Meretas Badai, Kereta Api Cepat Membawa Indonesia Menuju SDGs 2030

sumber: riaugreen.com


“Kelak, hanya transportasi masal dan perusahaan jasa antar barang/manusia yang memenuhi jalan umum. Manusia akan cenderung bekerja di belakang layar gadget  karena lebih efektif dan produktif” (David Sutasurya – Direktur YPBB/Pakar Lingkungan)
Prediksi David Sutasurya bukan tanpa sebab. Kemacetan luar biasa merambat hingga kota-kota kecil. Tidak saja menyebabkan lelah psikis pada pengguna jalan, serta borosnya bahan bakar, juga menurunnya tingkat produktivitas.

Namun, menurut David Sutasurya,  badai  masalah yang lebih besar bakal menerpa Indonesia. Banyaknya bahan bakar yang terbuang percuma menyebabkan sulitnya pengendalian gas rumah kaca. Berdampak pada perubahan iklim.  

Mengakibatkan kekacauan proses produksi yang harus dilakukan petani, kemudian berimbas pada sektor industri dan pastinya perekonomian secara keseluruhan.

Ingat sewaktu cabai rawit tiba-tiba membumbung tinggi? Salah satu penyebabnya serbuan hama tanaman akibat perubahan pola tanam.  Ekosistem terganggu, proses makan memakan tidak berjalan semestinya. Sehingga hasil panen menurun tajam. Tak heran harga cabai rawit melonjak 3- 4 kali lipat.

Ketika harga cabai merah tak terkendali, sektor UMKM terpengaruh. Menaikkan harga jual berarti mencekik daya beli wong cilik. Namun pelaku UMKM bakal merugi, andai harga jual tetap. Serba salah.

Kronologi di atas menunjukkan betapa kemacetan bukan masalah sepele. Bukan sekedar problem pengguna jalan yang bakal terlambat mencapai tujuan. Kerugian yang disebabkan kemacetan merembet hingga mempengaruhi keseimbangan alam.

Agar kehidupan manusia bisa berkelanjutan, keseimbangan alam harus dijaga. Itulah sebabnya PBB menelurkan program MDGs, yang disusul SDGs 2030. Suatu deklarasi global dengan 17 tujuan dan 169 capaian yang  ditandatangani 189 pimpinan negara. Pemerintah Indonesia turut serta menandatangani komitmen tersebut, demi meningkatkan kemajuan ekonomi tetapi tetap menjaga keseimbangan alam dan memperkecil kesenjangan.

Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi dan Walikota Bandung 2013-2018, Ridwan Kamil di Gedung Pendopo Kota Bandung 

Gebrakan Budi Karya Sumadi

Paska pelantikan, Menteri Perhubungan RI, Budi Karya Sumadi, menggunakan kereta api Jakarta – Bandung, segera bertandang ke Bandung. Tujuannya tak lain adalah Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan di Gedung Pakuan, serta Walikota Bandung, Ridwan Kamil di Gedung Pendopo Kota Bandung.

Pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung menjadi pokok bahasan. Suatu moda transportasi dengan jarak tempuh kurang lebih setengah jam saja.

Terobosan yang cemerlang. Sebagai kota wisata yang berudara sejuk, Kota Bandung menjadi destinasi pilihan warga Jakarta di akhir minggu. Terlebih suguhan pariwisata dan UMKM  bidang kuliner saling berlomba memberikan yang terbaik bagi para wisatawan.

Sayang, kemacetan luar biasa menyambut wisatawan di dalam kota, dan dalam perjalanan menuju kota Bandung. Membuat warga Jakarta memilih Kota Bogor yang jaraknya lebih pendek.

Tak heran jumlah wisatawan Kota Bandung merosot tajam, hanya 6 juta orang per tahun. Sementara wisatawan Kota Bogor mencapai 8 juta lebih per tahun (sumber). Pastinya suatu tamparan keras bagi Kota Bandung, mengingat sumber PAD terbesar Kota Bandung berasal dari pariwisata.

