Skip to main content

Si Gembul Yang Malas




lansingwbu.blogspot.com


Mentari pagi mulai menampakkan diri. Warnanya merah di ufuk timur. Hujan semalam habis sudah meneteskan airnya. Digantikan oleh bulir-bulir embun yang bermain-main di dedaunan dengan riangnya.
Suara ayam jago yang bersahut-sahutan membangunkan emak. Berisik sekali. “Kuruyukkkkk!!” , temannya menjawab: “Kukuruyukkkkk!!”

Ah, emak harus bergegas membangunkan anak-anaknya. Agar makanan mereka, cacing-cacing nan lezat dengan mudah ditemukan di tanah yang gembur. Yang pertama bangun biasanya si Ceria, dengan sigap dia bangun dan mulai meloncat-loncat, seolah dalam tidurpun dia berlompatan dengan senangnya.

Kemudian si Cantik, dinamakan Cantik karena bulu-bulunya berkilauan indah jika tertepa sinar matahari. Putih dengan gurat – gurat hitam legam. Semburat kuning keemasan mewarnai tengkuk hingga ekornya yang panjang membulat. Matanya bulat sayu. Cantik selalu mengibaskan sayapnya dengan penuh gaya seolah setiap mata siap memandang liuk tubuhnya yang mempesona.

Yang terakhir, si Gembul. Emak menamakannya Gembul karena dibanding kedua saudaranya, dia paling banyak makan. Dia juga malas sehingga tubuhnya gemuk. Hobinya tidur, seusai makan dia pasti tertidur dengan nyenyaknya. 

Kali ini, seperti pagi-pagi yang lain, Gembul malas bangun. Suara riuh –rendah disekelilingnya tak membuatnya terganggu. Emak yang berulangkali membangunkannya, hanya dijawab: “Sebentar mak, sebentar. 5 menit lagi saya bangun, masih ngantuk nih”.

Tentu saja emak tidak bisa menunggu terlalu lama. Jika hari semakin siang ,  sulit menemukan cacing-cacing segar siap santap. Karena cacing senang wara-wiri di pagi hari,  enggan berjalan-jalan di cuaca terik yang menyakitkan tubuh mereka yang tidak berpelindung.

Emakpun berangkat bersama Ceria dan Cantik, meninggalkan Gembul dalam lelap tidurnya. Keempat burung gereja itu tinggal di wuwungan rumah kosong. Terletak di pedesaan yang asri di antara pepohonan yang tumbuh rapat. Musuh besar mereka hanya kucing yang tanpa diduga sering muncul mengganggu emak dan anak-anaknya. Suami emak, bapak Ceria, Cantik dan Gembul pernah terluka ketika melindungi emak. Lukanya sangat parah sehingga harus menghembuskan nafas terakhir, meninggalkan emak mengurus anak-anaknya sendirian.

Hari ini hari pertama emak mengajak anak-anaknya berburu makanan. Biasanya emak mencari cacing sendiri dan membawanya ke sarang. Emak tidak ingin anak-anaknya yang masih rapuh sayapnya, harus berhadapan dengan musuh mereka. Tapi kali ini, anak-anak harus belajar mencari makan sendiri, agar  bisa hidup mandiri. Juga berlatih menguatkan sayap-sayap mereka yang mungil.

Karena masih pagi, perburuan mereka tidak jauh, dengan cepat  mereka menyantap  makanan yang mudah didapat.  Perut Emak, Ceria dan Cantik dengan segera terisi penuh. Kenyang sekali. Emakpun mengajak pulang sambil membawa pulang seekor cacing untuk si Gembul. Ah, pantas tubuhnya gemuk, berburu makananpun terlewatkan olehnya. 

Hari kesepuluh.

Hari ini emak kesiangan bangun. Badannya agak lemah karena kurang tidur.  Semalaman dua ekor kucing mengeong bising sekali. Keduanya mengelilingi rumah tempat sarang emak dan anak-anaknya berada.  Saling bersahut-sahutan dengan suaranya yang terkeras. Membuat emak dan anak-anaknya ketakutan. Menjelang subuh, barulah suara-suara itu mereda.

Bergegas emak membangunkan anak-anaknya dan terbang agak menjauh karena takut kedua kucing masih disekitar sarang. Sayang, rupanya matahari mulai terik, membuat cacing-cacing bersembunyi di bawah semak dan rerumputan. Atau bergelung di dalam tanah gembur yang hangat. Emakpun harus berburu cukup jauh dan semakin jauh.

Gembul terbangun. Sinar mentari menghangatkan sarang dan sayapnya. Ah, kemana emak? Kemana si Ceria dan si Cantik? Mengapa hening sekali? Duh perutku, …….. Gembul merasakan perutnya keroncongan minta diisi. Biasanya sesiang ini emak sudah menyiapkan makanan baginya, dan Gembul akan makan dengan lahap. Aduh, kemanakah emak? Tak terasa air mata Gembul menetes. Dia sedih sekali karena terbangun dalam sepi dan lapar.
Akhirnya Gembul beranjak. Dia harus cari makan, perutnya berdetam-detam, tanda lapar tak terkira. Hmmm……, emak pernah mengajarkan cara mencari cacing. Mudah kok, hanya mencari gerakan cacing yang khas kemudian serbu dengan menukikkan tubuh.

Sayang, hari menjelang siang. Tak nampak gelagat gerakan cacing. Sepi. Hanya sesekali suara kawanan burung gereja lainnya  terdengar. Mungkin sedang bercengkrama. Duh, sayang Gembul tak mengenal mereka, Gembul jarang bermain-main keluar sarang seperti kedua saudaranya karena baginya tidur lebih mengasyikkan.

Dan kini, dia amat menyesal. Air matanya menetes lagi. Perutnya lapar tapi tak ada seekorpun buruan yang terlihat. Sementara untuk meminta bantuan dia malu, dia tidak punya teman.

Suara ranting terinjak membuat Gembul waspada, dirapatkannya tubuhnya ke balik dedaunan. Dia mulai takut. Telah sering emak mengingatkan agar hati-hati terhadap kucing. Dan ketakutan itu datang. Seorang kucing berwarna hitam mendatanginya. Bulunya riap-riap berdiri. Mata hijaunya yang tajam memancarkan sinar menakutkan. Tanpa sadar Gembul menggigil ketakutan. Dia berusaha mengepakkan sayapnya agar bisa terbang menjauh. Tetapi usahanya selalu gagal. Sayapnya lemah karena jarang dilatih. 

Oh emak, tolonglah aku, rintih Gembul perlahan. Ditutupnya kepalanya dengan sayap mungilnya  yang gemetar. Matanya terpejam. Paruhnya gemeletuk tanda ketakutan. Pelan tapi pasti dia mendengar suara itu. Suara dan bayangan besar yang melingkupi tubuhnya.
“Gembul”, ….. ah bukankah suara itu…..suara emak? Benarkah itu? “Gembul, bangunlah….yuk kembali ke sarang”, …… betul itu suara emak, tak mungkin bukan. Gembul sangat hafal suara emak. Perlahan Gembul mengangkat sayap dan membuka matanya. Sungguh ini emak, emak yang sangat disayanginya. Emak yang sabar melihat kemalasannya. Emak yang  selalu mengantarkan cacing yang gemuk dan lezat. Ah, emak ……., dengan segera Gembul memeluk emak. Tak kuasa menahan rasa gembira, Gembulpun menangis keras-keras.
“Lho, kok nangis Gembul, kenapa?”
“Gembul takut dimakan kucing”.
Emak tertawa. “Lihatlah, kucing-kucing itu maksudmu?” “Mereka sedang kawin, sehingga tak akan mempedulikan kita”.
Dengan perlahan Gembul menengok kearah yang ditunjuk emak. Benarlah, ada dua kucing disana sedang berasyik masyuk. Oh syukurlah, dia salah sangka, kucing jantan yang berwarna hitam mendatangi sang betina, bukan dirinya.
“Yuk, kita pulang. Emak sudah menyiapkan makanan untukmu”.
Gembul mengangguk patuh dan terbang mengikuti emak. Gembul bersyukur dalam hati bahwa dirinya tidak diterkam kucing. Dia juga bersyukur karena memiliki emak yang selalu sabar dan selalu menyayanginya.

