Menjadi Goblok Dahulu, Pintar Kemudian

 
sumber: freepik.com
Menjadi Goblok Dahulu, Pintar Kemudian

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti goblok/gob·lok/ adalah bodoh sekali. Dalam topik kali ini, menjadi goblok saat belajar, bisa dianalogikan dengan  “mengosongkan gelas” otak kita menjadi kosong, tanpa isi setetespun. Agar bisa menyerap ilmu dengan maksimal.

Andai tidak dikosongkan, katakanlah gelas telah terisi separuhnya,  maka saat ditambah isinya akan meluber.  Sayang kan?

Pernah mengalami?

Saya pernah. Tahun lalu, saat mengikuti seminar mengenai persampahan, dunia yang saya geluti sejak tahun 2008. Saya tertarik karena narasumbernya seorang inovator, juga ada founder sebuah yayasan yang cukup terkenal.

Ternyata isi materi yang disampaikan bertolak belakang dengan prinsip sampah yang saya pahami. Dengan terperinci sang inovator menjelaskan temuannya, yaitu plastik berbahan singkong. Dengan demonstratif dia menunjukkan bahwa plastik tersebut bisa dikonsumsi.

Sang founder yayasan manggut-manggut mendengarnya. Dia menimpali bahwa dengan ditemukannya plastik berbahan singkong, maka tak ada lagi warga Indonesia yang berduyun-duyun menjadi buruh migran. Prospek usaha bahan baku plastik tersedia.

Mereka melupakan:

  1. Harga keekonomian plastik berbahan singkong tidak bisa mengalahkan plastik berbahan residu (sisa proses) bahan bakar minyak bumi, yang kini beredar di pasar. Entah harus membuka berapa juta hektar lahan agar bisa mencukupi kebutuhan masyarakat akan plastik.
  2. Singkong merupakan bahan pangan yang menjadi substitusi beras saat paceklik. Bahkan departemen pertanian aktif mengkampanyekan tepung mocaf (modified casava flour) sebagai pengganti tepung terigu. Plastik mau head to head dengan pangan?
  3. Penyebab petani menjadi buruh migran bukanlah jenis tanaman, melainkan kurangnya perhatian pemerintah kebutuhan petani atas akses modal  dan harga jual yang sesuai. Asalkan pemerintah mau memproteksi sektor pertanian, maka Indonesia tidak perlu impor beras lagi.

Perbedaan paham ini membuat saya tidak bersemangat lagi meneruskan seminar. Maunya cepat-cepat pulang dan membuat tulisan sanggahan.

Ternyata saya melakukan kesalahan fatal. Sesampainya di rumah, saat mulai ngedraft, saya merasa zonk! Saya lupa banyak hal, tidak menyimak, sehingga tidak bisa membuat tulisan yang saya harapkan. Isinya berputar-putar. Terpaksa tulisan saya simpan dalam bentuk draft dan terlupakan.

Baca juga: Hari Bumi, Petugas Sampah dan Covid 19

source: freepik.com


Menjadi Goblok di Kelas

Yang dimaksud goblok di kelas tentunya kelas apa saja. Bisa seminar, webinar, talkshow atau hanya berdua dengan narasumber. Selain mengosongkan pikiran, lakukan 5 langkah berikut:

  1. Siapkan kertas dan alat tulis. Catat selengkap mungkin, termasuk quote, rumus atau apapun yang telah kamu ketahui, bahkan jika kamu hafal luar kepala. Ini akan membantu memahami sudut pandang narasumber. Setiap narasumber memiliki sudut pandang yang berbeda.
  2. Fokus dan menyimak seperti seharusnya menerima ilmu pengetahuan baru.
  3. Jika ada waktu untuk bertanya, ajukan pertanyaan seputar topik seminar, jangan merambah kemana-mana. Jawaban narasumber akan memperjelas sudut pandangnya. Jangan dibantah.
  4. Pelajari karakter narasumber. Tidak semua narasumber memiliki jam terbang tinggi, sehingga penjelasannya mungkin membingungkan. Catat atau rekam aja slide materi yang diberikan.
  5. Jangan biarkan kedatangan/kesempatan menemui seorang narasumber berakhir sia-sia. Itulah sebabnya penting banget mengosongkan gelas pikiran hingga titik “goblok” agar menjadi “bodo alewoh” jangan “bodo katotoloyoh” (Bahasa Sunda, artinya di paragraf akhir)
Source : freepik.com

Menjadi Goblok di Lapangan

"Sebelum kamu menggoblokkan orang lain, goblokkan dulu diri sendiri", kata almarhum  Bob Sadino, pengusaha sukses pemilik jaringan usaha Kemfood dan Kemchick.

Bob Sadino mengajarkan agar jangan hanya belajar di kelas dan dari jurnal ilmiah. Di lapangan/ di pinggir jalan bertebaran ilmu. Jutaan atau bahkan triliunan banyaknya.

