
sumber: Pexels/ Squared One

Hidup Minimalis antara Hisab dan Peduli Lingkungan
Sejatinya manusia cuma butuh 3 baju, satu dipakai, satu kotor dan satu lagi sedang dijemur (Fahruddin Faiz, filsuf Muslim)
“Mbak, perasaan mbak sekarang cuek deh,” kata Yulie, adik ipar saya. Belum sempat menjawab komentarnya, kakak perempuan saya menimpali: “Iya, sekarang kamu cuek.”
Saya terdiam. Saya paham mereka sedang mengomentari penampilan saya. Dan saya mengamini bahwa sekarang saya berubah. Dulu saya selalu cerewet soal penampilan. Kerudung, tas dan sepatu harus senada dengan busana. Demikian juga aksesoris seperti jam tangan, gelang dan kalung.
Sekarang? Saya lebih nyaman memakai baju serba hitam. Jadinya aman dipadukan dengan warna aksesori, termasuk sepatu, tas dan kerudung.
Sebetulnya saya gak ujug-ujug berubah. Khususnya karena sejak masih ABG, ketika teman-teman sekolah masih cuek pada penampilan, saya udah melek trend fashion.
Genit ya? Hehehe … Mungkin saya membutuhkan untuk menambah percaya diri. Sejak duduk di bangku SMP, tubuh saya agak gemuk. Jadi saya belajar memanipulasi penampilan agar nampak lebih langsing.
Baca juga:
Mengukir Legacy Melalui Komunitas Pengelola Sampah
Perbedaan Pola Pikir Gen Z dan Gen Kolonial Terkait Perubahan Iklim
Daftar Isi
- Karena Manusia Hanya Butuh 3 Baju!
- Setiap Barang yang Dimiliki akan Dihisap
- Sampah Terurai vs Terdegradasi
- Manfaat Hidup Minimalis
Makin menjadi sewaktu sudah kerja dan dapat penghasilan. Saya sangat ribet dalam memadupadankan blus, rok dan aksesoris. Jika salah kostum atau lupa pakai aksesoris tertentu, wah bisa pulang lagi ke rumah. ðŸ˜ðŸ˜
Berlanjut setelah berumah tangga. Ketika sesama ibu rumah tangga berlarian menjemput anak dengan t-shirt seadanya, saya tetap memperhatikan mix and match dalam berbusana.
Sampai akhirnya proses perjalanan hidup mengubah saya, yaitu menjadi muslim, dan mendapat penjelasan bahwa setiap barang yang kita miliki akan dihisab.
Sekitar 15 tahun silam, saya juga bergabung dengan YPBB Bandung, suatu organisasi nirlaba yang mengampanyekan perilaku selaras alam, atau kerap lebih disederhanakan menjadi peduli lingkungan hidup.
Setiap Barang yang Dimiliki akan Dihisap
Hidup sederhana diajarkan oleh semua agama. Namun Islam mengajarkan lebih spesifik yaitu zuhud. Menurut Al-Qur'an, zuhud bukan berarti hidup miskin, melainkan sikap mental mengutamakan akhirat, hidup secukupnya, dan tidak membiarkan dunia menguasai hati.
(CMIIW ya? Saya hanya menulis sesuai pengertian saya aja).
Zuhud merupakan kombinasi keyakinan (batin) bahwa dunia hanya fana dan akhirat kekal. Kemudian diwujudkan dalam perilaku, dengan melepaskan kecondongan hati pada kecintaan duniawi. Harta dipandang sebagai amanah (alat untuk ibadah) bukan tujuan utama.
Salah satu cara mengamalkan zuhud dengan selalu mengingat bahwa setiap barang yang dimiliki akan dihisab (dipertanggungjawabkan) di akhirat karena harta dan benda hanyalah amanah dari Allah, bukan sekadar kepemilikan pribadi.
Ternyata, hisab harta juga merupakan salah satu bagian dari empat pertanyaan utama di Padang Mahsyar.
Mengapa dihisap? Berikut alasannya:
Harta dan Benda adalah Amanah
Kepemilikan harta benda di dunia bersifat titipan yang harus dipertanggungjawabkan penggunaannya. Ketika membeli suatu barang, misalnya pakaian, pastinya kita punya tujuan tertentu.
Nah bagaimana jika ternyata pakaian yang dibeli hanya berakhir dengan teronggok di pojok lemari?
Pemeriksaan Asal dan Kegunaan
Apakah harta yang digunakan untuk membeli pakaian (contoh di atas) berasal dari pekerjaan yang halal? Atau warisan yang sah?
