Sepeda Lipat dan 10 Tips Bersepeda Saat New Normal

 

sumber pegipegi.com

Delapan  bulan di rumah aja, apa yang terjadi?

Tetap sehat? Atau tambah gemuk seperti yang saya alami?

Sejak Maret,  awal pandemi Covid 19 diumumkan presiden Jokowi, nyaris waktu saya habis di depan laptop. Menghabiskan waktu untuk mengejar target tulisan dan ngoprek blog ini, agar nyaman dikunjungi.

Selebihnya, memuaskan diri mempraktekan resep masakan yang selama ini tersimpan rapi dalam file. Hasil masakan difoto karena  “rencananya” untuk bahan postingan blog. Sesudah foto-memfoto dilanjutkan lahap-melahap hasil eksperimen. ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€ Jadi nggak heran tubuh pun menggembung dari hari ke hari.๐Ÿ˜€๐Ÿ˜€

Padahal untuk sehat, American Heart Association menganjurkan aktivitas fisik 150 menit (intensitas sedang) – 75 menit (intensitas tinggi) di setiap minggu. Jika tidak, kesehatan akan terganggu, mulai dari stres, menurunnya sistem kekebalan tubuh, penambahan berat badan, sampai berkurangnya kualitas tidur.

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara menuju sehat. Nggak usah cari alasan, nggak olah raga gara-gara PSBB atau physical distancing. Gunakan strategi agar bisa berolahraga dengan tetap mematuhi protokol Covid 19.

Salah satunya dengan bersepeda, sesuai topik yang digelar Direktorat Promkes dan PM Kemenkes RI  pada Sabtu, 7 November 2020, yaitu: "Yuk Sepedaan Sehat dan Aman di Era Adaptasi Kebiasaan Baru".

Seminar dengan narasumber komunitas bersepeda ini adalah:

  • Dr. Riskiyana S. Putra, M. Kes, Direktur Promosi kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
  • Dr. Sonny Harry B. Harmadi. Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid 19
  • Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work Indonesia
  • Azwar Hadi Kusuma, Founder Indonesia Folding Bike Community

Kebayang kan betapa bermanfaat dan inspiratif seminar ini. Salah satunya anjuran memilih sepeda lipat untuk mereka yang ingin mulai ngegowes tapi bingung memilih sepeda.

sumber: freepik.com

Sepeda Lipat Sebagai Solusi Bagi Pemula

“Pilih saja sepeda lipat,” kata Poetoet Soedarjanto dan Azwar Hadi Kusuma, bersepakat.

Menarik ya? Pemula seperti saya, yang pernah trauma bersepeda, kini punya alternatif menggunakan jenis sepeda yang dapat dilipat, yang punya keunggulan:

  • Praktis. Hanya seukuran koper, sepeda lipat kecil dan ringan sehingga bisa dibawa-bawa dengan mudah. Nggak bingung cari tempat parkir yang rawan pencurian.
  • Hemat tempat. Tidak hanya cocok banget untuk anak kost atau mereka yang tinggal di apartemen sempit. Sepeda lipat yang bisa disimpan di atas/dalam lemari, kolong meja, membuat ruangan tampak rapi.
  • Aman dan nyaman. Tak perlu skill khusus dan otot kuat untuk memakai sepeda lipat. Karena rodanya kecil dan posisi tempat duduk yang relatif lebih rendah dan bisa diatur ketinggiannya.
  • Akselerasi cepat. Berkat bobot yang ringan dan ban yang kecil, akselerasi sepeda lipat mengalahkan sepeda normal. Memudahkan penggunanya melalui lalu lintas yang ramai dan macet, serta tidak menghabiskan banyak tenaga untuk berhenti dan mulai lagi.
  • Lebih tahan banting. Sepeda lipat dirancang untuk tahan lama karena sering dibuka – lipat serta angkat-turunkan. Komponen yang digunakan sepeda lipat juga lebih simple tapi efisien. Desain dan struktur lebih kuat dan kokoh dibanding sepeda biasa, sebab walau bentuknya kecil tapi harus mampu menahan beban pesepeda ukuran normal.

Selain semua kelebihan, jangan dilupakan bahwa sepeda lipat hanya untuk jalan rata yang beraspal. Jadi, jangan dipakai untuk medan berat, jalan berlubang serta tidak rata seperti polisi tidur.

