Bahagia Menjadi Ibu Rumah Tangga, Ini 5 Tipsnya!

   
freepik.com


Bahagia Menjadi Ibu Rumah Tangga, Ini 5 Tipsnya!


“Saya hanya seorang ibu rumah tangga, terimakasih pada Master Chef Indonesia yang telah memberi kesempatan.” 

Demikian kurang lebih ucapan seorang kontestan Master Chef Indonesia (MCI) Session 8 yang tersingkir sebelum 15 besar. Ucapan “hanya seorang ibu rumah tangga” nya membuat saya kesal. Hanya, katanya? Sungguh merendahkan. 

Saya paham, dia tidak bertujuan buruk. Dia hanya merasa rendah diri karena berada diantara peserta yang kompeten, peserta yang menyiapkan diri untuk mengikuti kejuaraan, baik belajar melalui jalur akademis maupun otodidak. Sehingga ketika kalah bersaing dengan mereka, maka yang disalahkan adalah status “ibu rumah tangga”nya. 

Jangan lupa, juara pertama MCI season 2 diraih Desi Trisnawati seorang ibu rumah tangga. 

Dalam beberapa kesempatan, salah satu juri MCI, Junior Rorimpandey atau yang biasa dipanggil Chef Juna, sering menekankan bahwa MCI memang ajang kejuaraan untuk juru masak amatir. Jadi, sebagai juru masak amatir di rumah, harusnya seorang ibu rumah tangga bisa bertarung dengan kepala tegak di ajang MCI. 

Baca juga:
Self Love, Saat perceraian Menjadi Solusi 

Menyelami Fikih Perempuan Bersama Channel Aam Amirudin

Daftar Isi

  • Ratu Rumah Tangga sebagai Tolok Ukur Sukses dan bahagia
  • Butuh Keahlian untuk Menjadi Ibu Rumah Tangga
  • Ada Ibu Rumah Tangga Dibalik Kesuksesan Ayah dan Anak
  • Ibu Rumah Tangga, Perekat Cinta Anggota Keluarga
  • Tali Ikatan Sosial Ibu Rumah Tangga
  • Ibu, Tempat Kamu Ingin Pulang   

Sangat menarik menyimak pendapat Renatta Moeloek, salah satu juri MCI lainnya. Dalam suatu  wawancara dengan Her World Indonesia, Chef Renatta mengutarakan persepsinya tentang ukuran kebahagiaan dan sukses seseorang:

For me, sukses adalah jika seseorang happy dengan pekerjaannya, pasangannya,  rumahnya. Karena yang terpenting adalah bagaimana seseorang mensetting hidupnya, sehingga dia bisa merasa happy dengan rumahnya yang  simple, pekerjaan yang gak ngoyo dan pendapatan yang menurutnya sudah cukup.


Jadi, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, berarti dia harus menargetkan sukses agar merasa bahagia sebagai ibu rumah tangga. Dia harus menentukan langkah-langkah yang ditempuh. Dia juga harus bangga memilih peran tersebut dan menegakkan kepala saat berucap: “saya, ibu rumah tangga.” 

Jika seorang ibu rumah tangga meremehkan dirinya sendiri, gimana orang lain mau menghargainya? 

Seorang ibu rumah tangga adalah Ratu Rumah Tangga. Berkat tangan halus yang berubah menjadi kasar dan kurang menarik dia melakukan multi peran. Mulai dari mengurus rumah tangga, mendukung anggota keluarga, manager keuangan, guru bagi anak-anaknya, perawat kompeten bagi anggota keluarga, wah kok banyak banget ya? Mau nambahin? 😃😃😃 

Saya sendiri memutuskan resign sesudah mempunyai 2 anak. Sebetulnya berat hati juga. Jabatan Chief Accounting dan Chief EDP saya raih dari nol, diawali bertugas sebagai staf administrasi keuangan, merangkak naik bersamaan dengan kelulusan saya dari fakultas ekonomi. Dengan kata lain, saya harus mengundurkan diri saat mendapat gaji dan jabatan yang lumayan. 

Tapi membayangkan babysitter lah yang pertama kali dipanggil anak saya, sungguh terasa pilu. Batin saya gak terima. Babysitter yang saya bayar, menghabiskan waktu lebih lama dengan anak-anak saya. Sementara di kantor saya hanya bisa merindukan tawa anak-anak saya, harum bayi , bahkan diompolin anak bisa bikin kangen.  

