Kontroversi Micin dan Kaldu Jamur, Kamu Pilih Mana?

    
kuliner


Kontroversi Micin dan Kaldu Jamur, Kamu Pilih Mana?


“Ish jangan pakai itu, pakai ini nih … kaldu jamur.”

Seruan bulik (ibu cilik) menghentikan kami yang sedang meracik bahan untuk bakwan/bala-bala. Pada setiap hari perayaan (Lebaran dan Natal), saya dan saudara-saudara sepupu berkumpul untuk merayakannya.

Selain makanan utama yang biasanya sudah disiapkan dari rumah, kami kerap bareng membuat makanan selingan/penutup, seperti es buah, rujak, dan kali ini bala-bala. 

Kegiatan ini seru dan guyub banget. Sepupu perempuan maupun laki-laki ngobrol sambil mengupas sayuran, memotong-motong kemudian menyampurnya dengan tepung terigu, tepung beras, telur serta bumbu garam, merica, kaldu ayam buatan pabrik. 

Seorang bulik rupanya tak berkenan dengan bumbu yang terakhir.
“Jangan pakai itu, ada micinnya. Pakai yang sehat, kaldu jamur, “ tegas sang bulik.

Baca juga;
Micin yang Disayang, Micin yang Dibully
Ini Dia Beda Cilok, Cimol, Cilor, Ciwang, Cireng , Pentol, dan Bakso Aci

Daftar Isi

  • Kaldu Jamur yang Populer
  • Sekilas Micin (MSG),  yang Jadi Tertuduh
  • Hati Hati, Ambang Batas Pemakaian Bahan Penyedap
  • 3 Cara Cerdas Menggunakan Bahan Penyedap

Demi kedamaian di muka bumi, kamipun mengalah. Menyingkirkan mangkuk berisi adonan bala-bala siap goreng, dan mulai lagi mengupas wortel, kol serta menyiapkan bahan lain. 

Karena penasaran, saya mengambil kemasan kaldu jamur yang tadi disodorkan bulik, mencari ingredientsnya, ternyata wow…… tercantum micin (MSG) di situ.

kuliner

 

Tertulis mononatrium glutamat nama lain monosodium glutamat (MSG). setahu saya keduanya memiliki rumus kimia sama yaitu C5H8NO4Na.

Sodium merupakan sebutan umum unsur kimia Na. Senyawa yang mengandung Na bisa disebut senyawa sodium, bisa juga disebut senyawa natrium. Karena mengandung unsur Na, banyak yang memilih penyebutan mononatrium glutamat 

Clear ya?

Seperti yang telah disebut di atas, saya gak anti micin. Saya menggunakan kaldu ayam pabrikan seperti Royco dan Masako yang juga mengandung garam dan MSG.  Karena saya membutuhkan rasa umami/gurih sebagai penyedap rasa.

Mengapa saya keukeuh pakai MSG, alih-alih ikut trend beralih ke kaldu jamur pabrikan? Banyak alasannya:

  • Kaldu jamur hanya akal-akalan penjual, komposisinya kurang lebih sama, terdapat MSG dan garam. Dengan cara ini penjual bisa menetapkan harga lebih tinggi.
  • Nggak ada bukti MSG bikin orang bodoh, penyebab kanker serta tuduhan tak mendasar lainnya. Gak ada hasil penelitian yang menguatkan tuduhan tersebut. 
  • Konsumen melupakan masalah utama, yaitu micin (MSG) bisa menyebabkan kecanduan. Akibatnya konsumen menggunakan MSG secara berlebihan. 

Nggak hanya micin (MSG), garam dan gula juga bisa menyebabkan kecanduan. Anehnya nggak ada yang ribut kecanduan garam/gula, ya ? Sementara efeknya dasyat lho, mengundang penyakit tidak menular (PTM).

 

kuliner

Sekilas Micin (MSG), yang Jadi Tertuduh

Kata “micin” berasal dari kata Ve-Tsin, merk MSG yang pertama kali diperkenalkan di Indonesia. Uniknya, vetsin masuk dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:

vetsin/vet·sin/ /vรฉtsin/ n bumbu tambahan untuk menyedapkan masakan berupa serbuk berwana putih bersih yang bahannya ialah monosodium glutamat: masakan Cina akan terasa lebih sedap jika dibubuhi – secukupnya.


