Skip to main content

Misteri Berhijab

 
sumber foto: Erna Sofianti (Noey Java Jive)

Mariam terkejut ketika menyadari burqa yang dikenakan membuatnya nyaman. Pakaian ini sama saja dengan jendela searah. Di dalamnya, dia menjadi pengamat, terhalang dari tatapan curiga orang-orang asing”
 
Kutipan diatas  hanya kisah rekaan Khaled Hosseini  dalam novelnya  A Thousand Splendid Suns. Tentang Mariam yang mendapat paksaan dari suaminya agar menggunakan burqa, tapi akhirnya justru merasakan nyaman. 

Walau tidak ada seorangpun yang memaksa saya memakai hijab, ada benang merah antara kisah Mariam dengan apa yang saya alami. Saya memakai hijab tanpa memahami esensinya dan menemukan  kebahagiaan sesudahnya. Ada rasa nyaman, berharga dan terlindung dari pandangan mata tak senonoh.

Dilahirkan dan besar dalam keluarga beragama Khatolik, membuat saya tidak mengerti mengapa seorang perempuan harus berhijab. Bahkan ketika memutuskan memeluk agama Islam, saya mempunyai keyakinan bahwa seorang berhijab haruslah penganut agama Islam yang kafah. Bukan seorang mualaf yang terbata-bata menghafal surat dan belajar mengaji. Tatkala itu tahun 1989, buku pelajaran sholat masih sulit ditemukan di toko-toko buku besar, sehingga saya membeli buku  “Tata Cara Sholat” seharga Rp 1.000,00 di pinggir jalan. Begitu juga buku cara membaca huruf Al Quran, saya menemukan dan membelinya di bursa buku murah  Palasari, Bandung.


Sekitar 15 tahun lamanya sendirian terbata-bata mengaji dan sholat, sebelum akhirnya  memutuskan mengikuti pengajian Az-Zahra. Sebuah pengajian yang semula merupakan kumpulan  ibu-ibu arisan. Mayoritas terdiri dari  orang tua siswa sekolah Taruna Bakti, tempat anak-anak saya bersekolah. Banyak kisah menggelikan terjadi disini, penyebabnya kenaifan saya tentang Islam termasuk keputusan mencoba berhijab. Berhijab untuk pertama kalinya.

Tidak mudah, karena tidak ada tempat bertanya di keluarga. Hubungan tetangga di kompleks perumahan yang cenderung nafsi-nafsi juga tidak banyak membantu. Karena itu pegawai toserbalah yang  membantu mencarikan baju muslim  dan kerudung lengkap dengan asesoriesnya. Saya ingat baju biru dan kerudung biru yang nyaman.

Ya sangat nyaman dipakai. Tidak panas seperti bayangan semula sehingga saya ketagihan dan membongkar lemari baju untuk menemukan baju lainnya yang memungkinkan. Semua baju lengan pendek yang tak pantas langsung masuk kardus untuk didonasikan.

Sesuatu sensasi yang tidak mudah dilukiskan. Bagaimana mungkin berpakaian tertutup di cuaca panas bisa menimbulkan rasa nyaman? Apakah itu yang dinamakan hidayah seperti halnya ketika saya memutuskan memeluk agama Islam? Entahlah. Perasaan nyaman itu bertambah sesudah saya mendapati bahwa saya merasa terlindungi. Seolah ada garis tipis yang melindungi saya ketika berada di dalam kerumunan orang banyak. Ada perlindungan tak terlihat ketika bertemu kaum pria yang bukan muhrim.


Tapi pemahaman bahwa seorang muslimah harus berhijab baru saya ketahui kemudian ketika pengajian mengadakan pagelaran baju muslim. Designernya, Eni Kosasih membagikan kertas fotocopy berisi  firman Allah SWT berikut ini:

Hai nabi katakanlah kepada istri-istri mu, anak-anak perempuan mu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk di kenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al Ahjab : 59).”

Dan :
“Katakanlah kepada wanita-wanita mukmin agar menahan pandangan mereka dan menjaga kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) tampak darinya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya….”
(Q.S. an Nûr: 31)


Seperti halnya setiap perjalanan , selalu ada proses yang menyebabkan kita matang atau mencapai suatu tujuan dengan suatu kebanggaan.  Di tengah proses biasanya terjadi godaan atau cobaan yang membuat lengah .  Godaan ringan seperti komentar seorang bibi (adik ibu) yang beragama nonmuslim sehingga tentu saja tidak mengetahui kewajiban berhijab bagi muslimah:

“Maria kamu cantik, apalagi kalau tidak pakai kerudung. Pakai kerudung jadi kelihatan lebih  tua”. Nah, hampir tidak ada seorangpun perempuan di muka bumi ini yang ingin dikatakan lebih tua dibanding usia yang sebenarnya. Tetapi apakah itu berarti saya harus membuka hijab?  Tentu saja tidak, terlebih sesudah tahu bahwa keharusan berhijab tercantum dalam kitab suci umat Islam, Al Quran Nur Karim.

Cobaan lainnya datang dalam bentuk rambut yang rontok setiap hari. Rontok diluar jumlah normal. Sudah berpuluh tempat  dan cara ditempuh untuk mendapat  solusinya. Hasilnya masih nol besar. Hingga suatu  kali saya bertemu hairdresser salon muslimah. Dia juga berhijab dan memberi  nasehat : “Jaga rambut agar selalu bersih juga jangan terlalu panjang. Selebihnya kita harus ikhlas, karena rambut sayapun rontok. Berbagai cara sudah dicoba tapi hasilnya tetap.  Jadi tawakal saja, toh tidak akan botak”.

Seorang hairdresser berambut rontok? Padahal dia memiliki banyak akses untuk menjaga rambut agar tidak rontok. Selain itu dia juga mempunyai waktu dan pengetahuan untuk memilih shampoo, treatment rambut dan creambath , tapi toh rambutnya tetap rontok. Satu ujian yang harus dilewati muslimah :  “Takut berpenampilan jelek karena rambut rontok atau takut pada azab Allah SWT,  karena tidak berhijab? Bukankah perintah Allah SWT sudah  begitu jelas?”.

Beberapa rekan enggan menggunakan hijab  dengan  alasan “yang penting berhijab hatinya”. Wah, tentu saja saya tidak sependapat. Berhijab harus mulai dari penampilan , bentuk terluar seorang muslimah. Agar dia terjaga sekaligus menjaga dirinya. Mulut terjaga dari ucapan kotor dan sumpah serapah nama binatang yang tidak seharusnya disebut. Badannya terjaga, karena ketika bergerak, baik melangkah ,  duduk  atau jongkok tidak menampakan bagian tubuh yang mengakibatkan kaum Adam menggoda.

Banyak peristiwa yang menunjukkan betapa besar peranan berhijab, sebagai contoh ketika bertemu kerabat non muslim, sikapnya menghargai saya sebagai muslimah dan tidak cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri) sebagaimana kebiasaan non muslim walau bukan muhrimnya. Hal  tersebut  tidak mungkin tercapai apabila saya tidak berhijab.

Beberapa orang mungkin menganggap sepele masalah perilaku dan kebiasaan salah seperti cipika cipiki tersebut tapi besar artinya bagi seorang muslimah karena ini masalah lifestyle, masalah gaya hidup yang kebablasan dan apabila tidak hati-hati akan mendorong kita kedalam fitnah.

Kini, sekitar enam tahun berlalu ketika saya mulai memutuskan berhijab. Saya merasakan keindahan itu dan meyakini hijab bukan bentuk  pengekangan. Hijab adalah pelindung yg bermanfaat bagi muslimah itu sendiri. Hijab memang tidak selalu berbentuk burqa seperti yang dikenakan Mariam. Tapi hijab melindungi muslimah agar berperilaku sesuai sesuai ajaran Islam yang utuh dan kafah. Tidak sekedar pengakuan bahwa dirinya beragama Islam.