Seorang ibu rumah tangga yang bahagia akan menularkan kebahagiaan pada keluarganya, sebaliknya berlaku pada ibu rumah tangga yang murung. Agar bahagia, saya mencoba rangkum 5 tipsnya. Silakan tambahin atau share pengalaman bahagia dan sukses menjadi ibu rumah tangga ya?

 

freepik.com


Butuh Keahlian untuk Menjadi Ibu Rumah Tangga

Saya kaget mendengar seorang kerabat jauh gak pernah memandikan bayinya. Alasannya takut pegang bayi. Sehingga semua urusan bayi dikerjakan suaminya, termasuk saat bayi BAK dan BAB. Dia terima beres, tugasnya hanya menyusui. 

Keahlian merawat bayi, menyusui, memberi MPASI, mengajak berbicara, mengajari berjalan serta parenting lainnya memang harus dipelajari. Bukan keahlian yang jatuh dari langit. Saya ingat saat kalang kabut mengurus ke-4 anak saya saat mereka masih bayi. Malah anak ke-3 saya urus sendiri paska bersalin dan pusar bayi belum puput, sepulang dari klinik bersalin tanpa bantuan suami,  ibunda maupun kerabat. 

Namun semua perjuangan itu, ditambah perjalanan merawat gizi keluarga, rasanya belum apa-apa ketika sebagai blogger, saya mengikuti seminar dan webinar. Ternyata ada 1,000 HPK, stunting, anemia, menarche dan masih banyak lagi yang menuntut seorang ibu untuk menambah wawasan dan keahlian.

 

freepik.com


Ada Ibu Rumah Tangga Dibalik Kesuksesan Ayah dan Anak

Mengapa suami dan anak ingin pulang ke rumah? Karena ada ibu di sana. Ibu yang mungkin cerewet dan masakannya sering gosong dan gak enak. Tapi happy banget merasakan keberadaan ibu di rumah. Ibu yang selalu mendukung anggota keluarga, walaupun tampak luar mengomel panjang pendek. Namun selalu mendoakan, seperti pernah diucapkan ustaz Aam Amirudin: 

“Ada doa ibu di setiap langkah suksesmu” 

Banyak ibu rumah tangga yang ikut membuka buku,  belajar lagi,  agar bisa mengimbangi pelajaran sekolah anak-anaknya ya. Ibu yang dengan sabar mengantar jemput anaknya untuk les. Ibu yang menyediakan segelas susu/teh hangat. Ibu yang membangunkan anaknya untuk tahajud dan belajar malam. 

Serta jangan lupa, banyak ibu yang mencari penghasilan tambahan bagi keluarganya.

 

freepik.com


Ibu Rumah Tangga, Perekat Cinta Anggota Keluarga

“Mah, kakak nih mah … dari tadi nyanyi melulu. Kan bising” 

Pernah mendapat aduan seperti di atas? Atau malah jadi santapan sehari-hari? Lucu ya? 

Sekarang sih ketawa geli saat teringat kelakuan anak-anak yang berantem. Masalahnya sering gak jelas. Setiap anak udah dibeliin mainan yang sama, kok ya masih berantem gara-gara mainan. 

Apalagi anak saya nomor 2, yang saya tulis di sini, konsentrasinya pendek. Ketika bosen dia akan mengganggu kakak dan adiknya. Kadang sampai bergumul, guling-guling di lantai. 

Beruntung anak sulung saya termasuk anak yang tenang dan sabar. Saat adiknya mengganggu, dia akan menegur dengan arif. Jika tidak, bisa dibayangin 3 anak laki-laki saya bergumul, saling gak mau kalah untuk memperebutkan mainan.😀😀

Yang lucu saat anak nomor 3  menetapkan diri sebagai “balad Persib Bandung”. Dia dibully kedua kakak laki-laki dan ayahnya yang menjadi pengagum team lain. Agar fair, saya pun ikut terjun di dunia kaum jantan ini. Saya mempelajari siapa saja para pemain Persib Bandung. 

Turut menonton setiap pertandingan Persib Bandung dan belajar apa itu kick off, counter attack, posisi off side, yang menurut saya ….aneh banget aturannya. 😁😁 

Dan tentu saja, saya kerap ikut begadang untuk menonton kejuaraan FIFA World Cup dan UEFA Champions League, minimal agar sesajen mereka (minuman hangat dan mie instant 😀😀), tersedia.

