Pembatas Buku, dari yang Ngawur sampai yang Kreatif!

  
maria-g-soemitro.com

Pembatas Buku, dari yang Ngawur sampai yang Kreatif!

Bagaimana caramu memberi penanda ketika sedang membaca buku? Melipatnya? Duh, jangan deh, jangan ya? Apalagi kalau itu buku pinjaman, gak sopan banget mengembalikan buku dalam keadaan terlipat-lipat.

Selama ini saya menggunakan apa pun yang bisa diraih sebagai pembatas buku. Terkadang kartu nama, struk belanja, sobekan kertas, tiket Whoosh, bahkan sobekan tissue! Ngawur emang. šŸ˜‰šŸ˜‰

Padahal dulu saya termasuk rajin mengoleksi pembatas buku yang juga dikenal sebagai bookmark, penanda buku serta markah buku. Apa pun istilahnya, semua merujuk pada benda yang sama, yaitu alat untuk menandai halaman dalam buku. 

Saya ingat sewaktu masih SD, saya punya koleksi pembatas buku berupa ekor burung merak. Asli, bukan terbuat dari plastik.  Ada yang merupakan pemberian, ada juga yang saya dapat ketika mengunjungi kebun binatang.

Dulu kami, teman-teman SD pengoleksi ekor burung merak, percaya bahwa ekor burung merak tersebut bisa beranak! Anggapan yang konyol emang. 

Penyebabnya mungkin ketika ditemukan sang teman, ada lebih dari satu ekor burung merak yang saling menempel. Beberapa waktu kemudian ekor tersebut lepas dan kebetulan bentuknya lebih kecil. Sehingga imajinasi anak SD pun langsung mengambil kesimpulan: Ekor burung merak bisa beranak! šŸ˜€šŸ˜€

Baca juga:

Distraksi Berjudul Gus Miftah

Tragedi Binatang Bernalar dalam Kasus Mario Dandy

Daftar Isi

  • Nostalgia Pembatas Buku
  • Ternyata ada Sejarah Pembatas Buku
  • Pembatas Buku sebagai Ide Market Day 

Koleksi pembatas buku lainnya berupa daun/bunga kering. Biasanya setiap menemukan daun/bunga jatuh yang berwarna dan berbentuk unik, saya akan mengambilnya. Sesampai di rumah mengelap daun/bunga tersebut, mengangin-anginkan sampai kering, baru kemudian menggunakan sebagai pembatas buku.

Senang rasanya, setelah seiring waktu,  bentuk daun/bunga kering berubah, hanya tertinggal rangkanya saja.

Sekarang, kemana kesenangan mengoleksi pembatas buku itu? Kok menguap begitu saja? Entahlah, bertambah umur kok semakin malas. Kini, saya sangat berterimakasih pada penerbit buku yang menyertakan pembatas buku. 

Dan ngomel jika sebaliknya. Penanda buku kan murah, kok gak mau sekalian dengan bukunya, sih? …. Bla …bla…bla.

maria-g-soemitro.com
sumber:pixabay

Ternyata ada Sejarah Pembatas Buku

Pembatas buku? Apa itu? Pertanyaan itu mungkin muncul dari generasi kekinian yang lebih akrab dengan ebook. 

Sebelum pembatas buku hilang tertelan zaman, saya searching dan menemukan bahwa pembatas buku, sebagai alat untuk menandai halaman dalam buku, telah ada sejak zaman kuno.

Pembatas buku di era Mesir kuno merupakan salah satu pembatas buku tertua yang pernah ditemukan. Pembatas buku ini berisi gambar-gambar dari hieroglif yang indah.

Dibuat sekitar 2.500 tahun yang lalu, pembatas buku ini ditemukan di makam seorang pejabat Mesir.  Pembatas buku lainnya ditemukan pada abad ke-13 di Mesir, yang terbuat dari bahan kertas dan kulit hewan. 

Pembatas buku baru marak digunakan pada abad ke-16, ketika cetakan buku pertama kali diperkenalkan di Eropa. Umumnya menggunakan tali yang diletakkan di antara halaman buku.

