Kiat Sukses Memotret Makanan



dok. Maria G. Soemitro




Saya “ ngeces” berat setiap lihat foto makanan yang mengundang selera. Duh kok bisa ya? Kok foto-foto makanan saya sangat menyeramkan ya? Beruntung Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta, komunitas hobi jepret (Kampret) berbaik hati membuka kelas gratis.
Yups ini, postingan yang telat banget, tapi berhubung saya sulit inget dan gampang lupa   ;)   maka tetap harus diposting, kan?
Dalam kesempatan tersebut, hadir 4 suhu Kampret yaitu
Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Tentunya selain motoin makanan, sebagai peserta kita bisa makan gratis pula. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Jarang-jarang kan tuh ada kesempatan mengasyikkan seperti itu?



Nah pelajaran utama dari Widianto H. Didiet (salah satu suhu yang potret makanannya bikin kita laperrr….. ), yaitu:

“Bagaimana caranya foto yang kita ciptakan, bisa membuat orang ingin memakan makanan yang anda foto itu”

Itu teori utamanya. Sedangkan untuk menghasilkan foto yang dimaksud ada beberapa unsur yang harus diperhatikan:

  • Makanan itu sendiri. ( Bentuk makanan, warna makanan, cita rasa, tata penyajian, dan cara menyantapnya).

  • Aksesoris penunjang ( piring, sendok, gelas, pisau dan sebagainya).

  • Cahaya (cahaya alam, cahaya penunjang). Cahaya penunjang digunakan jika kesulitan memindahkan objek yang membutuhkan cahaya agar hasilnya maksimal.

Penting diperhatikan adalah tujuannya. Apakah kita memotret untuk medsos? Menu? Iklan? Atau blog? Karena tujuan menentukan cara eksekusinya. Apakah harus secara professional dengan menggunakan DSLR dan lightingnya, ataukah cukup kamera ponsel dengan alat bantu tertentu. Jawaban untuk kita pastinya ngeblog ya, jadi kamera ponselpun jadilah. :)
Oke, tujuan sudah, teori memotret makanan sudah, yang terakhir adalah tipsnya. Ini dia, tips memotret makanan agar tampak menggiurkan: 

  1. Proporsi utama dalam menentukan komposisi: Dalam memotret makanan , komposisi dan estetika sangat diperlukan. Caranya bisa bermacam-macam, bisa menggunakan konsep pengulangan ( repetisi ), memperhitungkan angle agar makanan tampak sedap mengundang. 
  2. Saat mulai memotret jangan memasukkan keseluruhan property disekitar meja tersebut. Jadi jangan kaya warung yang segala ada, sehingga bikin bingung dan ngga fokus. 
  3. Makanan yang difoto harus mendominasi keseluruhan komposisi. Jika ada banyak makanan harus ditentukan makanan mana yang menjadi objek. 
  4. Masukkan sedikit saja elemen atau property pendukung seperti serbet, piring, mangkok, sendok , garpu ataupun pisau. 
  5. Untuk makanan yang terdiri dari dua buah piring/mangkok, utamakan yang utama dari menu tersebut. Misalnya mau memotret mi ayam, utamakan mi-nya, sedangkan mangkok kuah silakan mengantri di belakang. ^_^ 
  6. Untuk minuman, perhatikan pinggir gelas jangan sampai over dan terputus. 
  7. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah:

 “Memotret adalah Seni. Seni adalah Rasa. Rasa dari tiap orang yang berbeda.”

dok. Maria G. Soemitro

Jadiiiii …….., sepanjang apapun teorinya, kembali pada “man behind gun” , kalo sehari-hari yang disantapnya mi instan ya ngga akan nyenilah hasil fotonya  :)
Usai dapat ilmu, kitapun berkuliner ria. Asyikkkkk……, banyak makanan disini. Taman Kuliner gitu lho. Beragam makanan Eropa (pasta dan temen-temennya), makanan Jepang (teriyaki dan saudara saudaranya) , beragam masakan Cina yang sudah mengindonesia seperti mi ayam, mi bakso, siomai serta makanan tradisional tentunya nasi bakar jambal, bebek gawat dan aduh banyakk banget belum lagi minumannya, bisa bikin perut meledak kalo mau coba semua. 

Setiap merchant menempati ruang bekas kontainer. Sungguh menarik. Warna-warninya pasti seru jika dijepret dari atas: merah, kuning, biru, putih, hijau, ditambah aksesori meja kursinya yang unik karena menggunakan tong bekas berwarna-warni. Ummm…., mereka yang suka hangout mesti nyoba kesini deh, karena makin sore makin rame. Usai ishoma (istirahat, sholat, makan), peserta mendapat tantangan memotret makanan dan memposting di grup Kampret. Siapa yang beruntung akan dapat hadiah. Ada ketentuan untuk kontes foto ini yaitu editing hanya sebatas cropping, selebihnya terlarang. 

 Daannnn …… inilah hasil foto saya:

dok. Maria G. Soemitro


Berhasil? Ngga karena beberapa nampak ngeblur, warna ngga pas dan nampaknya kurang maknyuzzz, hehehe pemotretnya ngga puas apalagi juri kan? Pemenangnya Sumarti Saelan (Ketua KEB) , Rahab Ganendra, Fahmi Idris dan Yulia Rahmawati yang membuktikan bahwa hasil foto ngga harus berasal dari kamera mahal yang serba wah…wah…wah. Yang penting hasilnya membuat orang ingin menyantapnya karena perpaduan warna, penitikberatan objek dan kelihaian cropping. Ini dia hasil karya mereka, keren bukan?
dok. Putri Gerry


Waduh jadi laperrrrrrr …….Ternyata hasil Belajar Bareng Kampret (BBK)-nya sukses besar karena terbukti bikin ngeces yang ngelihat. Bagaimana menurut anda?


