Belajar dari Atta Halilintar, Milyader yang Gak Lulus SMA

     
maria g soemitro.com

Belajar dari Atta Halilintar, Milyader yang Gak Lulus SMA

“Why always me?” 

Teriak Atta Halilintar atas kenyinyiran seorang influencer padanya. Sebulan lalu, mungkin saya akan ikut nyinyir melihat Atta yang memanjakan istrinya, Aurel, dengan pesawat pribadi. 

Tapi tidak, setelah kebetulan saya mengikuti perjalanan hidup Atta Halilintar di channel YouTube Helmi Yahya, sang zero to hero yang tak henti mengukir prestasi. Paska diberhentikan dengan hormat sebagai Direktur utama TVRI, Helmi aktif membuat konten menarik untuk channel YouTube-nya.

Ternyata Helmi “kalah” prestasi dibanding Atta. Helmi sukses setelah kuliah di STAN, University of Miami, dan berkarir di dunia hiburan, khususnya  televisi yang mengantarnya menjadi Raja Kuis.

Sedangkan Atta nggak lulus SMA. Dia belajar secara otodidak. Atta menaklukan SEO blog, algoritma media sosial khususnya Instagram dan YouTube, hingga berhasil menjadi YouTuber nomor 1 di Asia. 

Bandingkan dengan Deddy Corbuzier, sosok yang sudah wara wiri di layar kaca, yang pastinya start dengan nama beken, hanya mempunyai 14,2 juta subscriber (per 26 April 2021)

Daftar Isi:

  • Semakin Tinggi Pohon, Semakin Kencang Angin Menerpa.
  • Atta Halilintar, Anak Ajaib yang Nggak Lulus SMA
  • Menjadi YouTuber, Tidak Semudah Membalikkan Tangan
  • Sukses Hanya Datang Pada Mereka yang Siap

Mereka yang tak mengenyam pendidikan dari jalur akademis harus berjuang berlipat ganda. Mereka harus mendalami  ilmu tanpa mentor, tersesat, tertatih-tatih sampai akhirnya menemukan pintu jawaban. Pintu menuju jalan yang sedang mereka tempuh.

Konon, Atta Halilintar hanya tidur 3-4 jam/hari. Kala menetapkan tujuan, Atta berjuang untuk meraihnya. Guru dan dosennya adalah ayah, kawan, kerabat, dan pendaman ilmu di internet.

Jadi, sewaktu Atta berhasil menaklukan semua rintangan, dan diapresiasi Presiden Jokowi dengan datang sebagai saksi pernikahannya, jangan ada yang nyinyir. Sirik tanda tak mampu. 😀😀
Baca juga:

Menjadi Goblok Dahulu, Pintar Kemudian

Kabut Peradaban dan 3 Tips Berkomunikasi dengan Generasi Z

  
maria-g-soemitro.com
sumber: instagram.com/@attahalilintar

Atta Halilintar, Anak Ajaib yang Nggak Lulus SMA

Sukses setelah berhasil menyelesaikan pendidikan formal sih biasa, atau malah sudah seharusnya. Nggak banyak lulusan sarjana, hanya sekitar 11 % dari total angkatan kerja. Kalah jauh dari Malaysia yang mencapai 22 %. (sumber: Kompas.com)

Karena itu, saya angkat topi pada Ibu Susi Pudjiastuti yang nggak lulus SMA, tapi mempunyai kemampuan setara sarjana doctoral, dan berhasil mengemban tugas sebagai menteri Perikanan dan Kelautan.

Sosok berhasil lainnya adalah almarhum Ajip Rosidi. Tak lulus SMA, suami artis Nani Wijaya ini menjadi dosen luar biasa di Universitas Pajajaran Bandung, guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku, Tenri Daigaku, Kyoto Sangyo Daigaku serta founder dan ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.

Demikian juga dengan Atta Halilintar. Terlahir dengan nama lengkap Muhammad Attamimi Halilintar, pemuda kelahiran Dumai, Riau, 20 November 1994 ini tak lulus SMA, tapi menjadi milyader atas keberhasilannya mendulang penghasilan sebagai YouTuber, influencer serta sederet perusahaan yang bergerak di bidang seni, fashion dan makanan.

