Semalam di Musafir Guest House, Penginapan Syar'i di Pusat Kota Solo



Tahu perbedaan penginapan syariah dengan konvensional?

Pertanyaan tersebut selalu mengganjal, walau saya sudah menjajaki dan menginap di beberapa hotel berlabel syariah. Tidak ada staf hotel yang bisa memberi penjelasan secara memuaskan.

Beruntung akhir January 2020, saya  menginap di Musafir Guest House, penginapan di pusat Kota Surakarta/Kota Solo, yang tidak menuliskan kata “syariah” , namun menerapkannya. Kesempatan menginap merupakan hadiah doorprize di acara bedah buku mbak Diajeng Laraswati Hanindyani, di akhir tahun 2019.


Terletak di pusat kota Surakarta, tepatnya di Jalan Dewi Sartika nomor 1, Surakarta, para tamu yang menjejakkan kaki di Musafir Guest House akan disambut bangunan beratap tinggi. Pintu dan jendelanya lebar-lebar, mempersilakan udara bersirkulasi dengan leluasa, membuat tamu merasa betah dan nyaman.

Namun, syariah menjadi kata kunci, apa bedanya dengan penginapan konvensional?



Musafir Guest House Sebagai Penginapan Syariah

Bapak Suprapto, manager Musafir Guest House menjelaskan sebagai berikut:

1. Hanya pasangan halal dan muhrim yang boleh menginap.

Bagaimana caranya? Yang paling mudah tentu saja dengan memeriksa kartu tanda penduduk. Pasangan suami istri sah umumnya memiliki alamat yang sama.

Mengapa bukan buku nikah? Karena hampir gak ada pasangan suami istri yang selalu membawa buku nikahnya. Kecuali mungkin pasangan pengantin baru yang terburu-buru berangkat, paska penandatangan buku nikah di KUA.🤣🤣

Manager hotel dan staf biasanya bisa membaca bahasa tubuh. Para calon tamu non halal tersebut juga umumnya tidak membawa koper.

Penolakan tamu non halal tentunya tidak secara vulgar. Bahkan Bapak Suprapto bilang:
“Jika mereka bersikeras mau menginap, kami akan menyediakan 2 kamar. Walau mereka hanya membayar 1 kamar”

Penegasan hanya menerima tamu pasangan suami istri yang sah, tentunya berkaitan dengan kehalalan pendapatan yang diterima hotel/penginapan. Selain itu, memperbolehkan pasangan non halal menginap di hotel, seolah mempersilakan berzinah, membuat pemilik dan pegawai hotel kecipratan dosanya.

Nggak enak banget ya?

Kenyamanan tamu hotel lainnya juga akan terganggu, jika ada pasangan non halal cekikikan di sekitar mereka. Pastinya bikin risih bukan?

2. Penyediaan makanan/minuman halal

Hanya makanan/minuman halal yang disediakan bagi para tamu. Untuk menjamin kehalalan makanan/minuman, Musafir Guest House tidak menyediakan sarapan nasi dan lauk pauk, tetapi berupa snack/kue basah.

Juga tidak ada bar, bunyi musik hingar bingar dan suasana hura-hura, yang kerap berkaitan dengan miras serta perbuatan maksiat.

3. Kemudahan bersuci

Setiap rest room atau kamar kecil menyediakan air yang cukup untuk bersuci. Agar tamu dapat dengan mudah melakukan aktivitas baik BAK, BAB, mandi dan tentu saja berwudu. Jangan sampai tamu mendapat kesulitan air bersih.

4. Kemudahan beribadah

Penunjuk arah kiblat kerap diremehkan penginapan konvensional. Tidak demikian halnya dengan penginapan syariah. Juga harus disediakan sajadah, mukena dan Al-Quran.


Penginapan Homey di Pusat Kota Surakarta

Bukan pertama kalinya saya datang dan menginap di Kota Surakarta. Separuh darah anak-anak saya berasal dari kota batik ini. Ada pemakaman dan kerabat yang harus disinggahi setiap tahunnya.

Sehingga bisa merasakan betapa jauh berbeda, menginap di hotel konvensional, walaupun termasuk hotel berbintang, dibanding hotel syariah.

Di sini, para tamu yang menginap akan merasa “diuwongke” atau di manusuawikan. Karena pemilik hotel nggak hanya berorientasi profit, tapi juga keberkahan dan kenyamanan tamunya.


