Bersyukur, Proses yang Tak Mudah


sumber: shutterstock.com

“Allah SWT sedang sayang pada saya. Semoga sakit saya ini menjadi syafaat atas semua dosa-dosa saya. Tolong doakan ya teman-teman”.

Permintaan seorang teman, penderita kanker stadium lanjut, sungguh terasa nyes di hati. Dalam kesakitan, dia merasa bersyukur mendapat kesempatan menerima ujian di dunia. Sehingga dalam kesakitannya ada kerabat dan teman-teman yang mendampingi. Nggak heran, dia selalu tersenyum. Setiap kami kunjungi, tubuh dan kamarnya selalu wangi.

“Aduh sakiiiitttt....                     
Saya punya dosa apa ya Allah kok dikasih sakit seperti ini?”

Nah ini penderita kanker stadium lanjut lainnya. Kebetulan di usia lanjut, teman kami ini masih belum menikah. Sehingga dia merasa tidak pernah berbuat dosa pada suami, mertua apalagi anak. Gara-gara sering ngomel, banyak yang enggan datang menjenguk.

Karena jangankan kerabat, adik kandungnya yang khusus mengambil cuti kantor untuk merawatnya, justru diomeli.

“Gelang emasku hilang. Kamu yang ngambil ya?”

“Kamu kok ambil cuti?  Nungguin aku mati ya? Nunggu warisanku ya?”
Masyaallah, adiknya menyengaja mengambil cuti dari kantor agar bisa merawat kakaknya, malah disemprot. Dicurigai.

Sakit, mati, kecelakaan serta banyak musibah lain, merupakan musibah yang sulit diterima dengan ikhlas. Bahkan jika ada kerabat yang meninggal karena dibunuh, dengan mudah mulut berucap:

“Nyawa dibalas nyawa. Si pembunuh harus mati juga”.

Padahal, bukankah semua kejadian di atas dunia, tidak mungkin terjadi tanpa izin dari Sang Khalik, Allah Azza Wa Jalla?

sumber: shutterstock.com

Allah mengatur urusan (makhluk-Nya) --- (ar-Ra’d: 2)

Saya beruntung menjadi mualaf, karena memiliki way of life berupa ayat-ayat suci Al Quran. Sehingga mempunyai pedoman ketika datang musibah. Bahwa:
....dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula) ... (al An-aam: 59).
Musibah diturunkan sepengetahuanNya. Agar manusia mawas diri. Agar manusia menyiapkan diri ketika menerima “kiamat kecil”.
Ada 2 jenis musibah/bencana:
  • Yang pertama diturunkan oleh Allah sebagai takdir yang tidak bisa diganggu gugat seperti sakit, kematian dan kecelakaan, seperti kasus di atas.
  • Musibah terjadi akibat ulah manusia. Pastinya sepengetahuan Allah SWT sebagai peringatan bagi kelalaian manusia. Misalnya banjir dan tanah longsor.

Cara menyikapinya seharusnya sama ya? Jika melihatnya sebagai bentuk rasa sayang Allah SWT pada makhlukNya, maka bersyukurlah.

Syukur ketika mendapat nikmatNya, itu mudah. Setiap orang mampu melakukannya. Tetapi bersyukur dan mawas diri ketika mendapat musibah? Pastinya sulit.

Perlu juga diingat, tidak semua mahlukNya mendapat ujian. Tidak semua manusia mendapat kesempatan menerima syafaat atas dosa-dosa. Atau bahkan mungkin pahala karena membuat orang lain akan tersenyum.

instagram.com/yunishara36

Kesempatan Tidak Selalu Datang

Bertolak pada pemikiran tersebut, pada saat banjir besar melanda Jabodetabek awal tahun 2020, saya melihat Yuni Shara, selebriti Indonesia yang ternyata rumahnya juga kebanjiran, mengunggah foto di atas, dengan caption:

Alhamdulillah,
Selamat Tinggal 2019,
Selamat Jalan 2020

Inspiratif bukan? Tatkala banyak akun medsos memaki-maki, Yuni Shara justru bersyukur. Karena itu saya merepost foto Yuni Shara dengan tambahan caption:

Belajar dari #yunishara,
Selalu bersyukur ..
Nikmati semua ujian
Ngomel pun ngga ada gunanya, malah bikin sakit kepala

Seperti diduga unggahan saya menuai pro dan kontra, mayoritas berisi tuduhan saya tidak berempati serta mengatakan:

“Kadang ngomel itu pelampiasan bu, pelepasan emosi, timbang ngendap di dada, nyesek doang”

Tentu saja, mengomel itu sifat manusia. Seperti kasus di paragraf awal, ada yang mengomel, dan ada yang bersyukur, melihat ujian sebagai tanda cinta Allah SWT padanya. Sebagai manusia beriman, silakan memilih.