Cara perawatannyapun berbeda dengan sepeda biasa. Cukup disiram perlahan dan bersihkan dengan lap.

sumber: freepik.com

10 Tips Bersepeda Kala New Normal/Adaptasi Kebiasaan Baru

Ok, sepedanya sudah siap menemani berolah raga di saat new normal/adaptasi kebiasaan baru. Agar tubuh sehat,  imunitas meningkat dan virus corona tidak berani mendekat.

Yang dibutuhkan kemudian adalah pemahaman tentang bersepeda sesuai protokol pandemi Covid 19 sebagai berikut:

  1. Rencanakan rute gowes yang aman dan ngga terlalu ramai. Beberapa destinasi gowes bisa dipilih saat adaptasi kebiasaan baru, seperti kawasan pinggiran kota. Perhatikan jalan-jalan yang harus dilalui, hindari kawasan pasar serta keramaian lainnya.
  2. Atur waktu bersepeda. Jika dulu kapankun bisa bersepeda, saat new normal sebaiknya pilih waktu yang lengang seperti pagi hari.
  3. Gunakan pakaian yang lebih tertutup. Simpan dulu celana pendek dan kaus kutung. Pilih kaus dan celana panjang. Gunakan juga kaus kaki dan sepatu tertutup untuk menghindari kemungkinan terkena droplet.
  4. Siapkan masker cadangan, hand sanitizer, air minum menggunakan botol berpenutup. Selain menggunakan masker, siapkan cadangannya karena selalu ada kemungkinan masker yang dipakai menjadi basah. Hand sanitizer harus selalu dibawa agar setiap saat bisa membersihkan tangan. Serta bawa sendiri air minum dalam tumbler rapat, supaya tidak harus berhenti untuk membeli air minum.
  5. Usahakan gowes mandiri atau kelompok kecil maksimal 5 orang. Hanya gowes bareng keluarga memang menjadi pilihan terbaik. Andai harus bareng anggota komunitas, pilih yang benar-benar yakin terbebas dari potensi Covid 19 dan OTG (orang tanpa gejala).
  6. Menjaga jarak depan belakang maupun samping. Physical distancing harus diterapkan selama bersepeda.
  7. Hindari sosialisasi atau istirahat makan minum bareng. Saat istirahat sebaiknya hindari kerumunan orang, lebih baik makan/minum sendiri atau bareng keluarga.
  8. Usai bersepeda, hindari dulu kontak fisik dengan orang rumah. Segera lepas masker, kacamata, sarung tangan, sepatu, helm, topi di luar rumah.
  9. Semprot peralatan bersepeda dengan  disinfektan. Jangan membawa  helm, kacamata, sepatu, dan sepeda ke dalam rumah sebelum disemprot desinfektan.
  10. Segera mandi dan ganti baju. Setelah membersihkan peralatan bersepeda, segera mandi dan ganti baju sebelum bertemu dengan anggota rumah.

sumber: freepik.com

5 Peraturan Standar Bersepeda yang Harus Ditaati

Selain 10 tips bersepeda kala adaptasi kebiasaan baru, jangan diabaikan 5 peraturan standar ini.

  • Pastikan kondisi tubuh sehat dan bugar. Tidak hanya kala pandemi, pastikan tubuh sehat dan bugar sebelum melakukan gowes. Karena olah raga dilakukan di luar ruangan, sehingga berpotensi mengalami kecelakaan tunggal/kecelakaan lalu lintas.
  • Gunakan helm, kacamata, masker. Suka/tidak, melakukan olah raga bersepeda berarti siap menghirup polutan, mengalami kecelakaan serta terkena debu. Sebaiknya pilih helm, kaca mata dan masker yang cocok untuk pesepeda.
  • Siapkan perlengkapan keamanan sepeda,. Periksa sebelum memulai gowes. Lebih baik batalkan jika ditemukan kondisi yang mencurigakan.
  • Lakukan olahraga intensitas ringan sampai sedang. Sering dilupakan bahwa gowes adalah olah raga yang memerlukan kesiapan tubuh. Jadi lakukan pemanasan sebelum mulai bersepeda.
  • Patuhi rambu-rambu lalulintas. Pesepeda yang melakukan gowes harus tunduk pada Permenhub  Nomor 59 Tahun 2020.

sumber: freepik.com

Peraturan Keselamatan Bersepeda di Jalan (Permenhub Nomor 59 Tahun 2020)

Disahkan pada 14 Agustus 2020  oleh Menteri Perhubungan Republik Indonesia, banyak yang belum mengetahui keberadaan Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 59 Tahun 2020 yang berlaku resmi 25 Agustus 2020.