Penemu MSG, Kikunae Ikeda, profesor kimia di Tokyo Imperial University memperkenalkan produknya dengan brand Ayinomoto lho. Tapi mengapa kita menyebut  MSG ber-merk Ayinomoto atau Sasa dengan “vetsin” ya? ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Fenomena ini mirip merk “Odol” yang digunakan untuk menyebut pasta gigi. Merknya Pepsodent atau Close Up, tetep disebut sebagai odol, nggak peduli fakta bahwa “Odol” adalah merk.

Nah vetsin yang kemudian diplesetkan menjadi “micin” ini jadi heboh ketika pada tahun 1968, Dr Robert Ho Man Kwok menulis surat kepada editor ‘the New England Journal of Medicine”.

Dr Robert Ho Man Kwok bilang setelah 15-20 menit menyantap chinese food, dia merasa kebas di belakang leher yang menjalar ke tangan dan punggung, rasa lemas serta jantung berdebar-debar. Sangat mengganggu karena berlangsung sekitar 2 jam.

Dia berspekulasi dan menebak penyebabnya adalah:

  1. Kandungan wine beralkohol yang acap digunakan dalam chinese food.
  2. Kandungan  garam yang berlebihan
  3. Pemakaian MSG
  4. Kombinasi ketiganya, yaitu pemakaian wine, kandungan garam berlebihan dan MSG.

Lebih lanjut Dr Kwok menulis, dia bersedia bekerja sama jika ada rekan sejawat dari dunia medis yang tertarik membuat penelitian. 

Surat tersebut dibanjiri beragam komentar, banyak yang menyampaikan keluhan sama, termasuk merasa pusing dan keluar keringat dingin. Gejala-gejala yang mereka sebut dengan “chinese restaurant syndrome”

Anehnya, redaksi “The New England Journal of Medicine” menetapkan si micin aka monosodium glutamat sebagai penyebab  gejala "chinese restaurant syndrome". Padahal dengan jelas Dr Kwok menulis ada 4 kemungkinan penyebabnya, bukan hanya si micin.

Apes, seseorang mengutip obrolan terbatas di  kalangan medis tersebut, dan membocorkannya ke media. Dan, boommm….MSG sebagai penyebab “chinese restaurant syndrome” memenuhi surat kabar serta majalah.

Gegerlah Amerika! Bisa dibayangkan dampak lanjutannya, opini tak mendasar menyebar ke negara-negara lain. MSG pun menjadi tertuduh tanpa ada pembuktian/penelitian akademis.

Setelah mengalami bullying berkepanjangan, WHO dan FAO melakukan penelitian. Hasilnya menyatakan bahwa MSG sebagai penyebab “chinese restaurant syndrome” hanyalah “anecdotal evidence” atau pengalaman pribadi.

Hasil penelitian yang sama dirilis oleh The U.S. Food and Drug Administration (FDA) yang menyatakan MSG sebagai bahan yang aman untuk dikonsumsi. Namun seperti halnya bahan aditif lainnya, penggunaan MSG dibatasi dan dilarang untuk penderita alergi.

Tentu saja aman, MSG diperoleh dari hasil fermentasi gula tebu, mirip proses fermentasi yang digunakan untuk membuat anggur atau yogurt. Nenek moyang kita memperoleh rasa umami dari  tauco, oncom serta hasil fermentasi lainnya. 

Bedanya industri olahan makanan membutuhkan bahan penyedap ini dalam jumlah banyak untuk mengurangi pemakaian bahan segar dan berkualitas tanpa merusak cita rasa yang diinginkan.

Industri makanan Amerika Serikat sangat terbantu dengan keberadaan MSG. Mereka membubuhkan MSG pada makanan kaleng seperti  tomato soup Campbells, aneka snack dan ayam goreng KFC.

  

kuliner


Hati Hati, Ambang Batas Pemakaian Bahan Penyedap

Bagaimana awal mula kaldu jamur menjadi pengganti MSG? Entahlah. Yang pasti promosi telah berlangsung lama,  dari mulut ke mulut, sehingga hasilnya sangat efektif.

Saya heran, selain karena belum ada hasil penelitian yang membuktikan serangkaian tuduhan pada MSG, masalah utamanya malah dilupakan.

