Kail Harapan untuk Pak Budi Sudarno, Penjual Bakso Keliling

    
maria-g-soemitro.com


Kail Harapan untuk Pak Budi Sudarno, Penjual Bakso Keliling

“Bantuan pinjaman? Gak bu. Tapi saya dapat bantuan sosial yang satu juta dua ratus itu,” kata Pak Budi Sudarno menjawab pertanyaan saya mengenai pembiayaan UMi, pada Sabtu, 15 Januari 2022. Bersama istrinya, Eti Suryati, dia tengah menyiapkan bakso,mi, sayuran dan bumbu-bumbu, bahan berjualan mi bakso. 

Bulatan bakso mentah muncul dari jemari kiri Pak Budi. Dengan sendok di tangan kanan, Pak Budi mengambil bakso tersebut dan memasukkannya ke dalam panci berisi air panas. Nampak asap melayang dari panci yang sudah tidak terjerang di atas kompor. Bulatan-bulatan bakso mengambang di permukaan air, pertanda bakso telah matang. 

Wajah Pak Budi nampak puas. Wajah seorang penjual bakso keliling yang selama 2 dekade  terpapar terik matahari dan guyuran hujan. Kepuasan yang ternyata tak dirasakan istrinya. 

“Dia mah emang lama bu. Bakso dibulat-bulat sampai bagus dan rapi. Sayuran bolak balik dicuci,” kata Ibu Eti. 

“Jadinya kan telat keluar bu. Orang lain udah jualan dari tadi, dia baru datang,” kata Ibu Eti lagi, mungkin dia melihat saya kebingungan. Ya, apa yang salah dengan bakso yang berbentuk bagus dan enak rasanya? Ditambah sayuran segar yang bersih, pastinya akan lebih disukai pelanggan. 

Namun ternyata adagium ‘ada harga ada barang’ tak selalu bisa diaplikasikan pada persaingan bisnis bakso keliling. Pelanggan tidak hanya membutuhkan enak dan murah, juga kecepatan. Kala mereka ingin jajan dan Pak Budi belum muncul, maka dengan mudah mereka beralih ke pedagang bakso lainnya.

Baca juga:

Ingin Cuan Berlimpah dari Bisnis Masker Kain? Bisa Banget!

UMi Jangan Sedih, Karena Badai Pasti Berlalu

Daftar Isi:

  • Kisah Pak Budi, Sang Penjual Bakso Keliling
  • Untuk Pelaku Ultra Mikro, PIP Hadir 
  • Pak Budi dan Kail Harapannya

Jika pak Budi kewalahan menghadapi pesaing, bagaimana kondisinya paska “serangan” pandemi Covid-19? Bak jatuh tertimpa tangga. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), disusul Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat calon pembeli enggan keluar rumah.

Pak Budi mengeluh, jualannya merugi. Dari belanja bahan sebesar Rp 800.000 per hari, dia hanya memperoleh penghasilan sekitar Rp 600.000. Padahal nyaris 12 jam dia berkeliling menjajakan mi bakso, mulai pukul 12.30 sampai pukul 24.00 WIB. 

Pak Budi tak sendirian. Pelaku usaha ultra mikro (UMi) lainnya mengalami hal sama, omzet penjualan merosot tajam. Ketiadaan tabungan membuat mereka tak mampu bertahan.  Beberapa dari mereka terpaksa gulung tikar, kemudian pulang ke kampung halaman.

Tanggap akan hal tersebut, melalui Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).pemerintah Indonesia mengucurkan bantuan sosial bagi pelaku UMKM sebesar Rp 1,200.000 per orang (sumber).

Pak Budi mendapat bantuan tersebut, namun habis tak berjejak. Dia berkilah:” Jumlahnya nanggung,bu”. Mungkin mereka membutuhkan pendampingan agar bisa memaksimalkan uang dalam genggaman.

Untuk itulah PIP hadir.

   

maria-g-soemitro.com
sumber: kemenkeu.go.id

Untuk Pelaku Ultra Mikro (UMi), PIP Hadir

UMi? Apa bedanya dengan UMKM?