Sedangkan yang mengetahui bereaksi pro dan kontra terhadap peraturan tentang keselamatan bersepeda dan pesepeda di jalan ini. Padahal seharusnya diapresiasi positif karena nggak banyak regulasi spesifik, seperti untuk sepeda. Beda halnya dengan kendaraan bermotor dan pejalan kaki.

Perlu digaris bawahi, yang dimaksud sepeda dalam Peraturan Nomor 59 Tahun 2020 adalah sepeda biasa bukan ini sepeda listrik. Atau bisa diperjelas dengan definisi sepeda sebagai berikut:

Defisini sepeda adalah kendaraan tidak bermotor yang dilengkapi dengan stang kemudi, sadel, dan sepasang pedal yang digunakan untuk menggerakkan roda dengan tenaga pengendara secara mandiri.

Khusus untuk keselamatan pesepada, di dalam Permenhub Nomor 59 Tahun 2020 tercantum:

  • Larangan dengan sengaja membiarkan sepeda ditarik oleh kendaraan bermotor dengan kecepatan yang membahayakan keselamatan
  • Larangan mengangkut penumpang, kecuali sepeda dilengkapi dengan tempat duduk penumpang di bagian belakang sepeda
  • Larangan menggunakan atau mengoperasikan perangkat elektronik saat berkendara
  • Larangan menggunakan payung saat berkendara
  • Larangan berdampingan dengan kendaraan lain
  • Larangan berkendara dengan berjajar lebih dari 2 sepeda

sumber: freepik.com

Yuk, Kita Mulai Gowes …

“Mulailah dengan yang dimiliki,” demikian anjuran Poetoet Soedarjanto. Karena banyak diantara kita yang terlalu banyak pertimbangan. Sehingga selalu menunda aktivitas gowes, dan berakhir batal.

Terlebih yang harus menurunkan berat badan seperti saya. Dikutip dari kompas.com, semakin cepat gowes, maka semakin banyak kalori yang akan terbakar.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang mempunyai berat badan 60 kg dan melakukan gowes dengan kecepatan 30 km/jam, maka akan kehilangan 708 kalori.

Sedangkan mereka yang berbobot 70 kg akan kehilangan 844 kalori dengan kecepatan yang sama. 981 kalori untuk yang memiliki berat badan 80 kg. serta 1.117 kg bagi yang berbobot 90 kg.

Lumayan banyak ya?

Jadi tunggu apalagi, yuk ngegowes ….

Baca juga: 

5 Cara Cerdas Bekali Anak Agar Siap Menghadapi New Normal

Ignaz Semmelweis, Bapak Cuci Tangan Dunia

sumber gambar cover: pegipegi.com

30 comments

  1. Awal-awal sepedaan populer/booming, saya susah banget cari sepeda lipat yang diinginkan. Pas ada yang nawarin eehh virus semakin merebak di kompleks perumahaan. Jadi sampe saat ini nawaitu punya sepeda dan olga sepedaan belum terwujud

    ReplyDelete
  2. Bersepeda agar tubuh bugar dan kesehatan terjaga. Dengan mengikuti protokol kesehatan yang tepat, bersepeda di masa pandemi jadi aman. Dengan mengikuti peraturan bersepeda, kita jadi selamat.

    Aku suka bersepeda tapi tidak kuat lama. Jika sudah berkeringat, badanku jadi gatal-gatal. Perpaduan antara getaran akibat guncangan selama bersepeda, sinar matahari, dan keringat, menimbulkan alergi.

    ReplyDelete
  3. Daku belum kepikiran untuk sepedaan di masa seperti ini, tapi ingin juga mencoba sepedaan dengan sepeda lipat, soalnya bentuknya itu menurut daku minimalis dan cocok dengan postur daku yang kecil hehe.