Kecanduan MSG, adalah masalah utamanya. Sama halnya dengan garam, gula serta bahan penyedap lainnya yang bikin kecanduan dan bakal berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurut WHO, berikut ambang batas penggunaan bahan penguat rasa:

  1. Gula. Hanya diperbolehkan sebanyak  5% dari kebutuhan kalori harian. Dewasa tidak lebih dari 30 gram (7 sendok the) per hari, anak-anak (7-10 tahun) tidak lebih dari 24 gram dan anak-anak (2-6 tahun) tidak lebih dari 19 gram.
  2. Garam (sodium/natrium). Usia dewasa (11 tahun ke atas) dibatasi 6 gram (1 sendok teh), anak-anak (7-10 tahun), anak-anak (4-6 tahun) tidak lebih dari 3 gram ( ½ sendok teh) per hari, anak-anak (1-3 tahun) tidak lebih dari 2 gram per hari dan anak-anak kurang dari 1 tahun tidak lebih dari 1 gram per hari.
  3. MSG (micin). Disarankan untuk tidak dikonsumsi lebih dari 1,7 gram per hari. Termasuk kaldu jamur pabrikan yang ternyata mengandung MSG dalam komposisinya.

Nah ini yang saya kritisi, konsumen sering terlena dengan produk substitusi. Karena merasa aman trus hantam kromo dalam pemakaiannya.

Padahal seperti dikutip dari Healthline, kandungan glutamat meningkat saat pengeringan jamur. Bahkan jamur shiitake yang mempunyai tingkat glutamat (elemen pemberi rasa umami) paling tinggi, mencapai 1.060 miligram per 100 gram.

Jadi bisa dibayangkan kandungan glutamat yang tinggi pada jamur, ditambah MSG dari bahan lain berpadu di satu kemasan yang sekarang digunakan para ibu rumah tangga. 

Sekali lagi bukan MSG-nya yang berbahaya, tapi pemakaian yang berlebihan yang harus diwaspadai. Seperti halnya penggunaan garam dan gula,  dosisnya jangan melampaui standar yang telah ditetapkan.

  

kuliner


3 Cara Cerdas Menggunakan Bahan Penyedap

Beberapa waktu lalu di facebook, saya memosting komposisi bahan yang terkandung di dalam satu kemasan kaldu jamur. Tujuannya agar teman-teman jangan tergelincir membeli kaldu jamur berharga mahal dengan dalih mengganti MSG (micin).

Padahal isinya ya MSG (micin) juga!

Tujuan yang kedua, seperti telah saya cantumkan di atas, jangan terlena dengan promosi kaldu jamur sehingga pemakaiannya melebihi takaran yang dianjurkan.

Sebetulnya ada beberapa cara bijak agar tidak terpaku kontroversi MSG dan kaldu jamur, yaitu:

Percaya Pada Rasa Asli Bahan Makanan

Tahukah bahwa tomat juga mempunyai rasa gurih/umami? Daripada jadi korban iklan, mengapa tidak mulai mengeksplorasi bahan makanan? Bukankah Indonesia kaya bahan pangan? Mengapa harus terpaku pada MSG?

Alih-alih membubuhkan MSG pada sambal, mengapa tidak memilih terasi, ebi atau ikan asin yang bisa memberikan rasa umami yang nendang?

Demikian juga dengan dadar telur, opor, rendang, sambal goreng ati ayam dan lainnya, yang sudah gurih tanpa harus MSG. 

Kok nggak percaya pada rasa asli bahan makanan kita?

Substitusi Bumbu agar Kaya Rasa

Daripada membubuhkan MSG pada sayur oseng/tumis, mengapa tidak menggunakan hasil fermentasi seperti kecap dan tauco? 

Jika mau menyimak resep asli Korea Selatan, mereka gak pakai MSG lho. Untuk mendapatkan rasa gurih, mereka  menggunakan doenjang, saus mirip tauco karena juga merupakan hasil fermentasi kacang kedelai.

Malah Jepang, negaranya Kikunae Ikeda penemu MSG, tidak menggunakan micin dalam resepnya. Mereka biasa memakai dashi untuk memperoleh rasa umami.

Dashi atau kuah dashi digunakan untuk semua makanan khas Jepang. Berbahan dasar kombu (rumput laut) kering dan katsuobuoshi (ikan cakalang yang diawetkan). 