Dikutip dari laman kemenkeu.go.id, pelaku ultra mikro (UMi) merupakan bagian dari UMKM. Dibedakan dari sisi pembiayaannya. UMi merupakan pelaku usaha mikro yang berada di lapisan terbawah, yang belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Umumnya UMi tidak bankable, tidak memiliki agunan dan tidak melakukan pencatatan keuangan. Contohnya usaha penjualan mi bakso milik Pak Budi di atas. Dia hanya melakukan kalkulasi sederhana. Apabila belanja bahan baku sebesar Rp 800.000, dan hasil penjualan Rp 1.000.000, maka keuntungan yang diperoleh adalah Rp 200.000.

Cara seperti ini tentu saja menyulitkan perbankan dalam memberikan pinjaman. Padahal berkat usaha mereka, perekonomian Indonesia bisa bergerak. Jumlahnya mencapai 97 persen total tenaga kerja atau 64,2 juta orang. Kontribusi usaha mereka mencapai  61,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. (sumber)

Karena itulah selain mengucurkan bantuan sosial, pemerintah menunjuk Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai coordinated fund pembiayaan UMi, agar mereka tidak sekadar mendapat bantuan pembiayaan, juga pendampingan.

Ada pun PIP adalah unit organisasi non eselon di bidang pinjaman usaha mikro, kecil, dan menengah yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Keuangan melalui Direktur Jenderal Perbendaharaan.

Berikut ini perbedaan KUR dan UMi:

        

maria-g-soemitro.com
sumber: kemenkeu.go.id

Pendampingan menjadi ciri khas pembiayaan UMi, sekaligus pembeda dengan KUR. Untuk pelaksanaannya, PIP menugaskan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), diantaranya: PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura, serta PT Permodalan Nasional Madani (Persero). 

Setiap nasabah mendapat  fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta yang  berasal dari APBN, kontribusi pemerintah daerah dan lembaga-lembaga keuangan, baik domestik maupun global.

Kasus Pak Budi menjadi contoh nyata betapa pentingnya dilakukan pendampingan dalam penyaluran pembiayaan. Saat menerima bantuan sosial sebesar Rp 1.200.000, dia menggunakan tanpa rencana apa pun. Sehingga ‘bak menggarami lautan’, uang habis tanpa dampak signifikan.  

    
maria-g-soemitro.com

Pak Budi dan Kail Harapannya

Terletak di Gang Cempaka RT 002/RW09, kawasan Antapani Bandung, rumah Pak Budi Sudarno (45 tahun) berderet dengan rumah lainnya. Nampak warung dan penjual makanan di setiap 3-4 rumah. Gangnya gang senggol. Saat pelintas jalan berpapasan dengan pengguna sepeda motor atau gerobak makanan, salah satu harus mengalah.

Berjualan sejak tahun 2000-an atau paska krisis moneter, Pak Budi melakukan rutinitas sama setiap harinya. Pagi pukul 05.00 WIB, sesudah salat Subuh, Pak Budi berangkat ke pasar untuk berbelanja bahan baku mi bakso. Dilanjutkan membuat bakso dan persiapan berjualan hingga pukul 12,00 WIB. 

Dengan mendorong gerobak baksonya, Pak Budi keluar rumah pukul 12.30 WIB, dan baru pulang ke rumah sekitar pukul 22.00 – pukul 24.00 WIB. Waktu 24 jam yang dimiliki Pak Budi nyaris habis untuk berjualan bakso, hanya tersisa waktu istirahat  4-5 jam per hari.

“Ingin beli gerobak baru, tapi minimal butuh Rp 5000.000-Rp6.000.000,” jawab Pak Budi ketika saya bertanya mengenai rencana penjualan mi bakso dalam jangka panjang.

Jawaban Pak Budi tak menunjukkan solusi. Selama dia masih berjualan bakso secara berkeliling, dari rumah ke rumah, andai pun tak ada pandemi Covid-19, persaingan tajam akan melibasnya dengan mudah.

“Bagaimana jika jualan online?” Tanya saya.

Saya menyodorkan gambar bakso cuanki dan bumbu dalam plastik kemasan. Cara pengemasannya menggunakan teknik vakum/hampa udara. Dengan cara ini bakso cuanki akan tahan lama sehingga bisa dijual sampai ke luar kota. Terobosan sederhana yang kerap dilupakan.

Harga alat vakumnya pun murah, sekitar Rp 1 juta rupiah, atau sebetulnya bisa dibeli dengan uang bantuan sosial yang diterima Pak Budi. Selain itu butuh ketrampilan dan kehati-hatian agar bakso dan bumbu dikemas dengan higienis.