    ReplyDelete
  4. Pakai alat (sepeda) yang ada..saya lakukan ini, Mbak Maria
    Jadi ada sepeda punya si sulung, mountain bike biasa. Terus sepeda kecil punya si bungsu yang sudah kekecilan buat dia. Akhirnya beli sepeda (biasa) yang baru buat mereka, Ibunya pakai sepeda lama. Jadi deh bertiga sepedaan keliling komplek setiap pagi dan sore. Tapi enggak berani keluar jalan raya dulu, lalu lintasnya ramai...
    Senangnya ada tips dan anjuran bersepeda aman sesuai protokol kesehatan begini. Karena sejak booming gowes ini masih banyak yang mengabaikan prokes yang ada

    ReplyDelete
  5. Saya dan keluarga juga yang termasuk memilih olahraga sepeda di situasi seperti ini. Selain jalan santai dan sehat juga tetap dilakukan. Apalagi anak-anak senang kalau keluar rumah, ya sudah sepedaan menurut saya bisa jadi solusi terbaik saat ini.

    ReplyDelete
  6. Sebelumnya aku gak nyaman mau sepedaan dengan kondisi saat ini tapi sekarang mah dah pede dan cus ah ngegowes lagi ☺

    ReplyDelete
  7. Jadi kangen sepedaan lagi. Dulu sempat mau beli sepeda seken, tapi harganya agak mahal malah jadi kepikiran mending beli yang baru sekalian. Walopun akhirnya sampe sekarang belum juga terbeli hehehe.

    ReplyDelete
  8. Sepeda saya, sepeda suami jaman ia masih lajang. Tapi saya cuek saja menggunakannya. Mulai dari apa yg kita miliki ya. Yg penting kan olah-raga nya. Kalau mau ikut gengsi, wah jelas saya gak akan kesampaian Mbu. Bukan cuma harga sepeda kekinian yg sangat mahal buat saya, tapi juga ke sayang karena kondisi di kampung mah sepeda naon wae, keukeuh bakal jeblok ku tanah merah, hehehe

    ReplyDelete
  9. Asiknya bersepeda itu rutenya lebih fleksibel ya ambu. Kalo takut lewatin jalan ramai, bisa cari jalan tikus, jalan yg relatif sepi, tapi olah raganya tetap dapet. Saya punya nih sepeda lipat satu di rumah, tapi udah jarang banget keluar rumah karena kesibukan mengurus anak-anak. Berharap someday bisa sepedaan bareng ketiga krucilsku.

    ReplyDelete
  10. Aku masukk niih dalam semua kategori di atas mbak.. alhamdulillah.
    Daan.. sepedaku juga sepeda lipat.
    Saat bersepeda pun aku pakai masker, dan hanya bersepeda dengan suami aja. nggak mau ramai-ramai dengan teman.
    Than you sharing nya ambuu

    ReplyDelete
  11. Aku baru tau sekarang keselamatan bersepeda ada aturan sendiri, keren sih biar pengguna sepeda lebih taat aturan ya

    ReplyDelete
  12. Sepeda lipat jadi idaman saya dan anak, nih Mbak. Kan ringan dan compact, ya. APalagi tetap kuat juga.
    Wah, makasih ulasan bagusnya.

    ReplyDelete
  13. Dulu udah lama banget aku gak main sepeda, sekarang jadi mulai suka bersepeda,mbak biar tubuhnya jadi fresh akibat terlalu lama di rumah terus

    ReplyDelete
  14. wuhuuu lagi marak bgt ya semenjak new normal nih, seneng sih liatnya pada semanggat sepedaan sampe kemana-mana bahkan rombongan gt :)tp ya itu, kadang jadi ngeri juga kalo kita yg naik kendaraan bermotor, takut nyenggol hehe

    ReplyDelete
  15. Sebenernya pengen banget ikutan tren bersepeda. Tapi belum memungkinkan nih. Oh iya, tentang aturan bersepeda kayanya masih banyak pesepeda yang belum tau ya. Aku masih sering lihat pelanggaran

    ReplyDelete
  16. Di Bandarlampung pun ada komunitas gowes. Punya jadwal rabu malam. Biasanya mereka gowes rame-rame. Alhamdulillah, aku nggak ikut. Nggak punya sepeda, sih ๐Ÿ˜

