Zero Waste Lifestyle Ternyata Mudah Lho, Yuk Ikuti Stepnya ...

 
source : http://bit.ly/2rWZysr
Yang dimaksud  Zero Waste Lifestyle adalah perilaku  meniru siklus alam yang berkelanjutan. Tidak ada sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sampah atau incinerator. Melaksanakan Zero Waste bermanfaat  menghilangkan semua pelepasan ke tanah, air atau udara yang merupakan ancaman bagi kesehatan planet, manusia, hewan atau tumbuhan.

Pernah lihat orang yang membuang sampah sembarangan? Plung, gitu aja dari balik jendela mobil , atau berjalan sambil makan trus sampahnya dibuang sembarangan?
Rasanya ingin ikut menyumpahi dengan kata: katrok!! ….. norak!! …..  Mereka pikir siapa yang harus membereskan sampah yang mereka tinggalkan? Petugas kebersihan kota? Relawan GPS (Gerakan Pungut Sampah)? Arogan sekali!  Sikap feodal yang menyebabkan masalah sampah tak pernah selesai.

Tapi kemudian saya teringat ucapan seorang sesepuh sungai Cikapundung:”Jika ada orang yang melanggar peraturan, maka kita turut berkontribusi”. Maksud perkataannya adalah jangan menyalahkan orang yang ngga paham, percuma! Tegur dan beritahu apabila memungkinkan. Level penjabat bisa bertindak lebih jauh, misalnya memasang CCTV dan memberi sanksi pembuat keonaran.

Tapi siapa kita?  ☺☺👵 👱👰👯☺☺   Tentu saja tidak memiliki kewenangan seperti itu. Jadi bagaimana kalo mulai dari diri sendiri dengan mencoba zerowaste lifestyle?

Ala bisa karena biasa, jurus apa saja yang bisa dipraktekkan?

Ini dia:


1.      Jangan tinggalkan rumah tanpa tumbler.
Tidak hanya dompet dan ponsel yang harus dibawa ketika meninggalkan rumah, tapi juga tumbler tempat air minum. Tahukah sampah yang menyumbat gorong-gorong dan mengakibatkan banjir, salah satunya berasal dari  kemasan air minum?  Baik sampah kemasan air mineral maupun minuman manis.
 Banyak orang berpikir bahwa sampah kemasan akan diambil pemulung untuk dijual dan didaur ulang. Kenyataannya hanya 30 persen yang masuk pabrik daur ulang, sisanya mengotori lahan tidur, saluran air dan bermuara di lautan. Tak heran Indonesia dinobatkan sebagai negara penyumbang sampah kedua terbesar di dunia. Duh nyumbang tuh uang atau makanan dong ya? Jangan sampah.


2.      Mulailah beralih ke saputangan.
Pernahkan terpikir bahwa jika kita influenza dan membuang ingus dengan tisu maka virusnya akan menyebar hingga tempat pembuangan akhir (TPA)?  Berbeda halnya dengan sapu tangan, karena bersifat pribadi maka seusai digunakan biasanya akan masuk tas untuk dicuci di rumah.
Dengan menggunakan sapu tangan, berarti kita juga telah menyelamatkan hektaran hutan. Sebatang pohon pinus dewasa menghasilkan  84.000 lembar kertas berukuran 21 x 28 cm. Bisa dihitung berapa banyak pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan 10 % penduduk Indonesia. Belum termasuk cemaran yang dihasilkan dan sumber air dan zat kimia yang harus digunakan untuk memproduksi kertas termasuk kertas tisu. Sungguh wow sekali.
Bagi penyuka drama korea mungkin masih ingat adegan Yoon Ji Hoo membantu Gem Jan Di dengan saputangannya? Nah mungkin juga atraksi serupa bisa menjadi modus pedekate ke gebetan? Ahayyy…… ^^


3.      Buatlah Post it dengan kertas bekas struk, nota pembelian dan berbagai kertas lainnya.
Sebetulnya  post it yang berasal dari kertas bekas adalah symbol bijak menggunakan ulang kertas bekas. Tentunya tindakan paperless akan lebih baik lagi,  ketika mengadakan event, peserta mengisi daftar hadir langsung ke perangkat computer.
Gerakan menghamburkan kertas akan menjadi alasan produsen kertas untuk memperluas alih fungsi hutan. Sesuatu yang tidak kita sukai bukan?