Dibanding Korea dan Jepang, bahan pangan yang dimiliki Indonesia jauh lebih kaya. Kita punya kecap (dari berbagai pelosok negeri), tauco, petis, berbagai jenis ebi, berbagai jenis ikan kering dan masih banyak lagi.

Jadi, mengapa kita terpaku pada produk pabrikan seperti micin?

Buat Kaldu Sendiri

Kaldu jamur pabrikan untuk Makanan Pendamping ASI (MPASI)?

Duh, mengapa nggak bikin kaldu sendiri? Gampang banget. 

Caranya saya tulis dsiini:

Beda Stock dan Broth, Kaldu Asli nan Lezat

Karena panjang dan lebar, sementara tulisan ini sudah 1,500 kata. 

Ntar boring.deh ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š

Baca juga:
Resep Sundubu Jjigae Jantung Pisang yang Lezat dan Rendah Jejak Karbon
Kelezatan Mentai Rice Taztyliciouz,  Ternyata Nagih!

35 comments

  1. Semua merek ternyata ya Ambu, Ve-tsin maupun Ayinomoto. Aku pakai sih dikiiit aja. Nah, kalau jajan mie baso, memang sih aku jadi merasa haus dan leher belakang kaku. Itu pertanda, mie baso jajan tadi kebanyakan pakai MSG. Langsung nenggak air banyak-banyak aja...

    ReplyDelete
  2. micin itu bikin umami. tapi kalo gak dikontrol, bisa bahaya. kalo masak sendiri sih enak ya, kalo beli di luar suka gak ngira2 loh takaran micinnya. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju kak, itu daku rasakan juga. Padahal memang benar kata Ambu percayalah sama aroma rempah masakan kita, karena sudah sangat khas kan rasanya ya

      Delete
  3. Iyaaa... Sami mawon emang totole mah msg jugaa.. Tp kalo yang kaldu jamur maseko sih di komposisinya ga ada msg dan sejenisnya... Ku juga ga anti msg, karena sifatnya self limiting, kalo kebanyakan ga enak sendiri di tenggorokan setelahnya (biasanya sering kalo abis jajan bakso wkwkkw)

    Thanks for sharing mbak... Menarik sejarah singkat micinnya... :)

    ReplyDelete
  4. Keren bgt analisisnya kak. Makasih ya kak,selama ini cari jawabannya tapi ga memuaskan hati, pas baca ini waahhh akhirnya jawaban yg ku cari ♥️

    ReplyDelete
  5. Kalo kaldu jamur, enakan yang homemade ambu. Kayak yang dibikin buat MPASI anak bayi tuh. Biasanya kalo pas saya beli, penjualnya nanya dulu, mau yang pakai gula garam (gulgar) atau yang No Gulgar? Saya bilang yang No Gulgar. Nah, itu baru bener kaldu jamurnya.

    Kalo kaldu jamur pabrikan sih, ya sami mawon ambu kayak royco or masako. Lagian, gak dosa kok pakai MSG. Kecuali sekali masak, pakai MSG-nya sebungkus langsung abis, nah itu baru tuh, TERLALU, kata Bang Rhoma. Kekeke.

    ReplyDelete
  6. Karena pada dasarnya apapun yang berlebihan itu emang tidak baik. Mau micin mau kaldu jamur, kalau kelebihan tetap bisa mabok lah... Hehehe ...
    Yang pasti kita secara individu bisa menakar batasan masing-masing ya Mbu...

    ReplyDelete
  7. Mpo suka pakai masako/royco.tanpa beli tambahan garam dan mecin. Mpo lihat di tiktok kaldu jamur itu sama aja kaya royco/masako berbahan garam dan kaldu jamur hanya diperuntukkan untuk orang vegan

    ReplyDelete
  8. intinya namanya makanan itu jangan berlebihan begitu juga dg micin, sodium glutamat, sedangkan sodium itu sendiri penting dalam tubuh untuk metabolisme, walau dibutuhkan dalam jumlah sedikit , kalau kurang dalam tubuhpun akan mempengrauhi sisitim dalam tubuh

    ReplyDelete
  9. aku kalau masak pengganti vetsin selalu gunakan kaldu dan gulm, enak juga kok rasanya, ya walaupun vetsin banyak pro dan kontra, tapi tulisan ini bisa mwnjelaskan masyarakat lebih paham lagi

    ReplyDelete
  10. Aku kalau masak sendiri untuk gurihnya dengan tambahan garam dan gula aja. Tapi belakangan sempat terpengaruh sama kaldu jamur, dan sempat agak bingung, napa makanan jadi tambah asin di lidah? Ternyata micin juga komposisinya *dasar malas mbaca*.
    Menggunakan penyedap inggal disesuaikan dengan kebutuhan lidah ya Ambu, segala sesuatu yg berlebihan memang tidak baik. termasuk rasa suka akan sesuatu #eh.

    ReplyDelete
  11. Secara tidak langsung penguat rasa sudah lama digunakan antar generasi, penggunaan perlu panduan para ahli sesuai panduan. Saya sendiri masih menggunakan untuk penyedap rasa masakan dengan takaran yang dianjurkan untuk sebuah masakan.

    ReplyDelete
  12. Oke ditunggu resep kaldunya Ambu. Saya malah belum pernah coba nih kaldu jamur, nggak tahu juga mau cari bahannya dimana, makanya seringya cuma pake masako saja atau kadang2 juga royco. But dari ulasan ini jadi tahu ya kalau penggunaan kaldu jamur kurang lebih saja dengan penggunaan bumbu penyedap masako/royko

    ReplyDelete
  13. Intinya memang untuk bijak dalam penggunaan. Dan jangan takut atau tidak pede rasa jadi kurang enak, karena Nusantara kita kaya akan bumbu rempah yang nikmat, sehingga tanpa perlu banyak²penggunaan penyedap rasa, kan udah enak rasanya

    ReplyDelete
  14. Banyak yang masih minim pengetahuan bahwa MSG, micin, itu banyak versi lainnya. Kepintaran produsen dalam memilih "penamaan lain" ini yang sesungguhnya menjebak.

    Saya sepakat dengan Mbak Maria, menggunakan MSG dalam porsi yang pas itu gapapa. Belum ada penelitian sahih tentang kebodohan yang diakibatkan oleh MSG. Yang penting kita tahu batasan-batasannya aja. Seperti kata pepatah, gunakan dan nikmati sesuatu sesuai kadarnya dan tidak berlebihan. Itu aja yang selalu saya ingat sih.

    ReplyDelete
  15. Aku tidak anti pada MSG. Tapi tidak meminta bila makanan yang kumakan kurang sedap. Misal, sedang makan bakso di luar nih. Rasanya tidak seenak bakso yang kumakan di warung sebelah (yg pakai micin). Nah, apakah aku bakal minta kasih micin? Enggak. Biasanya kutambah kecap, saos, dan sambal. nanti rasanya akan berubah lebih sedap dari sebelumnya. Misalkan sudah dikasih micin pun, aku ga akan protes. Jadi begitu sikapku pada micin hihi

    ReplyDelete
  16. Hoo baru tau mbak ternyata konsumsi micin (dengan catatan sewajar dan secukupnya) itu aman-aman aja. Selama ini keluargaku anti bgt sama micin (sejak berita2 kalo msg itu bahaya banget)

    ReplyDelete
  17. aku klo masak pakai kaldu jamur ambu
    klo pas anak anak mpasi, aku bikin kaldu sendiri

    ReplyDelete
  18. Mbaaa makasih banget nih, nah aku tuh di rumah nggak pake gitu-gituan.
    Mbak iparku yang sering make micin sama makmer, pake kaldu hehehe jadi gi mana dong. Katanya ada aja yang kurang kalo nggak pake itu. Aku akhrinya manut ikut yang kaldu.

    ReplyDelete
  19. Hampir Samalah ya keknya Kaldu Jamur sama Micin,
    Tapi masalah Kaldu Jamur disini keknya belum banyak dipakek ๐Ÿคฃ

    ReplyDelete
  20. Ambu top markotop nih analisisnya!
    Kaldu jamur hanya akal-akalan penjual, komposisinya kurang lebih sama, terdapat MSG dan garam. Dengan cara ini penjual bisa menetapkan harga lebih tinggi.

    Well noted!

    ReplyDelete
  21. Ambuuu, aku sudah merasakan semuanya Ambuu, boh vetsin, kaldu jamur dan bumbu penyedap lainnya. Memang aduhai rasanya bikin sedaaap. Tinggal pinter2 kita aja, jangan ampe kebanyakan pakenyaa yaaa AMbuu.
    Apalagi kalo cuanki/ baso pake peciin, hahahaa nikmaat.

