bandung yang lebih dulu mendeklarasikan kampanye bebas sampah masih banyak belajarz apalagi kota lain termasuk Jakarta :') tapi sekecil apapun tetap harus kita apresiasi ya Mbu dan pastinya kita sebagai masyarakat, skala rumah tangga jangan lupa untuk menerapkannya juga.

    ReplyDelete
  16. Apresiasi yg bagus untuk kota bandung yg sedang merangkak untuk membersihkan sampah, good job untuk progressnya semoga semakin berjalan lancar 🥰

    ReplyDelete
  17. Tadi siang ada berita soal sampah di Bandung yang uwoooowww menumpuk, menggunung ruarr biasa menyeramkan! Ternyata kalau ada niat untuk benar2 mengusahakan Bandung bebas sampah, tentu bisa. Pisahkan sampah menurut sumbernya, jenisnya dan manfaat sesuai fungsinya. Baik sekali BJBS dan program Kang Prisman untuk terus digalakkan, harus berkesinambungan nih.

    ReplyDelete
  18. Kesadaran masyarakat kita untuk taat buang sampah pada tempatnya ternyata masih rendah ya. Saya ambil contoh kecil dan sering saya kampanyekan saat mengajar siswa di sekolah, agar jika melihat sampah segera dipungut dan masukan tong sampah. Atau kalo makan permen, bungkusnya masukin tas atau saku baju/celana, nanti kalo ketemu kotak sampah baru dipindahkan kesitu.

    Merubah pola pikir orang untuk sadar buang sampah pada tempatnya itu nyatanya gak gampang, karena ini harus dari pembiasaan sejak dini.

    Btw, di kota Bandung atau lokasi kakak tinggal ada bank sampah online belum ya? bagus tuh kalo sudah ada, karena bisa dimobilekan.

    ReplyDelete
  19. Suamiku sampai buat pengelolaan Bank Sampah untuk mengelola sampah disekitar rumah. Memilah sampah organik dan anorganik. Buat aku Bandung pengelolaan sampah udah lumayan bagus dibanding Kota aku tinggal. Hehe.

    ReplyDelete
  20. Sampah dijumpai setiap waktu, menjaga kebersihan, menjaga lingkungan, udara segar tanggung jawab semua pihak bukan hanya salah satu sektor saja. Bandung bebas sampah bisa menjadi pioner kabupaten kota lainnya di Indonesia.

    ReplyDelete
  21. Semoga cita-cita Bandung Menuju Zero Waste Cities segera tercapai. Salut buat program ini. Dibutuhkan kekompakan dan kesamaan visi misi dari seluruh warga kota Bandung. Juga infrastruktur terkait harus aktif terlibat... Jangan sampai di tingkat rumah tangga, sampah sudah dipilah, eh di TPS dicampur lagi. Ini soalnya kejadian di tempat saya, hehehe...

    ReplyDelete
  22. Bandung perlu apresiasi untuk mendeklarasikan campaign bebas sampah, agar kota bandung bebas dari sampah dan dimulai dari dalam rumah untuk memilah sampah ya

    ReplyDelete
  23. Sebuah langkah yang perlahan tapi pasti akan membawa Bandung menjadi kota bebas sampah. Jargon Kang Pisman harus menjadi kebiasaan di setiap rumah. Semoga kegiatan memisahkan sampah dari rumah ditiru daerah2 lain.

    ReplyDelete
  24. Senang membaca artikel ini , Ambu
    Harapannya bisa semua daerah bisa seperti kota Bandung ini
    Biar Indonesia bisa jadi negara nol sampah

    ReplyDelete
  25. Semoga program-program berkualitas seperti ini bisa konsisten dan menjadi kebiasaan baik semua warga Bandung. Menular juga ke daerah-daerah lain. Bahkan menjadi program nasional yang berterusan.

    ReplyDelete