Bodo Katotoloyoh vs Minat Baca Gen Z

  
maria-g-soemitro.com

Bodo Katotoloyoh vs Minat Baca Gen Z

Bodo katotoloyoh” merupakan peribahasa Sunda yang artinya orang bodoh tapi gak mau bertanya, gak mau belajar. Punya smartphone gak digunakan untuk mencari ilmu. Lebih lanjut dijelaskan bahwa bodo katotoloyoh menggambarkan manusia yang “bebal”. Dia berpikir dirinyalah yang paling benar, pendapat orang lain salah semua.

 Lawan katanya adalah "Bodo aléwoh" yang artinya  orang bodoh yang mau belajar. Tidak malu bertanya jika tidak mengerti. Dia aktif mencari ilmu agar menjadi lebih pintar, bukan malah menyembunyikan ketidaktahuan.

Saya teringat peribahasa “bodo katotoloyoh” ini sesudah ngalamin hal tak menyenangkan. Gini ceritanya:

Sewaktu ke Jogja kemarin, selain untuk terapi osteoarthritis juga ke notaris untuk minta bantuan cara mewariskan property ke anak. Agar jelas kepemilikannya, dan menjaga kelak gak menimbulkan keributan keluarga akibat salah paham.

Namun ada alasan utama, yaitu sebagai muslim saya harus menyiapkan diri. Setiap waktu, Sang Pencipta akan memanggil "pulang". Kala itu terjadi, saya tidak bisa kembali, tidak bisa membalik waktu, untuk membereskan setiap urusan dalam menghadapi Yaumul Hisab (hari perhitungan), khususnya hisab masalah harta.

Berhubung sang notaris merupakan kerabat keluarga, kami pun ngobrol ngalor ngidul, salah satunya membahas banyak kasus kepemilikan property yang kerap berakhir dengan perselisihan.

Nah salah satu kasus yang saya tanyakan menyangkut kepemilikan rumah seorang teman yang sudah meninggal. Dia tak punya suami dan anak, karena itu dia mengamanahkan 2 rumahnya di Cisauk dan di Bandung, untuk anak-anak adiknya (keponakannya).

Baca juga: 

Slow Living agar Lebih Bersyukur

Sikap Asertif dalam Bertetangga, Antara Akal Sehat dan Takut Konflik

Daftar Isi:

  • Tentang “Bodo katotoloyoh”
  • Penelitian: Gen Z Suka Membaca
  • Agar tidak Jadi Manusia “Bodo katotoloyoh”

Saya menanyakan kasus ini karena adik mendiang dan suaminya, sudah berusia sekitar 70 tahunan. Mereka tak lagi punya cukup energi untuk mengurus property yang terlantar. Gak heran, adik mendiang pernah bercerita, rumah di Cisauk sudah hampir runtuh, meteran listrik hilang dan rumput memenuhi lahan.

Menurut sang notaris, property terbengkelai berpotensi diambil alih oleh negara. jadi kepemilikan rumah harus segera diurus, khususnya andai benar diwariskan pada keponakannya. Mumpung adik mendiang masih sehat, jika sudah tiada, anak-anaknya bakal ribet mengurus property tersebut.

Anehnya ketika saya menyampaikan saran tersebut, adik mendiang malah marah. Dia melontarkan kalimat yang menyakitkan: “Ngapain ngatur? Gak ada urusannya sama kamu.”

Duh sakit banget rasanya. Saya bertujuan baik, supaya mendiang gak kesulitan menghadapi Yaumul Hisab. Tidak dibebani harta yang tidak terurus dan tidak dimanfaatkan.

Bukankah sesuai hadits Riwayat Muslim (Hadits Arbain ke-34), sebagai sesama muslim kita harus saling mengingatkan:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri ra., Rasulullah SAW bersabda:

"Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan tangannya (kekuasaan/kekuatan); jika tidak mampu, maka dengan lisannya (nasihat/teguran); jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya (tidak rida dan mendoakan), dan yang terakhir itu adalah selemah-lemah iman."

Untunglah saya berguru pada ustaz Aam Amirudin yang mengajarkan untuk selalu berlapang dada, walau sakit hati. 😀😀

Sebetulnya saya juga maju mundur, takut dibilang ‘turut campur” urusan orang lain, dan ketakutan saya terbukti kebenarannya.

Namun, meski rasanya nyesek, saya merasa bersyukur karena telah melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Semenjak berpindah keyakinan, saya bersyukur Islam memberi petunjuk supaya umatnya tidak berlaku sembrono. Harus punya keyakinan 6 rukun iman, diantaranya iman kepada hari kiamat, sehingga wajib mempersiapkan diri sedini mungkin.

Pasca pertemuan dengan adik mendiang, beberapa kali saya bertemu dengan anak-anaknya. Mereka bilang, orang tuanya memang seperti itu, hanya menunaikan ibadah agama setelah memilahnya.

“Dengan keuangan bapak dan ibu, kan bisa banget membiayai kami semua ibadah Haji ke Baitullah, tapi nyatanya gak dilakuin.”

Dari obrolan tersebut saya menarik kesimpulan bahwa adik mendiang bukan mengalami logical fallacy (sesat pikir), namun bodo katotoloyoh, karena mereka gak punya argument untuk menolak peraturan dalam agama Islam.

Logical fallacy adalah kesalahan dalam penalaran atau struktur argumen yang membuat kesimpulan menjadi tidak valid atau tidak logis, meskipun terdengar meyakinkan

Apakah penyebabnya mereka tergolong generasi Baby Boomers ? Bisa jadi. Generasi Baby Boomers, andai pun suka membaca, kerap gaptek dunia digital yang menawarkan jendela dunia secara praktis dan kemudahan aksesibilitas.

Hal ini berbanding terbalik dengan Gen Z. Menurut survey Talker Research, Gen Z mengonsumsi media harian paling banyak dibandingkan generasi lain. (sumber: nysscpa.org)

Tentu saja kita harus melihatnya kasus per kasus. Tidak semua baby boomers enggan menggunakan “tools” untuk mengakses bacaan yang banyak tersedia di dunia digital, demikian pula sebaliknya.

 

maria-g-soemitro.com

Penelitian: Gen Z Suka Membaca

Tingkat minat baca Gen Z sangat tinggi, berdasarkan data, minat baca Gen Z mencapai 26%, melampaui Milenial (20%) dan Gen X (18%). Mereka menggunakan media sosial seperti TikTok dan Instagram untuk mempopulerkan  aktivitas membaca sebagai bagian dari gaya hidup.

Wow menarik ya? 

Saya membuat tulisan ini setelah membaca blog tehokti. Blog tersebut dikelola Teh Okti (saya memanggilnya demikian) yang bersama keluarga kecilnya tinggal di Cianjur, pasca merantau ke Taiwan sebagai tenaga kerja migran.

Jadi ada benang merah yang menjadi alasan saya menggunakan  “bodo katotoloyoh” sebagai judul tulisan. Tidak saja karena merupakan peribahasa Sunda (Cianjur), juga telah lama Teh Okti bahu membahu dengan suaminya mengelola Pondok Mengaji Al Hidayah di rumahnya.

Pemilik akun Instagram indungbageur ini punya tujuan mulia, yaitu membuka pintu melek literasi bagi anak-anak di sekitar tempat tinggalnya. Terlebih suami Teh Okti punya bekal mumpuni, beliau merupakan alumni Sekolah Tinggi Agama Islam (STAIS) Bandung.

Gak heran, para santri dan santriwati mendapat materi lengkap, mulai dari membaca Al Qur’an (hafal huruf Hijaiyah hingga khatam) hingga ilmu agama lainnya seperti Fiqih, Syariah.

Sungguh mengagumkan ya? Terlebih kepercayaan masyarakat sangat besar, santri yang telah lulus dan berkeluarga akan kembali menitipkan anaknya untuk belajar di Pondok Mengaji Al Hidayah.

Keberadaan Pondok Mengaji Al Hidayah sangat menguntungkan Gen Z sebagai bagian dari keseluruhan santri dan santriwati. Karena sesuai hasil penelitian, sebanyak 84,7% Gen Z Indonesia gemar membaca, dengan 27,1% membaca setiap hari. 