Kemudian harta yang didapat, apakah diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan nafkah diri dan keluarga, zakat, infaq, sedekah, serta hal-hal yang bermanfaat lainnya?
Jika untuk membeli sepotong pakaian, apakah berakhir mubazir (boros) karena jarang dipakai atau hanya sekadar menggantung di lemari?
Pertanggungjawaban Nikmat
Barang-barang yang dimiliki, seperti contoh pakaian di atas, pastinya akan bermanfaat jika digunakan ke tempat pengajian, atau diberikan pada yang membutuhkan.
Banyak lho saudara kita kaum perempuan yang minder gak bisa ke pengajian karena gak punya baju gamis.
Contoh lainnya, andai kita membeli smartphone, akan bernilai positif apabila digunakan untuk bekerja, namun menjadi dosa apabila dipakai main game judi online.
Pencegah Sikap Berlebihan
Kesadaran akan hisab mendorong manusia untuk tidak hidup berlebihan dan memastikan setiap barang memiliki nilai manfaat positif.
Fokus pada Kehalalan
Kesadaran bahwa harta yang dihisab adalah harta halal, sementara harta haram akan mendapatkan siksa langsung, akan membuat kita selalu berpikir ulang sebelum memutuskan membeli suatu barang.
Secara bertahap, sebagian besar baju berwarna (peach, hijau, kuning, biru, merah dan lainnya) sudah saya hibahkan. Masih banyak sih, khususnya baju-baju untuk umroh yang entah kapan akan terlaksana.
Demikian juga pernak penik tas, sepatu dan barang layak pakai lainnya. Saya bersiap seolah esok saya dipanggil Sang Pencipta.
![]() |
| sumber: Pexels/Polina Tankilevitch |
Percaya gak, ada seorang direktur yang cuek aja memakai baju bolong-bolong? Yups, direktur tersebut bernama David Sutasurya, Direktur Utama YPBB Bandung.
David punya kebiasaan memakai suatu barang hingga barang tersebut benar-benar rusak. Gak bisa digunakan lagi. Demikian juga dengan baju, dia gak peduli ada bolong-bolong kecil pertanda bajunya udah terlalu tua.
Pastinya ada penyebab David berperilaku demikian. Sebagai individu yang telah kaffah dengan zero waste lifestyle (ZWL) dan menganjurkan hidup selaras dengan alam, David pernah menjelaskan bahwa:
Hanya bahan alami yang dapat terurai (biodegradable) di alam. Caranya melalui melalui proses biologis, yaitu dilakukan mikroorganisme tanah dan menghasilkan air, CO2, serta biomassa.
Sedangkan bahan sintetis akan terdegradasi (degradable) karena mikroorganisme tanah gak bisa mengurainya. Serat sintetis terdegrasi melalui proses fisika (panas, cahaya, oksigen), menjadi mikroplastik.
Beberapa contoh bahan alami dan waktu urainya:
- Kapas (Cotton): 1-5 bulan. Kaos katun 100% bisa terurai dalam hitungan bulan, bahkan sarung tangan katun bisa terurai dalam 3 bulan.
- Linen: 2 minggu - 2 tahun.
- Wol (Wool): 1-5 tahun.
- Sutra (Silk): 1-4 tahun.
- Kulit (Leather): 25-50 tahun.
Beberapa contoh bahan sintetis dan waktu degradasi-nya:
- Poliester (Polyester): 20-200 tahun. Poliester terbuat dari polimer plastic (umumnya terbuat dari sisa pemrosesan minyak bumi, petroleum, atau gas alam) setelah menjadi sampah hanya akan terdegradasi menjadi partikel lebih kecil (mikroplastik).
- Nilon (Nylon): 30-40 tahun, bahkan bisa mencapai 200+ tahun.
- Spandex/Lycra: 20-200 tahun.
![]() |
| saya sebagai trainer zero waste lifestyle |
Cara pandang yang berubah, mungkin itu yang jadi penyebab saya tetap pede, walau memakai baju yang itu itu aja. Emang belum mencapai keimanan setinggi yang diucapkan Pak Faiz (panggilan Fahruddin Faiz), tapi minimal berubah dulu.
Dan ternyata banyak manfaat yang saya peroleh ketika mulai hidup minimalis.
Kebebasan Finansial
Karena gak lagi “kemrungsung” pingin beli ini dan itu, saya bisa mengalokasikan dana untuk kebutuhan penting yang dulu saya abaikan.