Unggahan saya juga bukan berarti tidak memiliki empati. Beda jurusan. Empati bisa disalurkan langsung pada korban. Sebagai sesama muslim, saya hanya mengingatkan, bahwa Allah SWT menunjukkan rasa sayangNya dengan cara yang tidak bisa dikalkulasi oleh nalar manusia.
Juga jangan membuat praduga:

“Terlebih kita bukan yuni shara yg banyak duit bisa pindah ke hotel dan suruh orang lain bebersih rumah dengan cepat”

Karena menurut sumber rumah Yuni Shara sering terkena banjir. Boot Burberry yang digunakan malah dikhususkan untuk banjir. Pada saat banjir Januari 2020, Yuni dan ibunya dievakuasi seperti warga lain, kemudian pulang untuk ngepel rumah, ketika air banjir surut.

sumber: intelligentliving.co

 Bukan Berarti Pasrah dan Tidak Berusaha

Ketika menerima musibah, manusia tidak diharapkan untuk pasrah dan tidak berbuat apa-apa. Dalam kasus teman pengajian di paragraf awal, dia menjalani serangkaian pengobatan. Membuat rambutnya rontok dan gundul. Dia tetap tersenyum:

“Alhamdulillah, kalo nggak gini, mana kepikiran ngegundulin rambut?’

Mirip kalimat yang dilontarkan seorang kawan ketika rumahnya kebanjiran:

“Alhamdulillah, Kalo ngga kena banjir, belum tentu pojok-pojok rumah kena dibersihin”.

Banjir terjadi akibat ulah manusia. Sesuai sifatnya, air mengalir ke tempat yang lebih rendah, mencari jalan, meresap ke dalam tanah, atau berkumpul bersama teman-temannya di sungai atau laut.

Sedihnya, akibat kelalaian manusia, sungai dipenuhi sampah yang justru akan melimpah ke pemukiman penduduk, saat banjir tiba. Yang harus dilakukan paska banjir adalah:
  • Mulai memilah sampah. Banyak petugas sampah tidak amanah, alih-alih mrmbuang sampah ke TPS eh malah dibuang  ke sungai. Jika terjadi demikian, sampah organik dengan leluasa akan hancur. Sedangkan sampah anorganik akan diterima siapapun (pemulung, petugas sampah) untuk dijual.
  • Mulai menanam pohon. Bukan di pot, tapi di tanah pekarangan. Agar tanah sehat kembali dan mampu meresap air hujan bak spon. Bagaimana jika rumah sudah di semen/di beton semua? Sebel sih,  jika hujan tanah sering mengotori lantai teras depan. Apa boleh buat, silakan pertimbangkan untut dibongkar. Sebab rumah tanpa pohon sebetulnya menyalahi aturan pemerintah.
  • Sumur Resapan. Selain menanam pohon, setiap rumah sebetulnya harus membangun sumur resapan. Ketentuan ini memang berbeda bunyinya di tiap kota besar. Dan setiap kota memiliki regulasi berbeda dalam penyediaan lahan sekian persen dari luas tanah untuk penghijauan dan sumur resapan.
  • Lubang Resapan Biopori (LRB),  merupakan cara yang paling murah dibanding sumur resapan. Terlebih inovasi Dr. Kamir Raziudin Brata ini sangat luwes dan murah. Bisa dibangun di lantai yang kadung ditutup semen, diisi sampah organik yang berarti bisa mengurangi volume sampah kota, serta bisa dibuat tanpa memanggil tukang/ahli bangunan. Penjelasan lebih terperinci tentang LRB, nanti saya tulis khusus ya?

pinterest.com

Penutup

Ada yang menarik yang diucapkan ustaz Aam Amirudin pada banyak kesempatan, yaitu yang menjadi pembeda antara manusia dengan mahluk ciptaan Allah lainnya adalah kemampuannya untuk bersyukur.

Selain itu, Allah memberi manusia nalar untuk berpikir. Ketika setiap hunian di Indonesia tidak memberi ruang agar air bisa kembali ke bumi, maka musibah banjir hanya soal waktu. Tidak ada yang bisa menahan.

Jokowi, Anies Baswedan, Ridwan Kamil serta pejabat Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang hanya bisa bertumpu pada pembangunan embung dan waduk. Atau dengan kata lain, pembangunan penampungan air banjir yang telah merendam rumah pemukiman.

Bagaimana agar rumah kita terhindar dari banjir? Ajaklah pak RW/pak RT agar mewajibkan setiap rumah melaksanakan “zero run off” dengan mengaplikasikan 3 pencegahan banjir di atas, yaitu penghijauan, sumur resapan dan LRB. Agar air hujan dengan senang hari masuk meresap ke dalam tanah melalui pekarangan, bertemu biota tanah dan menyehatkan bumi Indonesia.

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya”. (QS an – Najm(53): 39)

Wallahu a'lam bish-shawab

9 Comments

  1. Segala musibah yang terjadi adalah kehendak Allah Sang Pencipta dan ini merupakan ujian juga buat kita semua. Akibat tangan2 manusia itu sendiri sih dan penyebab lainnya. Terutama membuang sampah yang masih sembarangan, penebangan pohon secara liar, saluran air yang ga jelas kadang dibuat mampet oleh warga dll wah mumet ini. Makanya kita ga usah saling menyalahkan, semua dimulai dari yg kecil. Sama halnya seperti penyakit yang diderita seseorang itu juga merupakan ujian dan Dia sayang pada umatnya. Aku hanya bisa mendoakan dari jauh :)

    ReplyDelete
  2. Ngomelpun ga selesaikan masalah, apalagi masalah banjir ini. Bener bu yang ada malah sakit kepala. Cari solusi, dan berhenti buang sampah sembarangan.

    ReplyDelete
  3. Yah benar dengan 3 cara itu. Dan juga kesadaran kita sebagai warga untuk membuang sampah pada tempatnya.

    ReplyDelete
  4. Udh lama aku dan suami pgn tuh bikin yg LRB . Apalagi pas tau bisa dibangun di tanah yg udh telanjur disemen. Coba ntr tulis lebih lengkap ttg LRB nya mba :). Pasti aku baca nanti..

    ReplyDelete
  5. Touchy banget postingannya, Mbak...

    Saya pun kalau kena musibah, sebsgai manusia biasa awalnya pasti menangis dan berpikir, kenapa saya, ya Allah? Tapi, saya ga mau berlarut dan secepatnya saya bersyukur karena artinya Allah sayang, Allah mengurangi jatah kesialan saya. Allah, memberikan musibah bukan karena benci sama kita.

    ReplyDelete
  6. Menyejukkan pisan Bu artikelnya. Alhamdulillah ada banyak pencerahan. Saya semakin yakin akan bersikeras nambah tanaman pohon (buah) di halaman, tetap menyelamatkan sumur tua peninggalan mertua meski sudah ada saluran PAM, serta belajar terus terkait memilh sampah, daur ulang, kompos dll.

    Terimakasih Bu semua inspirasi nya

    ReplyDelete
  7. Terima kasih sudah mengingatkan yaa mbak. Saya sempat berkeluh kesah juga pas kena gempa Lombok 2018 lalu. Saya mikirnya gini..ini saya perasaan kena muluk dehh.. bertahun-tahun di Makassar, kebagian banjirnya. Tinggal di Lombok, dapat gempanya.

    Padahal daripada berkeluh kesah atau saling menyalahkan, lebih baik kita belajar dari kejadian tersebut..bersyukur bahwa Allah SWT menunjukkan kekuasaannya pada kita, agar kita dapat berubah jadi lebih baik.

    ReplyDelete
  8. Untuk kasus penderita sakit kritis seperti Kanker, memang seharusnya diiringi dengan pendampingan psikolog mba baik untuk si pasien maupun keluarganya. Karena mereka jadi seperti menolak kenyataan dan kehadiran/niat baik orang-orang di sekitarnya. Bawaannya pasti sensi. Bersyukur saat musibah itu jujur kadang memang sulit sih dipraktekkan. Tapi harus dicoba biar legowo dan fokus menata ke depannya.

    ReplyDelete
  9. Masya Allah... so touchfully kaka aku bacanya, terimakasih pengingatnya. apapun yang diterima baik musibah atau nikmat mestinya kita syukuri supaya semua selalu berkah. Aku ngerasain sendiri pas keadaan gak sesuai harapan aku berusaha bersabar dan bersyukur dan akhirnya aku merasa lebih lapang hati.

    ReplyDelete