Dengan bekal yang didapat, mereka akan menjadi muslim yang aktif menambah ilmu dan tidak terjebak dalam kondisi “bodo katotoloyoh”, bahkan mungkin menyebarkan ilmu (melalui dunia digital) agar orang lain menjadi cerdas juga.

maria-g-soemitro.com
Contoh “Bodo Katotoloyoh” lainnya. Pedagang gorengan di Pasar Senen Jogja ini merendam tabung gas agar tidak meledak. Hal tersebut berbahaya, karena memicu korosi (karat) dan menyebabkan kebocoran fatal. Sudah diberitahu tapi malah ngeyel. Punya smartphone tidak otomatis membuatnya smart.

Agar tidak Jadi Manusia “Bodo Katotoloyoh”

Menemukan Islam sebagai agama yang menjadi way of life, kemudian menjadi mualaf, ternyata dalam perjalanan hidup saya kerap bertemu dengan orang beragama Islam yang tidak menyadari agamanya sebagai agama yang sempurna.

Banyak orang mengaku Islam tapi hanya menunaikan ibadah salat dan puasa. Mereka enggan melaksanakan ibadah lainnya, seperti membayar ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf). 

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi ya, justru untuk mengingatkan betapa Islam menyiapkan banyak “tools” agar hidup kita nyaman. Contohnya kasus di atas, Islam mengatur warisan secara rinci dan tegas (faraidh) supaya kehidupan umat Islam nyaman, harmonis, menjamin keadilan, dan mencegah sengketa.

Sungguh aneh jika ada orang mengaku beragama Islam, namun tidak melaksanakan ketetapan  Allah SWT yang tercantum dalam Al-Qur'an.

Nah agar tidak menjadi manusia "bodo katotoloyoh”, kita harus melakukan langkah berikut (pastinya sebagai pengingat saya juga):

Budayakan "Bodo Alewoh" (Mau Belajar)

Kebalikan bodo katotoloyoh adalah bodo aléwoh, artinya mau mengakui ketidaktahuan dan rajin bertanya. 

Banyak orang tidak mengerti, namun gengsi bertanya. Dan akhirnya terjadi peribahasa lain: “Malu bertanya sesat di jalan”. Jika tidak mengerti, bertanyalah. Jangan merasa pintar padahal tidak tahu apa-apa.

Haus Ilmu dan Terbuka (Open-Minded)

Teruslah belajar, baik melalui pendidikan formal maupun pengalaman hidup. Dan jangan malu mengakui kelemahan diri sendiri serta mau menerima pemikiran atau masukan orang lain. 

Berpikir Kritis (Tidak Taqlid)

Hindari perilaku taqlid atau ikut-ikutan tradisi/pendapat orang lain tanpa tahu dasar atau hukumnya.  Sebelum bertindak atau memutuskan sesutau, renungi dan jangan mudah percaya atau meniru tanpa paham alasannya.

Kendalikan Ego dan Jangan Merasa Paling Benar

Daripada marah-marah seperti kasus di atas, bukankah lebih baik bilang saja “terima kasih”, kemudian mencari fakta/sumber hukumnya. Dunia digital membuat pintu ilmu terbuka lebar-lebar. 

Jadi, hindari sikap menyepelekan orang lain atau merasa paling tahu. Jangan biarkan kejengkelan atau emosi negatif menguasai tindakan.

Perbaiki Kualitas Diri (Brain & Heart)

Sebetulnya ada perintah dalam Islam (yang tidak dimiliki agama lain), yaitu menyuruh umatnya untuk Iqro (membaca), bahkan perintah ini diulang tiga kali dalam wahyu pertama (Surah Al-'Alaq ayat 1-5) 

Jadi instruksi agar tidak menjadi “bodo katotoloyoh” berlaku untuk seluruh umat Islam. Sehingga tidak hanya Gen Z sebagai generasi (yang menurut penelitian) memperoleh manfaat iqro sepenuhnya karena mempunyai tingkat literasi lebih tinggi.

Baca juga:

Berpikir Kritis Menurut Islam dan 5 Hikmah Berpikir Kritis

Clear Mind dan Cara Membersihkan Sampah Pikiran


9 comments

  1. Aku baru sadar setelah membaca fenomena "Bodo Katotoloyoh" (bodoh yang dipelihara atau bebal) yang dibenturkan dengan realita minat baca Gen Z yang katanya rendah.

    Yes, walau engga semua, tapi generasi baby boomers memang rada sulit menerima masukan, bersyukur banget punya ortu yang terbuka dengan pendapat anak-anaknya.. walau kadang masih sesekali "berseberangan" tapi ibuku sellau bertanya, "Neng ini hoaks bukan ya?" jika mendapat berita yang konyol kayak di atas : tabung gas dimasukkan ke ember air! Hadeeehhh...

