Mabelle, Mama Kangen Nak ... Lebaran Ini Ingin Bertemu


Pernahkah berpisah dengan anak kandung? Berpisah  tanpa bisa berhubungan sama sekali.

Saya sekarang mengalaminya.

Kok bisa?

Pernah mendengar  kisah tentang Nabi Sulaiman AS  yang hendak membelah tubuh seorang bayi?  Berawal dari 2 orang ibu yang eyel-eyelan mengaku bahwa sang bayi adalah anaknya, Nabi Sulaiman AS yang selalu berperilaku adil,  menghunus pedang agar sang bayi  bisa dibagi dua sama rata.

Saat pisau hendak diayunkan ke bayi tersebut, sang ibu yang lebih muda kemudian menangis sambil memohon kepada Nabi Sulaiman AS. “Tolong jangan lakukan itu tuanku, Semoga Allah merahmatimu. Itu adalah anaknya (sambil menunjuk ibu yang lebih tua), itu adalah anaknya. Biarkan anak itu menjadi miliknya. Biarkan ibu itu yang mengurus anak ini”, ucap sang ibu muda sambil menangis.

 (hadis al-Bukhari dan Muslim)

      

Perempuan yang lebih muda itu saya. Sedangkan perempuan tua tersebut kakak ipar. Dia dipanggil Tante A oleh anak-anak saya ( nggak mau dipanggil bude). Dia belum menikah, dan memilih merebut anak saya daripada mengadopsi anak. 

Sungguh nggak menyangka, kisah pedih  tersebut terjadi pada saya.       


Anak Yang Kelahirannya Dirindu

Namanya Mabelle, dan saya punya panggilan kesayangan: “ Abey”. Karena begitulah dia menyebut dirinya saat belajar berbicara.

Abey juga punya kebiasaan menambah kata “i” pada potongan kata. Seperti ; “Isamat inaun” ... bisa menebak artinya?

Yep, maksudnya adalah “Selamat Ulang Tahun”.  Saya baru paham sesudah Abey menyanyikannya.

Kelahiran Abey sangat saya nantikan. Karena saya punya 4 orang adik laki-laki. Sesudah menikah, Allah SWT menitipkan 3 bayi merah berkelamin laki-laki juga. Saya rindu anak perempuan, diberi 6 orang anak perempuan pun, saya mau.

Alhamdullilah, saat memeriksa kandungan, dokter Sofie Rifayani memberi kabar bahagia: “Selamat,  janin ibu perempuan, dan sangat sehat”.

Subhanallah, maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?


Anak Yang Selalu Menjadi Rebutan

Cantik, berambut keriting dan mudah tersenyum, itulah Abey.

Bidadari kecil yang setiap waktu saya pandangi dari balik boks.

Bidadari kecil kebanggaan, kesayangan.

Bidadari kecil yang tak pernah rewel. Tahu mamanya sibuk mengurus keluarga dan rumah (saya hanya punya pembantu yang menyetrika baju),  dia akan tidur pukul 20.00 dan bangun menjelang kakak-kakaknya berangkat sekolah.  Tak pernah bangun di tengah malam seperti kakak-kakaknya.

Tak heran kakak ipar selalu antusias “menolong” walau sekedar memegang. Karena dia sangat jijikan, jijik melihat bayi ngompol dan BAB, sehingga  jika Abey BAK dan BAB pasti diberikan pada saya.

 Nggak papa dong ya? Abey kan anak saya.

Hingga terjadi peristiwa yang menyadarkan saya.

Dalam suatu perjalanan keluarga ke Solo, Abey yang masih kelas 3 SD,  saya ajak untuk mengikuti kegiatan keluarga ( kakak-kakak dan ayahnya) yang hendak salat Jumat diteruskan ke keraton Solo.

Tiba-tiba tangan kiri Abey ditarik dari dalam mobil oleh kakak ipar saya, “Abey ikut sini ajak, kita belanja”.

Mirip kisah ibu rebutan bayi di atas. Tangan kanan Abey saya pegang sedang tangan kirinya ditarik kakak ipar. Untuk sesaat, terjadi tarik menarik.

Terhenti saat Abey menangis, dan bilang : “Abey bingung”.

Astaghfirullah al adzim, anakku bingung. Anakku  tidak bisa memilih antara ibu kandungnya dengan budenya.

Ada yang salah!