dok. Maria G. Soemitro


dok. Yulia Rahmawati
saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b4568
saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b4
aya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b
saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat. Nah pelajaran utama dari Widianto H. Didiet (salah satu suhu yang potret makanannya bikin kita laperrr….. ), yaitu: “Bagaimana caranya foto yang kita ciptakan, bisa membuat orang ingin memakan makanan yang anda foto itu” Itu teori utamanya. Sedangkan untuk menghasilkan foto yang dimaksud ada beberapa unsur yang harus diperhatikan: Makanan itu sendiri. ( Bentuk makanan, warna makanan, cita rasa, tata penyajian, dan cara menyantapnya). Aksesoris penunjang ( piring, sendok, gelas, pisau dan sebagainya). Cahaya (cahaya alam, cahaya penunjang). Cahaya penunjang digunakan jika kesulitan memindahkan objek yang membutuhkan cahaya agar hasilnya maksimal. Penting diperhatikan adalah tujuannya. Apakah kita memotret untuk medsos? Menu? Iklan? Atau blog? Karena tujuan menentukan cara eksekusinya. Apakah harus secara professional dengan menggunakan DSLR dan lightingnya, ataukah cukup kamera ponsel dengan alat bantu tertentu. Jawaban untuk kita pastinya ngeblog ya, jadi kamera ponselpun jadilah. ^_^ Oke, tujuan sudah, teori memotret makanan sudah, yang terakhir adalah tipsnya. Ini dia, tips memotret makanan agar tampak menggiurkan: Proporsi utama dalam menentukan komposisi: Dalam memotret makanan , komposisi dan estetika sangat diperlukan. Caranya bisa bermacam-macam, bisa menggunakan konsep pengulangan ( repetisi ), memperhitungkan angle agar makanan tampak sedap mengundang. Saat mulai memotret jangan memasukkan keseluruhan property disekitar meja tersebut. Jadi jangan kaya warung yang segala ada, sehingga bikin bingung dan ngga fokus. Makanan yang difoto harus mendominasi keseluruhan komposisi. Jika ada banyak makanan harus ditentukan makanan mana yang menjadi objek. Masukkan sedikit saja elemen atau property pendukung seperti serbet, piring, mangkok, sendok , garpu ataupun pisau. Untuk makanan yang terdiri dari dua buah piring/mangkok, utamakan yang utama dari menu tersebut. Misalnya mau memotret mi ayam, utamakan mi-nya, sedangkan mangkok kuah silakan mengantri di belakang. ^_^ Untuk minuman, perhatikan pinggir gelas jangan sampai over dan terputus. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah: “Memotret adalah Seni. Seni adalah Rasa. Rasa dari tiap orang yang berbeda.” Jadiiiii …….., sepanjang apapun teorinya, kembali pada “man behind gun” , kalo sehari-hari yang disantapnya mi instan ya ngga akan nyenilah hasil fotonya ^_^ Usai dapat ilmu, kitapun berkuliner ria. Asyikkkkk……, banyak makanan disini. Taman Kuliner gitu lho. Beragam makanan Eropa (pasta dan temen-temennya), makanan Jepang (teriyaki dan saudara saudaranya) , beragam masakan Cina yang sudah mengindonesia seperti mi ayam, mi bakso, siomai serta makanan tradisional tentunya nasi bakar jambal, bebek gawat dan aduh banyakk banget belum lagi minumannya, bisa bikin perut meledak kalo mau coba semua. Setiap merchant menempati ruang bekas kontainer. Sungguh menarik. Warna-warninya pasti seru jika dijepret dari atas: merah, kuning, biru, putih, hijau, ditambah aksesori meja kursinya yang unik karena menggunakan tong bekas berwarna-warni. Ummm…., mereka yang suka hangout mesti nyoba kesini deh, karena makin sore makin rame. Usai ishoma (istirahat, sholat, makan), peserta mendapat tantangan memotret makanan dan memposting di grup Kampret. Siapa yang beruntung akan dapat hadiah. Ada ketentuan untuk kontes foto ini yaitu editing hanya sebatas cropping, selebihnya terlarang. Daannnn …… inilah hasil foto saya:

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b4568
saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat. Nah pelajaran utama dari Widianto H. Didiet (salah satu suhu yang potret makanannya bikin kita laperrr….. ), yaitu: “Bagaimana caranya foto yang kita ciptakan, bisa membuat orang ingin memakan makanan yang anda foto itu” Itu teori utamanya. Sedangkan untuk menghasilkan foto yang dimaksud ada beberapa unsur yang harus diperhatikan: Makanan itu sendiri. ( Bentuk makanan, warna makanan, cita rasa, tata penyajian, dan cara menyantapnya). Aksesoris penunjang ( piring, sendok, gelas, pisau dan sebagainya). Cahaya (cahaya alam, cahaya penunjang). Cahaya penunjang digunakan jika kesulitan memindahkan objek yang membutuhkan cahaya agar hasilnya maksimal. Penting diperhatikan adalah tujuannya. Apakah kita memotret untuk medsos? Menu? Iklan? Atau blog? Karena tujuan menentukan cara eksekusinya. Apakah harus secara professional dengan menggunakan DSLR dan lightingnya, ataukah cukup kamera ponsel dengan alat bantu tertentu. Jawaban untuk kita pastinya ngeblog ya, jadi kamera ponselpun jadilah. ^_^ Oke, tujuan sudah, teori memotret makanan sudah, yang terakhir adalah tipsnya. Ini dia, tips memotret makanan agar tampak menggiurkan: Proporsi utama dalam menentukan komposisi: Dalam memotret makanan , komposisi dan estetika sangat diperlukan. Caranya bisa bermacam-macam, bisa menggunakan konsep pengulangan ( repetisi ), memperhitungkan angle agar makanan tampak sedap mengundang. Saat mulai memotret jangan memasukkan keseluruhan property disekitar meja tersebut. Jadi jangan kaya warung yang segala ada, sehingga bikin bingung dan ngga fokus. Makanan yang difoto harus mendominasi keseluruhan komposisi. Jika ada banyak makanan harus ditentukan makanan mana yang menjadi objek. Masukkan sedikit saja elemen atau property pendukung seperti serbet, piring, mangkok, sendok , garpu ataupun pisau. Untuk makanan yang terdiri dari dua buah piring/mangkok, utamakan yang utama dari menu tersebut. Misalnya mau memotret mi ayam, utamakan mi-nya, sedangkan mangkok kuah silakan mengantri di belakang. ^_^ Untuk minuman, perhatikan pinggir gelas jangan sampai over dan terputus. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah: “Memotret adalah Seni. Seni adalah Rasa. Rasa dari tiap orang yang berbeda.” Jadiiiii …….., sepanjang apapun teorinya, kembali pada “man behind gun” , kalo sehari-hari yang disantapnya mi instan ya ngga akan nyenilah hasil fotonya ^_^ Usai dapat ilmu, kitapun berkuliner ria. Asyikkkkk……, banyak makanan disini. Taman Kuliner gitu lho. Beragam makanan Eropa (pasta dan temen-temennya), makanan Jepang (teriyaki dan saudara saudaranya) , beragam masakan Cina yang sudah mengindonesia seperti mi ayam, mi bakso, siomai serta makanan tradisional tentunya nasi bakar jambal, bebek gawat dan aduh banyakk banget belum lagi minumannya, bisa bikin perut meledak kalo mau coba semua. Setiap merchant menempati ruang bekas kontainer. Sungguh menarik. Warna-warninya pasti seru jika dijepret dari atas: merah, kuning, biru, putih, hijau, ditambah aksesori meja kursinya yang unik karena menggunakan tong bekas berwarna-warni. Ummm…., mereka yang suka hangout mesti nyoba kesini deh, karena makin sore makin rame. Usai ishoma (istirahat, sholat, makan), peserta mendapat tantangan memotret makanan dan memposting di grup Kampret. Siapa yang beruntung akan dapat hadiah. Ada ketentuan untuk kontes foto ini yaitu editing hanya sebatas cropping, selebihnya terlarang. Daannnn …… inilah hasil foto saya:

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b45
saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat. Nah pelajaran utama dari Widianto H. Didiet (salah satu suhu yang potret makanannya bikin kita laperrr….. ), yaitu: “Bagaimana caranya foto yang kita ciptakan, bisa membuat orang ingin memakan makanan yang anda foto itu” Itu teori utamanya. Sedangkan untuk menghasilkan foto yang dimaksud ada beberapa unsur yang harus diperhatikan: Makanan itu sendiri. ( Bentuk makanan, warna makanan, cita rasa, tata penyajian, dan cara menyantapnya). Aksesoris penunjang ( piring, sendok, gelas, pisau dan sebagainya). Cahaya (cahaya alam, cahaya penunjang). Cahaya penunjang digunakan jika kesulitan memindahkan objek yang membutuhkan cahaya agar hasilnya maksimal. Penting diperhatikan adalah tujuannya. Apakah kita memotret untuk medsos? Menu? Iklan? Atau blog? Karena tujuan menentukan cara eksekusinya. Apakah harus secara professional dengan menggunakan DSLR dan lightingnya, ataukah cukup kamera ponsel dengan alat bantu tertentu. Jawaban untuk kita pastinya ngeblog ya, jadi kamera ponselpun jadilah. ^_^ Oke, tujuan sudah, teori memotret makanan sudah, yang terakhir adalah tipsnya. Ini dia, tips memotret makanan agar tampak menggiurkan: Proporsi utama dalam menentukan komposisi: Dalam memotret makanan , komposisi dan estetika sangat diperlukan. Caranya bisa bermacam-macam, bisa menggunakan konsep pengulangan ( repetisi ), memperhitungkan angle agar makanan tampak sedap mengundang. Saat mulai memotret jangan memasukkan keseluruhan property disekitar meja tersebut. Jadi jangan kaya warung yang segala ada, sehingga bikin bingung dan ngga fokus. Makanan yang difoto harus mendominasi keseluruhan komposisi. Jika ada banyak makanan harus ditentukan makanan mana yang menjadi objek. Masukkan sedikit saja elemen atau property pendukung seperti serbet, piring, mangkok, sendok , garpu ataupun pisau. Untuk makanan yang terdiri dari dua buah piring/mangkok, utamakan yang utama dari menu tersebut. Misalnya mau memotret mi ayam, utamakan mi-nya, sedangkan mangkok kuah silakan mengantri di belakang. ^_^ Untuk minuman, perhatikan pinggir gelas jangan sampai over dan terputus. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah: “Memotret adalah Seni. Seni adalah Rasa. Rasa dari tiap orang yang berbeda.” Jadiiiii …….., sepanjang apapun teorinya, kembali pada “man behind gun” , kalo sehari-hari yang disantapnya mi instan ya ngga akan nyenilah hasil fotonya ^_^ Usai dapat ilmu, kitapun berkuliner ria. Asyikkkkk……, banyak makanan disini. Taman Kuliner gitu lho. Beragam makanan Eropa (pasta dan temen-temennya), makanan Jepang (teriyaki dan saudara saudaranya) , beragam masakan Cina yang sudah mengindonesia seperti mi ayam, mi bakso, siomai serta makanan tradisional tentunya nasi bakar jambal, bebek gawat dan aduh banyakk banget belum lagi minumannya, bisa bikin perut meledak kalo mau coba semua. Setiap merchant menempati ruang bekas kontainer. Sungguh menarik. Warna-warninya pasti seru jika dijepret dari atas: merah, kuning, biru, putih, hijau, ditambah aksesori meja kursinya yang unik karena menggunakan tong bekas berwarna-warni. Ummm…., mereka yang suka hangout mesti nyoba kesini deh, karena makin sore makin rame. Usai ishoma (istirahat, sholat, makan), peserta mendapat tantangan memotret makanan dan memposting di grup Kampret. Siapa yang beruntung akan dapat hadiah. Ada ketentuan untuk kontes foto ini yaitu editing hanya sebatas cropping, selebihnya terlarang. Daannnn …… inilah hasil foto saya:

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b4568
saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat. Nah pelajaran utama dari Widianto H. Didiet (salah satu suhu yang potret makanannya bikin kita laperrr….. ), yaitu: “Bagaimana caranya foto yang kita ciptakan, bisa membuat orang ingin memakan makanan yang anda foto itu” Itu teori utamanya. Sedangkan untuk menghasilkan foto yang dimaksud ada beberapa unsur yang harus diperhatikan: Makanan itu sendiri. ( Bentuk makanan, warna makanan, cita rasa, tata penyajian, dan cara menyantapnya). Aksesoris penunjang ( piring, sendok, gelas, pisau dan sebagainya). Cahaya (cahaya alam, cahaya penunjang). Cahaya penunjang digunakan jika kesulitan memindahkan objek yang membutuhkan cahaya agar hasilnya maksimal. Penting diperhatikan adalah tujuannya. Apakah kita memotret untuk medsos? Menu? Iklan? Atau blog? Karena tujuan menentukan cara eksekusinya. Apakah harus secara professional dengan menggunakan DSLR dan lightingnya, ataukah cukup kamera ponsel dengan alat bantu tertentu. Jawaban untuk kita pastinya ngeblog ya, jadi kamera ponselpun jadilah. ^_^ Oke, tujuan sudah, teori memotret makanan sudah, yang terakhir adalah tipsnya. Ini dia, tips memotret makanan agar tampak menggiurkan: Proporsi utama dalam menentukan komposisi: Dalam memotret makanan , komposisi dan estetika sangat diperlukan. Caranya bisa bermacam-macam, bisa menggunakan konsep pengulangan ( repetisi ), memperhitungkan angle agar makanan tampak sedap mengundang. Saat mulai memotret jangan memasukkan keseluruhan property disekitar meja tersebut. Jadi jangan kaya warung yang segala ada, sehingga bikin bingung dan ngga fokus. Makanan yang difoto harus mendominasi keseluruhan komposisi. Jika ada banyak makanan harus ditentukan makanan mana yang menjadi objek. Masukkan sedikit saja elemen atau property pendukung seperti serbet, piring, mangkok, sendok , garpu ataupun pisau. Untuk makanan yang terdiri dari dua buah piring/mangkok, utamakan yang utama dari menu tersebut. Misalnya mau memotret mi ayam, utamakan mi-nya, sedangkan mangkok kuah silakan mengantri di belakang. ^_^ Untuk minuman, perhatikan pinggir gelas jangan sampai over dan terputus. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah: “Memotret adalah Seni. Seni adalah Rasa. Rasa dari tiap orang yang berbeda.” Jadiiiii …….., sepanjang apapun teorinya, kembali pada “man behind gun” , kalo sehari-hari yang disantapnya mi instan ya ngga akan nyenilah hasil fotonya ^_^ Usai dapat ilmu, kitapun berkuliner ria. Asyikkkkk……, banyak makanan disini. Taman Kuliner gitu lho. Beragam makanan Eropa (pasta dan temen-temennya), makanan Jepang (teriyaki dan saudara saudaranya) , beragam masakan Cina yang sudah mengindonesia seperti mi ayam, mi bakso, siomai serta makanan tradisional tentunya nasi bakar jambal, bebek gawat dan aduh banyakk banget belum lagi minumannya, bisa bikin perut meledak kalo mau coba semua. Setiap merchant menempati ruang bekas kontainer. Sungguh menarik. Warna-warninya pasti seru jika dijepret dari atas: merah, kuning, biru, putih, hijau, ditambah aksesori meja kursinya yang unik karena menggunakan tong bekas berwarna-warni. Ummm…., mereka yang suka hangout mesti nyoba kesini deh, karena makin sore makin rame. Usai ishoma (istirahat, sholat, makan), peserta mendapat tantangan memotret makanan dan memposting di grup Kampret. Siapa yang beruntung akan dapat hadiah. Ada ketentuan untuk kontes foto ini yaitu editing hanya sebatas cropping, selebihnya terlarang. Daannnn …… inilah hasil foto saya:

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b4568
Dannn …… saya “ ngeces” berat setiap ada kesempatan anggota Kampret berguru langsung dari para suhu. Ya gimana ngga, mereka kan fotografer professional, tanpa tambahan status sebagai kompasianer, anda mesti merogoh kocek dalam-dalam. Soalnya harus ngeladenin pertanyaan –pertanyaan kita yang naïf ^_^ Bersyukur para suhu ini mau berbagi ilmunya Sabtu 9 Oktober silam di Taman Kuliner The Spring Jakarta. Ngga hanya anggota Kampret yang hadir tapi juga anggota Kompasianer Penggila Kuliner (KPK). Rame pastinya, selain belajar fotografi, peserta berkesempatan makan enak. Waduh sekali menyelam dapat 2, ya kulineran ya ilmu memotret makanan. Ada 4 suhu Kampret yang hadir yaitu Harja Saputra, Arif Subagor dan Widianto H. Didiet, Rob Januar. Selain memberi ilmu, mereka langsung tutorial yang gaptek berat. Nah pelajaran utama dari Widianto H. Didiet (salah satu suhu yang potret makanannya bikin kita laperrr….. ), yaitu: “Bagaimana caranya foto yang kita ciptakan, bisa membuat orang ingin memakan makanan yang anda foto itu” Itu teori utamanya. Sedangkan untuk menghasilkan foto yang dimaksud ada beberapa unsur yang harus diperhatikan: Makanan itu sendiri. ( Bentuk makanan, warna makanan, cita rasa, tata penyajian, dan cara menyantapnya). Aksesoris penunjang ( piring, sendok, gelas, pisau dan sebagainya). Cahaya (cahaya alam, cahaya penunjang). Cahaya penunjang digunakan jika kesulitan memindahkan objek yang membutuhkan cahaya agar hasilnya maksimal. Penting diperhatikan adalah tujuannya. Apakah kita memotret untuk medsos? Menu? Iklan? Atau blog? Karena tujuan menentukan cara eksekusinya. Apakah harus secara professional dengan menggunakan DSLR dan lightingnya, ataukah cukup kamera ponsel dengan alat bantu tertentu. Jawaban untuk kita pastinya ngeblog ya, jadi kamera ponselpun jadilah. ^_^ Oke, tujuan sudah, teori memotret makanan sudah, yang terakhir adalah tipsnya. Ini dia, tips memotret makanan agar tampak menggiurkan: Proporsi utama dalam menentukan komposisi: Dalam memotret makanan , komposisi dan estetika sangat diperlukan. Caranya bisa bermacam-macam, bisa menggunakan konsep pengulangan ( repetisi ), memperhitungkan angle agar makanan tampak sedap mengundang. Saat mulai memotret jangan memasukkan keseluruhan property disekitar meja tersebut. Jadi jangan kaya warung yang segala ada, sehingga bikin bingung dan ngga fokus. Makanan yang difoto harus mendominasi keseluruhan komposisi. Jika ada banyak makanan harus ditentukan makanan mana yang menjadi objek. Masukkan sedikit saja elemen atau property pendukung seperti serbet, piring, mangkok, sendok , garpu ataupun pisau. Untuk makanan yang terdiri dari dua buah piring/mangkok, utamakan yang utama dari menu tersebut. Misalnya mau memotret mi ayam, utamakan mi-nya, sedangkan mangkok kuah silakan mengantri di belakang. ^_^ Untuk minuman, perhatikan pinggir gelas jangan sampai over dan terputus. Dan yang paling penting dari yang terpenting adalah: “Memotret adalah Seni. Seni adalah Rasa. Rasa dari tiap orang yang berbeda.” Jadiiiii …….., sepanjang apapun teorinya, kembali pada “man behind gun” , kalo sehari-hari yang disantapnya mi instan ya ngga akan nyenilah hasil fotonya ^_^ Usai dapat ilmu, kitapun berkuliner ria. Asyikkkkk……, banyak makanan disini. Taman Kuliner gitu lho. Beragam makanan Eropa (pasta dan temen-temennya), makanan Jepang (teriyaki dan saudara saudaranya) , beragam masakan Cina yang sudah mengindonesia seperti mi ayam, mi bakso, siomai serta makanan tradisional tentunya nasi bakar jambal, bebek gawat dan aduh banyakk banget belum lagi minumannya, bisa bikin perut meledak kalo mau coba semua. Setiap merchant menempati ruang bekas kontainer. Sungguh menarik. Warna-warninya pasti seru jika dijepret dari atas: merah, kuning, biru, putih, hijau, ditambah aksesori meja kursinya yang unik karena menggunakan tong bekas berwarna-warni. Ummm…., mereka yang suka hangout mesti nyoba kesini deh, karena makin sore makin rame. Usai ishoma (istirahat, sholat, makan), peserta mendapat tantangan memotret makanan dan memposting di grup Kampret. Siapa yang beruntung akan dapat hadiah. Ada ketentuan untuk kontes foto ini yaitu editing hanya sebatas cropping, selebihnya terlarang. Daannnn …… inilah hasil foto saya:

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/mariahardayanto/mpc-ini-dia-rahasia-memotret-makanan_561a8e6c357b61640c8b4568

Comments