Ingin Anak-anak Happy dan Enjoy Berpuasa? Yuk, Coba 5 Langkah Ini!

source: star2.com

Sering terkesima melihat  anak yang sedang tidur? Duh jatuh hati ya? Anak yang sering membuat ibunya menahan emosi  karena nggak mau diam, berubah manis bak malaikat dari surga.
Andai tiba-tiba terjadi kebakaran. Sementara  anak tersayang  baru aja tertidur. Apa yang akan bapak/ibu lakukan? Menunda membangunkan anak, dan mengangkut barang berharga dulu? Atau dengan ”tega”nya membangunkan anak agar segera menyelamatkan diri?

Ilustrasi di atas diberikan oleh salah satu ustaz di pengajian yang saya ikuti. Melekat dalam ingatan, menggambarkan betapa sulitnya bertindak tegas ketika mengedukasi anak. Menunda gara-gara kasihan hanya akan mencelakai anak.  Rasa kasihan berarti membiarkan nyawanya terancam.

Demikian juga dalam menjalankan perintah agama. Kasihan pada anak sehingga nggak tega mengajaknya berpuasa berarti membiarkannya terperosok dalam kesulitan. Semakin dini anak belajar berpuasa, akan semakin mudah menjalani.

Seorang mualaf dewasa akan lebih sulit memulai ibadah puasa. Bandingkan dengan mereka yang telah berlatih sejak kecil. Sayangnya, banyak yang nggak sependapat. Salah satunya disebabkan ketakutan anak tidak  mendapat cukup gizi.

Sewaktu mengajak anak-anak saya berpuasa, saya juga mengalami problem yang sama. Khususnya sewaktu sahur. Di saat itu perut anak masih kenyang, mata ngantuk, eh disuruh makan. Pilihannya hanya ada 2: mereka hanya makan 2-3 suap, atau membiarkan mereka makan dan baru menyelesaikan sesudah waktu subuh.

Dilematis banget ya?

Akhirnya, agar manfaatnya didapat, saya membuat beberapa strategi, yaitu:

source: telegraph.co.uk

Menjelaskan  Mengapa Harus Berpuasa
Hanya meniru apa yang dilakukan orang tua sering tidak bisa menjadi motivasi kuat. Terlebih anak-anak juga tau, mereka masih kecil, belum wajib, latihan puasa bisa nanti  saja.

Karena itu anak perlu diajak bicara, mengapa mereka harus mulai berlatih puasa sejak dini. Anak-anak kita  umumnya berkelimpahan makanan. Bulan Ramadan menjadi saat tepat untuk mengingat bahwa tidak setiap anak seberuntung mareka.

Pupuk rasa empati mereka dengan berpuasa.  Ajari mereka agar selalu mensyukuri keberlimpahan rezeki  dengan mendatangi tempat-tempat tertentu.

source; pinterest.com

Nggak Memaksa Anak Puasa Full Day
Nggak  ada yang suka dipaksa. Demikian juga anak-anak. Perubahan waktu makan dan waktu tidur membuat mereka “jetlag”. Terlebih mereka belum wajib berpuasa.

Kunci belajar sukses adalah sedikit demi sedikit, tapi konsisten. Beberapa anak ada yang langsung mampu berpuasa full day. Beberapa lainnya harus berlatih, mulai puasa hingga pukul 11.00 siang. Kemudian semakin lama menjadi pukul 14.00. Dan akhirnya bisa sukses hingga Magrib.

Anak kedua dan ketiga saya termasuk sulit makan.  Berbagai menu saya coba masak agar mereka tertarik. Anehnya ketika harus berpuasa, mereka merasa mudah lapar. Makan hanya dengan lauk telur mata sapi pun oke. Mereka habiskan dengan tandas.

Betul,  rasa lapar ketika berpuasa sering disebabkan sugesti. Anak-anak nggak selapar itu. Sebagai orang tua, pastinya nggak bisa melarang  anak kelas 1 SD untuk berbuka hanya  karena sugesti. Yang harus dilakukan adalah mengalihkan perhatiannya.

source: star2.com

Memilih Menu Bareng
Menyusun menu bareng anak-anak menjadi kegiatan yang menyenangkan. Selain bisa membunuh waktu, juga bisa menjadi  cara agar anak konsekuen pada pilihannya. Sehingga makanan harus dihabiskan, atau lain kali tidak melakukan hal yang sama.