Hijab membuat muslimah  merasa nyaman. Seolah ada dinding tak kasat mata yang melindungi. Dinding yang membantunya terhindar dari gangguan tak senonoh dan pandangan mata yang jelalatan. Sekaligus dinding yang akan mengetuk relung hati seorang muslimah agar selalu istiqomah. Itulah yang saya rasakan dan nikmati kini. Alhamdullilah Allah SWT melapangkan jalan saya karena saya berhijab.

**Maria G. Soemitro**

Comments

Popular posts from this blog

The Third Charm, Akhir Yang Membuat Penonton Marah

Bagaimana jika tokoh utama yang ganteng bukan main menjalin kasih dengan second lead, gadis cantik, imut dan menggemaskan? Ternyata penonton memilih agar keduanya happy ending. Sementara tokoh perempuan di maki-maki karena dianggap meninggalkan kekasihnya.
Mungkin itu yang menjadi penyebab ending drama Korea “The Third Charm” dibiarkan cukup terbuka. Penonton boleh berkhayal semaunya. Apakah cukup sahabatan atau menikah?
Tokoh utama pria, Seo Kang-Joon dan tokohperempuan, Esom yang membuat saya kepincut untuk menonton drakor ini. Seo Kang-Joon, rupanya dianggap sukses dalam setiap perannya sehingga tahun 2018, saya menonton 2 dramanya. Marema ya?
Sedangkan Esom, saya jatuh cinta pada sosoknya di Because This Is My First Life. Berperan sebagai sahabat tokoh utama, Esom keren banget. Hihihi tentu saja yang dimaksud keren adalah postur tubuhnyayang tinggi dan penuh. Seksi, tanpa harus berbaju pendek. Bahkan balutan kostum hitam atau putih yang dikenakan, bikin Essom nampak berkelas. Sebetul…

Dewi Kentring Manik, Dewi Cantik Jelita Pelindung Kota Bandung

Kios Agro Datang, Penjual Senang, Emak-emak Happy

Ibu rumah tangga menjerit ..!! Iburumah tangga yang acap disebutemak-emak ini menjadi kelompok masyarakat yang pertama kali tersakiti ketika harga-harga melonjak naik.
Menjelangbulan puasa tahun 2019, harga bawang putih tiba- tiba membumbung tinggi hingga mencapai Rp 100K per kilo gram, padahal biasanya hanya berkisar Rp 25K per kilogram.
Sebelumnya akibat kacang kedelai melonjak tinggi, harga tempepun meroket. Produsen tempe dan penjual tempe mogok hingga pemerintah turun tangan. namun emak-emaklah yang terkena imbasnya. Setiap hari mereka harus menyediakan lauk pauk. Dan tempe merupakan sumber protein termurah.
Tiga tahun sebelumnya, harga cabai rawit yang melonjak naik, hingga mencapai harga Rp 100K/kg. Padahal harga normal hanya belasan ribu rupiah per kilogram.
Penyedia jajanan khususnya UMKM lebih terpukul.

Saya sebagai salah satu dari kaum emak, yang juga pelaku UMKM, sempat menangis kesal. Tidak hanya disebabkan keuntungan yang tergerus habis, juga pernyataan menteri pertanian yan…

Lipstik Untuk Emak

Tini
Tini berjinjit.  
Dia sedang mengintai.

Disana, dibalik pintu kaca, seorang perempuan cantik sedang tersenyum pada cermin.   Sang perempuan cantik mengambil  spon bedak, ditepuk-tepuknya  pipi, hidung dan kening. Kemudian dia meringis.  Memperhatikan deretan gigi putihnya dengan seksama. 
Nampak cukup puas.  Tidak ada potongan cabai diantara geligi.  Dari tas mungilnya, dia mengeluarkan lipstik, menyapu bibir penuhnya dengan warna merah.  Tersenyum kembali pada cermin.  Wajahnya berubah.  Semakin cantik.
Di mata Tini, kecantikan sang perempuan bak bidadari.
“Sssttt Tin, Tiniii ...” Teriakan seorang teman menyadarkannya.
Dia harus bergegas.  Rinai hujan adalah rupiah.
Semakin lama hujan turun  semakin banyak rupiah terkumpul.
Tini berlari, menuruni undakan mall, menuju kerumunan orang yang sedang berteduh. 
Lobby mall selalu menjadi tempat favorit kala hujan turun. “Ojek payung, bu?” tanya Tini pada sesosok perempuan berkaca mata.  Blazer ungunya terkena tempias.  Basah.  Dia menerima payung y…