Rencana pembangunan kereta cepat menjadi solusi problem tersebut. Memfasilitasi wisatawan lokal dan mancanegara yang ingin ke Kota Bandung dalam waktu singkat. Tanpa derita macet tentunya.

Kereta api cepat juga akan membantu para pelaku bisnis yang memilih tinggal di luar kota Jakarta, seperti Kota Bandung dan Cirebon. 
Keberadaan kereta api cepat akan memberi alternatif pilihan mobilitas agar tidak membuang waktu percuma.

sumber: kumparan.com

Kereta  Api  Cepat  Si  Heiser

Si Heiser, sosok seorang remaja laki-laki cerdas penuh semangat, menjadi maskot Kereta Cepat Indonesia China (KCIC).  Untuk mengasosiasikan betapa smart dan gesitnya Kereta Api Cepat Jakarta - Bandung berkecepatan 360 km/jam yang mampu mencapai Kota Bandung hanya dalam waktu 46 menit. Atau 36 menit (direct) jika langsung pada tujuan, dan 46 menit jika berhenti di setiap stasiun.

Si Heiser merupakan kereta CR400AF hasil pengembangan CRRC (China Railway Rolling Stock Corporation) Qingdao Sifang, generasi terbaru yang didesain sesuai kondisi suhu dan kelembapan tinggi seperti di Indonesia.

Si Heiser atau CR400AF  juga didesain lebih hemat energi, masa penggunaan lebih lama, lebih handal dan biaya perawatan lebih rendah. 

Karena memiliki kecepatan tinggi, Si Heiser memiliki fitur cabin noise yang rendah. Di setiap rangkaiannya dilengkapi 2 ligthning arrester untuk meningkatkan keamananan dari sambaran petir. 

Diawali dengan groundbreaking pada awal Januari 2016 lalu, proyek KCIC dimulai secara masif sejak kuartal ke 3 tahun 2018 lalu. Sejumlah milestone pembangunan sudah tercapai di antaranya tunnel Walini yang berhasil ditembus pada pertengahan Mei 2019 lalu, peletakan girder pertama di Casting Yard terbesar kereta cepat, dan tersambungnya continuous beam kereta cepat pada akhir September 2019 lalu. (sumber)

Ditargetkan sudah mulai beroperasi pada 2021,  50 % pembangunan kereta api cepat diharapkan selesai pada 2019.

Konsep antar moda menjadi proyeksi kereta api cepat Jakarta – Bandung berikutnya. Seperti yang diutarakan Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC), Chandra Dwiputra, kelak titik ujung kereta cepat yang ada  di Stasiun Halim dapat terhubung dengan Light Rail Transit (LRT) Jabodebek dan Bus Rapid Transit (BRT) atau TransJakarta.

Menyenangkan bukan?

Warga Jakarta yang ingin bertandang ke Bandung bisa memilih layanan LRT atau BRT sebelum menggunakan kereta api cepat. Demikian pula sebaliknya. Terlebih jika kereta api cepat telah terintegrasi dengan Kereta Rel Diesel (KRD) yang akan menghubungkan stasiun kereta cepat dengan stasiun kereta api eksisting di kawasan Cimekar, Bandung.

Sehingga manfaatnya tidak hanya kenyamanan penumpang, tetapi juga minimalisir  kemacetan dan penghematan bahan bakar minyak bumi.

sumber: tribunnews.com

Suara-suara Sumbang

Kepala boleh sama hitam, pendapat berbeda-beda. Muncul opini berbeda terkait kereta cepat. Seperti belum waktunya Indonesia memiliki kereta cepat hingga sebaiknya Indonesia fokus pada pembangunan daerah tertinggal.

Membandingkan pembangunan kereta api cepat dengan pengembangan daerah tertinggal di Indonesia, pastinya bukan apple to apple. Masalahnya berbeda. 