Saya berkenalan dengan jajanan bakso cuanki tersebut ketika seorang saudara sepupu membawanya sebagai oleh-oleh. Dia menjadi reseller dari pemilik usaha bakso cuanki yang kini berhasil meraup omzet ribuan bungkus. Jumlah yang fantastis, mengingat sebelum melakukan terobosan, sebagai penjual bakso cuanki keliling, dia hanya mampu menjual 100-an mangkok.

Namun, melontarkan ide tentunya lebih mudah dibanding pelaksanaan. Karena itu bekerja sama dengan berbagai pihak, PIP menyusun program untuk mencetak pelaku UMi Siap Online. Berikut ini beberapa kegiatannya (sumber):

Pelatihan

Pelaku ultra mikro mendapat pelatihan tentang cara mengoptimalkan sosial media, antara lain dengan menambah jumlah follower sebagai calon pembeli, menyajikan foto yang menarik, serta menulis caption yang mengundang rasa ingin tahu pembeli. PIP juga menggandeng pihak marketplace seperti Tokopedia dan Shopee, agar pelaku ultra mikro bisa mengubah orientasi bisnis dari konvensional ke digital.

Promosi

Bagaimana sih cara berjualan di layanan pesan antar seperti Shopee dan Grab? Bersama 2 perusahaan ini, Dit.PKN Kanwil Jateng, Kanwil Jatim dan Kanwil Lampung memberi bantuan promosi pada pelaku usaha mikro melalui pembentukan Marketplace Belanja Pemerintah.

Inkubasi Usaha

Tidak adanya pembukuan menjadi penyebab pelaku UMi tidak bankable. Bekerjasama dengan UNBRAW dan Pusat Inkubator Bisnis/Oorange UNPAD, PIP menyelenggarakan inkubasi usaha, untuk memberikan pembinaan pada pelaku UMi menyangkut aspek perijinan, pembukuan, kualitas produk, kapasitas produksi dan pemasaran. 

Kampung UMi

Saling bergotong royong dalam satu komunitas merupakan ciri budaya masyarakat Indonesia. Paham akan hal tersebut, PIP memaksimalkan pendampingan dan inkubasi melalui program Kampung UMi, sehingga peserta bisa saling berkomunikasi, terjalin koordinasi dan bersinergi agar bisa bersama menjadi pelaku usaha ultra mikro yang naik kelas.

Naik kelas? Setiap pelaku ultra mikro menginginkannya, tapi bagaimana caranya? Untuk mendapat pembiayaan dan pendampingan, pelaku ultra mikro seperti Pak Budi bisa menghubungi LKBB setempat, seperti PNM, Pegadaian atau LKBB lainnya.

Sebelumnya, calon debitur harus memenuhi 3 syarat, yaitu:

  1. Tidak sedang dibiayai oleh lembaga keuangan/koperasi. Tujuannya agar debitur UMi fokus dan mudah dalam melakukan pencicilan. Juga melatih debitur UMI untuk melakukan manajemen utang.
  2. Warga Negara Indonesia (WNI) dibuktikan dengan Nomor Induk Kependudukan Elektronik.
  3. Memiliki izin usaha/keterangan usaha dari instansi pemerintah dan/atau surat keterangan usaha dari penyalur. Tujuannya agar pinjaman tepat sasaran. Sedangkan surat izin usaha bisa diperoleh dari kelurahan setelah mengisi formulir dari dari Ketua RT setempat.

Selain secara individu, pembiayaan UMi juga bisa dilakukan secara berkelompok dengan alur sebagai berikut:

  • Bentuk kelompok terlebih dahulu. Tujuan pembentukan kelompok agar debitur UMi yang tidak memiliki agunan bisa mendapat pendampingan intensif dan tanggung renteng.
  • Setelah debitur UMi meningkat usahanya, diharapkan mempunyai aset yang dapat dijaminkan. Saat itulah debitur tersebut bisa melepaskan diri dari kelompok dan mengambil skema individu yang mensyaratkan jaminan sebagai tanda kemandirian.