Banyak makanan khas Ramadan muncul, ajak anak- anak memilih secara bijak. Singkirkan makanan kering seperti keripik dan makanan asin yang membuat anak-anak mudah haus.  Beri penjelasan mengapa makanan tersebut tidak tepat dikonsumsi pada saat sahur dan buka puasa.

Jika disantap saat berbuka maka perut akan kenyang semu, akibatnya makanan bergizi malah nggak sempat dihabiskan.  Juga, makanan kering dan asin umumnya miskin gizi.

Jika disantap saat sahur, anak-anak akan mudah haus esok harinya. Karena itu ingatkan agar cukup minum dan menghindari minuman bersoda agar tubuh mereka terhidrasi dari fajar hingga senja.

Ajak anak memilih makanan yang mengandung karbohidrat, protein kompleks,  vitamin dan mineral. Karbohidrat kompleks membantu melepaskan energi secara perlahan selama jam-jam puasa. 

Sedangkan  protein, vitamin dan mineral  menjaga tubuh  anak tetap berproses tumbuh kembang walaupun sedang  puasa.

Anak-anak Panti Asuhan Muhamadiyah (source: Nchie Hanie)

Mengisi Aktivitas yang Menyenangkan
Jangankan anak-anak, orang dewasapun akan boring jika nggak punya kegiatan. Anak-anak akan merasa waktu berbukanya kok lama banget. Karena itu ada baiknya membuat daftar kegiatan yang disepakati bersama untuk dilaksanakan selama berpuasa.
Misalnya:

Mengunjungi TPS. 
Nggak hanya anak-anak, banyak orang tua yang tidak paham bahwa sampah yang disingkirkan dari area tempat tinggalnya, hanya berpindah tempat ke TPS, kemudian barulah dikirim ke TPA.

Di TPS dan TPA, banyak anak balita dan anak usia Sekolah Dasar yang harus menemani orangtuanya mengorek-ngorek sampah untuk mencari sampah yang bisa dijual. Makanan mereka umumnya miskin gizi karena orang tuanya nggak mampu.

Masa berpuasa merupakan waktu yang tepat bagi anak-anak kita untuk belajar berempati. Buatlah makanan padat gizi (bisa juga beli)  dalam wadah tertutup, kemudian bersama mereka memberikannya  pada anak-anak di seputar TPS.

Mengunjungi Panti Asuhan
Tidak semua anak-anak yang tinggal di panti asuhan adalah anak yatim. Banyak juga yang dititipkan oleh orangtuanya yang miskin agar bisa bersekolah dan hidup layak.

Mereka yang tinggal di panti asuhan pastinya tidak  seleluasa anak-anak kita yang bisa bebas bermain, bebas makan dan minum serta keleluasaan lainya.

Ajak anak-anak untuk menyortir mainan mereka yang masih layak/ bagus untuk dihibahkan pada anak-anak panti asuhan. Tambahkan sekarung beras atau makanan lainnya untuk mengunjungi panti asuhan bersama  anak-anak, agar mereka peduli. tingkat empati mereka bertambah.

Karena jangankan memiliki begitu banyak mainan,  anak-anak panti asuhan harus makan sesuai jatah yang mereka terima dan hanya bisa disantap pada jam-jam tertentu. Sedangkan anak-anak kita  bisa menambah makanan sebanyak mungkin. Juga bisa makan kapanpun mereka inginkan.

Ke perpustakaan
Ada 2 tujuan ke perpustakaan, yaitu membaca buku disana atau mendonasikan buku –buku bekas mereka. Ajak anak-anak menyortir koleksi buku mereka, agar lebih berguna, nggak sekedar jadi santapan rayap di lemari.