    Kalo sekarang aku cukup pake penyedap rasa aja, menyesuaikan saja.

    ReplyDelete
  22. micin di mana2 ... yg penting literasinya ditingkatin kali ya. banyak baca, jgn ngandelin rumor.

    ReplyDelete
  23. Saya dulu pengguna kaldu jamur Mba, tapi belum ada kandungan MSGnya. Nah, entah kenapa kok sekarang ada MSGnya. Jadinya saya udah nggak pakai juga. Kalau mau pakai kaldu jamur yang beneran tanpa MSG bisa coba yang merk Royco. Bungkusnya hijau, dan bener² gak ada MSGnya.

    ReplyDelete
  24. Segala sesuatu yang berlebih emang tydak bagus ya Ambu apapun itu kalau digunakan secukupnya ya aman2 saja toh asal muaasal dari bahan makanan juga hanya saja diproses secara pabrikan dan diberi zat ekstrak kimia tertentu hehehe

    ReplyDelete
  25. MSG memang ga berbahaya bagi tubuh, kecuali kita konsumsi terlalu banyak, ya mirip dengan garam, harus ada porsi yang pas.. Aku tetep pakai kaldu jamur maupun micin, sesuai takaran, dan ga banyak-banyak

    ReplyDelete
  26. Iya ya Ambu. Rasanya eksplorasi rasa akhirnya jadi kurang berani alih-alih sudah terlanjur terbiasa oleh keberadaan micin.

    Termasuk makib naik daunnya si kaldu jamur ini.

    Saus tiram juga termasuk micin kan ya Ambu. Rasanya sebagai yang mengolah masakan di rumah perlu jeli mengatur takaran bumbu.

    ReplyDelete
  27. saya tim pengguna ebi nih ambu. Sepakat sih, banyak lho yang bikin rasa jadi umami alias gurih, cuma karena bnyk yg pakai jadi malah sayang juga ya produk umami lokal malah kurang dikenal yaa. tahunya petis itu ya buat olahan ikan aja, padahal bisa bikin gurih masakan juga ya

    ReplyDelete
  28. Mantab bgt tulisannya Bu. Aku ga berasa bacanya lho, tnyata 1500 kata. Tulisan ini berbobot dan bermanfaat bgt soalnya hehe. Aku biasanya cepet bosen kalo baca yg terlalu panjang. Btw, thanks for sharing bu.

    ReplyDelete
  29. Aku liatnya malah kaldu jamur ini komposisi lebih banyak garamnya. Kudu ati2 sih emang pemakaiannya

    ReplyDelete
  30. saya juga pengguna royco , ambu. sama kita. Kasian konsumen yang tidak jeli membaca komposisi , disangka jamur ternyata msg juga. mungkin beberapa kaldu jamur yg organik benar adanya yah yang dijual di toko2 organink

    ReplyDelete
  31. Pernah salah presepsi juga dengan kaldu jamur. Pas baca-baca, eh sama aja mengandung penguat rasa. Baca ini jadi makin aware nih mengenai segala hal tentang penyedap rasa ini!

    ReplyDelete
  32. Wah, ini bacaan yang renyah deh. Saya kenal kaldu jamur ini juga sejak awal2 beredar itu. Tapi ya lumayan agak mahal dikit ya jika dibanding micin biasanya. hehehe

    ReplyDelete
  33. kalau saya dulu termasuk kekeuh masak nggak pakai micin atau kaldu-kalduan. tapi kenyataannya masakan saya nggak pernah enak kalau cuma pakai gula dan garam. trus kan baca-baca di internet kalau kaldu jamur itu nggak ada msg-nya akhirnya belilah dan cocok. tapi belakangan saya sadara kalau kaldu jamur yang ada di pasaran itu ya micin juga. hihi. berhubung sudah makai itu duluan jadi ya lanjut aja terus

    ReplyDelete
  34. Dulu juga kupikir kaldu jamur itu aman, ternyata tetep ada MSGnya hihi
    Akhirnya baca-baca dari google tau kalau sama aja. Menurutku yang aman ngerebus kaldu sendiri ya bu

    ReplyDelete