Kayu, emas, dan perak, dengan gambar-gambar yang indah dan ukiran yang rumit, merupakan bahan-bahan yang kerap dipakai selama abad pertengahan. 

Sehingga pembatas buku kerap menjadi karya seni yang indah dan sangat dihargai oleh orang-orang kaya pada saat itu. Fungsinya pun berubah, tidak sekadar pembatas buku namun menjadi benda berharga karena unsur estetikanya. 

John Kellogg merupakan salah satu penemu pembatas buku modern yang terkenal pada tahun 1872. Dia menciptakan pembatas buku dengan melekatkan pita satin ke sepotong kertas. Pembatas buku pun menjadi lebih tahan lama dan lebih estetis. 

Seiring waktu, pada abad ke-19, pembatas buku mulai diproduksi massal dengan menggunakan mesin cetak. Banyak dari pembatas buku ini yang terbuat dari kertas atau karton yang mudah dilipat dan dihias dengan gambar-gambar yang menarik. 

Era ekonomi kreatif mengubah pembatas buku sesuai kebutuhan penggunanya. Muncul pembatas buku yang dilengkapi dengan fitur-fitur tambahan seperti penjepit halaman, catatan, atau lampu baca. Beberapa pembatas buku bahkan dilengkapi dengan teknologi digital yang memungkinkan pembaca untuk menyimpan catatan.

maria-g-soemitro.com

Pembatas Buku sebagai Ide Market Day

Kaum ibu di era modern pastinya akrab dengan Market Day.

Market day adalah sebuah kegiatan yang diselenggarakan sekolah atau lingkungan tertentu, yang bertujuan menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan memberikan pengalaman belajar langsung tentang dunia bisnis. 

Pada event Market Day,  siswa berperan sebagai penjual dan pembeli, sehingga mereka bisa belajar tentang konsep jual beli, pemasaran, dan pengelolaan keuangan. 

Banyak ide market day yang bisa diwujudkan, salah satunya terkait literasi. Seperti diketahui:

Menurut sumber, data UNESCO, tingkat literasi Indonesia berada di peringkat ke-100 dari 208 negara pada tahun 2022. Sementara itu, survei Program for International Student Assessment (PISA) 2018 menempatkan Indonesia pada urutan 72 dari 78 negara terkait literasi membaca.

Keseharian ibu modern yang mengemban kewajiban meningkatkan literasi, minimal untuk anak kandung, juga anak-anak di sekitar lingkungannya, bisa banget menggunakan pembatas buku sebagai ide market day.

Pemilik pembatas buku akan terdorong memakainya. Sehingga dia akan mulai membuka buku, dan mencari halaman yang cocok. Setelah itu, kita bisa berharap anak tersebut akan tenggelam dalam dunia indah yang disajikan oleh buku bacaan.

Banyak cara dapat dilakukan untuk menjual pembatas buku, diantaranya dengan membeli dalam jumlah banyak, kemudian menjualnya secara eceran.

Cara lainnya dengan membuat sendiri pembatas buku. Beberapa ide pembatas buku ini bisa banget dipraktikan:

Desain pembatas buku dengan kalimat-kalimat yang menarik seperti quote nyeleneh berikut:

maria-g-soemitro.com

Selain itu, pembatas buku bisa digunakan untuk peduli pada kasus tertentu, seperti climate change, budaya, masalah sosial dan masalah lainnya di sekitar kita.

Atau cara paling sederhana dan simple membuat pembatas buku seperti yang saya lakukan, yaitu hanya bermodalkan kertas origami dan sticker. Kertas origami dilipat, sticker ditempel, maka jadilah.

Ya setingkat lebih lumayan dibanding pembatas buku ngawur di atas (struk belanja, kartu nama, dan lainnya) #tutupwajah😭🤣

Baca juga:

Kiat Agar Tidak Jadi Sarjana Pengangguran

Anak Berpuasa, Antara Reward dan Kecerdasan Bertahan Hidup


No comments

Terimakasih sudah berkunjung dan memberi komentar
Mohon menggunakan akun Google ya, agar tidak berpotensi broken link
Salam hangat