Anak yang Selalu Diintimidasi                  

“Bey, 2 tulisan mama terpilih untuk buku ‘Jokowi (bukan) untuk presiden’ lho. Terbit di Gramedia, asyik kan? honornya untuk traktir Abey”

“Iya ma. Selamat mama!! hebat :D”       

Saking senangnya mendapat pujian dari anak perempuan semata wayang, saya menuliskannya di Kompasiana: “Kisah Lain Buku Jokowi.”

Sayang ada yang tidak ikut gembira dan bangga: ayahnya Abey!

Dia mengintimidasi Abey, menanyakan apakah betul Abey sudah memuji mamahnya.

Dengan ketakutan Abey menjawab: “Nggak. Abey nggak pernah bilang gitu”

Beruntung pujian tersebut diucapkan lewat SMS, sehingga saya punya bukti! Saya  screen shot dan melampirkan pada tulisan tersebut.

Jika ayah kandungnya mengintimidasi Abey, apa yang dilakukan Tante A? Tentunya lebih sadis!   Sewaktu ada  tayangan di televisi  tentang harus menghormati seorang ibu, maka channel segera dia ubah sambil berkata:

“Iya, tapi ibu yang bagaimana dulu!”

Ibu yang bagaimana?

Islam mengajarkan harus menghormati seorang ibu. Bahkan andai ibunya seorang perampok, penjudi, pelacur, pemadat, pembunuh, serta dosa besar lainya.

Sedangkan saya jelas jauh dari aktivitas tersebut.

Hidup dalam intimidasi sudah menjadi keseharian anak-anak saya. Bedanya anak laki-laki bisa melengos pergi. Tidak demikian dengan Abey. Dia terpaksa menunduk, mendengarkan Tante A mencerca mamanya.

Salah satu cercaan yang paling dia sukai adalah menghina saya yang “hanya lulusan Uninus”.  Ucapannya selalu sama, hingga mirip template.

“Harus makan banyak protein supaya jangan bodoh hanya lulus Uninus”

Kali lainnya, saat Abey berprestasi, maka kalimatnya adalah:

“Nah itu tandanya punya darah tante, nggak bodoh, hanya lulus Uninus”

Pernah suatu kali, saya tak tahan untuk tidak menjawab, maka saya melawan:

“Nak, mamah juga pernah lolos tes ITB, tapi nggak diambil karena nggak ada biaya. Eyang putri kan udah janda. Mamah harus kerja supaya bisa kuliah. Karena itu kuliah sore di Uninus”

Bisa menebak apa yang kemudian terjadi?

Tante tertawa terbahak-bahak , merasa menang, dan semakin menekan anak-anak saya.


Bak Buah Simalakama        

Lolosnya Abey  tanpa test di Teknik Fisika ITB bak buah simalakama. Sebelumnya saat masih sekolah di SMA Taruna Bakti, saya tahu pasti jadwal istirahat pertama dan kedua dan saat bubar . Sehingga bisa bertemu.

Kami terpisah gara-gara Tante A sakit kanker, sehingga Abey harus menemaninya di RS Boromeus, dan diteruskan tinggal  di rumah Tante A di kawasan Setiabudi.

Tentu saja saya keberatan. Bagaimana mungkin anak perempuan saya dijadikan baby sitter gratisan dan bakal semakin diintimidasi. Saya ingat banget sewaktu Abey kecil tanpa sengaja memencet handphone Tante A tanpa sengaja ter-unlock.

Tante A marah besar!

Dia berteriak-teriak memarahi Abey, seperti rumah sedang kebakaran. Dan Abey hanya menunduk ketakutan.

Padahal dia bukan siapa-siapa, hanya seorang bude.

Sekarang, saat kami berbeda tempat tinggal, dan Abey kuliah, saya kehilangan kontak dengannya. Berulang kali saya mengirim message untuk bertemu, tak pernah dia jawab.

Padahal sebagai salah seorang dewan pengawas Common Room, setiap bulan saya harus menghadiri acara bareng Moedomo Learning Initiative di  perpustakaan umum ITB.

Hingga akhirnya Allah memberi pertemuan terakhir.

Fotonya semasa kecil, menemani saya blogging

Pertemuan Terakhir     

Peristiwa tersebut seperti baru kemarin terjadi. Padahal sudah lama, tepatnya tahun 2014.