Pak Budi manggut-manggut mendengar skema yang begitu mudah. Matanya berbinar. “Pemerintah sangat peduli Pak,” kata saya. “Berkat bapak berjualan mi bakso, penjualan daging meningkat, juga sayuran dan bumbu-bumbu, sehingga perekonomian pun berputar.”

Sebetulnya saya ingin memberitahu peluang untuk mendapat pembiayaan UMi sangat besar. Setelah berhasil menyalurkan Rp18,07 triliun kepada lebih dari 5,39 juta orang debitur di seluruh Indonesia, PIP menargetkan pembiayaan UMi untuk 2 juta orang pelaku UMi pada tahun 2022. (sumber). 

Tapi sudahlah, lebih penting bagi Pak Budi untuk mendapat asa bahwa di masa depan, dia tak harus berkeliling menjajakan mi bakso. Pak Budi bisa memaksimalkan penjualan mi bakso dengan menjadi pelaku UMi siap online, agar kelak bisa menjadi pelaku usaha mandiri yang lebih berperan dalam perekonomian Indonesia.

Baca juga:

5 Peluang Usaha untuk Ibu Rumah Tangga di Era Digital

Berani Berubah! UMKM Siapkan Dirimu dengan 5 Tip Sukses

#PIPUMi
#UMiUntukNegeri

28 comments

  1. Sukses terus ya, Pak Budi...
    Di luar sana masih banyak PakBudi-PakBudi lain (UMKM mikro) yang butuh suntikan dana dan butuh peningkatan skill SDM
    Semoga umkm indonesia makin berjaya

    ReplyDelete
  2. Vakum merupakan solusi agar awet makanan tanpa bakteri dan bisa dikirim luar kota. Teknologi bikin semuanya jadi mudah

    ReplyDelete
  3. Pendampingan memberi dampak lebih dari pada sekadar pembiayaan. Semoga dengan program yang sangat bagus ini pelaku UMi bisa memiliki energi dan semangat yang lebih, serta strategi penjualan yang lebih jitu seiring dana/modal tambahan yang masuk. Semoga pembiayaan terealisasi dengan mudah, dan perekonomian tidak berjalan di tempat atau bahkan terpuruk di situasi yang belum benar-benar stabil saat ini.

    ReplyDelete
  4. Sore ambu,cerita PAk Budi penjual bakso ini juga banyak saya temui di daerah saya Depok. Ada yang jualan lontong sayur Padang.Si uni ini juga tidak punya catatan signikfikan dari modal-penjualan dan akhirnya ada untung. Semua keuangan tumplek jadi satu termasuk biaya sehari-hari.
    Bagus ya program pemerintah UMi ini membantu para pelaku UMKM kelas menengah ke bawah .Syaratnyapun tidak sulit. Semoga banyak Pak Budi lainnya diluaran yang terbantu dengan program pemerintah ini

    ReplyDelete
  5. Pembiayaan UMi memang sangat membantu usaha kecil seperti Pak Budi ini ya Ambu ..

    ReplyDelete
  6. keren, pak sudarno. semoga sukses usaha basonya, berkembang, bisa merangkul pekerja-pekerja baru.

    btw, istilahnya bagus, ambu. kail harapan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. peran UMi ini bagus ya mendukung usaha kecil seperti milik pak Budi. kasih dana dan juga pendampingan. sangat tepat, sehingga bisa terarah dg baik. semoga ada pak Budi lain yg terbantu

      Delete
  7. Wah semoga sosialisasi program ini bisa merata ya bu mengingat tujuannya sangat baik dan memiliki dampak pada umkm

    ReplyDelete
  8. Pembiayaan UMi sangat membantu usaha Baksonya pak Budi untuk berkembang dan dapat memicu para usaha yang lainnya. suskses selalu

    ReplyDelete
  9. Bantuan pembiayaan tanpa pendampingan, hasilnya tidak seperti yang ditargetkan. Tapi dengan pendampingan, memunculkan ide yang hanya diubah sedikit dari kebiasaan, hasilnya jauh lebih menjanjikan ya Ambu. Semoga harapan pak Budi dan pengusaha UMi lainnya terus berkembang dengan bantuan pembiayaan dan pendampingan.

    ReplyDelete
  10. hadirnya UMi ini emang ngebantu buat UMKM kecil yang punya kesulitan dalam birokrasi peminjaman. Tentunya kalau bisa dimanfaatkan dengan baik sama UMKM yang pinjam pasti bisa menaikkan produksi mereka.

