Sejuta Asa, Segenggam Renjana di Kampung Ragam Warna Mranggen



source: Tanti (mechtadeera.com)

Hawa panas menyambut.

Berkelindan dengan senyum ramah panitia Festival Seni Kaliwungu 2019. Sungguh sambutan yang diluar dugaan. Sebagai warga Bandung, saya sudah mengunjungi banyak kampung kreatif. Bahkan saya pernah menjadi penyelenggara festival seni kampung di pinggir sungai (sumber)

Namun belum pernah mendapat sambutan seramah ini. Membuat udara panas terasa hangat. Mengalir dan memenuhi rongga dada. Senangnya.

Festival Seni Kaliwungu 2019 berlangsung di Kampung Ragam Warna Mranggen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Saya mengetahui berkat promosi beberapa teman melalui akun facebooknya. 

Hasil penelusuran via Google memberitahu bahwa kampung ini bukan sekedar kampung kumuh yang dicat, melainkan kampung yang dinamis dengan kreativitas.

Karena itu, tanpa banyak pertimbangan, saya mendaftar dan Alhamdullilah,  pada tanggal 18 Oktober silam, salah satu panitia mengirim pesan agar saya mendaftar ulang pada tanggal 26 Oktober 2019. Penginapan dan makan’/minum disediakan. Asyik banget ya?

Begitulah awal saya terdampar di kampung penuh senyum ramah ini. Kampung yang membuat saya terkesan. Wow, melanglang begitu banyak kampung yang disulap menjadi kampung wisata, baru kali ini menemukan warga kampung yang ‘menginjak bumi’, memperlakukan tamu sesuai kultur yang berlaku.

Maksudnya?

Begini, ada beberapa jenis kampung yang didesain menjadi kampung wisata.
Antara lain:
  • Kampung adat, contohnya kampung Cireundeu. Khas dengan penghuninya yang hanya makan singkong. Setiap tahun kampung Cireundeu menyelenggarakan upacara adat yang berlangsung meriah. 2 hari 1 malam.
  • Kampung pelangi, contohnya kampung warna di Kota Malang yang didesain sekelompok mahasiswa/i.
  • Kampung kreatif di Bandung, dirancang oleh Rahmat Jabaril, yaitu Kampung Dago Pojok, Kampung Cicukang, Kampung Cicadas dan masih banyak lagi.
Nah, Kampung Ragam Warna Mranggen mengadopsi kampung pelangi dan kampung kreatif, ditambah keramahan panitia dalam menyambut tamu. Hal yang sering dilupakan kampung lain. Mungkin panitia terlalu sibuk dengan tugas. Membuat tamu merasa asing, nggak nyaman serta serba salah.

Beda halnya dengan panitia Kampung Ragam Warna Mranggen, mereka dengan sigap menyambut kami dan memberi bantuan. Mereka tahu bahwa sebagai tamu yang telah menempuh jarak jauh, kami ingin segera melepas lelah.

Guest house sederhana namun nyaman menyambut kami. Penuh guratan warna seperti halnya deretan rumah, jalan, beragam fasilitas kampung serta tembok yang kami lewati. Meriah. Tidak hanya warna, juga nampak karikatur, lukisan punakawan serta rangkaian huruf jenaka.

Sehingga, andaikan tidak ada event seperti “Festival Seni Kaliwungu” , pengunjung bisa melakukan banyak hal seperti berfoto dan kulineran.



Kampung Sejuta Asa

Konseptor Kampung Ragam Warna Mranggen, Bambang Suprayogi dan istrinya, Wiwik Wijaya, nampaknya menemukan berlian yang belum diasah. Setelah membina kampung Sabrang Lor dan Kampung Pesantren, jiwa pasangan yang energik ini berlabuh di Mranggen.

Paling tidak, itulah yang saya rasakan ketika memasuki kampung yang penuh kehangatan ini, kemudian mengobrol dengan Wiwik Wijaya. Sambil menyelonjorkan kaki di lantai guest house, berharap mendapat kesejukan dalam terpaan udara panas.

Wiwik mengakui bahwa walau dia dan suaminya merupakan pendamping Kampung Ragam Warna Mranggen, namun semua inisiatif berasal dari warga. Semua usulan terangkum beragam acara workshop dan lomba, yaitu smock (Seni Model Orang Cah Kalowungu), kartunis, sumpil (makanan tradisional), lukis payung, rebana dan drumblek, atau musik dari berbagai peralatan. Blek = kaleng dalam Bahasa Jawa.

Selain itu, kelebihan kampung wisata binaannya adalah promosi. Hal yang tidak dimiliki banyak kampung kreatif di Bandung, karena di era tersebut dunia digital belum semaju sekarang. Banyak kampung adat yang beralih menjadi kampung wisata, juga melalaikan kegiatan promosi yang peranannya teramat vital.

Promosi dibutuhkan kedua belah pihak. Para wisatawan yang haus destinasi, serta kampung wisata yang membutuhkan penonton dalam gelaran seninya.