Saat itu saya menapaki jalan Cibeunying yang menanjak. Saya pulang dari kantor kecamatan untuk mengurus surat-surat Iyok , saat saya melihat sosok Abey, di depan pintu gerbang rumah yang terbuka.  Anak perempuanku, kekasihku.

Saya menghampiri bidadariku, yang tingginya sudah menjulang tinggi. Dia sedang berdiri di samping city carnya yang rupanya sedang diperiksa ayahnya.

“Abey, sini cium, mama kangen”, dan sayapun mencium kedua pipinya.

Rupanya ada yang tak suka. Tante A!

“Yuk pulang.”

Abeyku bergegas masuk mengganti posisi kemudi yang sebelumnya dipegang ayahnya. Ternyata belum cukup puas, tante A berteriak dari dalam mobil yang melaju.

“Ih Abey bau ih. Abey bau!”

Astaghfirullah al adzim, anakku dibilang bau  karena saya cium?

Karuan saya berbalik dan berteriak:

“Bey, yang mencium kamu tuh ibu kandung kamu. Yang nyusuin. Yang nyuapin. Yang memcuci mens pertama kamu”

Apa yang terjadi?

Kakak ipar satunya lagi menegur (saya punya 2 kakak ipar, dan keduanya belum menikah): “Lha kamu yang salah.”

“Salah? Saya diem karena nggak mau anak semakin diteken.”

Eyang putri dan cucu kesayangan

 Titip Rindu Untuk  Abey            

Walau saya tahu letak rumah kakak ipar di Setiabudi, saya tidak bisa datang kesana, karena pasti diusir. Suatu peristiwa menguatkannya.

Paska sakit, tante A mampir ke rumah saya di Cigadung. Bukannya masuk ruang tengah, dia malah ke kamar anak sulung saya. Sayapun kesana untuk bersilaturahmi.

Saya mengulurkan kedua telapak tangan yang tertangkup : “Apa kabar, mbak?”

Jawabannya sungguh diluar dugaan. Dia membuang muka sambil bilang:

“Nggal kenal!”

Tante A  menjawab sambil melakukan gerakan seperti anak kecil yang mutung. Padahal dia seorang doktor lho. Lulusan salah satu universitas terbaik di Perancis.

Uff ....

Anak-anak lelaki saya memberi penjelasan, tentang dilema yang dihadapi Abey. Daripada dia harus sembunyi-sembunyi mengirim message atau  bertemu dengan saya, kemudian berakhir tambah ricuh, Abey mengorbankan memutus hubungan dengan mamanya.

“Mama kan tahu, dik Abey orangnya lurus, nggak bisa berbohong.”

*****

 
Teman, jika kau kenal Abey, tolong sampaikan bahwa mamanya sangat kangen.

Sangat ingin bertemu Lebaran tahun ini ...

Jika tidak,  tolong doakan agar saya bisa bertemu dengannya.      

Rasa kangen ini begitu menyakitkan.

Bak  pisau cutter mengiris-ngiris daging di dalam sana.

Nyeri.

Ngilu.                    

Tak cukup tangisan.

Hanya bisa berdoa.

Dan saya percaya keajaiban doa.


Baca juga: Tiada Sehelai Daun Jatuh Tanpa Seizin Allah

 


60 comments

  1. Saya jadi terharu
    Tetap sabar, jika sudah dewasa pasti akan mengenalnya. Dan suatu saat akan bisa bersama.

    ReplyDelete
  2. Ya Allah mbak, ikut sakit rasanya hatiku baca ini. Abey, semoga bisa berkumpul lagi dengan mama ya nak

    ReplyDelete
  3. Semoga diberikan jalan terbaik. Insya Allah Abey selalu ingat sama mamanya

    ReplyDelete
  4. Ya Allah, aku sedih. Kebayang rasanya :((
    Semoga Allah kuatkan ya, Mbak. Semoga Allah juga melindungi Abey di sana dan kakak ipar diberi kelunakkan hati. Aamiin

    ReplyDelete
  5. Peluk , Teh Maria..

    Ya Allah.. terharu saya bacanya.. semoga suatu saat dipertemukan lagi dengan Mabelle.. 💕

    ReplyDelete
  6. Ambu, aku nangis baca ini. Sepilu apa hati seorang ibu berpisah dari anaknya. Semoga ambu ridho dengan kondisi ini, ridho dengan semua keputusan yang diambil Abey termasuk memutus hubungan dengan mamanya. InsyaAllah suatu saat ambu dan Abey bisa sama-sama lagi.

    ReplyDelete
  7. Semoga Alloh berikan segala yg terbaik, dan segera ijabah untuk bisa bersama lg dg putri Ibu. Aamiiin

    ReplyDelete
  8. Salam kenal mbak Maria.

    Pertama kali mampir kesini sudah disuguhi kisah menyayat hati. Tetap kuat dan jangan putus berdo'a ya mbak, in sha Allah kelak berkumpul kembali dengan ananda. Hubungan ibu fan anak tak bisa terputus oleh apapun itu. Yakin saja, Abey pasti merasakan betapa ibunya menyayanginya.

    Btw aku sebenarnya sedikit bertanya, kenapa ayahnya Abey yang juga suaminya mbak kok seperti tidak berpuhak ke mbak. Dan apakah sedari awal keluarga suami memang kurang suka ke mbak ya?! Duuuh maafkan kekepoanku mbak. Semoga dikuatkan selalu ya!

    ReplyDelete
  9. Ya aallah mba. Nyesek saya dengernya. Ada yang yang begini di dunia nyata. Semoga Allah memberikan yang terbaik ya mba. Nggak bsa bilang apa2 nggk kebayang jg klo kejdian sama saya.

    ReplyDelete
  10. Semoga bisa ketemu Abey lagi ya, Ambu. sabar ditahan2 dl rindunya. Insya Allah akan bertemu di saat yang tepat.

    ReplyDelete
  11. Masya Allah.. begitu berat cobaanmu Mbak.. semoga tetap kuat.. insya Allah indah pada waktunya.. ketika mereka semua yang jahat sama Mbak telah tiada..

    ReplyDelete
  12. Terharu semoga dimudahkan tuk bertemu. Btw bude itu adik atau Kaka dari ayahnya Abel mba?

    ReplyDelete
  13. Masya Allah, Ambuuuu.....
    Semoga Allah mudahkan jalan Ambu buat ketemu Abey ya.

    ReplyDelete
  14. Ya Allah mbak, beneran kah ini?

    Smg Allah mudahkan ya mbak

    ReplyDelete
  15. Mbakkkkk peluk mbakkkkk ya Allah. Sedihnyaaaaaa

    ReplyDelete
  16. Ya Allah Mba, semoga bisa bersama.

    ReplyDelete
  17. Sedih Ambu, hiks terpisah sama anak kandung, kok Tantenya begitu? Ambil aja Ambu, kan Ambu ibunya, ya. Biar Abey tinggal sama Ambu.

    ReplyDelete
  18. Ambu..., kasih ibu yang sangat kuat akan membawanya kembali bila saat sudah tepat.

    ReplyDelete
  19. Aku sampe nangis bacanya, hiks. Semoga Ambu segera bs bertemu atau salamnya tersampaikan buat Abeiy. Sabar dan tetap kuat ya Ibu tangguh. Teruslah menulis surat kerinduanmu.

    ReplyDelete
  20. Semoga segera bertemu Abbey Ambu..
    Saya ikut sedih merasakan bagaimana sakitnya berpisah dg anak yg kita sayangi

    ReplyDelete
  21. Hug you.

    Anak yang berpisah dari ibunya selama puluhan tahun, pasti akan bertemu ibunya lagi. Sudah 2x itu terjadi di keluarga besarku.

    Tetap berdoa ya, Mbak. Doa ibu itu didengar sampai langit ketujuh. Ya ampun, aku nulis begini aja gemetar.

    ReplyDelete
  22. Ambu, ini kisah nyata? Ya allah semoga Allah segera kabulkan doa doa ambu yaa

    ReplyDelete
  23. Ya Alloh mba, saya bacanya sambil nangis2..ikut sakit banget rasanya terpisah Dari anak. Sabar yah mba.. suatu saat nanti pasti Andy kembali sama mba. Aamiin

    ReplyDelete
  24. MasyaAllah Ambu sungguh berat perjuangan Ambu...Semoga Allah selalu menguatkan Ambu dan segera dipertemukan dengan putri tercinta amin...

    ReplyDelete
  25. Ya Allah, sebagai ibu, saya pun teriris-iris membacanya, Ambu.

    Semoga Allah mengijabah doa-doa Ambu dan mempertemukan kembali dengan Abey.
    In syaa Allah akan ada saat yang indah, nanti Abey bisa bersama ibu kandungnya kembali.

    ReplyDelete
  26. Saya gak tau gimana harus berkomentar Mom.