    Btw, trend ini menyebarkan bangets. Meski aku gak gowes Hari ini. Mungkin besok. Anyway, selamat gowes๐Ÿ˜Š

    ReplyDelete
  17. Jadi pengen ngegowes lagi hehe. Enaknya sepedaan gitu bisa hirup udara seger apalagi di pagi hari. Tapi emang bener saat ini kudu banget perhatiin protokol kesehatan saat ingin bersepeda. Hmmh kapan mau ngegowes yah ? ;)

    ReplyDelete
  18. AKu masih gemes ambu sma pesepeda yang arogan dijalanan, padahal udah ada treknya khusus, ini semua jalan penuh deh, belom lagi pada saling ngobrol syantik menghalangi pengguna jalanan lainnya
    Sepeda lipat lebih praktis ya Buun, ku belom dapet hidayah nih buat sesepedahan, padahal ada 3 di rumah.

    ReplyDelete
  19. Kangen banget pengen sepedaan santai. Sekarang cuma bisa sepedaan sama anak buat beli jajan ke RT sebelah

    ReplyDelete
  20. Saya pengen banget nih punya sepeda lipat..bukan ikut2an sih..tapi sepeda lipat emang praktis ya..lebih ringan dan bisa dibawa kemana-mana. Semoga kita tetep semangat buat olahraga walopun ga mesti sepedahan

    ReplyDelete
  21. Duh sepeda lipat. Kepengen banget punya. Biar bisa dibawa ke mana-mana ya. Aku pakenya sepeda sport yang biasa. Semoga nanti kesampaian deh punyaa sepeda lipat. Brompton gitu ya, hehehehh.

    ReplyDelete
  22. Neng Marwah punya sepeda lipat sejak 3 tahun lalu, eh skearang booming lagi yah. Enak sih olahraga sepedeaan .

    ReplyDelete
  23. Kebetulan aku nggak terlalu tertarik ngegowes nih Mba.. heheh.. padahal asik ya kayaknya. Dan emang kalau mau sepedaan tuh harus perhatiin keselamatan, ikutin aturan dan pastinya nggak boleh maksain diri.

    ReplyDelete
  24. Setiap pagi di depan kantor KR jogja skrg ramai sekali. Banyak org sepwdaan dan lari pagi.. Saya masuk tim jalan pagi aja sih hehe

    Eh ada peraturannya jg ya, wah bnyk yg blm tahu nih. nggak boleh ditaruh alat duduknya d depan kah brti? Duh, berbaris lebih dr dua sepeda nih kadang masih sering ditemukan jg. Thanks for sharing Ambu.. Saya jadi tahu ada rulenya nih

    ReplyDelete
  25. Setiap pagi di depan kantor KR jogja skrg ramai sekali. Banyak org sepedaan dan lari pagi.. Saya masuk tim jalan pagi aja sih hehe

    Eh ada peraturannya jg ya, wah bnyk yg blm tahu nih. nggak boleh ditaruh alat duduknya d depan kah brti? Duh, berbaris lebih dr dua sepeda nih kadang masih sering ditemukan jg. Thanks for sharing Ambu.. Saya jadi tahu ada rulenya nih

    ReplyDelete
  26. Bersepeda kalo bagiku olahraga paling enak. Hanya saja udah lama banget ngga main sepeda, kagok lagi hehe

    ReplyDelete
  27. rekan-rekan di kantor sekarang juga rutin sepedaan tiap minggu. kalau saya juga pengen sepedaan euy tapi karena lagi ngetrend banget jadinya sepeda sekarang mahal harganya. hihi.

    ReplyDelete
  28. perlu banget diketahui nih mba soalnya banyak yang lagi suka-sukanya bersepeda tapi belum tau aturannya, suka ngeri kalau di jalan utama gitu.

    ReplyDelete
  29. Udah lama nggak sepedaan. Terakhir kali pas SD, setiap pergi-pulang ngaji naik sepeda, terus keliling bentar di komplek. Sekarang udah mageran..

    ReplyDelete
  30. Iya nih saya juga Naik berat badannya Gak tanggung tanggung 5 kg, mak. Gowes paling sabtu minggu selama 30 menit. Kalau Hari Hari jalan kaki

    ReplyDelete