    ReplyDelete
  11. Bagi yang mendapatkan bantuan modal, sebaiknya memang ada pendampingan yaa, Mba, agar mereka lebih terarah dan dapat menggunakan modal dengan baik dan tepat sasaran

    ReplyDelete
  12. Keren banget ini programnya, semoga usaha pedagang kecil semakin terbantu dan sukses ya!

    ReplyDelete
  13. Saya punya usaha kecil-kecilan di rumah. Dagang makanan atau minuman untuk anak-anak. Tapi tentu saja tidak bisa cari modal ke bank karena tidak lolos persyaratan. Berarti bisakah usaha saya ini disebut UMi?

    ReplyDelete
  14. Bantuan pembiayaan bagi Pak Budi sangat melegakan karena tidak adanya akses ke perbankan. Mereka butuh uluran tangan dari Pemerintah supaya bisa tetap bisa berjualan

    ReplyDelete
  15. banyak sekali UMKM kaya Pak Budi nih yang mungkin enggan dan belum teredukasi bahwa ada PIP yang siap membantu pendanaan untuk pengembangan usahanya ya, semoga ke depannya umkm semakin maju

    ReplyDelete
  16. Keren juga nih program PIP pemerintah bisa menjangkau pelaku usaha mikro/kecil seperti usaha Pak Budi.. Gimana caranya kalau ada yang mau mendaftarkan usahanya untuk dibantu modal seperti Pak Budi ya?

    ReplyDelete
  17. Saya kalau jajan atau belanja sering di pedagang UMKM. Rasanya enak, kualitas ok. Jadi kebayang enaknya jualan pak Budi. Tapi penyaluran dana perlu pendampingan, agar gak salah jalan penggunaannya

    ReplyDelete
  18. Sehat terus ya pak budi. Semoga baksonya laris manis. Melihat totalitas pak budi dalam membuat bakso hingga bulat sempurna, dalam mencuci sayur hingga bersih, saya jadi salut. Sebagai penikmat bakso, susah nyari penjual yang mementingkan kesehaan dan kepuasan pembelinya😊

    ReplyDelete
  19. Semoga dengan bantuan ini pak Budi dan usahanya semakin berkembang luas

    ReplyDelete
  20. Menarik sekali program bantuan pemerintah untuk para pelaku usaha seperti pak Budi (pelaku usaha ultra mikro) ini. Apalagi selain bantuan dana pinjaman tanpa modal, program tersebut juga dilengkapi dengan pendampingan. Memberikan edukasi tentang cara berjualan yang lebih efektif seperti lewat online misalnya

    ReplyDelete
  21. mengharukan sekali, semoga dengan adanya program pembiayaan seperti ini, semakin banyak pelaku usaha mikro terbantukan.

    ReplyDelete
  22. mengharukan sekali, semoga dengan adanya program pembiayaan seperti ini, semakin banyak pelaku usaha mikro terbantukan.

    ReplyDelete
  23. selama ini usaha mikro cuman ngandelin bantuan umkm sih ya, aku juga baru tahu ada UMi. pengusaha kecil pasti kebantu banget dengan adanya program ini

    ReplyDelete
  24. keren, semoga ya UMKM di Indonesia semakin maju dan bangkit lagi, senangnya kalau ada yang mendukung maksimal ya

    ReplyDelete
  25. Oh bisa ke pegadaian ya Bu Maria, disekitar rumah saya ada beberapa IRT tangga yang berjualan di dan butuh modal agar usahnya bisa berkembang.
    Nanti coba saya arahkan mereka ke pegadaian

    ReplyDelete
  26. Kisah Pak Budi jadi ingat pas aku pulang dari Dago Atas kemalaman sampe tengah kota, perut lapar dan hujan rintik-rintik, akhirnya melipir beli bakso trus penjual bakso nya sempet cerita omzetnya menurun drastis karena pandemi juga. Semoga Pak Budi dan para pelaku usaha lainnya bisa terus berkembang.

    ReplyDelete
  27. sudah seharusnya mmg kita memajukan produk lokal UKMK , bagaimanapun kita harus lebih menghargai karya anak bangsa seperti Pak Budi dibandingkan sibuk membeli produk luar. Semangat selalu!

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat