Voice 2, Mereka Pengidap Gangguan Jiwa



Jika kau membenci seseorang
Kamu membenci sesuatu yang ada padamu
Yang tidak kau miliki, tak akan mengusikmu
(Herman Hesse) 
Masih ingat kasus perempuan yang membawa anjingnya ke masjid? Pihak berwajib  memberi keterangan bahwa yang bersangkutan menderita gangguan jiwa.
Anehnya terjadi pro dan kontra di masyarakat yang meragukan penjelasan polisi. Padahal secara nalar sehat, mereka yang ingin  mengganggu kenyamanan umat Islam, pasti akan mencari cara agar tidak berurusan dengan pihak berwajib.
Nyatanya banyak orang “sakit” yang nampak normal. Baru bisa didiagnosa dan diobati setelah melalui rangkaian pemeriksaan. Atau dengan kata lain, tak kasat mata.
Saya mengetahuinya bertahun lalu ketika harus mengunjungi Graha Atma, tempat penderita gangguan jiwa menjalani rawat jalan. Saya harus kesana karena mengalami depresi akibat KDRT.
Ruang tunggu yang disesaki pengunjung, tak nampak beda dengan rumah sakit pemerintah lainnya. Ada yang mengobrol, makan, tiduran. Emang sih berbau kurang sedap, penyebabnya mungkin  ventilasi yang kurang mendukung, serta mayoritas penderita berasal dari luar kota.
Beberapa drama Korea yang berkisah mengenai penderita gangguan jiwa, hanya menyorot pasien akut. Seperti Voice,  He is Psychometry, Come and Hug Me, Abyss dan lainnya.
Baca juga:
Juga Voice 2 yang berkisah mengenai penderita gangguan jiwa yang terobsesi pada ibunya. Dia ingin memperlihatkan kesuksesannya mengubah dunia. Sukses menurut versinya sendiri tentu.
Sentilan bagi para orang tua agar tidak terlalu menekan anaknya agar sukses. Karena tiap anak memiliki talentnya masing-masing. Setiap anak akan bereaksi berbeda ketika menghadapi tekanan. Bisa cuek, bisa juga depresi. Depresi pun ada tingkatannya, mulai level rendah yang dengan mudah diterapi, hingga level tertinggi yang bisa menimbulkan korban.
Salah satu contoh adalah anak yang kerap membully. Ketidak bahagiaan yang dirasakan dilepaskannya dalam bentuk bullyan pada anak yang dilihatnya lemah. Anak yang terkena bullyan, bisa jadi akan menjadi pembully juga.

Lee Ha-Na kembali  berperan sebagai Kang Kwon Joo, ketua team Golden Time yang memiliki prinsip 3 menit adalah waktu yang cukup untuk menyelamatkan hidup seseorang.
Kwon Joo mampu menyelesaikan masalah lapangan dengan cepat karena bisa mendengar suara yang tidak bisa dideteksi manusia awam, seperti desiran angin, air dan dentingan logam.

Lee Jin Wook sebagai Do Kang Woo, detektif polisi yang dicurigai sebagai pembunuh rekannya sendiri, Na Hyung Joon. Bahkan mendapat tuduhan menggelapkan uang.
Padahal yang benar, Do Kang Woo menutupi kesalahan Na Hyung Joon. Mereka acap menjalankan tugas berdua, termasuk ketika berhadapan dengan pembunuh berantai. Nasib malang menimpa Na Hyung Joon yang tewas di tangan pembunuh dan salah satu anggota tubuhnya diiris.
Do Kang Woo dicurigai sebagai pembunuh karena memiliki masa silam yang suram. Ayahnya dituduh sebagai pembunuh Miho, seorang anak perempuan. Selain itu akibat luka di kepalanya, Do Kang Woo acap kehilangan kesadaran.

Kwon Yool sebagai Bang Je Soo, pembunuh berantai yang memiliki kelainan jiwa akibat didikan ibunya yang obsesif. Ibunya pernah menjadi anggota sekte, diperkosa kemudian melahirkan Bang Je Soo.
Nampak normal sebagai penjaga pantai,  Bang Je Soo yang sadis membalsem mayat ibunya agar bisa menemaninya, diajak bercakap-cakap dan dipamerkan keberhasilannya membunuh korban. Toh jenazah sang ibu tidak dibiarkan terbuka, tersimpan rapi dalam ruangan terkunci. Pertanda kenormalan hanya beda tipis dengan gangguan jiwa.
Selalu ada alasan untuk membunuh. Bang Je Soo membunuh tetangganya karena dianggap cerewet dan bergosip. Sehingga lidah si tetangga diiris. Kang Kwon Joo menjadi target pembunuhan untuk dipotong telinganya yang memiliki kemampuan lebih.
Jin Seo Yool, anak buah Kang Kwon Joo, diiris jarinya karena jarinyalah yang digunakan untuk mengetik dan meretas komputer Bang Je Soo.
Sinopsis Plot oleh Staf AsianWiki ©
Berkisah mengenai  pusat panggilan darurat 112.  Tentang bagaimana team call center harus menangani beragam tindak kriminal di masyarakat,  termasuk seorang pembunuh berantai.