Bak ucapan selamat datang, sehelai permadani khas Eropa Timur tergelar di dinding “Musafir Guest House”. Juga seperangkat kendi berisi air minum pelepas dahaga.

Nyaman. Sungguh berbeda dengan suasana di luar bangunan. Udara panas yang menyergap, yang kerap menjadi penyebab, saya nggak betah di kota Surakarta.

Ada 2 jenis kamar di sini. Deluxe room yang diberi nama Jasmin room dan superior room. Deluxe room terletak di bangunan utama. Lebih luas dan lega dibanding superior room. Namun fasilitas yang diberikan sama. Apa saja?
  • Fasilitas pantry 24 jam. Tempat pengunjung bisa membuat minuman dan masakan cepat saji seperti mie instan. Kopi dan teh siap seduh selalu tersedia.
  • Internet super kencang di setiap kamar, dengan password yang bisa ditanyakan pada petugas hotel.
  • Saluran televisi premium, sayang saya ngga menggunakannya. Saya memilih jalan/kulineran dan tidur, dibanding leyeh-leyeh menonton TV.
  • Bathtub dengan air hangat, khususnya untuk deluxe room. Namun tidak ada perbedaan untuk fasilitas shampo, sabun mandi dan handuk. Saya menyukai shampo dan sabun mandi cair yang dikemas dalam perangkat pakai ulang terbuat dari keramik.
  • Ruangan serbaguna. Terdapat ruangan meeting yang bisa digunakan pengunjung yang membutuhkan ruangan khusus. Ruangan ini sedang direnovasi, agar tidak hanya menjadi ruangan meeting, juga perpustakaan yang kerap dibutuhkan pengunjung tertentu.
  • Membawa kendaraan pribadi? Jangan kaget di pagi hari, ketika akan menggunakan kendaraan roda 4, ternyata sudah kinclong.

ruangan serba guna

Berencana mengunjungi Kota Surakarta tanggal 13 Januari 2020, saya harus reschedule menjadi tanggal 22 Januari 2020.


Ternyata perubahan jadwal tersebut membawa keberuntungan. Tingkat hunian di “Musafir Guest House” sedang sepi, sehingga saya dipersilakan check in pukul 6.00 pagi, tak lama sesudah menjejak stasiun kereta api Kota Surakarta. Serta check out pada pukul 17.00 keesokan harinya.

Keleluasaan diberikan pihak hotel untuk menyesuaikan jam kedatangan saya, dan kesempatan Bimo, anak saya menjemput keesokan harinya. Maklum Bimo baru pulang kantor kam 17.00 WIB. Walau bisa sih, Bimo menjemput sekitar pukul 12.00/waktu normal check out. Namun pak Suprapto menggeleng:

“Santai aja bu, selama kamar tidak sedang penuh, silakan check in dan check out sesuai waktunya putra ibu”.

Senang banget pastinya.


Mengapa Memilih “Musafir Guest House”?

Jadi, jika ada kawan yang meminta rekomendasi penginapan di Kota Surakarta, maka dengan mantap saya akan menyarankan “Musafir Guest House”, bahkan dibanding hotel bintang 5. Karena:

  1. Menerapkan konsep syariah sehingga tamu yang menginap merasa nyaman, seperti yang telah saya uraikan di atas.
  2. Homey. Merupakan bangunan tua yang berdiri tahun 1950, kamar dan suasana “Musafir Guest House” membuat tamu merasa betah. Jika tak ada aral melintang, saya ingin sekali tinggal disini selama sebulan. Menulis dan menelusuri Kota Solo. Sendirian dan tanpa beban.
  3. Terletak di pusat kuliner. Sesampainya di “Musafir Guest House”, Bimo segera mengajak sarapan. Ternyata, cukup dengan jalan kaki saya bisa kulineran tahu kupat yang terkenal di Kota Solo, juga soto Gading, janggelut, sosis solo serta sego liwet di sore hari. Destinasi yang menjadi target pemburu kuliner.
  4. Strategis. Terletak di pusat Kota Solo, dengan mudahnya tamu bisa mengunjungi Pasar Klewer, pusat batik Kota Surakarta. Pasar Gede, pasar bersejarah di Kota Surakarta, bahkan bisa berjalan kaki menelusuri kawasan keraton yang letaknya tak jauh dari “Musafir Guest House”
  5. Tersedia guide. Ingin mengeksplorasi Kota Solo dan sekitarnya? Sendirian atau sekeluarga, silakan menghubungi Bapak Soeprapto, Manager “Musafir Guest House”. Tersedia paket sesuai kebutuhan.

Jika ada yang saya sesalkan, penyebabnya adalah “Musafir Guest House” baru dibangun tahun 2018. Usianya masih muda. Andai telah ada 10 tahun lalu, pasti saya akan betah di Kota Solo.

Walau demikian tetap saya syukuri karena keberadaan “Musafir Guest House” menjadi oase bagi pengunjung Kota Surakarta yang ingin menikmati kota ini dengan nyaman dan sepuas mungkin.

pantry 24 jam (dok. Maria G Soemitro)



15 comments

  1. Wach kepingin ke Solo, jadi kabita.

    ReplyDelete

  2. Nah ini aku suka bgt Ambu, boleh chek in pagi dan chek out jam 5 sore keesokan harinya kl lagi ga rame ya, beda sama hotel konvensional mo sepi atw rame ttp chek out jam 12 siang. Dan aku nih kl pergi mang ga pernah bawa koper, jd paksu dan anak bawa tas ransel smua. Masa iya ttp ga boleh chek in hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, homey banget, bikin betah
      Saya berencana kesini lagi di musim anak sekolah, agar nggak terburu buru ^^

      Delete
  3. Wiiiih, pantrynya 24 jam berasa bebas ketika tengah malam kelaperan, mau masak mie atau nyeduh teh panas. Tempatnya pun strategis ya mbak, noted kalau ke Solo.

    ReplyDelete
  4. Senang ya check-in dan check-out nya bisa disesuaikan dengan waktu Ibu dan Bimo. Lokasi strategis jadi andalan utama juga tuh menurut saya. Kaum milenial bakal tertarik juga nginap di guest house ini

    ReplyDelete
  5. Pastinya tenang nginap disana ya mbu, apalagi untuk menulis jadi lancar dengan ide-ide cemerlang, kalau jalan-jalan kesana aku mampir ah😊

    ReplyDelete
  6. Semoga makin banyak ya penginapan seperti ini yang hanya menerima pasangan halal, karena terkait juga pendapatan yang halal

    ReplyDelete
  7. Aku tadinya ngga punya ekspektasi apapun terhadap kota Solo.
    Tapii, sejak tahun lalu, pas ikutan acara pak Sandi Uno, aku langsung sueneeengg ama kota ini.
    Auranya menenangkan.
    Apalagi kalo pas ahad pagi ada CFD di Jln Slamet Riyadi, ya ampuuun enjoyy betul di sana.

    Thn ini insyaAllah aku mau recharge energi di Solo. Sepertinya Musafir Guest House jadi pilihanku.
    Makasiii, Ambuuuu

    ReplyDelete
  8. Feels like home banget ya Mba Maria. Cocok ini buat liburan keluarga besar dengan banyak anak, atau liburan bareng kakek nenek ke Solo.

    ReplyDelete
  9. Ambu, kenapa nggak ada sarapan nasi plus lauk pauk itu untuk menjaga kehalalan makanan ya? Kan bisa dipilih menu dari bahan-bahan halal yang pastinya tersedia banyak banget di Solo.

    ReplyDelete
  10. “Musafir Guest House” noted. Plan mau kejawa sih th ini. Moga bisa mampir surakarta and nginap disini hehe

    ReplyDelete
  11. Wah, guet house-nya nyaman sekali ya ambu. Kamarnya adem dan bersih. Mana syariah pula. Jadinya tenang ya gak bakalan ada apa-apa karena kalo nginep di sana kudu pasangan halal. Noted buat referensi, Ambu :)

    ReplyDelete
  12. Semoga kapan2 aku berkesempatan untuk menginap di sini mba Maria, gemes sama tempatnya apik dan homy banget ya mba. Apalagi disuguhi air dari kendi, mak nyes banget ya. Syariah Musafir ini rekomended banget yakin. Beruntung bisa nginep di sini mba.

    ReplyDelete
  13. Senang sekali, ya kalau menginap di tempat yang homey dan menetapkan sistem syar'i. Lebih berkah guesthouse-nya, yang menginap juga tidak was-was.

    ReplyDelete