Pertunjukkan tanpa penonton tentunya bakal menyedihkan. Kedatangan penonton akan membuat pelakon pertunjukan bersemangat, dan selalu berkreasi agar penonton mendapat tontonan segar.

Asa menjadi kebutuhan pengunjung yang datang memenuhi kampung wisata. Asa pulalah yang membuat warga selalu membenahi kampungnya agar disinggahi. Berimbas pada asa meningkatnya pekonomian di sana. 

Serta asa kebanggaan warga bahwa mereka adalah pemilik kampung wisata, dalam hal ini Kampung Ragam Warna Mranggen.



Kampung Segenggam Renjana

Renjana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah rasa hati yang kuat, atau  semangat mencintai.

Semangat mencintai membuat keberlanjutan  Kampung Ragam Warna Mranggen menjadi keniscayaan. Karena goresan warna harus diulang, kreativitas harus semakin berkembang dan budaya harus senantiasa dipupuk.


Renjana yang paling maknyuz pastinya jika bersama pengunjung, warga memilah sampah. Karena sampah sekali pakai nampak menumpuk. Mengkhawatirkan jika Kampung Ragam Warna Mranggen semakin terkenal, pengunjung membludak, meninggalkan sampah yang tak terkendali.

Goalnya adalah keseimbangan hidup.  Kampung Ragam Warna Mranggen bukan hanya destinasi  yang disukai wisatawan, namun juga kawasan rumah yang nyaman dihuni warganya.



Terpencil Tapi Dicari

Penggemar kuliner Kota Bandung pastinya akrab dengan WaLe, singkatan dari Warung Lela. Terletak terpencil di utara Kota Bandung, Warung Lela tidak masuk kategori warung karena bangunannya yang keren dan cozy. 

Pengunjung datang ke WaLe tidak sekedar untuk makan, tapi juga menikmati pemandangan yang indah. Tak heran berderet kendaraan yang dari luar Kota Bandung menyengaja datang ke lokasi yang sulit diakses transportasi publik ini.

Demikian juga Kampung Ragam Warna Mranggen, pengunjung harus menyengaja datang. Lokasinya tidak strategis. Pengunjung harus menggunakan GPS, masuk ke jalan selebar 3 meter, yang bakal menyulitkan ketika berpapasan dengan kendaraan lain.

Namun seperti Kampung Cireundeu yang selalu dikunjungi wisatawan, Kampung Ragam warna Mranggen juga demikian. Dengan nilai lebih tentunya. Karena ada warga yang ramah menyambut. Goresan warna yang instagramable. Serta suguhan kegiatan workshop dan lomba  yang menantang kreativitas.


source: Tanti (mechtadeera.com)

Tentang Tarian Sufi dan Sumpil

Kampung Mranggen sebetulnya tidak dapat dikatakan sepenuhnya sebagai kawasan yang terpencil. Paling tidak ada 3 makam wali yang mengapit kampung ini, yaitu:
  • Makam Sunan Katong, seorang Adipati Ponorogo yang masuk Islam dan diutus Wali Songo ke Kaliwungu, Kendal. Di Kaliwungu, Sunan Katong menyadarkan Empu Pakuwaja dengan cara yang tidak mudah. Melalui adu kesaktian, Empu Pakuwaja menyerah dan masuk Islam.
  • Makam Empu Pakuwaja (paku= paku ; waja= baja; melukiskan betapa saktinya sosok Empu Pakuwojo). Dipanggil juga Suro Menggolo, Empu Pakuwojo merupakan  murid Syekh Siti Jenar. Dia juga merupakan seorang petinggi Majapahit, ahli membuat senjata yang disegani karena kesaktiannya.
  • Makam Kyai Asyari. Ulama besar yang penuh kharisma pada sekitar tahun 1781.  Pendiri pondok pesantren terbesar di Kaliwungu ini menurut garis silsilah merupakan keturunan Sayyidina Ali. Kepopuleran Kyai Asyari berasal dari cara dakwahnya yang unik, menarik dan kontroversial.
Keberadaan makam para wali menjawab pertanyaan mengapa ada tarian sufi dalam pertunjukan seni di Kampung Ragam Warna Kaliwungu. Juga makanan sumpil yang khusus dibuat pada tradisi weh-wehan dalam acara Maulid Nabi Muhammad SAW.

Bentuk segitiga dari ketupat sumpil melambangkan hubungan manusia dengan Tuhannya (habluminallah), serta hubungan sesama manusia (habluminannas). Walaupun bernama ketupat, bahan pembungkus sumpil tidak terbuat dari janur/daun kelapa muda, melainkan daun bambu.

Keunikan lainnya, ketupat sumpil memiliki garis horisontal yang berasal dari tulang daun bambu. Cara menyantapnyapun bukan dengan opor ayam seperti halnya ketupat lebaran. Ketupat sumpil disajikan dengan parutan kelapa.


Kedua macam budaya khas Kaliwungu ini dapat pengunjung temui di Kampung Ragam Warna Kaliwungu, bersama jutaan temuan lainnya. Karena warga dengan senang hati akan bercerita, menambah kedalaman elemen yang ditemui dan membuat betah.


Ah, mungkin perlu waktu seminggu agar dahaga atas budaya Kaliwungu, terpuaskan. 



Penutup

Wow, tanpa sadar saya berujar. Sungguh beruntung saya datang ke Kampung Ragam Warna Mranggen ini. Pengunjung tidak hanya disuguhi guratan warna warni yang tahun 2019 ini dipersembahkan Pacifik Paint. Tapi juga diajak menyelami, memahami sejarah Indonesia yang sangat kaya.

Jika ada penyesalan, adalah bentuk penasaran akan batik Kaliwungu. Konon mereka memiliki batik dengan corak tertentu. Mengapa pengunjung tidak mendapat kesempatan menikmatinya? Bahkan mungkin belajar membatik Kaliwungu?

Ya, mengapa tidak?

Kita tunggu gebrakan Kampung Ragam Warna Mranggen tahun depan, tahun 2020.

Semangat!




Comments

Mechta said…
Alhamdulillah..kmrn saya bisa hadir di Kampung Ragam Warna yg keren ini dan juga berkenalan dg Ambu dan juga teman2 blogger lain yg hadir. Semoga semakin baik pengelolaan Kampung Ragam Warna ini ya Ambu..
sari widiarti said…
Pengin tahu gambarnya sajian ketupatnya dan rasanya. Kalau berkunjung apa ada jadwal tertentu?
Krisna HF said…
Gagal fokus sama laki laki yang pakai rok panjang hijau, nariin tarian sufi, suka banget ๐Ÿ”ฅ

Kampung-kampung yang punya khas dan karakter kayak gini kudu terus ditambah dan diperluas loh ♥️
Gita sarrah said…
Saya jadi ikut membayangkan suasana di kampung ragam warna di Kendal..menarik sekali ya๐Ÿ˜dan saya jadi penasaran sama rasa dan wujud ketupat sumpil๐Ÿ˜
Farida Pane said…
Wah, jadi penasaran seperti apa sambutannya. Semua atraksi ini bisa dinikmati setiap harikah?
nurul rahma said…
Mbaaaa, aku seolah2 lagi ada di sana bersama dirimu dan teman2 bloggers lhooo
Asyiiiikk pake banget yaaa
aku kapan hari udah ada wacana mau daftar acara keren ini, tapi kok ya adaaa aja halangannya. Moga2 suatu hari nanti aku bisa cussss ke sini bareng keluargaaa
--bukanbocahbiasa(dot)com--
Dewi Apriliana said…
Penasaran sama tari sufi nya itu. Ternyataaam ada juga ya kampung wisata menarik yg tidak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Mudah mudahan tahun depan ada kesempatan mengunjungi desa wisata ini
Dian said…
Kampung wisata selalu asyik untuk dikunjungi ya..
Aku pernah ke kampung wisata , tapi yg di malang
Aku belum pernah berkunjung ke kampung wisata. Penasaran sensasi menghabiskan hari di kampung wisata. Pasti beda banget ya mbak rasanya.

Bener banget mbak, keramahan dan kesigapan panitia adalah salah satu hal yang nggak bisa disepelekan. Soalnya aku juga kerap bingung sendiri dalam suatu kegiatan. Mau tanya panitia, tapi mereka terlihat sibuk sendiri. Ya mungkin karena repot urusin acaranya
A. S. Oktriwina said…
Kalau ke Padang mampir ke Nagari Seribu Rumah Gadang kak, lokasinya di Solok Selatan, agak jauh memang dari kota Padang sih kak
Eno said…
Mesti sabar nunggu 2020 nih buat ikutan. Jadi penasaran.
ukh.iyu said…
Tulisannya sangat enak dibaca, mengalir sampai tau-tau sudah penutup. Tapi aku penasaran sama ketupat pakai parutan kelapa, baru tau ternyata ada.

Sudah lama tak jalan-jalan, rada kesal kalau baca artikel wisata yabg menarik seperti ini. :")
Beberapa kali aku pernah mengunjungi kampung wisata di Medan dan Pontianak.Biasanya memang konsep menjadi kampung wisatanya diawali dengan kampung kumuh yang kemudian dicat dan dipromosikan sehingga menjadi dikenal dan bagus. Ini menarik tentunya karena kampung ini dinamis dan banyak kreativitas disana, yah. Saat ke Bandung beberapa tahun lalu belum tau tentang kampung Mranggen ini, mungkin next bisa deh kesini. Apalagi tertarik untuk melihat tarian sufi itu, yah belum bisa sampai ke Turki mungkin singgah di kampung Mranggen terlebih dahulu deh.
Riana Dewie said…
Wow.. kampungnya warna warni bikin semangat ya mbak. Jadi pingin maen kesana juga ๐Ÿ˜ thank reportasenya mbak ๐Ÿ‘
Ida said…
Pengalaman yg menyenangkan ya Ambu mudah2an next thn dpn kita panjang umur bs ke sini lagi hehe..