 

freepik.com


Tali Ikatan Sosial Ibu Rumah Tangga

“Ibunya ada?”   

Pertanyaan serupa sering dilontarkan tetangga yang berkunjung. Baik sekadar menyapa sebagai tetangga baru, maupun ketika saling berkirim makanan. 

Keharusan “hablum minannas”, membuat seorang  ibu rumah tangga menjadi perekat tali silaturahmi antar tetangga. Dia adalah ratu keluarga. Malah dalam kultur di Indonesia, single parent yang terdiri dari ibu dan anak, lebih dianggap lumrah dibanding ayah dan anak. Gak heran pertanyaan “ibunya ada?” kerap muncul. Bahkan salesman yang lalu lalang di kompleks perumahan akan melontarkan pertanyaan yang sama. 

Peranan ibu rumah tangga semakin dibutuhkan dalam lingkungan perumahan yang guyub. Ada pertemuan arisan yang harus dihadiri ibu rumah tangga. Ada pengajian bulanan yang terdiri dari ibu rumah tangga. Ada pertemuan/arisan keluarga besar, serta relasi sosial lainnya.  

Sehingga, ketika seorang perempuan memutuskan menjadi ibu rumah tangga, penting banget untuk berubah. Dia bukan lagi anak mama yang pulang sekolah bisa seenaknya masuk kamar dan menenggelamkan diri. Dia telah menjadi simbol suatu keluarga. Dia telah menjadi wajah keluarga yang mau tidak mau harus muncul dan berperan.

 

freepik.com


Ibu, Tempat Kamu Ingin Pulang

Della, keponakan saya sering kangen nasi goreng buatan ibunya. Padahal nasi gorengnya cuma terbuat dari bawang putih yang ditumis dan telur orak arik. Gak pakai kecap aneka macam serta beraneka rupa bumbu. Nggak. Cuma nasi goreng berwarna putih yang harum bawang serta telur. Gampang pisan ya? 

Ibunya Della seorang perempuan karir, jika punya waktu luang memasak dia selalu memilih masakan simple. Namun semua anggota keluarga menyukainya. 

Seorang ibu memang segalanya. dia adalah teman sekaligus sahabat sekaligus teman berantem. Kepada ibu kamu ingin pulang, ingin curhat, tertawa dan menangis. Walau mungkin sosok ibu tidaklah ramah, gemar marah dan jutek. Tapi ibu selalu ngangenin, bahkan ketika dia marah. 

Karena itu seorang ibu rumah tangga harus selalu mengasah pengetahuan agamanya, mendalaminya dan mengamalkan untuk keluarganya. Agar setiap marahnya mampu ngangenin. Agar setiap doa yang terucap mengantar suami dan anak-anaknya untuk bahagia dan sukses. 

Sebagai penutup, ada kalimat sangat berkesan yang pernah saya baca tentang ibu rumah tangga:

Seorang ibu rumah tangga bak bawang merah. Banyak lapisannya yang penuh misteri. Dari luar nampak merona merah dan berkilau. Cobalah kupas lapis demi lapis. Maka kamu akan mengetahui rahasia terpendam yang akan membuatmu menangis

Jadi sebagai bagian korps ibu rumah tangga, yuk saling menguatkan dan berpikir positif.

Baca juga:
Burnout Syndrome pada IRT dan 5 Tips Mengatasinya 

Mendobrak Sterotype Perempuan Indonesia Bersama Stellar Women Entrepreneurship Academy


sumber gambar: freepik.com

33 comments

  1. Speechless*
    Ambuuuu. Makasii udah menghadirkan artikel indaahhh ini
    Keren buanget, aseliikk

    ReplyDelete
  2. Ya allah merasa tercerahkan sekali. Kali ini saya harus bangga jadi Ibu Rumah Tangga tanpa kata "hanya"

    ReplyDelete
  3. Betul ada banyak pesan tersimpan untuk sebuah keluarga, orang tua pilar pendidikan buat anak-anak.

    ReplyDelete
  4. Orang tua seperti pilar dalam keluarga, pengasuhan, kelekatan, komunikasi, pendidikan dimulai dari rumah. Ibu kerjasama dengan bapak pilar utama.

