Skip to main content

Esensi Berkorban





Rumah sepi. Hanya sayup-sayup terdengar suara burung gereja bersenda gurau. Nun  di atas pohon di seberang rumah. Aku sungguh beruntung memiliki  rumah berhadapan dengan batas wilayah. Suatu lembah dimana terletak pemukiman warga lama. Ada saluran air disana, menganak sungai , mengingatkanku pada kota kecil tempat aku dan Adisa dulu tinggal.

Ah, Adisa dimana dia? Baru beberapa langkah mencarinya , kulihat dia di teras belakang.  Asyik membuang ekor taoge dan memasukkannya dalam wadah kedap udara. Posisinya membuat aku gatal ingin mengagetkan dari belakang. Seperti kebiasaan kami dulu. Tapi secarik kertas yang kugenggam mengalahkan keinginan itu.
“Dis, kau tahu ini? kupon daging?”
“Oh, kau  dapat juga? Iya, setiap keluarga di perumahan dapat kupon pembagian daging kurban. Kukira kau belum dapat, kan warga baru”.  Wajah Adisa tenang, tidak menampakkan keterkejutan melihat kedatanganku.
“Lumayan banyak dagingnya, tapi nyampur dengan jeroan. Sekali- sekali makan tongseng atau soto jeroan kan ngga papa? ”, lanjut Adisa sambil tersenyum.

Akhir-akhir ini aku memang menghindari daging , gula dan lebih banyak mengonsumsi sayuran.  Bukan diet, hanya sekedar ingin sehat. Karena itulah kemarin aku membeli banyak taoge yang kini sedang  dibersihkan Adisa. “Jorok”, katanya melihatku yang malas membersihkan ekor taoge.
Karena aku bersikukuh enggan, akhirnya Adisa mengalah membersihkan taoge dalam beberapa tahapan. Tergantung waktu kosong. Lama aku menatap kegiatan Adisa yang nampak mengasyikkan.

“Dis, pernah nggak kepikir  adanya persamaan sekaligus perbedaan dalam agama kita? Kita sama-sama  percaya bahwa nabi Ibrahim mengorbankan anaknya untuk Tuhan. Bedanya dalam  agamaku, Khatolik yang dikorbankan Ishaq, dalam Islam yang dikorbankan Ismail. Apa karena akhirnya nanti Nabi Ismail menurunkan Nabi Muhamad, sedangkan Ishaq menurunkan Yesus, eh  Nabi  Isa?”

Adisa tercenung.. Hampir kupikir pertanyaanku tak akan dijawabnya, ketika tiba-tiba:
“Kupikir ngga sesederhana itu, Mik. Setiap peristiwa kenabian kan merupakan simbol-simbol. Jadi jangan dimaknai secara harfiah. Tuhan memang memberi instruksi agar nabiNya berkorban. Entah Ishaq  atau Ismail menjadi tak penting karena pengertian berkorban ngga sekedar potong kambing dan sapi”.
“Maksudmu?”
“Iya , buat apa berkorban sapi jika ngga mau berkorban dalam kehidupan sehari-hari. Ngantri misalnya, kan berkorban waktu dengan menghargai  orang lain datang  yang lebih dulu. Juga berkurban lainnya seperti ngga saling nyrobot di jalan raya. Hasil akhirnya menyenangkan , tapi harus ada pengorbanan dulu dari setiap orang”.

 “Ah, aku ingat pernah membaca di Kompasiana tentang perilaku commuter yang enggan memberikan tempat duduk pada perempuan tua dan perempuan hamil. Cewek yang masih muda dan sehat malah main ponsel. Walau  kupikir laki-laki muda juga banyak”.
“Iya, berkorban seperti itu yang seharusnya kita lakukan. Memotong hewan korban bagi yang mampu memang sesuai syariat agama, tapi yang terpenting  implementasi berkurban dalam tindak tanduk kita sehari-hari”.
“Lha, kamu kok jadi pinter, Dis?”
“Hehehe, itu bukan hasil pemikiranku kok. Itu murni penjelasan ustazku di pengajian, dr Tauhid Nur Azhar”.

Oalah Adisa, hampir kutimpuk dia yang malah tertawa cengengesan. Tapi siapapun pemberi penjelasan esensi berkorban, aku harus mengakui bahwa berkorban di era millennium ini harus ada pendalaman arti. Agar tidak dihakimi masa seperti kasus Florence Sihombing yang  memaki-maki Jogjakarta hanya gara-gara antrian di SPBU.