Menurut penelitian, salah satunya dirilis Nature Communication pada 29 Oktober 2019 mengungkapkan, akibat kenaikan permukaan air laut sekitar 30 hingga 50 sentimeter, sejumlah negara, termasuk Indonesia, khususnya Jakarta, akan tenggelam pada tahun 2050. (sumber)

Penyebabnya emisi gas rumah kaca, yang salah satunya berasal dari kendaraan bermotor. Kemacetan memperburuk masalah tersebut, tidak hanya di kota-kota besar tapi sudah merembet ke kota kecil. Harus segera diatasi dengan penyediaan transportasi publik yang nyaman dan cepat. 

Agar warga dengan senang hati memilih transportasi publik dibanding kendaraan pribadi.
 
sumber: goodnewsfromindonesia.id

Suara Dari Bumi

Herman Daly, seorang ecological economist menerbitkan buku “Sustainable Economic Welfare” mengemukakan pendapat yang kerap disebut sebagai Hukum Keberlanjutan Herman Daly. Khusus mengenai  sumberdaya alam yang tidak terbaharui, adalah:
Tidak menghabiskan lebih cepat dari munculnya sumberdaya alam yang dapat diperbaharui sebagai pengganti
Munculnya sumber daya alam yang dapat diperbarui tentunya berkaitan dengan pengganti bahan bakar minyak. Bahan bakar pengganti harus bisa dijamin pasokannya dan memiliki harga ekonomis.

Seperti diketahui kereta api cepat menggunakan listrik yang ramah lingkungan sebagai energi. Sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak yang ketersediaannya semakin menipis.

sumber: sdgcenter.unpad.ac.id

Kereta Api Cepat  Dalam SDGs

Merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan, Sustainable Development Goals (SDGs)  berisi 17 tujuan dan 169 target, yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030.

Keberadaan Si Heiser atau kereta api cepat pastinya akan membantu meningkatkan perekonomian dan pariwisata. Terlebih jika telah terintegrasi moda transportasi di Jakarta dan Bandara Kertajati. Para pekerja dan pemilik usaha dapat menggunakan waktunya dengan lebih efektif dan efisien.

Laju perekonomian sebagai dampak langsung dan tak langsung akan membantu mengurangi kemiskinan (1), mengakhiri kelaparan (2). Tidak hanya disebabkan padat karya yang umumnya dipilih pelaku usaha di Indonesia, juga direduksinya penyebab perubahan iklim.

Imbasnya pada kesehatan yang baik dan kesejahteraan (3), pendidikan yang bermutu (4), mengurangi ketimpangan (10),  dan pastinya pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (8).

Bahan bakar yang digunakan kereta api cepat akan meminimalisir efek climate change, dengan menahan perubahan iklim (13), kota dan komunitas yang berkelanjutan (11), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (12), menjaga ekosistem darat (15), serta kemitraan untuk mencapai tujuan (17).

Ternyata sangat banyak manfaat yang diperoleh dari keberadaan kereta api cepat. Untuk saat ini, hingga puluhan tahun kemudian. Sehingga Indonesia dapat meminimalisir pemborosan bahan bakar, waktu produktif yang terbuang dan emisi gas rumah kaca.

Sip kan? Jangan meragu dengan pembangunan kereta api cepat. Justru harus didukung supaya target penyelesaian dapat segera terwujud. Agar Indonesia dapat berdiri penuh percaya diri dalam forum global, karena pemerintah tidak hanya menyejahterakan rakyatnya, namun juga berkiprah secara global.