Sukses yang tak diraih dengan mudah. Atta kecil harus berjualan makanan agar bisa jajan seperti teman-temannya. Menjelang SMP, dia mulai berbisnis dengan menjual kartu perdana. 

Setelah mulai mengetahui lika liku internet, Atta mencoba usaha jual beli mobil bekas dan menjual ponsel Cina. Atta berhasil, bahkan toko pertamanya di Lebak Bulus Jakarta berhasil meraup keuntungan 1 milyar rupiah.

Bagaimana anak sekolah lanjutan pertama (baru berusia belasan tahun), mampu menggaet pembeli dan membuat mereka percaya? Kegigihan Atta menaklukan dunia maya adalah jawabannya. Dunia digital marketing yang baru sekarang dilirik banyak orang, termasuk pemerintah, telah sejak lama dikuasai Atta.

Tak heran, sewaktu Atta memutuskan menjadi content creator untuk media sosialnya, dia sudah bisa menetapkan segmen audiens-nya, dan fokus. Konten YouTubenya nampak receh seperti: grebek rumah seleb, prank, musik, dan kegiatan sehari-hari.

Tapi terbukti kontennya disukai. Penonton terhibur. Ini mirip konten-konten televisi nasional yang dibanjiri penonton karena mereka butuh hiburan. Bedanya, konten Atta bisa ditonton setiap waktu.

maria g soemitro.com
Atta-Aurel yang menghipnotis, masalah hilang hanya dengan melihat video mereka 😊😊

 

Termasuk acara pra wedding, saat pernikahan, dan paska wedding (honey moon), setiap video ditonton jutaan orang. 

Mungkin banyak orang akan menyepelekan konten Atta. Namun cobalah bertanya pada diri, ketika sedang bete, konten apakah yang akan dipilih? Konten kontroversi vaksin? Konten olok-olok pada Anies Baswedan? Atau konten orang mengaku ulama yang dengan kejam menabrak anjing?

Duh, bakalan tambah mumet! Mending nonton Atta yang sedang memanjakan istrinya dengan private jet, atau tempat tidur bertabur mawar, atau kala sejoli ini sedang bermesraan. Bakal ikut tersenyum deh. Sesuai motto Atta:

Kebaikan itu menular
    
maria-g-soemitro.com
sumber; instagram.com/@attahalilintar

Menjadi YouTuber, Tak Semudah Membalikkan Tangan

“Mending jadi YouTuber aja Anies ……”

Begitu kata seorang influencer lainnya di channel Cokro TV. Kalimat mengejek Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan ini sontak membuat respect saya hilang.

Bukan, bukan respect pada Bapak Anies Baswedan. Kritik pada pejabat sih biasalah, maklum nggak ada kebijakan yang bisa memuaskan semua orang. 

Respect saya pada sang influencer lah yang hilang. Sebel! Orang ini asbun, nggak tau susahnya jadi YouTuber. Mungkin karena dia keburu beken setelah sering menulis status di facebook dan twitter. Dia tak tahu betapa sulitnya menaklukan algoritma YouTube dan Instagram.

Walau sudah riset ini itu. Dilanjut merancang dan membuat video yang disukai penonton, mengunggahnya, menulis caption menarik, dan seterusnya. Tetap sulit menembus ribuan view, bahkan jutaan view seperti channel milik Atta Halilintar!

Teman-teman blogger pastinya paham akan kesulitan tersebut. Beberapa kali mengiikuti workshop bertopik “sukses menjadi YouTuber”,  ternyata caranya mirip dengan blog. Cuma beda visualisasinya, konten blog harus dibaca, sedangkan YouTube cukup dilihat.

Para seleb rupanya juga salah kaprah. Berbekal nama besar, mereka asal bikin konten. Tidak melakukan riset seperti yang dilakukan Atta. Bisa ditebak hasilnya ngaco. Mulai background yang asal-asalan, obrolan yang muter-muter nggak karuan hingga pemilik channel yang sok asik dengan dirinya.

maria g soemitro
sumber: instagram.com/@attahalilintar

Sukses Hanya Datang pada Mereka yang Siap

Dalam suatu acara televisinya, pemilik Rumah Perubahan, Rhenald Kasali membahas sukses yang diraih Susi Pudjiastuti. Ternyata keberhasilan tidak datang semena-mena. Sukses hanya mendatangi mereka yang siap.

