5 Kiat Menaklukkan Sulitnya Ngeblog di Bulan Ramadan

source: Getty Images 

Bulan Ramadan ngapain aja?

Pastinya harus punya kegiatan bermanfaat ya? Kegiatan yang  berhubungan ubudiyah dengan Allah ( Hablumminallah), hubungan muamalah dengan sesama manusia (Hablumminannas) dan dengan alam (Hablum minal alam). Mumpung setan dirantai dan diborgol, sudah semestinya memperbanyak amalan.

Khusus untuk blogger, pastinya memperbanyak posting yang berfaedah.  Minimal  nggak bikin kesel pembaca blog. Karena seperti yang dibilang team Blogger Perempuan, di bulan Ramadan  pencarian melalui Google  meningkat sampai 3x lipat. Asalkan menggunakan keyword yang tepat,  pengguna akan mendapat input yang bermanfaat, trafik blog pun berpotensi naik.

Sejak tahun lalu, saya berketetapan menambah kegiatan di bulan puasa dengan 1 day 1 post. Bukan perkara mudah. Saya termasuk orang yang harus menjalani pemanasan lama agar  bisa menemukan judul, paragraf awal dan kerangka tulisan. Postingpun maunya bagus. Dipikirin gambar pendukungnya, kemudian bolak balik diedit kata-katanya. Saya paling benci tulisan penuh typho, bikin kepala pusing. Sehingga paling cepat dalam  3 hari, saya  baru kelar 1 tulisan.

Sangat lelet bukan? Bandingkan dengan blogger lain yang  minimal 1 hari bisa 1 -3 tulisan, bahkan 5 tulisan. Alamak,  saya nggak sanggup!

Tapi seperti seharusnya hidup, setiap orang harus menjalani ujian jika ingin naik peringkat. Salah satu ujian yang harus ditempuh seorang yang ngaku blogger seperti saya adalah membuat tulisan minimal 1 hari 1 tulisan. Jika nggak berhasil menaklukan challenge ini, kapan akan maju untuk membuat buku? Juga berjuang meningkatkan DA blog  yang kemarin terhempas dan enggan bangun kembali.

Jadi?

Jika tahun lalu saya ikut challenge blog keroyokan Kompasiana dan berhasil hingga fisnish. Tahun ini saya ikut challenge yang diadakan komunitas Blogger Perempuan dengan tajuk #30HariKebaikanBPN. 
Dari judulnya udah kelihatan bahwa tujuan ngeblog bareng adalah untuk menyebar kebaikan. Jadi bukan asal curhat unfaedah.

Dannn ...
Seperti umumnya tantangan, selalu ada asam manisnya. Khusus manfaat menaklukan challenge akan saya publish di akhir periode. Sedangkan perih, pahit, asemnya saya tulis sekarang.

Dibanding 10 manfaat (bisa lebih) ngeblog di bulan Ramadan, saya hanya berhasil menemukan 5 hal mengenai duka. Itupun dengan susah payah. Berarti banyak asyiknya dong ya?
Emang kok, asyik banget. ^_^

Apa saja kesulitan yang saya temui selama menulis 1 day 1 post?

Ini dia ...       
source: lindadoneban.com

1.       Tumpukan kegiatan
Mumpung bulan Ramadan, semua ingin dikerjakan. Kualitas dan kuantitas doa ingin ditambah, trus pingin nambah kegiatan yang bersifat  hablumminannas  serta hablum minal alam. Sementara jumlah waktu tetap, hanya 24 jam.

Nah lho, stres sendiri kan?

Beruntung saya pernah bak bik bek mengurus kebutuhan 4 anak, 1 suami dan 1 mertua. Kaki jadi kepala, kepala jadi kaki, sudah biasa. Waktu itu saya punya seorang kerabat dekat yang sangat akrab hingga  sudah saya anggap sebagai ibu sendiri. Dia  memberi nasehat demikian:

“Jangan coba-coba melakukan semuanya dengan berbareng. Nanti kamu bakal stress. Kerjakan satu-per satu. Ngga kerasa, tau-tau selesai”.

