5 Tips Belanja Hemat di Supermarket Saat Pandemi Covid 19

 

sumber: freepik.com

“Sepi bu.”

Demikian jawaban driver ojek online saat kami berpapasan di sebuah supermarket. Saya mengenalnya sebagai penjaja kue keliling. Akibat covid 19, dia terpaksa banting setir, beralih profesi karena penghasilannya berjualan kue menurun drastis. Tak mencukupi kebutuhan keluarganya.

Lho kok malah belanja di supermarket?

Jika Anda punya anggapan “hanya orang kaya yang belanja di supermarket”, maka Anda termasuk golongan orang jadoel.  Kini, nggak harus jadi kaya untuk belanja di supermarket. Stigma itu mah.

Pelaku retail modern (supermarket/mini market) melakukan diferensiasi. Contoh termudah di Kota Bandung, adalah rangkaian retail modern Yogya Grup. Toserba dan supermarket dengan nama brand tambahan “junction” ditujukan untuk menengah ke atas, terlihat dari tersedianya produk impor dan beragam produk. Sedangkan brand “Yogya” saja dan “Griya” untuk semua kalangan.

Harganya? Sama!

Ditambah program diskon daisabu (daging, ikan, sayur, buah) pada hari – hari tertentu, membuat retail modern di bawah grup Yogya tak pernah sepi pengunjung.

Strategi serupa dilakukan retail modern lain seperti Alfamart, Indomaret, Giant, Hero, dan Superindo. Mereka melakukan riset sebelum membuka salah satu cabang. Mereka juga kerap bekerja sama dengan distributor agar bisa menggelar diskon.

Tak mau melakukan riset dan diskon aka sale?

Ya, ambyarrrr …...😃😃

Hari gini harus berstrategi dalam berdagang. Tidak saja persaingan tambah sengit, pembeli juga bertambah cerdas. Konsumen hanya membeli produk yang memberi kepuasan dalam hal kuantitas dan kualitas.

Gak heran saya sering bertemu dengan teman yang kini berprofesi sebagai diver ojol di paragraf awal. Dulu, sebagai penjual kue keliling, dia membeli susu UHT merk tertentu sebagai bahan baku kue di supermarket. “Lebih enak,” katanya.

Sesudah tidak lagi membuat kue, dia tetap memilih berbelanja di supermarket untuk produk-produk tertentu, terutama sembako (kecuali beras). Cara retail modern memajang produknya dalam rak-rak yang rapi, baik label maupun harga, sangat membantu konsumen.

Konsumen bisa memilih produk yang harganya sesuai dengan jumlah kocek yang dimiliki. Bandingkan jika membeli di warung atau toko kelontong. Pastilah harus meminta bantuan pemilik warung/toko untuk bolak balik menanyakan harga. Yang bisa berakhir dengan muka cemberut dan umpatan pedas sang pemilik warung/toko.

“Jadinya mau beli yang mana???”👀👀

Bikin konsumen mengkeret, minimal nggak enak hati andai tak jadi membeli.

Beda halnya dengan belanja di retail modern. Nggak cocok harga/produk, batalkan saja pembelian.  Atau mengalihkan pembelian dengan produk sejenis. Bisa juga membeli produk dengan volume berbeda.

Tapi, belanja di retail modern sering bikin kantong bolong. Salah satu penyebabnya adalah membeli produk di luar rencana. Baik jumlah maupun pembelian produk di luar anggaran.

Sementara, penting banget mengencangkan ikat pinggang di saat pandemi covid 19 ini.

Nah, agar isi dompet aman hingga akhir bulan, tak ada salahnya mempraktikkan 5 tips berikut:

5 Tips Belanja Hemat di Supermarket Saat Pandemi Covid 19

source: freepik.com

Tetapkan Budget

Konsumen membuat daftar belanja mah biasa. Yang belum biasa tuh menetapkan jumlah rupiahnya, dan bertekad nggak boleh melampaui. Pelaksanaannya super duper susah. Dibutuhkan tekad dan semangat 45.

Contoh kasus ada 7 item barang yang harus dibeli. Barang yang dibutuhkan sekarang,  bukan untuk stok apalagi untuk bulan depan.

Berapa prediksi jumlah rupiah yang harus dibawa? Rp 100.000? Oke bawa saja uang cash Rp 100.000. Tinggalkan segala macam alat pembayaran lain seperti debit card dan credit card.

Takut tergiur produk diskon?  Percayalah Anda tidak akan bangkrut saat membeli produk tersebut dengan harga normal. Sebaliknya cash flow keuangan rumah tangga akan terganggu andai membelinya sekarang.

