The World City Forest





Waduh ternyata sulit juga menjatuhkan pilihan icon Bandung untuk ditulis dalam #30HariKotakuBercerita, maklum banyak bangettt. Sebutlah Gedung Sate, Gedung Merdeka, Jalan Braga, hingga Pasar Baru rasanya semua pantas masuk kategori ikon Bandung.  Tapiiii….., harus pilih satu kan? Dan akhirnya saya pilih Babakan Siliwangi, The World City Forest.

Mengapa Babakan Siliwangi (disingkat Baksil), si hutan kota yang dipilih? Ya karena (1) dimiliki warga Kota Bandung dengan penuh perjuangan, bukan warisan gitu lho :)  (2) sebagai manusia kita ngga bisa hidup tanpa pohon si penghuni Hutan Baksil, (3) sebentar lagi utusan Indonesia harus menghadiri  konferensi PBB mengenai  Climate Change di Perancis, dan ternyataaaa……. (4) Hutan Baksil indah buangettt. Rugi kalo ke Bandung tapi ngga kesini.

Terletak di jalan Siliwangi, Baksil menempati lembah seluas 7,1 Ha. Sejak jaman penjajahan Belanda kawasan ini merupakan sabuk hijau yang dirancang sebagai hutan kota dengan berbagai fasilitas seperti taman botani yang sekarang di sebut Tamansari dan kebun binatang. Disisi lain dari kawasan, para arsitek merancang  pemandian, kolam ikan dan taman bunga yang  ke mudian bernama Pemandian Cihampelas dan kini sudah raib berganti menjadi apartemen. Duh jika ingat pemandian ini nyesek banget rasanya karena tempat berenangnya luasssss, airnya dingin asli dari mata air yang keluar dari semacam kendi yang dibawa dewa Neptunus. 


Gambar saat-saat terakhir pemandian dihancurkan, airnya mengalir terus.

Oke, lanjuttt…., karena kisah Hutan Kota Baksilpun ngga kurang menyedihkan. Seperti ditulis di awal, duluuuuu  ……  sekali pemerintah Kota Bandung merencanakan Babakan Siliwangi sebagai paru-paru kota sekaligus area kormesialisasi. Karena itu dibangunlah restoran dan beberapa pusat kesenian yang dinamakan Sanggar Olah Seni (SOS).

Sekitar tahun 2003, restoran masakan sunda tersebut terbakar dan keberadaannya hendak diganti dengan pusat perbelanjaan, apartemen dan  bangunan komersil lainnya. Tentu saja para pegiat lingkungan hidup Kota Bandung protes. Iya dong, begitu banyak bangunan komersil di  Kota Bandung, eh ruang terbuka hijau yang hanya seuprit akan diambil juga.  Terlebih hutan kota Baksil memiliki begitu banyak keaneka ragaman hayati, tercatat ada 48 jenis pohon, 24 jenis burung seperti Madu Kuning atau Sriganti, Cekakak Jawa, Cekakak Sungai dan Elang Alap Cina.
Sayangnya beberapa mata air disini sudah punah, hanya tersisa satu yang sering digunakan pengunjung nomaden.





Bak oase ditengah hiruk pikuk kota berpenduduk 2, 6 juta jiwa, Hutan Baksil sebetulnya hanya tersisa 3, 8 Ha  yang masih memiliki pohon tegakan dan berbentuk tapal kuda. Karena di dalam kawasan tersebut sudah berdiri Sarana Olahraha (Sorga) dan  Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) ITB tempat diselenggarakannya konferensi. 

Jadi? 3,8 Ha itulah yang diperjuangkan pegiat lingkungan dan warga kota Bandung agar terbebas dari bangunan apapun jenisnya. Secara teratur mereka mengunjungi Baksil untuk berkegiatan seperti menanam pohon, membongkar jalan beraspal dan melepaskan burung serta tupai. 

Puncaknya ketika konferensi Tunza akan diadakan di Indonesia pada 1 Oktober 2011, kelompok warga yang selama ini “menduduki” Hutan Baksil tersebut dipimpin pak Ridwan Kamil  ( kala itu belum jadi walikota tentunya) mengajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup untuk meresmikan Hutan Baksil sebagai The World City Forest dengan harapan jika sudah menjadi hutan dunia pastinya tercatat resmi dan tidak bisa diusik ditingkat lokal. Cerdik ya? ^_^
 
Pak Emil dan Acil Bimbo di Hutan Baksil

 Nah, untunglah pak Emil (panggilan pak Ridwan Kamil) kini terpilih menjadi Walikota Bandung, sehingga ngga mungkin kan merusak apa yang telah diperjuangkan?
Nah sesudah melewati lika liku perjuangan, ada apa sih di di Hutan Kota Baksil? Banyak. Atau lebih mudahnya bagi mereka yang ingin tahu secara rinci silakan datang ke salah satu SOS, pemiliknya atau wakilnya akan mengajak berkeliling dan memperlihatkan isi Hutan Kota.  Di kawasan ini secara periodik ada upacara keagamaan, bukan untuk menyembah patung yang banyak terdapat disana tapi untuk mengucapkan terimakasih atas anugerah Illahi. Selesai upacara sih makanannya bisa dikonsumsi bareng-bareng.



Kemudian ada kegiatan adu ketangkasan domba yang berlangsung di salah satu area. Rame lho, para peserta yang mengikuti acara seni ketangkasan adu domba tidak hanya berasal dari Kota Bandung melainkan juga dari berbagai Kota di Jawa Barat seperti Kuningan, Majalaya, Garut, Tasik dan daerah-daerah lainnya di Jawa Barat.


Selain menonton adu ketangkasan, ada pernak pernik yang berkaitan dengan  domba dijual disini, mulai dari gantungan kunci berbentuk kepala domba hingga miniatur dari domba itu sendiri. Dijamin puas sejak pagi hingga usai acara. Yaiyalah di tengah kota metropolitan masih ada adu ketangkasan domba ya Cuma ada di Kota Bandung.
Selain itu pengunjung bisa juga bersepeda atau berjalan-jalan menembus rimbunnya dedaunan. Ada banyak buah yang bisa disantap disini. Jika ragu-ragu bisa ditanyakan ke pemilik SOS sambil sekedar hangout disana karena dengan cerdiknya mereka menyediakan area untuk melepas lelah sambil menikmati hidangan. Tertarik?

upacara keagamaan di Hutan Baksil

sumber :
BCCF
nisank.wordpress.com
nyeduhteh.blogspot.com



Comments