    Tapi semoga dek Abey tidak melupakan ketulusan dan kasih sayang dari mama, ibu kandungnya....

    ReplyDelete
  27. Sabar ya mbak. Semoga ada jalan sehingga mbak dan Abey bisa berkumpul lagi

    ReplyDelete
  28. Semoga Allah berikan kesehatan dan umur panjang untuk mbak dan Abey, dapat berkumpul dengan tenang.
    Bagi orang-orang yang hatinya keras, semoga Allah lembutkan karena Allah Maha pengasih dan penyayang.

    ReplyDelete
  29. Ya Allah Ambu, aku nangis bacanya. Gak nyangka dengan apa yang terjadi pada Ambu selama ini. Kebayang seperti apa sedihnya, seperti apa kangennya. Semoga Allah senantiasa memberikan Ambu kekuatan, kesehatan, dan ketabahan. Semoga Ambu bisa segera ketemu dengan Abey. Peluk Ambu. :'((((

    ReplyDelete
  30. Nangis aku bacanya mbak
    Kok bisa tega gitu memutus hubungan anak dan ibu kandungnya
    Duuuuuuh

    Semoga lekas bisa bertemu ya

    ReplyDelete
  31. Ya Allah mbak... Sedih sekali. Semoga Abey berbalik bersamamu lagi ya mbak. Lagian bude budenya tega ya...

    ReplyDelete
  32. Semoga Allah senantiasa menolong mbak. Sabar ya mbak, sungguh Allah berserta orang yang sabar.

    ReplyDelete
  33. 😢😢😢 Ambu semoga, do'a Ambu di ijabah Allah Ta'ala, Aamiiin Allahuma Aamiiin

    ReplyDelete
  34. Ya Allah Ambu, semoga segera ada jalan terbaik untuk bertemu Abey

    ReplyDelete
  35. Menangis saya baca ini. Dear Abbey,darah tak akan bisa diputus. Selamanya kamu akan tetap terhubung, satu tali pusar dengan ibu. Meski tak bisa bertemu, doakan selalu ibumu, buka mata dan lihatlah: Hanya ibumu yang tulus mencintaimu sampai akhir hayat kelak.

    Stay strong ibu Maria. Tuhan buat segala sesuatu indah pada waktunya. Pasti bertemu di waktu bahagia. Amin

    ReplyDelete
  36. Salut sama kesabarannya Mbak. Semoga ananda segera dibuka pintu hatinya supaya mau menemui Bundanya. Aamiin.

    ReplyDelete
  37. Semoga Bunda Maria bisa bertemu kembali dengan Abey.Amiiin
    tetap semangat Bun ��

    ReplyDelete
  38. Yang kuat ya, Ambu
    Semoga ada jalan terbaik dan bisa bersama Abey lagi

    ReplyDelete
  39. Ambuuu....aku mewek. Semoga ambu selalu diberi kekuatan dan dan kesabaran untuk bertemu Abey. InsyaAllah akan indah pada waktuNYA ya ambu...

    ReplyDelete
  40. Ambuuu, membaca tulisan ini membuat hatiku ikut nyeri, ikut sakit, ikut geram.

    Ambuuuu, aku padamu

    ReplyDelete
  41. Ya Allah speechless.. ini bulan Ramadan dimana doa-doa lebih cepat melesat ke langit. Semoga Allah mudahkan semuanya. Aamiin big hug yaa mbak..

    ReplyDelete
  42. Ya ampun sedihnya. Semoga suatu saat mbak Maria & Abey bisa bersatu kembali 💕

    ReplyDelete
  43. Ngilu bacanya mbak, semoga bisa segera bersama, saya yakin azab akan datang pada orang-orang yang dzalim

    ReplyDelete
  44. Yang sabar ya ambu, semoga Allah senantiasa kuatkan dan sabarkan Ambu. Semoga juga segera bisa bertemu dengan putri cantik abey, huhu saya gak bisa bayangin gmna sedihnya ambu sudah lama gak bsa ketemu sama anak kandung sendiri. Semoga juga tante A segera mendapat hidayah sama Allah biar gak semena-mena sama ambu yg udah sangat sabar. . .stay strong ya ambu, sehat sehat selalu :)