Demikian juga dalam menyelesaikan semua tugas di bulan Ramadan. Saya kerjakan satu persatu, nggak maksain, seperti bikin kue, ibadah ekstra Ramadan , ngedraft tulisan, tau-tau selesai.

source: shutterstock

2.      Ngantuk
Ngantuk menjadi tantangan terberat. Ada dua penyebab yang membuat saya mengantuk dan nggak bisa fokus menulis. Yang pertama karena kurang tidur, waktu malam digunakan ibadah dan menulis,  sementara menggeser waktu tidur ke siang haripun bukan solusi. Gesekan sendal yang dulu tak terdengar,  bisa membuat saya terbangun dan rasa kantuk hilang.

Yang kedua, nah penyebab kedua ini sungguh ngeselin: usai makan, saya selalu ngantuk berat. Nggak heran tarawih berjalan cukup alot.

Sebetulnya nggak aneh juga, sebagai pengidap epilepsi, saya harus minum obat secara teratur. Celakanya jenis obat yang saya minum berjenis psikotropika yang membuat mata berat.

Alhamdullilah, seiring bertambahnya umur, rasa mengantuk nggak sehebat sewaktu muda, mungkin sudah imun ya? Tapi tetap mengganggu kegiatan. Jika sudah mengantuk, ya nggak bisa maksain nulis. Bagai mesin yang dipaksa bekerja, hasilnya akan berantakan atau mesin bakal error.

Solusinya? Saya tidur kapanpun mengantuk. Nggak lupa pasang alarm. Pemaksaan otak untuk menulis tidak hanya berdampak pada hasil tulisan,  juga bisa-bisa epilepsi saya kambuh. Dan itu runyam banget. Kegiatan sehari-hari saya bakal terganggu.

Nggak lucu kan, niat menambah pahala tapi malah bikin bencana?


source: croud.com

3.      Boring
Perasaan jemu terjadi di penghujung waktu. Ketika hari-hari penghabisan sudah menampakkan ekornya. Duh, rasanya pingin berhenti.

Salah satu yang menyebabkan jemu adalah keyword yang diberikan team Blogger Perempuan. Sekilas nampak biasa banget, ngga terasa tantangannya.

Misalnya di hari ke  12, key wordnya: baju tunik.  Mudah bukan? Saking mudahnya saya lihat salah seorang peserta membuat tulisan berjudul “Baju Tunik” tanpa embel-embel lain. Isinya satu paragraf dengan gambar yang nampaknya diambil dari online shop. Ya ampun!

Nggak papa sih. Blogger Perempuan nggak akan nyalahin. Tapi keyword yang diberikan panitia sebetulnya adalah kata yang banyak dicari. Peserta mempunyai tugas mengembangkan. Jangan sampai pembaca blog kecewa. Kasihan kan pembaca blog yang nyasar kesitu dan baca isinya yang semua orang tahu.

Bahkan menurut artikel yang saya baca, tulisan dengan 1 paragraf bisa – bisa dideteksi  Google sebagai spam. Jumlah kata yang sangat disukai Google umumnya 1000 kata atau lebih. Walau Blogger Perempuan hanya mensyaratkan 300 kata, tapi jika bisa lebih, bukankah lebih baik?

Jadi harus gimana?
Harus dicari tantangannya agar nggak boring. Bisa ditulis berdasarkan tradisi, bisa juga cara menjahit tunik,  atau digunakan pada event apa, dan seterusnya.

Sudah lama saya pingin tahu asal muasal  tunik. Dan ternyataaaa.... tunik merupakan pakaian sejak Romawi kuno. Dipakai Julius Caesar dan Cleopatra. Ditiru oleh banyak bangsa dan kemudian gayanya  disesuaikan dengan kultur tiap bangsa yang mengadopsinya.

Pantesan rohaniwan Katolik berbusana mirip para habib dari Arab Saudi ya?

Nah lho mau bikin tulisan bermanfaat, eh malah diri sendiri yang dapat ilmu. ^_^


source: sepositphotos.com

Ide Macet
Banyak motivator yang bilang bahwa kata “susah”, sebetulnya hanya ada dalam pikiran. Ketika seseorang bilang “susah” maka suatu pekerjaan akan terasa sulit, sebaliknya jika berkata “mudah” , pekerjaanpun akan gampang aja.

Motivator juga bilang bahwa memulai dengan niat berarti sudah setengah jalan. Kerasa banget ketika menjalani challenge #30HariKebaikanBPN.

Di hari ke- 13, Blogger Perempuan ngasih keyword “Gaya Rambut”. Masyaallah sejak tahunan lalu  pakai kerudung, rambut  nggak pernah diapa-apain. Dipotong jika  dirasa kepanjangan. Udah gitu aja.

Trus mau nulis apa?
Ngga punya ide!

Eh tapi, saya ingat pernah potong rambut kependekan. Ketika protes, hairdressernya cuek aja. Rambut udah terlanjur dipotong kan nggak bisa minta dibalikin ya? :D

Masalahnya anak rambut saya banyak banget. Jika ngga ditata bagian depannya, anak rambut bakal  bermain-main keluar. Bisa seharian bete tuh.

Saya ingat, waktu itu saya menggunakan untaian dan jalinan rambut agar rambut depan rapi. Nggak cukup bando dan dijepit. Jepit ngga banyak membantu, tatanan kerudung malah tambah kacau.

Maka sayapun ngubek-ngubek nyari gambar pendukung,  agar mudah dalam penulisan.  Dan eng --- ing --- eng, inilah gaya rambut  yang dimaksud.

Baca juga: 10 Inspirasi Updo Rambut Pendek Untuk Rambut Berhijab

source: lawpracticetoday.org

Menyiasati Waktu
Di hari biasa, saya bisa menulis sembarang waktu. Asalkan ada kopi, cukuplah. Karena buat saya kopi bak  dopping penyemangat, menelurkan ide yang membuat rangkaian kata seolah keluar dari ubun-ubun.

Nah, di bulan Ramadan nggak bisa ngopi di di siang hari dong. Awalnya tersiksa, akhirnya berstrategi. Di siang hari hanya mencari data, ibarat mau masak, siang hari saya gunakan untuk membeli  bahan kebutuhan masak, menyianginya jika perlu.

Di malam hari barulah proses memasak, eh maksudnya menulis di malam hari dengan data yang sudah tersedia, nggak perlu kelamaan browsing;.

Cara menulis ala memasak makanan ini saya tulis dalam postingan terpisah ya?

Pak Aam bilang, (jangan bosen ya saya berulangkali menyebut pak Aam sebagai inspirator, karena menurut saya ucapan beliau bener banget)

Secara prinsip, seorang muslim produktif harus memiliki 5 etos kerja, yaitu kerja keras, kerja tuntas,  kerja cerdas, kerja ikhlas dan kerja kualitas.

Pastinya ada penjelasan panjang lebar untuk 5S ini. Namun kurang lebih menggambarkan bahwa selama kita hidup di dunia, jangan berleha-leha, isi dengan kegiatan bermanfaat.  Kegiatan bermanfaat berarti gak boleh ngasal, harus sesuai dengan anjuran ayat suci Al Quran.

Termasuk mengisi waktu selama Ramadan dengan memenuhi  tantangan Blogger Perempuan. Haruslah sesuai etos kerja yang disyaratkan, agar kegiatan mendatangkan manfaat, ngga sekedar peluruh waktu.

Setuju?

Comments

Niklosebelas said…
Setujuuu~ saya juga kalo sudah ngantuk obatnya ya tidur. Mau dipaksain nulis juga gak akan bisa soalnya kepala udah berat