7 Amalan Bagi Bumi; Yuk Kita Mulai di Bulan Ramadan

“We don’t  Inherit The Earth from our Ancestor, We Borrow it from our Children”Akrab dengan adagium di atas? Iya banget ya? Bumi ini kan nggak hanya dihuni kita sekarang, anak cucu kita nanti juga akan menginjaknya. Jadi sudah seharusnya kita pelihara.
Dan hanya Islam lho yang punya ayat-ayat suci agar umatNya memelihara bumi. Salah satunya: ظَهَرَالْفَسَادُفِيالْبَرِّوَالْبَحْرِبِمَاكَسَبَتْأَيْدِيالنَّاسِلِيُذِيقَهُمْبَعْضَالَّذِيعَمِلُوالَعَلَّهُمْيَرْجِعُونَ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]
Sebagai muslim, bangga banget  ya punya kitab suci yang lengkap dan  sempurna. Nggak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Juga manusia dengan alam.  
Karena jika manusia memelihara  alam, maka alam akan membalas kebaikan manusia dengan berlipat ganda. Kebutuhan oksigen yang …

3 Pilihan Investasi Sesuai Syariah Islam. Bisa Banget Dimulai Dari Uang THR

THR?
Yeay benar-benar kata yang menghinoptis. Kata yang mengumbar kebahagiaan. Baru denger kata THR udah bikin tersenyum. Apalagi jika sang THR sudah dalam genggaman. Karena itu berarti bisa beli baju, beli kue, beli hape baru, jalan-jalan, ngasih ke ortu, ngasih ke fakir miskin.
Sebentar, banyak banget yang mau dibeli? Mana buat investasi? Mumpung ada “uang kaget”, mengapa tidak berinvestasi?
Udah ada tabungan. Ngapain lagi harus berinvestasi?
Nah ini dia yang sering dilupakan masyarakat milenial. Terbuai rayuan angin surga,terlebih belanja online mempermudah segalanya, bisa –bisa dalam sekejap uang THR habis tak tersisa. Bahkan mungkin nombok.
Padahal hidup manusia di dunia rata-rata selama 60 tahun. Jika sejak dini nggak pernah berinvestasi, yakinkah bahwa kamu bisa mencari nafkah di usia tua? Jangan-jangan usia 50 tahun sakit-sakitan, bolak balik ke rumah sakit, tabungan habis, rumah terpaksa dijual. Ngenes banget.
Dan tabungan beda banget dengan investasi ya? Tabungan lebih mirip uang…

7 Bekal Wajib Agar Mudik Lancar dan Menyenangkan

Libur tlah tiba
Libur tlah tiba ... hore ... hore ...
Hihihilagu Tasya ini rasanya berkumandang di setiap liburan ya? Dan liburan berarti mudik. Lipat dua deh bahagianya.
Biasanya kami sekeluarga mudik ke Jawa Tengah. Naik kendaraan pribadi, mengular bersama kendaraan lain yang terjebak macet. Namun tetap happy. Macet adalah bunganya mudik. Bahkan kursi mobil sengaja dicopot, agar bisa tidur ketika macet.
Hingga .....
Berita itu tiba. Belasan orang meninggal gara-gara terjebak macet di Brebes Exit.Infrastruktur yang belum tuntas namun dipaksakan ,  dituduh sebagai penyebab. Namun, sejauh mana pemudik menyiapkan diri agar siap menghadapi situasi terburuk? 
Sudahkah pemudik menyiapkan bekal yang cukup dan sesuai?
Sebagai emak dengan 4 anak, menyiapkan bekal mudik menjadi story tersendiri. Nggak mudah. Jangan sampai  merasa bersalah jika ada yang tertinggal atau nggak dicatat untuk dibawa masuk koper/tas.
Selain baju, sepatu, pakaiandan pakaian dalam milik masing-masing anggota keluarga, paling…