Jangan Ngebakso Sultan ya, Ntar Ketagihan Lho!







“Bakso Bandung enak semua”, kata Azizah

Azizah, tetangga sebelah rumah saya di Cigadung.  Baru pulang dari tugasnya berbulan-bulan di Bali. Sesampainya di Kota Bandung, bukannya pulang ke rumah eh dia malah ngebakso dulu. “Kangen berat”, katanya.

“Di Bali nggak ada bakso enak, mbak,” lanjut Azizah.

Setuju banget ya? Kangen sama pacar, bisa video call. Tapi kangen pada mie bakso? Oh kamu harus ke Kota Bandung.

Terlebih jika kangen 4 sensasi rasa sambal yang bikin petualangan menyantap bakso bisa berbeda di setiap waktu, kamu harus ke Bakso Sultan.

Umumnya bakso kan hanya menyajikan satu macam sambal, nah di Bakso Sultan ada 4 macam sambal, yaitu:
  • Sambal tomat
  • Sambal korek
  • Sambal cikur/kencur
  • Sambal daun jeruk
Setiap sambal yang dicampur ke kuah bakso akan memberi sensasi berbeda. Seperti kemarin, saya menuang sesendok  sambal cikur/kencur. Dalam sekejap kuah bakso dengan rasa umami berpadu dengan rasa kencur yang legit, yumm .... tanpa terasa bakso berisi sebutir telur ayam, tandas masuk perut. Padahal saya nggak suka telur ayam!

Demikian juga ketika mencoba sesendok sambal daun jeruk dalam kuah bakso. Keharuman kuah iga bersatu dengan aroma daun jeruk, membuat pencecapnya serasa berpetualang ke tatar Pasundan yang penuh dengan rempah wangi.

Kuah Bakso Sultan emang beda. Bukan berasal dari rebusan tulang belulang  seperti umumnya penjual bakso, melainkan menggunakan daging iga, area daging sapi yang memiliki kandungan rasa  paling gurih.

Nggak heran sewaktu bertemu sambal bakso yang mendapat campuran tomat, maka kuah akan terasa umami yang segar. Mirip soto, namun nggak berat, karena nggak terdapat sereh lengkuas serta rempah soto lainnya.

Nggak suka rasa rempah? Kamu bisa memilih sambal korek. Karena sambal korek hanya terbuat dari ulekan sambal. Mirip sambal goang khas masakan Sunda. Bedanya sambal korek terbuat dari cabai rawit merah, atau di tatar Sunda disebut cabai rawit domba.

Cabai rawit  domba memiliki rasa paling pedas  dibanding cabai rawit lain di Indonesia. Nggak heran, tatkala krisis cabai, harga cabai domba menempati posisi teratas. Harganya balapan dengan harga daging sapi.



Namanya Kok Bakso Sultan, sih?
Pertanyaan tersebut mengganjal ketika saya memasuki area Bakso Sultan. Menyengaja datang pagi, karena penasaran, pingin tau apa sih yang menjadi pembeda Bakso Sultan dengan lainnya?

Seperti diketahui, ada 3 macam kuliner mie/bakmie di kota Bandung.
Yang pertama adalah mie ayam, mie dengan tumisan ayam berbumbu yang umumnya memiliki rasa manis. Walau kerap mendapat tambahan bakso, namun pakemnya hanya mie dan ayam. Keunggulan mie ini terletak pada tekstur mie dan campuran minyaknya. Penyuka mie ayam harus hati-hati akan kehalalannya, karena penjual mie ayam kerap menggunakan minyak babi untuk menghasilkan rasa gurih.

Yang kedua adalah mie  kocok. Umumnya menggunakan mie kuning, taoge, kemudian diberi topping kikil/kapi sapi. Keunggulan mie kocok terletak pada kuah dan kikil yang harus dimasak dengan cara yang tepat. Pakemnya mie kocok hanya mie dan irisan kikil. Jika ada tambahan bakso, biasanya sesuai permintaan pembeli. Nggak heran, umunya bakso di penjual mie kocok hanya memiliki rasa standar.


Yang ketiga adalah mie bakso. Mudah ditemukan di pinggir jalan/PKL, dan sangat digemari karena kuahnya yang gurih dan baksonya yang nagih. Walau jika mau jujur, lokasinya nggak banget. Mereka mencuci mangkok bekas makan hanya dengan 1 (satu) ember. Sangat tidak higienis!

Nah Bakso Sultan memberi solusi pecinta mie bakso agar bisa kulineran dengan cara Sultan atau Raja. Raja nggak makan di pinggir jalan yang jorok gitu, kan?  Tempatnya harus apik dan  bersih. Rasa masakan harus premium.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, kuah Bakso Sultan diracik dengan seksama. Nggak asal gurih. Kuah Bakso Sultan berasal dari rebusan daging iga, bagian daging sapi yang menghasilkan rasa paling gurih.

Jika komposisi kuah Bakso Sultan diracik seksama oleh seorang chef berpengalaman. Apalagi baksonya dong ya? Bakso Sultan punya bakso urat yang recommended banget. Kamu bisa memilih bakso urat seberat 175 gram seperti yang saya santap di cover atau, bakso urat seberat 75 gram. Semua laziz,  karena terbuat dari daging “tangoe root”.

Tangoe root merupakan daging yang berada di pangkal leher.  Oleh Chef Bakso Sultan, tangoe root diolah  dengan  bumbu pilihan sehingga menghasilkan  bakso urat dengan rasa yang nendang.

Ingin bakso daging biasa? Bisa banget!
Ada bakso isi cheese, bakso isi mozarela, bakso isi daging cincang, bakso isi telur ayam ... nah yang ini telurnya bulat ya, nggak sepotong, dan sudah digoreng agar ngga coplok ketika disantap, membuat sensasi ngebakso terasa lebih mantap.

Tetelan yang disediakan juga istimewa. Terbuat dari  lidah sapi yang umumnya digunakan untuk bistik, kemudian dicampur daging sapi, menghasilkan pengalaman baru menikmati tetelan. Raos pisan!

Dan seperti harusnya Sultan yang mendapat sajian lengkap, Bakso Sultan juga menyajikan banyak kodimen seperti taoge, sayuran, bawang daun, pengsit  bahkan jika kamu pingin menyantap bakso dengan sensasi krauk-krauk sukro, juga tersedia lho.

Palugada deh di Bakso Sultan, atau a(PA) yang e(LU) mau, (G)ue (ADA).
Termasuk mie yang biasa disajikan di penjual mie ayam, disini ada. Selain tentunya  mie telur biasa, bakso kerikil, siomay dan bakso tahu. Sampai bingung saya, mencari yang nggak ada di Bakso Sultan!

Oh ya disini semua halal, ngga usah ragu.



Ambience yang Bikin Betah
Apa yang kamu bayangkan ketika kulineran mie bakso pinggir jalan? Tempat kumuh dengan bangku yang goyang-goyang nggak stabil dan meja berminyak karena dilap asal-asalan?
Nah jauh banget dengan furnitur dan desain interior yang kekinian, instagramable, apik dan bersih pastinya.

Ada lorong panjang yang menyambut pengunjung, tempat bermacam bakso bisa dipilih, juga kondimen yang dikehendaki. Petugas yang ramah memberi penjelasan dengan tuntas jika pembeli bingung. Bingung memilih maksudnya.

Paska memilih bakso dkk, terdapat deretan sambal yang saya terangkan di atas. Ternyata sambal dadak semua lho. Lengkap dengan coet (alat untuk menggerus sambal). Kamu bisa memilih sambal dan mengambil sebanyak yang dikehendaki, asalkan habis ya? Karena cabainya terbuat dari cabai rawit domba yang pedesss....nya nampol abis!

Duh, kalo inget sensasi rasa kuah gurih dengan sambal Bakso Sultan, rasanya pingin balik lagi.

Ya tapi kan harganya mahal, beda dengan mie bakso pinggir jalan yang murah!

Eits, disini juga bisa menyantap mie bakso seharga Rp 10.000 lho. Isinya bakso kerikil, mie, taoge dan sayuran. Lengkap deh. Cuma ya,  jangan memilih bakso urat atau bakso keju. Dimanapun berlaku ada barang ada harga.

Males ah, Bakso Sultan di Jalan Dago 185 Bandung  harus naik tangga. Lantai 3 pula.
Gampang, bisa ke Jalan Terusan Jakarta 321, Antapani Bandung.

Kalau kekeuh pingin di Dago karena letaknya strategis, pesan aja di lantai bawah (lantai 1) di Yagami Ramen House, atau di Ayam Geprek Pangeran, karena ketiganya satu perusahaan.  

Ini solusi untuk keluarga atau komunitas yang punya selera berbeda. Bisa memilih beragam menu. Terlebih di setiap lantai terdapat ruangan yang bisa digunakan untuk ngumpul.
Jadi mau bikin reunian, arisan atau workshop, bisa banget disini.



Jadi, Kapan Kita ke Bakso Sultan?

Mumpung  Bakso Sultan sedang aniversary kesatu nih. Ada promo buy 1 get 1 dengan minimal pembelian Rp 15.000, dari tanggal 15 Maret – 21 Maret 2020.
Yang dilanjutkan tanggal 22 Maret – 31 Maret 2020, promo buy 2 get 1 dengan minimal pembelian Rp 15.000.

Nggak ditanggung kalo ketagihan ya?

Karena sayapun ketagihan.  Rencananya mau kesana lagi nih. Pingin kongkow ngebakso bareng teman-teman, sambil menikmati lalu lalang jalan Dago dan berselancar dengan WIFI gratis yang super kencang.

Mau ikut gabung?




7 Comments

  1. Duh kalau saja tidak ada Corona mau ke sana banget. Sayang masa promonya dalam rentang social distancing ya. Coba kalau promonya perpanjangan sampai Corona sudah ga ada hehehe

    ReplyDelete
  2. Aku langsung bayangin kuah bakso hangat dengan segala macam isian di tengah hujan. Ya ampun enak bangets
    Baru tahu ada macam-macam sambal di warung bakso. Aku pengin coba sambal kencur aja, penasaran jika dicampur ke kuahnya gimana rasanya ya...waah!!

    ReplyDelete
  3. Duuhh nyesel baca postingan ini. Aku kemecer bayangin kuah pake sambel beda rasa gitu deh huhu

    ReplyDelete
  4. Ajakin aku kongkow di Bakso Sultan dong, Ambu. Apalagi sambelnya aja ada empat macam, belum pilihan baksonya yang beragam. Aku suka bakso urat, lebih gurih apalagi kuahnya dari bagian iga sapi ya

    ReplyDelete
  5. Ini di dago ya Ambu?
    Aduuuu, sayang nih lagi wabah corona.

    Semoga th depan saya bisa main ke BDG lagi, dan ngebakso di sini.

    ReplyDelete
  6. Wuaaaaw
    Kuahnya dsri rebusan iganya? Ya jelas enak lah kalau gini. Apalagi nyantap iganya beh enak bener dah

    ReplyDelete
  7. Wah, auto ngiler. Bakso memang kuliner segala usia segala lapisan masyarakat ya. Tapi bakso sultan pas banget buat yang seleranya andes.

    Penasaran sensasi sambal dingin nya. Belum pernah ngebakso pake sambal cingur.

    ReplyDelete