Dia berjanji, mulai hari ini akan patuh pada emak. Gembul ingin menjadi burung gereja yang berbadan kuat yang pandai mencari makan dan tangkas ketika bertemu musuh.
“Ah emak”, bisik  Gembul, “maafkan anakmu yang selalu melawan ini, tunggulah aku dewasa dan kuat, kelak akulah yang akan menjaga emak dan membawakan makanan yang lezat”.
Seolah mendengar janji si Gembul, emak menoleh dan tersenyum. Senyum bangga.







Sumber gambar:

Comments

Ira Guslina said…
Semangat Gembul... dengerin kata emak ya...

Popular posts from this blog

The Third Charm, Akhir Yang Membuat Penonton Marah

Bagaimana jika tokoh utama yang ganteng bukan main menjalin kasih dengan second lead, gadis cantik, imut dan menggemaskan? Ternyata penonton memilih agar keduanya happy ending. Sementara tokoh perempuan di maki-maki karena dianggap meninggalkan kekasihnya.
Mungkin itu yang menjadi penyebab ending drama Korea “The Third Charm” dibiarkan cukup terbuka. Penonton boleh berkhayal semaunya. Apakah cukup sahabatan atau menikah?
Tokoh utama pria, Seo Kang-Joon dan tokohperempuan, Esom yang membuat saya kepincut untuk menonton drakor ini. Seo Kang-Joon, rupanya dianggap sukses dalam setiap perannya sehingga tahun 2018, saya menonton 2 dramanya. Marema ya?
Sedangkan Esom, saya jatuh cinta pada sosoknya di Because This Is My First Life. Berperan sebagai sahabat tokoh utama, Esom keren banget. Hihihi tentu saja yang dimaksud keren adalah postur tubuhnyayang tinggi dan penuh. Seksi, tanpa harus berbaju pendek. Bahkan balutan kostum hitam atau putih yang dikenakan, bikin Essom nampak berkelas. Sebetul…

Dewi Kentring Manik, Dewi Cantik Jelita Pelindung Kota Bandung

Kios Agro Datang, Penjual Senang, Emak-emak Happy

Ibu rumah tangga menjerit ..!! Iburumah tangga yang acap disebutemak-emak ini menjadi kelompok masyarakat yang pertama kali tersakiti ketika harga-harga melonjak naik.
Menjelangbulan puasa tahun 2019, harga bawang putih tiba- tiba membumbung tinggi hingga mencapai Rp 100K per kilo gram, padahal biasanya hanya berkisar Rp 25K per kilogram.
Sebelumnya akibat kacang kedelai melonjak tinggi, harga tempepun meroket. Produsen tempe dan penjual tempe mogok hingga pemerintah turun tangan. namun emak-emaklah yang terkena imbasnya. Setiap hari mereka harus menyediakan lauk pauk. Dan tempe merupakan sumber protein termurah.
Tiga tahun sebelumnya, harga cabai rawit yang melonjak naik, hingga mencapai harga Rp 100K/kg. Padahal harga normal hanya belasan ribu rupiah per kilogram.
Penyedia jajanan khususnya UMKM lebih terpukul.

Saya sebagai salah satu dari kaum emak, yang juga pelaku UMKM, sempat menangis kesal. Tidak hanya disebabkan keuntungan yang tergerus habis, juga pernyataan menteri pertanian yan…

Lipstik Untuk Emak

Tini
Tini berjinjit.  
Dia sedang mengintai.

Disana, dibalik pintu kaca, seorang perempuan cantik sedang tersenyum pada cermin.   Sang perempuan cantik mengambil  spon bedak, ditepuk-tepuknya  pipi, hidung dan kening. Kemudian dia meringis.  Memperhatikan deretan gigi putihnya dengan seksama. 
Nampak cukup puas.  Tidak ada potongan cabai diantara geligi.  Dari tas mungilnya, dia mengeluarkan lipstik, menyapu bibir penuhnya dengan warna merah.  Tersenyum kembali pada cermin.  Wajahnya berubah.  Semakin cantik.
Di mata Tini, kecantikan sang perempuan bak bidadari.
“Sssttt Tin, Tiniii ...” Teriakan seorang teman menyadarkannya.
Dia harus bergegas.  Rinai hujan adalah rupiah.
Semakin lama hujan turun  semakin banyak rupiah terkumpul.
Tini berlari, menuruni undakan mall, menuju kerumunan orang yang sedang berteduh. 
Lobby mall selalu menjadi tempat favorit kala hujan turun. “Ojek payung, bu?” tanya Tini pada sesosok perempuan berkaca mata.  Blazer ungunya terkena tempias.  Basah.  Dia menerima payung y…