Comments

Bayu Haryanto said…
Bagaimana pun juga masyarakat butuh transprotasi publik yang nyaman dan cepat. Kereta cepat ini bisa jadi salah satunya seiring dengan bertambah padatnya jumlah kendaraan mengakibatkan kemacetan deh dimana-mana. Semoga cepat teraliasi jadi gk jauh2 ke jepang untuk coba naik kereta cepat hihihih
Kang Masroer said…
Saya berharap kereta cepat tidak hanya di Jakarta saja, Bun. Tetapi di kota-kota besar di Jawa khususnya. Setidaknya ada satu jalur Jakarta-Surabaya. Syukur-syukur dua jalur, selatan dan utara. Dengan kecepatan akses transportasi, pasti perekonomian Indonesia akan lebih cepat maju.
Kang Masroer said…
Saya berharap kereta cepat tidak hanya di Jakarta saja, Bun. Tetapi di kota-kota besar di Jawa khususnya. Setidaknya ada satu jalur Jakarta-Surabaya. Syukur-syukur dua jalur, selatan dan utara. Dengan kecepatan akses transportasi, pasti perekonomian Indonesia akan lebih cepat maju.
Kang Masroer said…
Saya berharap kereta cepat tidak hanya di Jakarta saja, Bun. Tetapi di kota-kota besar di Jawa khususnya. Setidaknya ada satu jalur Jakarta-Surabaya. Syukur-syukur dua jalur, selatan dan utara. Dengan kecepatan akses transportasi, pasti perekonomian Indonesia akan lebih cepat maju.
nurul rahma said…
Makin ke sini kelihatan bgt kinerja pemerintah untuk mewujudkan moda transportasi yg kian uhuuuy ya Mba
Bangga banget dan bersyukur banget!
Icoel said…
Keren banget deh ulasannya, jadi nambah pengetahuan untuk yang malas browsing kaya saya hahha
vika said…
Jadi ingat dulu pernah ke jakarta pakai kereta api ekonomi, duduk bertiga dengan orang lain, lalu ada pedagang asongan lewat. Sekarang perkereta apian Indonesis sudah oke apalagi ada kereta api cepat.
vika said…
Semoga juga segera ada di Jogja, agar lalu lintas juga lebih lancar apalagi saat weekend
Dee_Arif said…
Kereta cepat menjadi kebutuhan masyarakat sekarang..
Agar efisien dalam perjalanan dan pastinya mendukung ekonomi juga
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
Putri Santoso said…
Sayangnya kereta api tidak bisa menjadi transportasi di pulau terbesar indonesia, kalimantan yg berstruktur tanah gambut.
Padahal adanya kereta api cepat bisa sangat membantu transportasi antar kota dan provinsi
lendyagasshi said…
Amazing banget...
Bandung bakalan mempunyai transportasi massal sekelas shinkansen.
Dan pembangunan ini sudah memugar beberapa pegunugan di Jawa Barat. Semoga lingkungan segera diperbaharui efek dari pembangunan kereta cepat yang siper keren ini.
Sedih ketika harga cabe atau bahan pokok meroket ya mba. Pedagang juga antara mau naikin harga tapi pasti omzet menurun. Semoga dengan pembangunan transportasi di Indonesia makin maju, mengingat lima tahun ini begitu masif perkembangannya.
Kehadiran kereta cepat begini nantinya semakin membawa Indoesia jauh lebih baik dan makin dikenal dunia yah,mbak. Dan paling penting itu bisa memudahkan masyarakat lokal maupun turis yang sedang berkunjung ke Indonesia. Duh, ngebayangin ala ala di luar negeri dengan kereta begini.
ukh.iyu said…
Sebagai pengguna setia kereta, sejak masih zaman desak-desakan dan banyak pedagang. Sampai gak karuan di dalamnyaa.

Saya harap di daerah saya juga ada kereta cepat ini
A. S. Oktriwina said…
Di Sumatera juga lagi pembangunan kembali jalur-jalur kereta api. Kayaknya dalam 5-10 tahun mendatang jarak tempuh antar provinsi di Sumatera bakal lebih cepat dan lebih mudah
Riana Dewie said…
Keren ya kak. Gak sabar menunggu kereta cepat terealisasi. Mungkin jarak Jakarta - Banding bakal lebih cepat dari kereta bias ya. Semoga bisa menjadi percontohan bagi daerah2 lainnya.
diane said…
Duh kereta cepat semoga segera terwujud ya...kita diberikan kemudahan untuk mewujudkannya. keberadaan kereta cepat memang jadi salah satu parameter kemajuan...

dianesuryaman dot com
Ida said…
Wah asyik.kereta api cepat sayangnya jauh di Timur Bandung akan nanti lbh lama ke stasiun nya daripada ke jkt nya ya kalau bandung lagi macet...hehe