Mengajak mereka ke supermarket untuk memilih makanan kesukaan mereka, bisa  menjadi alternatif menyenangkan yang membuat mereka lupa sedang berpuasa lho.

source: Ibrahim Mohtar/The Star

Award Sesuai Anak
Semua orang suka hadiah, termasuk anak-anak. Karena itu tanyakan pada mereka, hadiah  yang mereka harapkan jika berpuasa. Hadiah harus sesuai keinginan dan  kebutuhan  anak, agar mereka termotivasi berpuasa.

Selain hadiah khusus, berikan juga pujian atas keberhasilannya. “Hebat, anak mama udah ikut berpuasa”, akan diingatnya hingga mereka dewasa, serta membangkitkan kepercayaan diri.

Puluhan tahun silam, sewktu masih kelas 1 SD, saya pernah membantu ibu memasak. (Saya jarang diajak memasak, karena lebih senang naik pohon bareng adik-adik lelaki saya). :D  :D

Seusai makanan dan ngariung makan siang, ibu mengatakan pada bapak bahwa saya membantunya memasak. Apa kata bapak?  “Pantesan masakannya jadi lebih  enak”. Padahal tau sendiri kan, anak SD  paling cuma bisa bantu nyuci sayuran atau potong-potong wortel. Nggak ngaruh pada enak/tidak enaknya masakan. Tapi ya itulah dahsyatnya  “the power of pujian” . Selalu teringat hingga kini. ^_^

Paska puasa, ketika anak-anak berkumpul, saling bercerita tentang berpuasa akan menjadi momen berharga lainnya. Mereka yang berhasil berpuasa akan merasa senang karena bisa terlibat dalam pembicaraan. Serta  biasanya mereka dapat angpaw dari para sesepuh.

Tanpa disadari, anak-anak berhasil mengalahkan nafsu makan dan minum. Mereka juga belajar berempati bahwa banyak anak yang tidak seberuntung mereka di muka bumi ini. Untuk menuju kesadaran demikian, orang tualah penentunya. Pendamping mereka. Agama hanyalah jalan hidup, way of life menuju keselamatan akhirat.

Comments

Armita said…
Anak sulung saya mulai belajar puasa tahun ini, Alhamdulillah lancar dengan sedikit drama. Puasa baru setengah hari hehe
Nia K. Haryanto said…
Keren banget tipsnya Ambu. Dan iya banget nih, aku rada gimana nih ngajarin puasa ke anak nomor 3. Aku yang tadinya nganggap bakalan gampang karena dia susah makan, eh ternyata salah. Di bulan puasa, dia bawaannya makan banyak. Jadinya ya, Alhamdulillah deh bisa bertahap puasanya. Belum bisa full. Mau dicoba deh kegiatan mengisi puasa dengan hal-hal yang menyenangkannya.
Sri Al Hidayati said…
Wah bener nih saya belum nerapin point yg menentukan menu bareng anak. Kayaknya seru ya bun. Makasiih yaa 😍
Bener ambu, untuk ngajak anak belajar puasa memang butuh perjuangan hihihi
Anak-anak saya memang mudah diajak berpuasa, tapi menjelang siang dan sore, suka banyak ngeluh :))
Larasatinesa said…
Dulu waktu kecil belajar puasa paling seneng kalau dijanjiin dapat hadiah atau dikasih THR banyak, masa-masa yang nggak terlupakan hahaha
Rani Yulianty said…
Alhamdulillah tahun ini Fathan sudah puasa,nggak setiap hari full sampai maghrib ada hari dia merasa nggak kuat dan bocor saat jam 12 atau jam 2 siang, tapi banyaknya sih full
herva yulyanti said…
setuju jangan memaksakan fullday yah Ambu :) aku juga anak sulung alhamdulilah sudah puasa full sampe magrib yang penting kesiapan anaknya
Ulu said…
Emang puasa mah masalah mental ya heuheu. Makanya harus dibiasakan teh karena bukan laper & hausnya yg menyiksa. Tapi mental orangnya kuat gak :D
lendyagasshi said…
Ya Allah, Ambu...
Begini pentingnya belajar menjadi orangtua yang bijaksana dan paham mengenai kebutuhan jiwa anak yaa...
Aku juga pasti bangga kalau dipuji "Makanannya lebih enak..."

((terharruu))