Eh, ternyata ada diskon untuk  produk yang sudah lama Anda incar. Tersisa satu pula. Usai belanja barang yang diperlukan, pulanglah dan tanyakan dalam hati, “Apakah produk tersebut begitu penting hingga hidup Anda akan kiamat jika tak membelinya?”

Saya jamin, jawabannya adalah tidak. Dan waktu akan membantu menghilangkan rasa kesal karena batal  produk diskon tersebut.

source: superindo.co.id

Pilih Produk dengan Private Label

Marketing kami menjual “kecantikan”, sedangkan pabrik kami memproduksi “lipstik”

Demikian kata CEO perusahaan yang menghasilkan produk kecantikan terkenal di mancanegara, termasuk Indonesia.

Pernyataan tersebut menjelaskan betapa pentingnya marketing, sekaligus betapa mahalnya. Berkat marketing, harga jual suatu produk bisa 10 kali lipat biaya produksinya.

Mereka, para pembuat konten marketing adalah sekumpulan insan dengan  kreativitas tanpa batas, yang bertugas membuat konsumen tertarik membeli.

Siapa yang harus menanggung beban biaya marketing? Tentu saja Anda dan saya, serta konsumen lainnya.

Padahal nggak semua pemilik brand merupakan pemroduksi barang lho. Mereka menciptakan brand dan menjual barang yang diproduksi perusahaan lain.

Contohnya “Mak Icih”, camilan keripik singkong yang dijual pemilik brand. Serta kini, paska pelarangan dijualnya minyak goreng curah, muncul merk-merk baru seperti Lentera Mas, Jujur dan masih banyak lagi.

Banyaknya produk curah tanpa merk, memberi ide retail modern untuk menciptakan private label/private brand. Superindo misalnya, mempunyai Indoculinaire, Superindo 365, Superindo Care, Bio Organik.

Sedangkan retail modern lain merasa tidak perlu mencipkan brand baru. Jangan heran saat belanja di Hero menemukan camilan “Hero Save”. Di Giant ada mie instan “Giant”. Di Alfa bisa ditemukan air mineral berlabel “Alfamart”.

Produk private label seperti ini sangat menguntungkan konsumen karena harganya lebih murah. Bahkan bisa 30 % lebih murah! Superindo pernah membuat perbandingan dan memajang hasilnya. Satu trolley berisi private brand miliknya. Trolley yang lain berisi brand lain yang beredar di pasar.

Salah satu strategi untuk menambah keuntungan Superindo dan konsumen, ya?

Keuntungan lain, konsumen bisa segera melakukan klaim/klaim di tempat,  andai apes, mendapati produk yang dibelinya tidak sesuai, baik kualitas maupun kuantitasnya.

source: freepik.com

Belanja Produk Tanpa Embel Embel

Terbiasa mencuci baju dengan banyak busa. Tahukah, agar muncul banyak busa,  produsen menambah  zat kimia tertentu pada deterjen?

Padahal ngga ada hubungannya daya pembersih deterjen pada pakaian dengan busa. Atau dengan kata lain, konsumen menjadi korban iklan. Seolah pakaiannya bersih cemerlang berkat busa.

Sayangnya banyak busa membutuhkan air bilasan yang cukup banyak. Sementara krisis air melanda perkotaan, maka muncullah varian deterjen “sekali bilas”. Tentunya dengan harga lebih tinggi.

Demikian juga produk lainnya. Produk yang mendapat tambahan zat yang diklaim berkhasiat ini dan itu. Konsekuensinya, harga produk menjadi lebih mahal.

Jadilah konsumen cerdas. Jangan jadi korban iklan. Semua deterjen berfungsi membersihkan pakaian. Semua pasta gigi berguna untuk membersihkan gigi dan memberi rasa nyaman rongga mulut. Semua minyak goreng merupakan penghantar panas untuk memasak makanan, demikian seterusnya.


source: freepik.com


Belanja Sayur dan Buah di Pasar Tradisional?

Semurah-murahnya harga sayur dan buah  di supermarket, harga di pasar tradisional/warung sayur/tukang sayur keliling jauh lebih murah.

Banyak penyebabnya. Salah satunya penanganan paska panen. Hanya yang bermutu yang bisa masuk retail modern. Produk pertanian reject atau sisa sortiran masuk pasar tradisional.

Ngga semua, pastinya.

Penjelasan ini hanya untuk memastikan setiap rupiah yang dibelanjakan betul-betul bermanfaat dan dinikmati hasilnya. Jangan membeli dengan alasan murah dan akhirnya menyesal.

sumber: freepik.com

Cek Ulang Struk Belanja

Jangan langsung pulang, cek struk belanja untuk memastikan tidak ada salah input harga dan barang.

Seperti yang belum lama terjadi, saya tergiur membeli  batu baterai. Nggak hanya 1 buah, sesuai kebutuhan, tetapi 12 buah, gara-gara melihat label diskon 50 %.

Ternyata oh ternyata, label tersebut hanya berlaku minggu lalu. Pegawai supermarket lupa menurunkan stiker.  Untung klaim segera dilakukan, sehingga bukti stiker yang menyesatkan masih terpampang dan bisa menjadi bukti.

Memeriksa ulang struk belanja juga membantu mengevaluasi hasil belanja. Jangan sampai  membeli produk yang nggak penting dan berpotensi nyampah.

Baca juga: Kok Orang Cina Banyak Yang Kaya Sih?

source: freepik,com


Perekonomian Indonesia Berpotensi Masuk 5 Besar Dunia

Tentu saja bukan saya, melainkan ekonom Faisal Basri yang bilang bahwa perekonomian Indonesia berpotensi masuk 5 besar dunia.

Penjelasan selanjutnya dari Faisal Basri bisa dilihat disini, berdasarkan pernyataan World Economic Forum yang memprediksi Negara Cina akan menggeser Amerika Serikat pada tahun 2024 menjadi number one  di bidang ekonomi.

Data yang sama juga menyebutkan potensi GDP  atau produk domestik bruto Indonesia berpotensi menggeser Jerman menempati posisi ke-5.

Kalkulasi GDP yang dimaksud adalah GDP negara bukan perseorangan. Yang dibutuhkan kemudian adalah pejabat Indonesia  yang mampu menciptakan keadilan agar kesejahteraan merata. Jangan hanya menumpuk di satu kelompok.

Sementara menunggu saat itu tiba, yuk berhemat agar bisa melewati pandemi Covid !9 dengan selamat.

Baca juga: Yuk, Jadi Auditor Keuangan!

23 comments

  1. aku termasuk bukan oarng yang boros seajk gadis. tapi di masa pandemi saat di rumah saja gak ada kegiatan makanya bikin sesautu bisa dicoba, jadilah pengeluaran bertambah. buat mencoba masakan, mencoba beberapa kerajinan tangan

    ReplyDelete
    Replies
    1. padahal harus ngirit ya mbak?

      Euforia kerap terjadi saat ada perubahan

      Delete
  2. Kalau kami memilih untuk belanja secara mingguan di supermarket yang budgetnya sudah ditentukan. Lumayan bisa mengerem dengan metode seperti ini. Kecuali saat minyak, beras dan sabun mandi habis bebarengan, lansung jebol biasanya,hehe. Tp biasanya dikompensasi di minggu berikutnya, jadi harus lebih ngirit dan di bawah budget,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, kita harus bisa beradaptasi

      dan pasti bisa ^^

      Delete
  3. Mbaaaaa, keren banget ini mah!
    Syukaaakkk!

    Setuju banget Mba, saya sering dibilang boros karena belanja di supermarket.
    Padahal saya udah jelasin, belanja di supermarket itu, selain harganya lebih murah karena sering diskon, pun juga barangnya lebih terjamin bersih (kemasannya bebas debu dll) dan enggak expired.

    Banyak yang kesal, katanya retail modern itu membunuh warung kecil, tapi setiap pemerintah mengadakan suatu pelatihan atau apapun, demi agar UMKM bisa bersaing dalam modern, selalu dipandang negatif.

    Padahal ya pada akhirnya, masyarakat akan memilih yang lebih murah dan nyaman :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi diary product sering diskon dengan harga murah banget
      Solusi untuk emak yang harus ngasih protein maksimal untuk anak-anaknya ya?

      Bahkan umkm kerap belanja di supermarket lho

      Delete
  4. Jurusnya semua oke Bu... apalagi saya di kampung, pasar nya tradisional banget, seminggu cuma ada dua kali, Selasa dan Jumat saja.
    Kalau hemat, sejak dulu saya selalu belajar hemat. Kalau tidak, penghasilan tidak akan mencukupi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kita emang harus cerdik beradaptasi teh

      selain itu, berlaku juga di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung

      Delete
  5. Sejak pandemi ini aku belum belanja ke supermarket lagi mba. Mini market Deket rumah atau toko-tojo sekitar rumah aja. Masih belum 'pede' ke mall atau market besar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebetulnya yang saya maksud adalah retail modern mbak karena mereka menerapkan protokol covid 19
      retail modern : supermarket dan minimarket

      Delete
  6. Saya nyaris tidak pernah cek struk belanja. Kalau menemukan kesalahan juga biasanya saya diam. Bukan smart buyer ya. Huhuhu..
    Tapi tentang produk beli di mana,saya sudah pegang prinsip ekonomi, yaitu membeli seuntung-untungnya

    ReplyDelete
  7. Sejak pandemi kami belanja di pasar tradisional. Blanja juga 3-4 hari sekali. Asli istri jd irit bgt
    Tapiii.... Tambah lg pengeluaran, yaitu Sering beli bunga/tanaman hias 😂✌️

    ReplyDelete
  8. Intinya sih harus disiplin dan bijak dengan pengeluaran ya Mbak. Belanjalah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Bukan mengikuti keinginan.

    Alhamdulillah saya tidak ngotot dengan jenama tertentu. Yang penting barang itu halal, bersih, dan berkualitas. Belanja ke supermarket disiplin mengikuti daftar yang sudah disiapkan sebelumnya. Awal² terasa berat dengan godaan diskon atau produk di luar list. Tapi lama kelamaan sudah biasa.

    ReplyDelete
  9. Tips belanja hemat di supermarket yang lengkaaap!
    Kalau bijak belanja di supermarket bisa menguntungkan, karena pergantian barang lebih pasti, kebersihannya lebih terjamin, sering ada potongan harga serta kenyamanan tempatnya. Tapi, ya itu tadi...kadang kalau enggak teliti, promo harga sudah lewat - di kasir sudah di update - eh petunjuk harga masih yang lama.
    Selain itu, kemungkinan ngambil lain-lainnya lebih besar pula
    Tapi, saya tetap lebih pilih belanja bulanan ke supermarket karena lebih lengkap daripada minimarket

    ReplyDelete
  10. Ini bener banget. Biasanya kalau untuk produk yang aku enggak terpaku pada merek, aku pilih privat label karena biasanya mutunya bagus dengan harga lebih murah.

    ReplyDelete
  11. Huhuhu kalau jalan ke supermarket itu pasti ada aja yang dicomot diluar daftar belanjaan.. emang bener belanja di pasar lebih murah...jauh banget bedanya

    ReplyDelete
  12. Aku kalu ke Supermarket juga nunggu promo JSM..promo weekend gitu jadi bisa belanja banyak dengan harga lebih miring hihihi

    ReplyDelete
  13. mantaabb Ambu.
    Aku selalu rutin cek katalogpromosi(dot)com karena di situlah bersemayam aneka promo yg bisa menyelamatkan dompet dari sakaratul maut :D

    Biasanya belanja di Superindo bisa (total) hemat 50-70 ribu.
    Sungguh melegakan jiwa

    ReplyDelete
  14. Gak selama pandemi aja tapi sekarang sudah mulai pilih-pilih saat belanja. Nyari yang harga miring tapi tetap oke. Terus kalau sayur dan lainnya tetap pilih ke pasar

    ReplyDelete
  15. Selama pandemi ini aku malah jadi boros belanjanya. Bukan hanya persoalan belanja bulanan di supermarket tapi printilan ini itu dan juga jajanan. Haaaaa... belanja bikin gak stress sih tapi merusak keuangan juga hahaha... Terimakasih tipsnya mbak

    ReplyDelete
  16. Bener banget sih kalo pedagang warung pun belanja kulakan di supermarket. Aku sering ketemu kalo lagi belanja di Superindo, ibu-ibu bawa troly isinya minyak, gula, dan tisu, juga telur. Karena harganya lebih murah dibanding kulakan di pasar tradisional.

    Dan aku pun kalo beli buah lebih memilih di tempat penjual buah keliling karena buahnya bagus dan harganya miring dibanding di supermarket

    ReplyDelete
  17. Ambuu...
    Aku banget ini...sejak pandemi malah boros. Karena gak belanja sendiri dan mengandalkan titip suami, jadi kadang kalau lupa suka mengentengkan "Aah...bisa beli online ini.."
    Dan tentu menjadi lebih mahal.

    ReplyDelete
  18. Bermanfaat ini Mba untuk saya yg sering 'bocor halus' kalau belanja hehehe Rencana beli ABCD eh pulang-pulang ada EFGHIJK :D

    ReplyDelete