Susi Air misalnya, armada penerbangan yang dimiliki perempuan enerjik berusia 56 tahun ini semula ditujukan untuk mengangkut ikan, agar tetap fresh saat sampai di tangan konsumen. Bencana tsunami mengubah kisah Susi Air. Kini Susi Air melayani penumpang yang akan bepergian ke pelosok Indonesia seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur.

Demikian juga dengan Atta Halilintar. Internet cepat, serta murah meriah datang sewaktu Atta telah membangun channel dengan susah payah. Tercatat 899 video telah diunggah per tanggal 24 Juni 2020. Setiap video mendapat view ratusan ribu sampai puluhan juta. (sumber: Warta Ekonomi.co.id)

Nampak receh, Atta rupanya menyasar mayoritas audiens berusia 25-34 tahun, disusul pengguna berumur 13-17 tahun. Karena itu Atta cukup berhati-hati membuat konten.
Konten Atta sangat sopan. Bandingkan dengan konten CarryMinati  dari India yang sering mengumbar perempuan berpenampilan seronok.

Bisa ditebak kan mengapa channel CarryMinati berhasil menyusul kedudukan Atta, menjadi YouTuber dengan subscribers terbanyak di dunia

Per hari ini, 26 April 2021, jumlah subscriber CarryMinati dari 29.7 juta subscribers. Atta menyusul dibawahnya dengan 27,4 juta subscriber.

Karena itu saya nggak setuju dengan pendapat orang yang nyinyir bilang bahwa Atta sedang memamerkan kemewahan, dan kawatir hal tersebut akan menimbulkan kecemburuan sosial. Mereka juga takut banyak anak akan bercita-cita sebagai YouTuber agar kaya raya seperti Atta Halilintar.

Ya gapapa dong menjadi YouTuber. Terbukti menjadi YouTuber itu nggak mudah. .Nggak asal mangap mangap di depan kamera. Setiap profesi membutuhkan perjuangan untuk berhasil. 

Seperti yang saya baca di salah satu unggahan Atta Halilintar:

Tidak ada sesuatu yang datang sendiri (Alshad Ahmad)


Baca juga:

Tetanggaku Ridwan Kamil

Pipis Sembarangan? Bisa Kena Denda Rp 20 Juta atau Dibui 60 Hari lho! 

sumber gambar cover: instagram.com/@attahalilintar

19 comments

  1. Setuju mba..Aku juga lebih suka menilai orang dari hasil kerjanya ketimbang memberi atau melabeli negatif, perjuangan Atta agar menjadi youtuber nomor Wahid memang gak main-main ya..salut sama perjuangannya

    ReplyDelete
  2. Masya Allah,,sosok muda ini inspiratif bagi banyak orang ya..

    ReplyDelete
  3. Inspirasi kreatifitas pemuda Indonesia dengan kemampuan digital

    ReplyDelete
  4. Memang betul ya, tidak harus sekolah tinggi untuk menjadi sukses. Yg penting memiliki skill dan tekun dalam berproses.

    ReplyDelete
  5. Di luar segala kontroversi aku menjadikan Atta contoh anak muda yang sukses di usia muda lewat kerja kerasnya, bagi anak-anakku. Meski mesti hati-hati membuka diskusi terkait Atta dan keluarganya bukan mengedepankan sisi akademis, agar enggak mentah-mentah ditelan bahwa enggak perlu yang namanya sekolah. Tapi kreativitasnya beneran patut dipuji, maka jika negara mengapresiasi wajar adanya!

    ReplyDelete
  6. Di balik kesuksesan Atta sebagai youtubers tentu saja ada perjuangan berdarah-darah di belakangnya. Kita mah tahunya seneng aja bisa lihat Milyader, padahal gak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjadi orang sukses. Saya percaya sih kalo kesuksesan tidak bisa hanya dipandang dari gelar akademik. Atta yg gk lulus SMA namun bisa memanfaatkan peluang yang ada dengan baik. Kita juga bisa belajar dari Atta dan hikmah yang dicontohkan. Thanks kak artikelnya, sudah kubaca ya....