4.      Gunakan  rantang/ misting, tolak kertas pembungkus nasi.
Tahukah bahwa kertas nasi yang berwarna coklat sebetulnya berasal dari sampah kertas, kardus dan beragam kertas lainnya?  Kertas sekali pakai ini dilapisi plastik tipis sehingga seharusnya terlarang untuk  membungkus makanan yang masih panas. Dengan alasan lebih praktis, pedagang makanan memilih kertas nasi dibanding daun pisang bukan disebabkan harga. “Harganya mah sama aja, neng”, katanya.
Sebagai konsumen kita memilih cara aman dong ya? Menolak makanan tercermar yang baru terasa akibatnya setelah sekian tahun.  sungguh suatu pilihan bijak jika kita makan di tempat atau menggunakan  misting/rantang untuk membawa jajanan pulang ke rumah.


5.      Gunakan reusable bag (tas pakai ulang).
Mengapa muncul ajakan menolak kantong plastik (keresek)? Karena produsen produk plastik bukan main senang hatinya  jika konsumsi keresek sangat tinggi. Semakin banyak produksi keresek berarti menaikkan omzet penjualan yang akan berimbas pada profit.  Mereka tidak peduli sampah yang dihasilkan baru akan terurai ribuan tahun kemudian atau hanya sekedar hancur menjadi mikroplastik.   EGP kata mereka.
Jadi kuncinya adalah kita, konsumen. Mau mengikuti kemauan produsen atau memilih menyelamatkan lingkungan hidup yang begitu terbatas. Penggunaan tas pakai ulang tidak terbatas pada reusable bag yang harus kita beli. Keresek yang dimiliki juga bisa digunakan ulang untuk berbelanja. Sekarang banyak konsumen yang membawa keresek dari supermarket lain ketika berbelanja di Superindo, salah satu retail modern yang konsisten menerapkan “kantong plastik tidak gratis”

Perilaku nol sampah atau zero waste lifestyle ternyata tidak hanya berpengaruh pada pengurangan sampah yang dihasilkan tapi juga penghematan isi dompet. Kita tidak harus mengeluarkan rupiah untuk membeli minuman dalam kemasan yang ternyata menimbulkan jejak ekologis tinggi dalam mendaur ulang. Terlebih sampah plastik yang tidak di recycle ternyata berakhir di saluran air dan mengakibatkan kematian biota air.

Rasanya sepadan bukan? Perilaku nol sampah yang semula dirasa berat ternyata berdampak positif di berbagai lini. Yuk atuh mulai berjerowes, asyik lhooo .....😊😊

Comments

Allhamdulillah saya sudah mengikuti seperti yang bunda sarankan. Saya baru tau itu namanya zero waste lifestyle 😃
Leyla Hana said…
Wah hal sederhana dan mudah tapi jarang dilakukan ya. Harus mulai saya praktekkan nih. Makasih tipsnya mba.
antung apriana said…
Sebenarnya gampang aja ya biar bisa zerowaste ini tapi kadang yang susah itu konsisten nerapinnya
Sandra Hamidah said…
Woaa mantap bu, saya juga ingin jadi mami yang ramah kantong dan ramah lingkungan! Semangat hayu hejooo
Nia K. Haryanto said…
Keren. Pengen deh bisa hidup kayak gitu. Tapi kok masih susah ya, Teh...
Nita Lana Faera said…
Walau masih sering lupa, memang mesti dibiasakan mengurangi penggunaan plastik ketika belanja. Kalau wadah makanan, untuk beli yang dekat2 rumah memang selalu dibiasakan.
Nita Lana Faera said…
Yeps, minimal jangan kita yang buang sampah sembarangan dan memakai plastik secara berlebihan. Ketika 1 orang tersadar, setidaknya udah mengurangi 1 orang yang nyampah.
@BundaErysha, sebetulnya zerowaste lifestyle ini udah lama didengungkan di belahan bumi sana, kita ketinggalan karena masih kesengsem yg serba konsumtif :)
iya mbak @Leyla Hana dan manfaatnya ngirit uang belanja lho :)
hehehe iya mbak @Antung

dan terjadi kebalikannya, kalo udah biasa akan sulit meninggalkan perilaku zerowaste :)
hayuk mbak @Sandra, sip deh dunia di tangan perempuan lho :)
ah ngga kok mbak @Nia K Haryanto, belum dicoba aja dan belum kepepet

ntar kalo harga tisu dan kantong plastik sudah mahal, barulah .....

dan itu pasti terjadi :)
iya mbak @Nita Lana, apalagi kertas coklat nasi ternyata mengandung racun

efeknya ngga langsung terasa, jadi lebih baik mencegah kan ya?
plastik itu paling susah lenyapnya mbak @Nita

saya sering melewati Leuwigajah, TPA yang ditutup karena sampahnya menimbun orang hingga meninggal dunia

Disana sampah plastiknya masih ada walau tanaman pisang sudah tumbuh diatasnya

Menurut pakar lingkungan, sebaiknya kalo berbuah pisangnya jangan dimakan karena dikhawatirkan mengandung racun

Serem ya?