    ReplyDelete
  5. Chef renata adalah chef yang menurut saya bijak dalam bersikap. Saya suka pendapat chef renata: "for me pekerjaan yang bahagia atas dasar senang, termasuk rumah simpel dll"

    Selalu senang kalo lihat chef renata dengan kewibawaannya sebagai seorang perempuan. Inilah yang harus dicontoh seorang ibu rumah tangga hebat.

    Makasih artikelnya sudah kubaca tuntas, banyak faedahnya kak...

    ReplyDelete
  6. Terkadang saya masih suka bilang 'hanya' IRT. Padahal saya gak ada rasa minder sedikit pun menjadi ibu rumah tangga. Meskipun mengakui kalau kerjaannya gak ringan. Tetapi, saya menikmati banget. Hanya memang kebiasan aja hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. coba hilangkan kata "hanya" hasilnya akan beda jauh banget

      Delete
  7. Aku baca ini sambil lihat mamaku yg lagi masak 😄

    ReplyDelete
  8. Ah suka sekali kutipan terakhir, ibu Rumah Tangga bak Bawang Merah.
    Makasiih sudah bikin artikel ini mba.love bgtt 💗

    ReplyDelete
  9. Jangan sepelekan seorang ibu rumah tangga ya Ambu, kalau tidak ada ibu rumah tangga kelar hidup kita. SAya saja kalau tidak ada ibu saya yang berperan sebagai ibu rumah tangga mungkin hidup saya tidak kan berhasil seperti sekarang.

    ReplyDelete
  10. Bangga banget ya menjadi ibu rumah tangga, banyak dibutuhkan. jadi beneran harus bahagia selalu, biar seisi rumah ikut bahagia.

    ReplyDelete
  11. Ada banyak ibu rumah tangga yang merasa tidak happy menjalani perannya ya,Mbak. Saya pernah sih melihat langsung ibu yang suka memaki anaknya karena tekanan hidup juga mungkin yang dialaminya. Ini tips bahagianya memang harus diaplikasikan juga deh oleh para ibu agar semakin happy jalani peran.

    ReplyDelete
  12. Benar banget Ambu, memang terkadang status sebagai ibu rumah tangga masih dianggap sebelah mata
    makanya banyak perempuan yang tidak PD saat menjadi ibu rumah tangga
    padahal ibu rumah tangga adalah pekerjaan yg mulia

    ReplyDelete
  13. Luar biasa dengan keputusan yg diambil... Beda denganku, setelah 5 tahun jd IRT, aku nekat kerja lagi. Wkwkwkkk ... Gak betah di rumah aja soalnya. Juga buat bantu ekonomi rumah tangga sih. Lagipula anak2 uda gak full ASI waktu itu, baru kutinggal kerja deh

    ReplyDelete
  14. Yes, Peran ibu rumah tangga emang Luar Biasa. Aku belum Berumah tangga tapi aku juga harus banyak belajar 🤩

    ReplyDelete
  15. Semangaaattt utk para Ibu Rumah Tangga!
    InsyaALLAH surga terbaik hadiah untuk kita semua, aamiiiinn

    ReplyDelete
  16. Aku speechlesss Ambuu..
    Pernah memilih jadi Ibu Rumah Tangga sejati pasca melahirkan dikala puncak karir sebagai wanita.
    Tapi aku bahagiaaaa, 9 tahun full jadi IRT, so happy, selalu menyenangkan, melihat tumbuh kembang anak ditangan sendiri. Plus luar biasa punya label Ibu tuh, hiks ke di atas taadi, dikangenin masakannya, nasgor yang biasa ja, telor ceplok doank, obrolannya dll.

    Ahhh makasih ambuuuu..
    Bangga aku jadi IRT dan bangga juga aku sebagai Ibu bekerja.
    Semoga keduanya bisa saling seimbang dan berkesinambungan.

    ReplyDelete
  17. Wow, saya baca tulisan ini tak bisa bernafas. Selama ini memang tidak banyak orang menghargai pekerjaan rumah tangga kecuali diri kita sendiri. Penghargaan diri itulah jadi puncak kebahagiaan. Thanks so inspiring article.

    ReplyDelete
  18. Duh, Teteh, saya juga gak suka denger kata "hanya" di depan frase "ibu rumah tangga". Pingin saya cubiiiit sampai sakit.