Mengurangi Stres dan Mental
Dulu tuh bisa kepikiran sampai gak bisa tidur jika gak bisa beli barang yang diinginkan. Sekarang sih cuek aja. Rumah yang rapi dan hanya diisi barang yang dibutuhkan menciptakan ketenangan pikiran, mengurangi cemas, dan meningkatkan kesehatan mental.
Hemat Waktu dan Energi
Punya sedikit barang ternyata membuat saya punya banyak waktu luang, sehingga bisa menggunakan waktu untuk aktivitas yang lebih produktif.
Rumah Lebih Rapi dan Nyaman
Rasanya rumah tambah nyaman deh, karena lebih fungsional, teratur, dan mudah dibersihkan.
Manfaat secara fisik dan psikologis ini ternyata juga berdampak pada lingkungan.
Walau tidak langsung terasa tapi pemahaman bahwa hidup minimalis bisa mengurangi limbah, jejak karbon dan mendukung kehidupan yang keberlanjutan. Hidup yang dijalani menjadi lebih berkualitas, lebih bermakna dan memberikan ketenangan.
Tidak mudahnya berjuang untuk perubahan kerap membuat saya berpikir bahwa hidup minimalis harusnya diajarkan sejak usia dini. Andai tak bisa mengubah kurikulum sekolah formal, mungkin bisa dilakukan seperti dalam Blog Tulisandin diajarkan melalui homeschooling.
Sehingga setiap anak Indonesia bisa lebih menghargai barang yang dimiliki. Gak asal membeli tanpa mengetahui bahwa kepemilikan barang akan dihisab (untuk muslim) dan berpotensi nyampah yang membuat lingkungan hidup semakin tercemar oleh polutan.
Baca juga:
Decluttering vs Zero Waste Lifestyle, Kamu Pilih Mana?
Menyulap Rumah Tanpa Lahan Jadi Green Home


.png)

.png)


Hidup minimalis ibu saya sangat berarti buat saya sekarang setelah beliau tiada. Beres2 rumah sebelum puasa, yang jadi tanggung jawab saya sebagai anak perempuan jadi lebih cepat dan satset karena memang ibu saya tidak menyimpan banyak barang. Barang saya waktu gadis saja, ketika saya pindah ikut suami banyak yg diberikannya kepada sepupu dan keponakan. Katanya biar gak dosa nyimpan tapi gak dipakai... Bener juga ya
ReplyDeleteSebuah artikel yang membacanya berasa dijewer telinga saya. Terima kasih, Ambu sudah mengingatkan. Saya sedang dalam fase makin sadar untuk hidup lebih minimalis. Setiap timbul keinginan nambah barang sudah mulai mikir, takut akan hisabnya. Juga, ingat pada bencana yang berturut-turut ada akibat ketidakpedulian manusia pada lingkungan. Sebuah konsep yang mesti terus digaungkan dan dijalankan, sejalan dengan prinsip Islam (hisab) untuk menghindari pemborosan dan menjaga lingkungan melalui pengurangan limbah, jejak karbon, serta konsumsi berkelanjutan
ReplyDeleteKalau banyak yang ingat soal hisab, insyaAllah hal-hal yang boros belanja baju sana-sini bisa berkurang.
ReplyDeleteTerlebih minimalis kan bukan berarti nggak punya, tapi paham bagaimana harus bijak bertindak
Menghubungkan hidup minimalis dengan konsep 'hisab' membuat saya tersadar bahwa setiap barang yang kita miliki memang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya. Minimalis jadi bukan sekadar tren estetika, tapi bentuk tanggung jawab kita sebagai hamba. Selain itu memang lebih minim stress juga kalau gak banyak barang di rumah.
ReplyDeleteHisab dalam perspektif spiritual dan zero waste dalam perspektif lingkungan, ah... suka banget gaya opening tulisan ala ambu ini. Perubahan gaya berpakaian yang ambu alami ini jadi pintu masuk yang bagus.
ReplyDeleteMemang benar, pilihan bahan pakaian itu juga berdampak panjang. Inilah kenapa minimalisme bisa dikatakan juga hasil perenungan iman dan kepedulian ekologis. Bukan tren estetika doang. Thx u reminder-nya ambu.
WAktu degradasinya poliester itu, Kak. 20-200 tahun. Sedangkan, sekarang ini banyak banget fashion yang menggunakan bahan ini.
ReplyDeleteAndai, semua orang mau menerapkan hidup minimalis. Tentu, sampah akan lebih mudah diurusnya.
Mengurangi barang2 yang jarang dipakai di rumah emang sengaruh itu sama kesehatan mental kok. Saya udah sering mmebuktikannya. Selain rumah lebih bersih dan rapi, lemari lebih lega pun jiwa raga ikut merasakannya.