Tiba-tiba aku ingat sesuatu.
“Dis, sebetulnya ada pengorbanan yang lebih nyata. Bahkan udah kamu lakoni, ngga minum dari gelas plastik misalnya. Trus bawa tumbler sebagai konsekuensi. Juga bawa wadah untuk beli makanan matang. Aku udah lama pingin menolak barang sekali pakai, tapi dilematisnya di kondangan yang hanya ada alas makan styrofoam. Mau makan, kok nyampah. Ngga makan kok kelihatannya makanannya enak banget”.
“Tergantung tempatnya. Aku sering pinjam gelas atau piring kaca jika acaranya di rumah. Kalo perlu cuci piring sendiri sesudahnya biar nggak ngerepotin”. Jawab Adisa sambil memasukkan taoge yang sudah disiangi ke dalam wadah kedap udara, dan memasukkannya ke lemari es.

Hmmm …… benar juga dia. Lumayan ternyata hasil berguru Adisa dari pengajian ke pengajian. Lebih lumayan lagi karena sepulang dari pengajian Adisa kerap membawa oleh-oleh kue  yang kusuka.
Tanpa sadar aku tersenyum,  ……… ah indahnya persahabatan. Ada satu lagi pertanyaan yang sangat ingin kutanyakan pada Adisa yaitu tentang gerakan massif suatu kelompok untuk mengislamkan. Mereka bertekad satu hari harus berhasil mengislamkan 4 orang. Tapi nampaknya pertanyaan ini harus kusimpan karena adzan memanggil Adisa untuk menunaikan salat Magrib.




Sumber : kompasiana.com

sumber gambar : disini dan disini 

Comments

Popular posts from this blog

Dewi Kentring Manik, Dewi Cantik Jelita Pelindung Kota Bandung

The Third Charm, Akhir Yang Membuat Penonton Marah

Bagaimana jika tokoh utama yang ganteng bukan main menjalin kasih dengan second lead, gadis cantik, imut dan menggemaskan? Ternyata penonton memilih agar keduanya happy ending. Sementara tokoh perempuan di maki-maki karena dianggap meninggalkan kekasihnya.
Mungkin itu yang menjadi penyebab ending drama Korea “The Third Charm” dibiarkan cukup terbuka. Penonton boleh berkhayal semaunya. Apakah cukup sahabatan atau menikah?
Tokoh utama pria, Seo Kang-Joon dan tokohperempuan, Esom yang membuat saya kepincut untuk menonton drakor ini. Seo Kang-Joon, rupanya dianggap sukses dalam setiap perannya sehingga tahun 2018, saya menonton 2 dramanya. Marema ya?
Sedangkan Esom, saya jatuh cinta pada sosoknya di Because This Is My First Life. Berperan sebagai sahabat tokoh utama, Esom keren banget. Hihihi tentu saja yang dimaksud keren adalah postur tubuhnyayang tinggi dan penuh. Seksi, tanpa harus berbaju pendek. Bahkan balutan kostum hitam atau putih yang dikenakan, bikin Essom nampak berkelas. Sebetul…

100 Days My Prince; Janji Setia Seorang Pangeran Cilik

“Aku menyukaimu” “Aku akan mengawinimu” Kata seorang anak laki-laki pada gebetannya, Yoon Yi-Seo,  perempuan cilik yang periang, cantik dan pemberani.
Sekian puluh tahun berlalu, Lee Yool, nama anak laki-laki tersebut, rupanya selalu  berpegang teguh pada janjinya dan Yi Seo pun selalu mengingatnya.
Mengambil  genre sageuk fusion alias kisah dengan setting masa lalu yang dimodifikasi (fiksi, bukan berdasarkan sejarah sebenarnya), drama Korea “100 Days My Prince”  sebetulnya ngga terlalu spesial. Khususnya jika dibandingkan dengan drakor bergenre serupa.
Pemeran utama mengalami lupa ingatan. Ide klise yang telah digunakan sejak “Meteor Garden”nya drama Taiwan. Kemudian diramu dengan kehidupan sang pangeran sebagai rakyat jelata selama 100 hari.
Yang menjadi pembeda adalah aktor dan aktrisnya yang sedang naik daun. Sang pangeran Lee Yool diperankan D.O. personil EXO, sedangkan Yoon Yi-Seo atau Hong Shim diperankan aktris cantik Nam Ji-Hyun.
Apabila Anda mencari tontonan yang menghibur, “100 Da…

