Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2017

Hembing dan Germas

Masifnya kampanye gerakan preventif yang dicanangkan Kementerian Kesehatan dengan tagline Germas atau Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, mengingatkan saya pada Profesor  Hembing.Wijayakusuma. Generasi milenial mungkin tidak mengenalnya tapi acara televisi “Hidup Sehat Cara Hembing” sangat popular sejak tahun 1994 dan sukses meraup  ribuan penonton.
Penyebabnya mungkin karena  banyak anggota masyarakat yang merasa keberatan dengan harga obat pabrikan sehingga pengobatan alternatif menjadi pilihan. Mereka bahkan tak segan mendatangi pengobatan yang tidak masuk akal seperti pengobatan menggunakan media batu oleh Ponari.
Lahir di Medan, pada  10 Maret 1940, sosok Hembing menawarkan alternatif pengobatan, yaitu herbal , solusi pengobatan murah yang telah lama dikenal tapi dilupakan. Promosi gencar yang dilakukan pabrikan memang membuat kedudukan pengobatan herbal tergeser. Padahal dulu ibu rumah tangga terbiasa menggunakan bawang merah dan minyak kelapa ketika buah hatinya demam. Jeruk nipis da…

Kontroversi ASI

Walaupun bukan termasuk golongan pemirsa televisi yang setia, tapi begitu membaca/mendengar merk pelembut dan pewangi pakaian ini, saya segera membayangkan iklan yang secara ekstrim mengklaim mampu membuat baju bayi tetap harum selama berhari-hari. Bayipun nyaman karena kain tetap halus dan lembut… dst …dst. Ah tentu saja pemilihan foto model bayi dan anak-anak sangat mempengaruhi citra produk tersebut. Sayangnya citra tersebut dalam webnya produsen produk pelembut pakaian bayi tersebut menayangkan artikel: Menyusui Ternyata Juga Merugikan, Kenapa Ya?
Merupakan saduran dari nes.scot.uk yang kurang lebih berisi bahwa seorang ibu tidak usah memaksakan diri untuk memberi ASI eksklusif dengan pertimbangan: Ibu tidak bisa mengatur takaran susu dikonsumsi bayi karena sulit mengetahui bayi kekenyangan atau kekurangan air susu.Tidak ada orang yang bisa menggantikan ibu menyusui bayinya terlebih jika ibu tersebut wanita pekerja yang harus kembali bekerja setelah masa cuti habis.Terkadang menyus…

Rahasia Bugar dan cantik ala Perempuan Keraton

“Jadi perempuan itu harus sehat, harus harum.” Kata eyang putri. Nasehat itu selalu beliau ulang dan ulangi, hingga cucu-cucunya hafal. Namun eyang putri tidak peduli. Beliau keturunan keraton Ngayogyakarta Hardiningrat yang teguh memegang  prinsip. Konsisten. Kebiasaan dan perilaku yang baik tidak hanya diterapkan pada dirinya tapi juga pada kami, cucu-cucunya.

Setiap liburan tiba, kami harus berkumpul di rumahnya yang luas. Kemudian, pada hari yang ditentukan, khusus cucu perempuan diinstruksikan  berjejer dalam balutan jarik (kain batik). Setiap anak akan dilulur tubuhnya, sedangkan rambutnya dipijat dengan semacam ramuan. Semua serba racikan sendiri, baik lulur maupun ramuan untuk merawat rambut.  Eyang putri dibantu beberapa asisten, bukan orang lain tetapi  saudara jauh juga  yang kebetulan ngenger dirumahnya.



Usai upacara luluran, secangkir jamu telah menanti. Macam-macam jenisnya, tetapi yang sering disediakan adalah temulawak. Khasiatnya bagus, kata eyang putri. “Agar kamu seha…

Mama E-Ping

Seiring  dengan kemajuan teknologi, selalu ada cara untuk menyelesaikan permasalahan. Salah satunya dialami Rima, seorang anak muda, penggiat lingkungan yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Sebagai ibu muda yang penuh idealisme tentu saja Rima ingin memberi yang terbaik, diantaranya menyusui selama dua tahun. Karena siapapun tahu bahwa  pemberian ASI (air susu ibu) merupakan cara terbaik bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini.
Sayangnya rencana Rima tidak berjalan mulus, ASI baru keluar di hari ketiga, dan selama beberapa hari tersebut sang bayi diberi susu formula (sufor) dalam botol. sehingga bayi mengalami ‘bingung puting’ (kondisi dimana bayi menolak payudara ibunya karena keasyikkan minum menggunakan dot). Untuk menyiasati, Rima memompa air susunya, memasukkannya  kebotol untuk  kemudian diberikan pada bayinya.
Ketika sedang browsing, Rima mendapati dia tidak sendirian. Banyak teman senasib yang bergabung dalam komunitas mama e-ping di theurbanmama.co…

Mbangun Ndeso ala DR Yansen

Buku menarik yang ditulis oleh orang yang menarik pula. Dikatakan menarik karena banyak pejabat menggunakan buku sebagai alat kampanye dini, sehingga mereka memasang wajahnya di kaver depan. Tidak demikian dengan buku “Revolusi Dari Desa” , tidak ada wajah sang penulis, Dr. Yansen TP., M.Si.,  baik di kaver depan maupun belakang buku. Kaver depan menggambarkan ulat yang sedang berjalan meniti puncak tangkai tumbuhan untuk kemudian bertransformasi sebagai kupu-kupu. Sesuai semangat isi buku yang menggambarkan bagaimana seharusnya membangun desa, lengkap dengan implementasinya.
Siapa Dr. Yansen,  baru kita ketahui ketika membuka bukunya untuk melihat sisipan dan profil penulis yang berada di halaman 179. Tidak terpampang narsis agar konstituen mudah mengenali, dan memilih untuk kedua kali atau bahkan memilih sang penjabat untuk menduduki kursi lebih tinggi.
Bupati Malinau, Dr. Yansen TP., M.Si.,  juga merupakan penulis yang menarik untuk dibahas, karena umumnya alumni Akademi Pemerintaha…

Yuk, Kita Hitung Kebutuhan Buah Hati dalam Meraih Cita-citanya

Jadi  insinyur….. guru…………  dokter………. pelaut ……presiden……………
 Mungkin itulah sebagian jawaban anak-anak ketika ditanya mengenai cita-cita. Lucunya cita-cita mereka  sering berubah-ubah. Hari ini berkata ingin menjadi guru, beberapa bulan yang lalu  sebagai dokter, esoknya mungkin berubah menjadi tulang las. Biasanya terinspirasi pekerjaan orang tua atau orang sekelilingnya. Dan sebagai orang tua tentunya kita berharap pendidikan mereka lebih tinggi dbanding ayah ibunya.
Tapi yakinkah kita akan mampu membiayai mereka? Karena sebagai manusia, kita memiliki keterbatasan dan berbagai kendala penyebab cita-cita anak gugur di tengah jalan seperti meninggal,  sakit kronis, kecelakaan dan cacat tetap. Atau bisa juga kita berumur panjang. Sayang ketika waktunya tiba, dana tidak tersedia, sehingga terpaksa  menjual semua harta benda. Kemudian? Ya , tunggu saja anak selesai kuliah dan berpenghasilan, karena merekalah yang “harus” gantian memberi nafkah pada orang tua.

Kisah anak yang diharapkan me…