Pengalaman ini belum lama terjadi. Saat melakukan pendampingan masyarakat Kabupaten Serang, saya bertemu dengan Bapak Lurah yang keukeuh sureukeuh dengan keinginannya.

Dia ingin CSR sebuah BUMN membiayai pembangunan TPS (tempat pembuangan sampah sementara) di lokasi strategis yang telah disepakati bersama Ketua RW dan Ketua RT.

Sedangkan saya mengimbau untuk menerapkan pemilahan sampah. Kasus meledaknya sampah yang menyebabkan longsor dan kematian penduduk Leuwigajah Cimahi, saya jadikan contoh. Toh di kawasan tersebut  telah dibentuk bank sampah.

Saya membeberkan beberapa manfaat memilah sampah. Namun Pak Lurah tetap bergeming, enggan mengubah pendiriannya.

Saya sempat mengomel: “Mampang meungpeung dapat  dana hibah”. Artinya mumpung dapat dana hibah.  Membangun TPS kan butuh dana. Walau dana hibah bisa digunakan untuk pembangunan lainnya.

Usaha saya gagal karena pihak CSR BUMN mengabulkan permohonan Pak Lurah.

Beberapa bulan berikutnya, apa yang yang terjadi?

Warga desa ngamuk, minta TPS dibongkar. “Bau”, kata mereka.

Ya iyalah, TPS dibangun, tapi nggak ada sistem pengangkutan sampah. Seharusnya merancang sistem dulu, baru dibangun fasilitasnya. Selama ini masyarakat membuang sampah di sungai dan di lahan kosong yang jauh dari tempat tinggal mereka.

Membangun TPS di lahan kosong yang biasa dijadikan tempat membuang sampah, bisa jadi pilihan. Daripada  warga  membuang sampah ke sungai yang berakibat banjir. Nggak hanya ke desa lain, juga ke kawasan mereka. Setiap musim hujan SD Negeri setempat selalu diliburkan. Air sungai meluap hingga setinggi 1,5 meter.

Saya selalu menyesali kejadian tersebut. Menyesali tidak arif dalam bertindak, Menyesali telah bersikukuh dengan pilihan pengelolaan sampah yang saya sodorkan. Harusnya saya surut dan lebih mendengar masalah mereka. Tidak menyamaratakan setiap kasus.

Baca juga: Punya Limbah Bungkus Kopi? Yuk, Sulap Jadi Handy Craft!

 

Source: freepik.com

Mengosongkan Gelas, Untuk Diisi Penuh

Bahasa Sunda mengenal 2 peribahasa terkait goblok, yaitu bodo alewoh dan bodo katotoloyoh.

Bodo alewoh = Bodoh tapi mau bertanya.

Bodo katotoloyoh = Bodoh tapi tidak mau bertanya/mendengarkan nasihat orang.

Mengapa harus bersikap goblok/bodo alewoh/mengosongkan pikiran sewaktu menyerap ilmu orang lain? Karena memori manusia terbatas kapasitasnya. Kita tidak bisa membeli hard disk eksternal untuk menambahnya. Emangnya gadget? 😀😀

Manusia dengan kapasitas memori yang terbatas, sesuai sunnatulah tak berhenti belajar. Mereka memiliki rasa ingin tahu, mulai dari yang remeh temeh seperti gosip seleb terbaru, hingga pengetahuan dan pengalaman baru.

Sayangnya, manusia dengan level pendidikan tertentu kerap bersikap sombong kala bertemu dengan lawan bicara yang tingkat pendidikannya lebih rendah. Dia merasa stratanya lebih tinggi. Dia melupakan bahwa orang yang tidak lulus sekolah pun memiliki ilmu dan pengalaman yang tidak dia miliki.

Contoh kasus: Seorang tukang becak yang tidak lulus SD, memiliki pengetahuan tentang pelosok kota. Dia juga mempunyai wawasan seputar sosial, budaya, dan ekonomi di seputar tempat tinggalnya. Pengetahuan yang tidak dimiliki setiap orang, bahkan guru besar universitas ternama.

Jadi, saat bertemu dengan sang tukang becak, penting banget menjadi goblok atau mengosongkan pikiran agar dapat menyerap/mendapat transferan ilmu sebanyak mungkin. Jangan takut berdampak negatif, sebab setiap orang memiliki anti virus/akal yang otomatis akan menyaring semua data yang masuk.

Demikian juga saat melakukan komunikasi dua arah, masing-masing harus menggoblokkan diri/sama-sama mengosongkan gelas. Agar kedua belah pihak dapat menampung ilmu semaksimal mungkin.

Karena seperti dikutip dalam buku “Belajar Goblok dari Bob Sadino” karya Dodi Mawardi,

Apabila gelas kita selalu terisi penuh, maka sebenarnya kita sedang berlaku goblok dalam arti sesungguhnya karena tidak mau menerima ilmu baru dari orang lain.