Review
Entah mengapa, setiap mendapat tandem, Kang Kwon Joo harus berantem dulu. Dalam “Voice” profiler cantik ini dicurigai Moo Jin-Hyuk, yang diperankan  Jang Hyuk , telah mendapat sogokan agar melepaskan tersangka. Awalnya Jin Hyuk juga tidak percaya Kwon Joo memiliki kemampuan lebih, bisa mendeteksi suara yang tidak bisa dilakukan manusia awam.
Demikian juga dengan Do Kang Woo di “Voice 2”.  Detektif ganteng ini semula enggan bekerja sama. Baru luluh setelah Kwon Joo menawarkan pembebasan dirinya. Tenggang waktu kerja samapun tak lama, hanya 1 bulan.
Kwon Joo yakin dengan bergabungnya Kang Woo, tekadnya menemukan pembunuh rekan kerjanya, Jang Kyung Hak, akan lebih mudah. Karena 3 tahun silam Kang Woo pernah nyaris menjadi korban pembunuh berantai yang sama.
Dalam peristiwa tersebut, rekan kerja Kang Woo menjadi korban pembunuhan, salah satu anggota tubuhnya diiris, dimasukkan dalam kotak berlogo bintang.
 Yeom Ki Tae, pelaku paedofilia

Pelaku kriminal umumnya penderita gangguan jiwa. Seperti ketika team Golden Time mendapat laporan dari seorang ibu yang melaporkan bahwa anak perempuannya hilang.
Sewaktu masih kecil, Hwang Hee Jo, nama si gadis mengalami pelecehan seksual yang membuatnya tertekan. Depresinya makin menjadi ketika mendengar pelaku pelecehan, Yeom Ki Tae telah bebas dari penjara. Hukuman bagi pelaku pelecehan seksual memang ngga sebanding dengan derita psikis yang dialami korban.
Karena sakitnya tak disembuhkan, paska kebebasannya Yeom Ki Tae tetap berburu korban. Namun bukan Hee Jo yang sudah beranjak dewasa, dan pastinya tak menarik minat pengidap paedofil.
Seorang paedofilia mengalami disfungsi otak sehingga tak mampu melakukan kontrol diri, kebutuhan mendesak, dan distorsi kognitif. Tanpa pengobatan, dia akan selalu mengulang perbuatannya. Tempat yang paling tepat hanya penjara yang tak memungkinkannya bertemu dengan anak-anak.
dokter Son Ho Min, pelaku kekerasan fisik

Pelaku kekerasan pada perempuan, atau KDRT jika dialami perempuan yang  terikat dalam pernikahan, juga merupakan pengidap gangguan jiwa. Dia melepaskan tekanan yang dialami dengan melakukan kekerasan fisik maupun kekerasan verbal.
Park Eun Soo, tangan kanan kapten Kang menjadi korban kekerasan kekasihnya, seorang dokter terhormat, anak keluarga terpandang. Pelaku kekerasan ngga mengenal strata pada masyarakat. Namun apes bagi korban kekerasan jika pelakunya adalah orang kaya seperti dokter Son Ho Min.
David Go, penderita sindrom megalomania

Orang yang suka caper, juga termasuk pengidap gangguan jiwa. Dia gelisah ketika temannya lebih diperhatikan. Akibatnya dia sulit meraih prestasi dengan cara normal.
Kasus tersebut ditampilkan dengan ciamik dalam “Voice 2”. Demi meraih vote sebanyak mungkin, David Go, penderita “sindrom Megalomania” membuat acara online “X-Files” yang berkisah mengenai menguak misteri.
Secara keseluruhan “Voice 2” menyuguhkan kisah rangkaian pengidap gangguan jiwa di masyarakat.  Mulai yang nampak tak berbahaya seperti kasus David Go, hingga pembunuh berantai yang terobsesi pada bagian tubuh korbannya.
Mereka semua adalah pasien yang seharusnya diobati. Namun bahkan negara maju seperti Korea masih mengalami kesulitan. Mungkin penyebabnya adalah paradigma salah bahwa gangguan kejiwaan harus ditutupi. Memalukan jika diketahui masyarakat luas. Akibatnya penderita tak pernah sembuh. Korbanpun berjatuhan.
Sayang, tontonan sebagus “Voice 2” kurang mendapat penonton. Kalah jauh dengan drama bergenre Romance- Comedy. Mungkin mayoritas penonton mencari hiburan ya?

"Voice 2" dan drama Korea lainnya bisa dinikmati gratis dengan mendownload disini ya:

Profile
Drama: Voice 2
Revised romanization: Boiseu 2
Hangul: 보이스 2
Director: Lee Seung-Young
Writer: Ma Jin-Won
Network: OCN
Episodes: 12
Release Date: August 11 - September 16, 2018
Runtime: Sat. & Sun. 22:20
Genre: Thriller / Crime
Language: Korean
Country: South Korea

Comments