7 Amalan Bagi Bumi; Yuk Kita Mulai di Bulan Ramadan

“We don’t  Inherit The Earth from our Ancestor, We Borrow it from our Children”Akrab dengan adagium di atas? Iya banget ya? Bumi ini kan nggak hanya dihuni kita sekarang, anak cucu kita nanti juga akan menginjaknya. Jadi sudah seharusnya kita pelihara.
Dan hanya Islam lho yang punya ayat-ayat suci agar umatNya memelihara bumi. Salah satunya: ظَهَرَالْفَسَادُفِيالْبَرِّوَالْبَحْرِبِمَاكَسَبَتْأَيْدِيالنَّاسِلِيُذِيقَهُمْبَعْضَالَّذِيعَمِلُوالَعَلَّهُمْيَرْجِعُونَ Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [ar-Rûm/30:41]
Sebagai muslim, bangga banget  ya punya kitab suci yang lengkap dan  sempurna. Nggak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dan manusia dengan manusia. Juga manusia dengan alam.  
Karena jika manusia memelihara  alam, maka alam akan membalas kebaikan manusia dengan berlipat ganda. Kebutuhan oksigen yang …

3 Pilihan Investasi Sesuai Syariah Islam. Bisa Banget Dimulai Dari Uang THR

THR?
Yeay benar-benar kata yang menghinoptis. Kata yang mengumbar kebahagiaan. Baru denger kata THR udah bikin tersenyum. Apalagi jika sang THR sudah dalam genggaman. Karena itu berarti bisa beli baju, beli kue, beli hape baru, jalan-jalan, ngasih ke ortu, ngasih ke fakir miskin.
Sebentar, banyak banget yang mau dibeli? Mana buat investasi? Mumpung ada “uang kaget”, mengapa tidak berinvestasi?
Udah ada tabungan. Ngapain lagi harus berinvestasi?
Nah ini dia yang sering dilupakan masyarakat milenial. Terbuai rayuan angin surga,terlebih belanja online mempermudah segalanya, bisa –bisa dalam sekejap uang THR habis tak tersisa. Bahkan mungkin nombok.
Padahal hidup manusia di dunia rata-rata selama 60 tahun. Jika sejak dini nggak pernah berinvestasi, yakinkah bahwa kamu bisa mencari nafkah di usia tua? Jangan-jangan usia 50 tahun sakit-sakitan, bolak balik ke rumah sakit, tabungan habis, rumah terpaksa dijual. Ngenes banget.
Dan tabungan beda banget dengan investasi ya? Tabungan lebih mirip uang…

7 Bekal Wajib Agar Mudik Lancar dan Menyenangkan

Libur tlah tiba
Libur tlah tiba ... hore ... hore ...
Hihihilagu Tasya ini rasanya berkumandang di setiap liburan ya? Dan liburan berarti mudik. Lipat dua deh bahagianya.
Biasanya kami sekeluarga mudik ke Jawa Tengah. Naik kendaraan pribadi, mengular bersama kendaraan lain yang terjebak macet. Namun tetap happy. Macet adalah bunganya mudik. Bahkan kursi mobil sengaja dicopot, agar bisa tidur ketika macet.
Hingga .....
Berita itu tiba. Belasan orang meninggal gara-gara terjebak macet di Brebes Exit.Infrastruktur yang belum tuntas namun dipaksakan ,  dituduh sebagai penyebab. Namun, sejauh mana pemudik menyiapkan diri agar siap menghadapi situasi terburuk? 
Sudahkah pemudik menyiapkan bekal yang cukup dan sesuai?
Sebagai emak dengan 4 anak, menyiapkan bekal mudik menjadi story tersendiri. Nggak mudah. Jangan sampai  merasa bersalah jika ada yang tertinggal atau nggak dicatat untuk dibawa masuk koper/tas.
Selain baju, sepatu, pakaiandan pakaian dalam milik masing-masing anggota keluarga, paling…