    ReplyDelete
  7. Betul sekali Ambu... Keberhasilan datang pada mereka yang siap. Kalau mau berhasil, maka pantaskan dulu diri ini. Dengan apa? Tentu dengan usaha yang extraordinary 😉

    ReplyDelete
  8. Kl liat pribadi Atta, saya inget temen saya yang lulusan SMP langsung nikah. Ngelarin SMA-nya dengan ngambil paket C dan itu pun setelah buntutnya ada 3. Saya dalem hati ngebatin, "Coba dulu aku juga begitu ya." Anti mainstream banget gitu lo. Sukses selalu lah buat Atta, semoga bisa menjadi contoh bagi para pemuda Indonesia. Kadang suka prihatin ngeliat para pemuda yang merasa lemah, insecure padahal secara fisik pun mereka sempurna.

    ReplyDelete
  9. Nyinyir tanda tak mampu.

    Begitulah orang mbak, nggak mau lihat gimana jatuh bangunnya merintis, tahunya hanya saat sukses aja.

    ReplyDelete
  10. Benerrrr... secara teori mudah dipelajari tapi giliran praktek susah banget buat naklukin algoritma google, instagram, youtube....

    ReplyDelete
  11. Dunia hiburan memang menjadi lahan yang luas terutama untuk mereka yang tidak bisa mengenyam dunia akademis. Karena disana, kreativitas dan kecerdikan mengelola isu "how to entertain" lebih dibutuhkan ketimbang kepintaran dunia buku.

    Kalau saya sih memandangnya sebagai sebuah nasib. Ketentuan yang selain usaha pribadi ada campur tangan Allah di sana. Karena dunia ini butuh orang-orang dalam berbagai bidang. Ada yang jadi dosen, jadi buruh, jadi manager, dll. Biar hidup kita gak garing hahahaha.

    ReplyDelete
  12. Bekerja sebagai konten kreator memang nggak sesimple yang diomongkan orang ya Ambu, kadang malah disepelekan. Padahal butuh efforts yang luar biasa untuk mengerjakannya.

    ReplyDelete
  13. Aku pernah ikutan acara di Sragen, JaTeng yg menghadirkan Atta Halilintar sebagai bintang tamu
    Wohoooo, antusiasme para peserta gokiill banget!
    Pas Atta naik panggung, langsung pecaaaahhhh

    ReplyDelete
  14. netizen harus belajar melihat dari berbagai sudut pandang sebelum julid pada keberhasilan seseorang yg terpampang di dunia maya, seperti sosok Atta ini ya, Ambu. Sebab, selalu ada cerita, kerja keras, behind the scenes yg tak mereka ketahuinya.
    Satu hal, sepertinya keberhasilan Atta mungkin tak lepas dari dasar2 kehidupan yg ditanamkan kedua orangtuanya.

    ReplyDelete
  15. Salut buat Atta. Sama seperti Bu Susi yang juga gak menamatkan pendidikan formalnya namun berhasil menjadi orang sukses

    ReplyDelete
  16. Asiiiaaapp emang keren si atta. Jaman dulu prnh launching buku gen halilintar aku sempet lihat ibunya atta. Tipe tegas tapi penyayang. Krn ibundanya jg atta bisa kyk skrng.

    ReplyDelete
  17. Kesuksesan bukan berasal dari alumni mana kita berasal ya ambu, bahkan Lim Sioe Liong - pemilik BCA saja juga hanya lulusan Sekolah Rakyat

    Guru terbaik adalah pengalaman!

    ReplyDelete
  18. Saya setuju banget dengan tulisan ini.

    ReplyDelete
  19. Yang sekolahnya berantakan tetap bisa sukses, jadi apa sebaiknya nggak usah ngoyo aja ya sekolahnya? Well, yang sekolahnya ngaco trus hidupnya amburadul juga banyak sih.

    Jadi rasanya sukses tidak bisa dilihat dari seberapa kacau balaunya seseorang dari sisi akademis, melainkan bagaimana dia menjalani hidupnya, usahanya, kerja keras dan ridho-Nya.

    Pendidikan tinggi ga jamin kesuksesan. Ga mesti juga kalau DO trus bisa sukses. Apa yang kita lakukan jauh lebih penting dari tingkat pendidikan kita.

    Bukan begitu mbak?

    ReplyDelete