Jadi:

“Beranikah kita menjadi goblok dan mengosongkan gelas?”

Baca juga: Katanya Handy Craft Daur Ulang, Kok Bahan Bakunya Masih Baru?

 

17 comments

  1. Insight baru nih, kita harus selalu siap mengosongkan "gelas" Kita, karena kadang Kita suka lupa kadang jumawa. Padahal ilmu itu luas banget dan bisa belajar kapan Saja. Jangan sampai penuh terus gelasnya

    ReplyDelete
  2. Bu Maria sangat inspiratif ulasannya. Setuju Bu kita kudu bodo alewoh saat ada yang kurang sepaham dan tidak generalisisr sudut pandamg terhadap sesuatu :)
    Karena ada strategi lain dari yang tak satu suara dengan kita.

    ReplyDelete
  3. saya juga suka quote nya bob sadino yang mengatakan orang goblok itu ga banyak mikir yang penting melangkah, Orang pintar kebanyakan mikir akibatnya tidak pernah melangkah.
    heheheh yang penting banyak belajar dan jangan puas aja ya bu

    ReplyDelete
  4. Kalau saya kahirnya memilih Bodo Alewoh bu...
    Kadang klo udah merasa penuh emang jadinya ga ada yang nyangkut tumpah2 padahal bisa jadi ada saja hal yg belum kita tahu dan bisa kita manfaatkan dr infoa tau ilmu yg kita dapatkan tersebut

    ReplyDelete
  5. Seneng banget yah kalo semua orang melakukan hal yg sama ini, berani mengosongkan gelas nya utk mendapatkan sesuatu yang baru. Sayang nya masih aja ketemu dgn org2 yg gk mau gelas nya kosong ;)

    ReplyDelete
  6. Apik Bu..inspiring saya untuk tidak lupa introspeksi ..thank God and thank you :)

    ReplyDelete
  7. Ya makanya ada istilah, "1 telunjuk menunjuk orang, tetapi 4 jari lain menunjuk diri sendiri". Makanya memang sebaiknya hindari langsung menggoblokkan orang lain. Biar kita siap mengosongkan gelas

    ReplyDelete
  8. wah inspiratif bgt tulisannya mba! aku termasuk yang siap untuk" mengosongkan "gelas" kita, yang tak jarang sampai lupa kalau kita sedang jumawa.

    ReplyDelete
  9. Luang mah ti papada urang. Siapapun, pasti memiliki kelebihan, disampingnya ada kekurangan. Mengosongkan gelas, menurut saya semudah jadi pendengar yang baik. Sesimpel itu saja sih sebenarnya. Jadi bukan berarti lantas kita anggap sisi sendiri lebih bodoh, ya

    ReplyDelete
  10. Thank you for sharing, terkadang kita suka sok pintar kalau berhadapan dengan orang yang beda visi atau misi, padahal justru dengan bersikap bego/goblok itu , banyak ilmu yang akan kita dapat dari sudut pandang lain ya

    ReplyDelete
  11. Setujuuu, senantiasa "mengosongkan gelas", dan tidak pernah puas akan ilmu yang sudah kita (rasa) punya. Sejatinya, hidup adalah pembelajaran tiada akhir ya Bu. Justru semakin diasah semakin tajam otak kita. Masya Allah :)

    ReplyDelete
  12. Saya sering sekali mendey istilah mengosongkan gelas sebelum belajar Sikap ini ada benarnya setidaknya kita perlu merendahkan diri untuk belajar sehingga pengertian atau ilmu yang diperoleh akan semakin luas

    ReplyDelete
  13. Ini jadi ilmu yang susah susah gampang. Mengosongkan gelas untuk diisi penuh biar kita gak keduluan sombong. Semoga kita semua bisa lebih rendah hati ya kak.

    ReplyDelete
  14. Ah iya bener banget Ambu, sebelum menuntut ilmu kita harus mengosongkan gelas dulu ya meski tetap harus dicerna apa apa yang disampaikan.

    ReplyDelete
  15. Mbak terima kasih banyak sudah diingatkan yah. Kadang kita suka lupa bahwa ada banyak hal yang belum banyak kita tahu tapi kita berlaga sok tahu, menghakimi orang layaknya kita yang paling mengerti segalanya. Semoga kita selalu ingat yah mbak :)

    ReplyDelete
  16. Masya Allah Ambu. Rasanya Acha diingatkan kembali bahwa ilmu belajar itu tentang selalu menyiapkan diri menjadi spons dulu. Mengosongkan gelas. Suka sekali tulisan Ambu ini. Terima kasih banyak.

    ReplyDelete
  17. Teruslah merasa goblok,
    karna dengan begitu kita akan terus termotivasi untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya supaya gak goblok.
    Tapi kalau emang udah nyaman sama kegoblogan ya jangan salahin kalau nanti goblog beneran wkkwk

    ReplyDelete