Nostalgia 7 Majalah Favorit

Punya majalah favorit?
Maksudnya tentu majalah cetak. Skip majalah Bobo ya? Selain karena udah kelamaan eranya, juga ngga ada saingan. Sementara 7 majalah favorit yang terpilih karena target segmen serta  ragam topik  yang disajikan.
Tentu  beberapa majalah sudah almarhum alias rest in print. Huhuhu sedih, padahal walau udah ngga berlangganan, sesekali saya masih suka beli. Rasanya lebih nyaman membaca versi cetak dibanding online-nya. Mata ngga capek. Ketika  lelah, si majalah bisa menjadi penutup wajah, pengantar tidur. Coba deh membaca via   ponsel atau tab, kan ngga bisa untuk penutup wajah.  :D  :D
Oke langsung aja kita ngobrolin  majalah favorit yang dimaksud. Ini dia:
Majalah Horison
Awalnya saya membaca majalah Horison karena terpaksa. Sebagai anak ABG yang gemar melahap habis semua bacaan, saya kehabisan buku serta majalah, eh ada majalah isinya cerpen, baca ah ..... Ternyata, ... bahkan hingga kini, saya masih sering mengulang paragraf demi paragraf artikel/cerpen/puisi  yang dimu…

Bukit Batu, Destinasi Mistis di Palangka Raya yang Wajib Dikunjungi

“Indonesia ngga cuma Jabar, mbak” Untuk sekian kalinya Gilang meledek. Kalimat ledekannya diberi penekanan emoji. Dan untuk kesekian kali pula, saya hanya bisa menimpali dengan emoji tertawa lebar. “Kesini mbak, ke Palangka Raya. Jangan kaya katak dalam tempurung. Nanti kita kulineran sampai kenyang”.
Seperti itulah Gilang. Sangat baik hati. Kami bisa ngobrol berjam-jam untuk membahas banyak topik. Mulai dari harga telur yang naik turun hingga gonjang ganjing pilpres dan pileg. Dan semua kami lakukan via dunia maya. Dunia maya yang membantu kami berkenalan dan bersahabat hingga kini.
Profesi blogger dan minat pada photography menautkan kami sejak tahun 2011. Sangat erat, walau selisih usia terpaut jauh. Awal berkenalan, saya sudah menjadi ibu rumah tangga 4 anak, sedangkan Gilang masih gadis yang bebas berpetualang mencari ide memotret.
Hanya sekali kami bertemu. di acara blogger gathering tahun 2012. Sesudah itu Gilang pindah dari Jogja ke Palangka Raya, bertemu dengan sangpujaan hati kemu…

5 Situs Download Gratis Drama Korea yang Recommended Banget

Suatupagi perbincanganWA Grup Komunitas Memasak yang biasanya riuh dengan berbagi resep makanan, tiba-tiba berubah menjadi: “Download aja teh, ngirit kuota” “Wah saya belum nonton ... . Bikin penasaran!”
Ya, kami sedang bergunjing mengenai drama Korea. Drama Korea apa saja yang bagus, yang belum ditonton dan yang penting ini nih: situs yang direkomendasikan untuk men-download drama Korea bersubtitle Indonesia. Tujuannya tentu saja untuk ngirit kuota. Emak-emak dimana saja umumnya sama: pingin hemat!:D :D
Kala itu, semua cara menonton drama Korea sudah saya coba, hanya mengunduh yang belum.Tentunya jadi penasaran. Selalu ada sesi yang jengkelin ketika menonton drakor . Menonton via player DVD misalnya, banyak keping DVD yang tidak berjalan mulus. Katanya sih proses burningnya yang bermasalah.Tapi pan jadi riweuh,saya harus bolak balik. Menonton via DVDberarti juga nyampah. Usai menonton, kepingan DVD ngga tau harus diapain. Ada usul?
Cara berikutnya melaluisaluran berbayar. Apesnya harus sta…

Ngemil Syantikkk Ala Syahrini Bareng Nenasz Cookies

Syantik. Kata itu dipopulerkan Syahrini bersama sejumlah kata lain seperti cetar, sesuatu,  bulu mata badai,  jambul khatulistiwa dan kata-kata nyleneh lainnya.  Sosok lain yang gemar membuat kata-kata ajaib adalah Viki Prasetyo dan Cinta Laura. Kreator kata yang menjadi kesatuan dengan branding mereka.
Andai mereka berkampanye ... Maksudnya bukan kampanye pilpres atau  kampanye  pileg,  namun kampanye untuk kemaslahatan seperti diversifikasi pangan. Lahan yang belum banyak disentuh. Jangankan selebriti, nampaknya para pejabat juga “pelit” bicara tentang diversifikasi pangan.
Ketinggian miimpinya ya? Gubrak deh .... :D Gini  kisahnya. Berawal rencana membuat tulisan personal branding ala Syahrini part 2, ngga sengaja saya lihat iklan cookies yang dibintangi Syahrini. Langsung deh kepikiran: “Ah, andai Syahrini jadi model iklan cookies non tepung terigu. Bakal sukses deh program diversifikasi pangan kita”
Baca juga: Pingin Personal Branding ala Syahrini? Begini Caranya!Julia Perez; Don’t Judg…