    Ibu rumah tangga itu bukan "hanya" lho, dia tahu caranya mengasuh anak, caranya nyuguuhin minum bagi suami yang moody, tahu caranya manggil tukang genteng kalau gentengnya bocor, tahu caranya nawar tukang sayur dengan halus tanpa jadi dimusuhin. Orang yang bukan ibu rumah tangga mah mana bisa gigituan?

    Mending nggak usah pakai kata "hanya" deh di depan frase "ibu rumah tangga". Mental inferior sekali..

    ReplyDelete
  19. asalkan itu semua keputusan diri kita sendiri dan didukung oleh orang terdekat, apapun yang kita jalani bisa membahagiakan. aku juga full IRT dengan sambilan ngefreelance heheh

    ReplyDelete
  20. saya sebagai ibu bekerja jujur kagum sama mereka yang memilih jadi ibu rumah tangga karena memang bebannya pasti lebih berat. Meski demikian setiap ibu memiliki tantangannya masing-masing ketika memilih jadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja dan saya sependapat kalau ibu itu harus bahagia agar keluarga juga bahagia

    ReplyDelete
  21. Perempuan di keluargaku kebanyakan sebagai Ibu Rumah Tangga. Jadi dulu itu ya gak mikir macam-macam dan jadi IRT kayanya sudah terbaik. Sekarang sudah banyak perbedaan. Jadi IRT tetap harus berprestasi, jadi bahagia dengan cara kita sendiri

    ReplyDelete
  22. Banyak yang menganggap remeh ibu rumah tangga. Padahal aslinya IRT juga perlu waras biar selalu bahagia

    ReplyDelete
  23. Karena hadirnya seorang ibu rumah tangga, memberikan makna kehidupan untuk para anggota keluarga. Susah dan senangnya, ibu rumah tangga adalah kuncinya.

    ReplyDelete
  24. Suka sama tulisannya 😍😍😍. Menjadi Ibu rumah tangga itu memang ga mudah ya, dan luar biasa sekali. Pas pertama jadi Ibu rumah tangga, takjub banget bisa melakukan banyak hal. Dan memang penting selalu bahagia ya.

    ReplyDelete
  25. Ibu rumah tangga = ratu rumah tangga sepakat Mbu! Seorang ibu juga punya banyak power di rumah. Sekarnag emang udah ngga jaman mrendahkan ibu rumah tangga ya Ambu baik orang lain atau IRT sendiri yang melakukan

    ReplyDelete
  26. "Ibu rumah tangga" itu profesi paling mahal di dunia. Saya lupa siapa yang pernah menghitung dan kemudian menulisnya di harian Kompas. Maka sejak calon suami bagus banget kalau diskusi ini: Mas, nanti kalo nikah mau gak bantu cuci piring, ngepel lantai, dan hal2 kecil yang tampak remeh ;)

    ReplyDelete
  27. Gak enak banget yaa, Ambu..
    Aku juga sedang belaajr menghargai diri sendiri, Ambu. Semoga dengan apa yang kita lakukan untuk diri sendiri, dimulai dari mencintai apa yang kita lakukan dan kita bisa di bidang tersebut, maka hargailah.
    Jangan bilang "cuma" yaa, Ambu.

    Etapi, Ambu...
    Banyak orang yang merendah untuk meninggi loo...Ambu.

    ReplyDelete
  28. Jadi ibu rumah tangga tuh luar biasa kata aku mah. Tugas yang nggak pernah berhenti seumur hidup :)

    ReplyDelete
  29. Kunci rumah bahagia memang tergantung pada kondisi emosi ibu ya mbak. Kalau murung pasti anaknya juga akan menjadi pemurung. Makanya harus bahagia selalu agar seisi rumah ikut bahagia dan diselimuti dengan cinta.

    ReplyDelete
  30. Salut buat para ibu rumah tangga, menjadi ibu rumah tangga itu nggak kelihatan enteng yang seperti dipikirkan oleh orang lain. Pekerjaan rumah tangga dan pekerjaan lain seperti kantoran tuh sama-sama berat, yang sulitnya menjadi ibu rumah tangga itu mengurusi anak termasuk masih kanak-kanak apalagi kalau anaknya banayk. Tetapi Ibu rumah tangga juga tetap bisa bekerja untuk mencari uang seperti berbisnis atau freelancer.

    ReplyDelete
  31. Masya Allah, Alhamdulillah jadi ibu rumah tangga nih :) banyak bersyukur ya masih punya pilihan buat di rumah saja membersamai anak :)

    ReplyDelete