ReplyDeleteSaya kalau beli 1 baju wajib jual / sumbangkan satu baju. Lebih sering jual / preloved sih jadi lemari ngga numpuk
Saya juga sedang mengurangi isi lemari kak, ada perasaan sumpek gitu apalagi gak dipakai lagi karena iya makin bertambah umur pengennya yang praktis dan tanpa motif, lebih nyaman aja gitu. Btw, kaget lho polyester bisa tidak teurai sampai 200 tahun, padahal banyak banget fashion wanita sekarang bahannya itu.
ReplyDeleteSetiap baca soal zuhud, hati ini selalu bergetar. Teringat sudah setua ini masih belum pintar mengontrol keinginan punya barang, yang seringnya bukan yang butuh-butuh amat. Lebih sering mengikuti keinginan tak fokus pada fungsi dan manfaatnya. Semoga ingatan akan pertanggung jawaban akhiratnya akan terus muncul di diri sendiri supaya tak mengikuti nafsu belaka. Artikel yang pas di kala ramadan ini Mbak. Makasih banyak sudah mengajak saya merenung kembali.
ReplyDeleteSejak pindah kota lalu pindah lagi ke daerah sebelumnya, saya decluttering banyak banget Ambu. Mungkin karena sebelumnya baca buku Konmari juga jadi pas banget momennya.
ReplyDeleteBeneran lho hidup jadi berasa ringan dengan gaya minimalis. Minimal tak pusing memikirkan penyimpanan barang soalnya saya dulu cenderung hoader alias segala yang ga guna atau entah kapan masih akan digunakan masih disimpan dengan alasan sayang aja.
Masya Allah... baruuu banget baca kontennya Mas Greget Kalla Buana di Instagram, yang membahas tentang minimalis, slow living, dan tren-tren baik belakangan ini, bahwa yang demikian sesungguhnya sudah lama diajarkan dalam Islam, dan merupakan Sunnah...
ReplyDeleteBeberapa tahun belakangan ini saya juga menerapkan hidup minimalis kak, yang menurut sebagian orang terkesan irit bin pelit padahal ya nggak juga. Kayak baju, piring, toples dll di rumah sebenarnya nggak perlu beli baru tiap lebaran juga kan ya
ReplyDeleteAmbu, kita samaan.. baju atasan saya juga banyak hitam biar jilbabnya aja ganti ganti. Hidup minimali berat di awal saya rasakan, lama kelamaan saya terbiasa untuk mulai memilah barang agar tidak terlalu banyak juga (maria tanjung sari)
ReplyDeleteSebelum menulis komentar, berhenti dulu untuk berpikir. Ternyata saya juga masih sering membeli barang karena keinginan. Memang ada keinginan yang muncul karena kebutuhan, tapi ada juga yang murni karena ingin saja. Haris lebih bijak membuat keputusan nih, takut sama itung-itingannya kelak
ReplyDeleteSesuai aturan agama islam memang begitu mbak, kalo misal kita punya barang2 juga konon akan diminta pertanggungjawaban (dihisab), sehingga hidup minimalist memang sangat dibutuhkan. Saya juga pusing mbak kalo di lemari banyak tumpukan baju dan celana, padahal kalo memang barang lebih sedikit makin gak stress sih, hidup lebih tenang, gak kebawa fomo juga hehe....makasih artikelnya mbak, keren.
ReplyDeleteJadi diingatkan betapa zuhud mengajarkan umat untuk melepaskan keterikatan hati dari gemerlap duniawi. Juga menanamkan kesederhanaan, Qanaah , ketenangan hati, berbagi dengan sesama, serta fokus mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat yang kekal.
ReplyDeleteMba Maria, saya baca ini makin mengingatkan saya untuk tidak memiliki banyak barang, karena hisabnya itu termasuk soal pakaian, kebetulan semenjak saya aktif di bidang lingkungan saya selalu menimbang-nimbang saat akan membeli pakaian, penting ga ya, kualitasnya tahan lama ga ya biar awet dan ga perlu beli baju sering lagi, terima kasih banyak baca artikel ini semakin mengingatkan saya makin lebih aware lagi soal hisab dan peduli lingkungan
ReplyDeleteWah kalau tahu berapa lama bahan pakaian terurai gini jadi bikin makin mikir kalau beli baju. memang bahan katun is the best ya.
ReplyDeleteAlhamdulillah muslim diberi ilmu dan keharusan untuk zuhud jadi tidak berlebih-lebihan insya Allah