    ReplyDelete
  45. jadi inget ceritanya Nabi Yusuf yang direbut paksa oleh kakak perempuan Nabi Ya'qub (budhe-nya Nabi Yusuf)

    saking pengen ngerebutnya, kakak perempuan Nabi Ya'qub bikin makar, menuduh Nabi Yusuf kecil mencuci sabuk Nabi Ishaq yang diwarisi oleh budhe-nya tersebut

    yang sabar yah mba, di akhir cerita Nabi Yusuf kembali ke Nabi Ya'qub setelah budhe-nya meninggal
    meskin Alloh uji lagi dengan Nabi Yusuf yang dijual oleh saudara2nya ke saudagar lalu menjadi budak di Mesir
    lalu Alloh kembalikan lagi Nabi Yusuf ke Nabi Ya'qub dengan kisah yang menakjubkan

    semoga Mabelle kembali di pangkuan mba seperti Nabi Yusuf kembali ke Nabi Ya'qub

    ReplyDelete
  46. Terharu membaca tulisan mbak. Sy berdoa semoga suatu hari kelak, mbak akan bahagia bersama Abey. Aamiin...

    ReplyDelete
  47. Sediiih, semoga mba kuat dan bisa berkumpul dg Abel suatu hr

    ReplyDelete
  48. Ya Allah, aku nulis komen ini sambil ngelap air mata loh ambu. Dipisahkan dengan anak, memanga sangat teramat menyakitkan sekali. Ambu yang kuat ya. Moga segera Allah pertemukan dengan Abey.

    ReplyDelete
  49. Ya, Allah, Mbak Maria. Perih sekali ini. Dirimu sudah sangat sabar sejauh ini. Semoga seluruh keluarga ayah Abey dibukakan pintu hatiny dan Abey bisa kembali ke pelukanmu, ya. Insyaallah.

    ReplyDelete
  50. Ambuuu...saya mewek deh baca ini... ibu mana yg hatinya gak kayak diiris2 cutter kl dipisah ama anak perempuan satu2nya setelah kakak2nya laki2 smua... Ya Allah persatukanlah Ambu Maria dengan Abey kesayangannya. Mudah sekali bagi-MU jika kun fayakun.

    ReplyDelete
  51. Ya Tuhan.

    Mbak maria tetap sabar ya. Keep strong! Entah apa rasanya..sakit bgt pasti. Semoga bisa bersama kembali

    ReplyDelete
  52. Salam kenal mbak Maria. Kunjungan pertama saya ni ke blog anda. Semoga selalu diberi kesabaran dan kekuatan oleh Allah SWT. Aamiin

    ReplyDelete
  53. Aku nangis Ambu..
    Gak kebayang rupanya Ambu menyimpan rindu yang begitu besar. Maaf Ambu, pertanyaan pribadi, boleh jawab boleh nggak, apakah ini terjadi karena Ambu mualaf? 😭

    ReplyDelete
  54. Saya selalu percaya mba, doa ibu dan Allah tidak ada sekat pembatasnya. Terus berdoa, maka tunggu Allah berikan keajaiban. Ambu sosok yg tegar, Allah beri ujian ini karena yakin Ambu bisa melaluinya. Selalu ada terang setelah gelap. Tetap semangat mba.

    ReplyDelete
  55. Semoga cepat bisa ketemu ya Ambu, Allah kabulkan doa Ambu dengan menggetarkan hati Abey utk ga takut sama para budenya dan berlari ke pangkuan Ambu walau hanya utk sekedar memeluk...utk melepas kangen keduanya...

    ReplyDelete
  56. Berat sekali rasanya mbak.. Tapi insya Allah mbak kuat. Karena ada Allah yang menguatkan setiap langkahmu. Ujian setiap hamba sudah ditakar sesuai kemampuan. Dan mbak termasuk orang terpilih yang insya Allah Dia sayang. Semoga bisa bertemu dan berkumpul dengan putrinya ya mbak.. Peluk dari jauh.. :)

    ReplyDelete
  57. Sedih bacanya mba..ga bayangin kalau aku yang ngalamin pasti udah stress abis. InsyaAlloh kesabaran berbuah manis mba, semoga secepatnya bisa bertemu aamiin 🤗

    ReplyDelete
  58. Mbaaak aku ikutan sedih huhuhu. Semoga doanya dijabah dan segera dipertemukan dengan anak tercinta ya mbak. Peluk dari jauh.

    ReplyDelete
  59. Semoga segera bersatu sama Abey ya mbak, sedih kali aku bacanya :()

    ReplyDelete