    ReplyDelete
  2. Menyenangkan sekali ya karena ternyata minat baca gen z lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Semoga juga disertai dengan kecerdasan literasi dan bisa menular lebih baik lagi bagi generasi2 selanjutnya

    ReplyDelete
  3. Urusan warisan ini emang rumit. Meskipun tujuannya hanya membantu, sedikit banyak tetap akan ada prasangka.

    Jangan kan sama orang lain! Bahkan ketika sodara sendiri yang membantu pun begitu.

    ReplyDelete
  4. Saya turut berbahagia deh jika Gen Z ternyata rajin membaca. Semoga ini bisa jadi titik harapan baru untuk tanah air kita kedepannya ya Mbak Maria.

    ReplyDelete
  5. Sebagai urang Sunda, aku happy banget nih dengan judul artikelnya dan membahas pengertian dari bodo katotoloyoh.

    Alhamdulillah, sebagai generasi milenial yang masa lahirnya berdekatan sama gen Z, aku happy dengan hasil survey dan terlihat jelas gen Z memang hobi membaca banyak club baca soalnya. Semoga kita sebagai muslimah bisa bijaksana dan terus menuntut ilmu, supaya menjadi orang yang cerdas dan bijaksana. Lebih open minded, dan tidak menyakiti oranglain dengan kalimat yang kurang pantas.

    ReplyDelete
  6. MasyaAllah. Tulisan yang mencerahkan banget Mbak. Deskripsi yang diuraikan juga ngena banget. Jika kita mau terus belajar, open-minded (berpikiran terbuka), tidak taqlid buta, mau mengendalikan ego, mau mendegarkan nasihat dan kerap memperbaiki dan atau meningkat kualitas diri, insya Allah semua deretan hal tersebut di atas membuat kita lebih tawadhu dan paham arti ajaran Islam yang sesungguhnya. Semoga kita diberikan seluruh kebaikan-kebaikan ini ya Mbak.

    ReplyDelete
  7. Saya selalu berpendapat orang bebal memang lebih menyebalkan daripada orang bodoh. Bodoh saja, biasanya masih ada keinginan untuk belajar. Ini justru harus diapresiasi. Tapi, kalau udah bebal, mending saya menghindar deh dari orang seperti itu.

    Saya selalu suka dengan netizen yang 'pamer' buku bacaan. Menurut saya ini tren yang baik. Mengundang orang lain untuk ikut semangat membaca

    ReplyDelete
  8. Punya pengalaman yang hampir sama soal menyarankan pembagian harta..
    Pada salah satu orang terdekat, saya pernah mengusulkan untuk segera mengurus pembagian harta ke anak-anak Beliau, sesuai saran notaris tempat saya konsultasi satu hal. Bahkan saya bersedia mengantar dan membantu membiayai pengurusan surat wasiat itu ...Sebab, keluarga ini pas ada kedua ortunya saja sudah tidak rukun, berselisih paham, seteru"an, dll. Tapi saya ditolak mentah-mentah bahkan dikata-dikatain, dimusuhin oleh ybs dan keluarganya. Lalu, Qadarullah ibu itu (ybs) meninggal...dan terjadi beneran, berebut harta, berantem saudara sekandung...sampai sekarang tak ada solusi, karena tidak ada wasiat tertulis, tak ada penyataan resmi...hiks

    ReplyDelete
  9. Soal warisan, terutama rumah, bisa dibilang harta panas. Kayak keponakan suami konsul ke suami ttg akta rumah ortu-nya cacat. Ya diminta konsultasi ke notaris kan, kalau perlu bikin duplikatnya. Pada suatu hari ditanya suami, gimana sertifikat apakah sudah diurus, supaya bisa dijual bagi waris. Eh...suami dicurigai mau ikut campur. Lah...gimana sih? Kan kapan itu tanya, dikasih solusi, ya otomatis tanya perkembangan kan...Yawda deh...biarin aja...
    Sering ya kita tuh berhadapan dengan orang "bodo katotoloyoh" bin ngeyelan. Bener-bener ngabisin energi deh hadapinnya...

    ReplyDelete

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat