Pak SBY, Terimakasih Karena Telah Menjadi Panutan Keluarga Indonesia

14090382871876725724


Agustus 2014, cobalah mengetik nama Ani Yudhoyono pada Google Images, maka taraaaaaa…… sederet wajah ibu Negara Republik Indonesia yang cantik jelita muncul dengan senyum manisnya. Kebanyakan foto menampilkan ibu Ani berdampingan dengan bapak SBY dalam berbagai peristiwa, mengenakan berbagai busana dannnnnn tampak kamera lengkap dengan lensa besarnya di samping depan tempat duduk ibu Ani.

Rupanya ibu Ani tertarik menekuni fotografi. Mungkin sebagai Ibu Negara, beliau melihat tidak setiap orang memiliki keberuntungan mendapat sudut pandang yang bagus untuk mengabadikan objek. Tentu saja, tidak hanya sudut pandang bagus yang diperlukan tetapi juga alat fotografi dan ilmu serta wawasan yang menunjang. Untuk itu diperlukan jam terbang agar mampu memadukan ilmu, perangkat dan kondisi sebenarnya. Hingga akhirnya mahir menentukan presisi, pengaturan cahaya, penyetelan fitur kamera dan memperoleh hasil yang diharapkan. Tidak heran jika Ibu Ani tampak selalu membawa kamera disetiap kesempatan yang memungkinkan, karena untuk memperoleh hasil foto yang membuat decak kagum bukanlah hasil proses simsalabim.

Bapak SBY rupanya memahami hal tersebut, beliau mendukung minat istrinya, ibu Ani mendapat keleluasaan mengembangkan talentanya hingga menerbitkan buku “The Colour of Harmony”. Beberapa karya ibu Anipun berkesempatan mengikuti pameran. Tentunya bukan hasil karya sembarangan yang bisa dibukukan dan dipamerkan ke publik.

Toleransi, perhatian dan penghargaan pak SBY pada istrinya merupakan contoh teladan bagi keluarga Indonesia. Betapa seorang suami yang kebetulan menjabat sebagai presiden dan hidup dalam kultur paternalistik mampu mengalahkan egonya. Pak SBY tidak merasa terganggu oleh aktivitas istrinya yang berbeda, karena alih-alih duduk manis, jaim (jaga image), manut, tersenyum dan menyapa bak permaisuri yang seolah sulit disentuh. Ibu Ani justru asyik mengamati objek dari balik lensa. 

Selama ini penghalang utama kemajuan perempuan Indonesia adalah kesempatan untuk mengaktualisasi diri. Mereka tidak mendapat peluang yang sama dengan kaum pria. Hambatan terbesar umumnya berasal suami. Mereka dituntut menjadi konco wingking (teman belakang) dan mengikuti adagium :”swargo manut, neroko katut” (surga ikut, neraka terbawa).

 Padahal jika seorang istri dihargai, dia akan menghargai suami dan keluarganya. Hatinya senang/bahagia karena menjadi pribadi utuh. Bukan sekedar ‘bagian’ yang harus patuh tapi juga subjek yang mampu mengutarakan pendapat. Mampu mengucapkan tidak. Mampu menjadi leader ketika posisi kepala keluarga goyah. Bisa dibayangkan jika kaum perempuan Indonesia memiliki kesempatan yang sama seperti Ibu Ani. Maka Indonesia akan dipenuhi berbagai karya mulai karya ilmiah, karya seni hingga karya kreatif tak terduga berasal dari jari jemari perempuan Indonesia.

“Jika ibu wajahnya selalu memancarkan keceriaan,
seluruh rumah tangga berbahagia, tetapi jika
wajahnya cemberut,semuanya akan
kelihatan suram” (Manavadharmasastra, III.62.)
 
Perempuan bahagia menjalankan fungsinya sebagai pengelola keluarga dengan penuh percaya diri. Dia akan mendidik anaknya hingga menjadi insan yang kompeten. Dia akan sekuat tenaga memenuhi kebutuhan 1.000 hari (masa emas) pertama anaknya. Dia akan menyusui dengan bersenandung. Menyuci dan membersihkan rumah dengan gembira. Memasak dengan penuh cinta karena yakin bahwa yang dimasaknya menyehatkan dan membahagiakan keluarga. Berdandan agar anak-anak dan suami merasa bangga pada ibu/istri yang berbinar-binar bahagia. Dan itu semua tidak terukur dari banyaknya jumlah rupiah yang dibawa suami atau nilai rapor sang anak. Bahagia merupakan sesuatu tak ternilai karena berasal dari dalam hati.
 
Keluarga adalah partikel terkecil dalam suatu Negara. Terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak sebagai sentral. Anak anak yang dilahirkan dari keluarga yang memperhatikan pendidikan dan kebutuhan jasmani dan rohaninya merupakan output berkualitas bagi sekolah formal yang akan mendidiknya selama sekitar 20-30 jam dalam seminggu. Kecerdasan intelegensi, spiritual maupun emosi seorang anak harusnya merupakan tanggung jawab ibu dan ayah, sementara sekolah merupakan proses lanjutan yang harus ditempuh anak.

Sebagai ilustrasi, seorang pengrajin kain sutera yang mahir akan kesulitan menenun ketika mendapati bahan baku benang suteranya berkualitas buruk dan rapuh tapi berikan dia benang sutera kualitas nomor satu maka dalam waktu sekejap akan dihasilkan kain sutera bermutu tinggi.


Demikian juga dengan pendidikan, walau suatu sekolah memiliki gedung mewah, fasilitas lengkap, guru-guru terakreditasi, tapi jika murid yang dididiknya tidak dibekali kecerdasan intelegensi, spiritual dan emosi yang mumpuni dari rumah, maka guru sehebat apapun dan peralatan sekolah secanggih apapun akan kesulitan memberi pendidikan yang berkualitas.

Walau tanpa kalimat promosi, keluarga pak SBY menunjukkan teladan panutan. Bagaimana istri menghargai talenta suaminya mencipta lagu dan suami menghargai minat istrinya di bidang fotografi. Serta bagaimana sikap refleks seorang ibu yang melindungi keluarganya ketika ada yang mencela. Mungkin banyak yang nyinyir ketika ibu Ani bersikap reaktif atas komentar follower Instagramnya, mengenai baju batik yang digunakan keluarganya. Atau tentang Ibas si bungsu yang menyukai baju panjang dalam aktivitas sehari-hari. Banyak yang berpendapat bahwa Ibu Ani tidak siap silang pendapat di media sosial, tanpa mau mempedulikan bahwa secara naluriah seorang perempuan akan melindungi keluarganya. Hal yang sangat wajar, justru tak wajar jika dia tidak peduli keluarganya menjadi bahan gunjingan.

Penghargaan penuh juga harus kita berikan pada Bapak SBY yang mengizinkan istrinya mengunggah hasil foto ke Instagram dan berinteraksi dengan pengguna lainnya. Karena masih banyak kaum pria yang tidak menyukai istrinya masuk ke rimba belantara media sosial. Penyebabnya banyak, mulai ketakutan CLBK (cinta lama bersemi kembali), ketakutan sang istri melupakan tugas utamanya mengelola rumah tangga, ketakutan istrinya selingkuh, ketakutan istri di - bully hingga sikap superior suami yang merasa istri adalah ‘milik’nya. Dalam kasus ibu Ani, kemungkinan gangguan akan lebih besar lagi mengingat kedudukannya sebagai Ibu Negara, terlebih pelecehan oleh akun-akun tak dikenal. Tapi nampaknya bapak SBY sangat mempercayai istrinya sanggup mengatasi setiap masalah.

Kepercayaan terkadang begitu mahal harganya dan menjadi faktor penentu seorang suami memperbolehkan istrinya aktif di media sosial. Media sosial memang bak dua mata uang, bisa berpengaruh buruk tapi bisa sangat bermanfaat. Dalam hal ibu Ani sebagai Ibu Negara, media sosial mendekatkan kehidupan keluarga Kepala Negara dengan rakyatnya sehingga menjadi tak berjarak. 

Dulu, mungkin masyarakat tidak mengenal dengan jelas siapa saja putra/putri Bung Karno, Bapak Suharto, Bapak BJ Habibie, Gus Dur dan Ibu Mega. Jangankan keseharian mereka, nama, wajah serta sudah menikah atau belumpun sering luput dari perhatian masyarakat. Pengetahuan tentang mereka hanya didapat dari media mainstream. Terkadang hanya sebatas foto bersama. Sehingga membingungkan, mana wajah anak presiden dan mana menantu presiden. Umumnya pembaca hanya menebak-nebak gambar. 

Beruntung rakyat Indonesia memilikii Ibu Negara yang rajin mengunggah foto-foto di Instagram melalui akun @aniyudhoyono, rakyat bisa melihat aktivitas sehari-hari keluarga Presiden SBY. Mulai dari foto Ibu Ani memasak, bercanda dengan cucu, menyaksikan tarian/seni daerah setempat, ikut terpukau melihat atraksi hingga nasehat-nasehat seorang Ibu yang menyertai foto anak menantunya.

14090384861898360021


Apa pesan yang tersirat dari foto-foto dan caption-nya? Saling menyayangi, saling memperhatikan, kebersamaan yang berujung pada Ketahanan Keluarga. Ya, berbekal ketahanan keluarga setiap bagian dari keluarga dapat bermanfaat minimal untuk dirinya sendiri. Tidak terlibat tawuran, seks bebas, mengisap narkoba dan penyakit sosial lainnya. Karena ketika anggota keluarga mendapat masalah, dia akan berpaling pada keluarga, bukan pada teman atau sahabat. Sehingga solusi yang terbaiklah yang didapat, bukan solusi berujung masalah. Banyak kasus ketika anak terjebak pergaulan bebas dan hamil, mereka mencari teman untuk mendapatkan solusi. Solusi akhir yang bisa berujung petaka, contohnya aborsi illegal. Tetapi jika anak tersebut berpaling ke orang tuanya, semua kesalahan akan dimaafkan dan solusi terbaik ditemukan.

Salah contoh ketahanan keluarga dibuktikan Ronny Pattinasarani, pemain sepak bola yang menjadi pelatih timnas. Ketika mengetahui anaknya kecanduan narkoba hingga menjual harta benda ayah ibunya, Ronny menemani kedua anaknya dengan sabar. Bersama-sama dengan mereka, Ronny mencari dan membeli narkoba ke bandarnya. Hingga akhirnya kedua anak sadar, meninggalkan dunia penuh kegelapan dan membeli cincin pernikahan bagi kedua orang tua sebagai ganti cincin yang dijual untuk membeli narkoba.

Beruntung keluarga Bapak SBY tidak mengalami kisah setragis Ronny. Sebagai Kepala Negara, keluarga Bapak SBY memberikan teladan bagaimana ketahanan keluarga terwujud, contohnya melalui foto Airlangga yang diunggah Ibu Ani.

1409038703175224180
Doa Ibu Ani Yudhoyono untuk Airlangga (dok Ani Yudhoyono/Instagram)

Ibu Ani memberi caption bahwa Airlangga bercita-cita jika kelak besar akan seperti pepo, atau kakeknya. Karena jangankan Airlangga, cucu presiden. Setiap anak di duniapun ingin menjadi presiden. Dan cita-cita tinggi akan berdampak pada attitude yang baik, pada kerja keras meraih impian. Dan ibu yang baik akan membekali anak-anaknya dengan pengetahuan, spiritual dan pendidikan emosi untuk meraih impian. Semua berawal dari keluarga.
 
Karena rumah adalah sel terkecil dalam Negara. Sel sel keluarga tersebut berkelompok dalam rukun tetangga (RT), sel-sel dalam RT membentuk RW, kemudian membentuk desa, kemudian dalam bentuk kecamatan, semakin besar ke bentuk kota/kabupaten hingga akhirnya membentuk jaringan besar bernama Negara. Jika sel dalam jaringan kuat karena terbentuk dari ketahanan keluarga yang solid dan harmonis maka beragam masalah sosial akan terminimalisir.

Setiap bagian keluarga (bapak, ibu, anak) akan pamit jika pergi. Setiap hari, mereka akan bercerita dalam kehangatan makan malam. Mereka tidak memerlukan pengakuan dari luar hingga terperosok iming-iming narkoba, NII atau tawuran. Mereka bisa melampiaskan amarah dengan bijaksana. Mereka bisa sedih dan tertawa sewajarnya. Mereka boleh selfie dan mengunggah semua kreativitas di media sosial dengan dukungan penuh keluarga.

Karena itu sungguh salah jika perbaikan moral bangsa harus dimulai dengan memberi pelajaran agama sebanyak mungkin. Ilmu agama seperti halnya perangkat lainnya akan baik jika penggunanya siap fisik dan psikis. Bukankah anak remaja yang terjebak rayuan NII dimulai dari pencarian anak dalam kebenaran agama dan lemahnya ketahanan keluarga? Jika situasinya berbalik, anak yang berasal dari ketahanan keluarga yang solid akan senantiasa berkomunikasi dengan keluarga ketika mengalami banyak hal dalam pencarian makna agama. Dia akan mengetahui sinyal yang tidak wajar. Bahkan kemarahan orangtua dan saudara kandungpun merupakan tanda rasa sayang dan perhatian karena tidak menghendaki bagian keluarganya tergelincir dan melakukan kesalahan.

Bulan Oktober menjelang, kepemimpinan berganti. Di layar kaca, wajah Bapak SBY yang mulai letih akan berganti dengan wajah Bapak Jokowi yang masih penuh semangat. Sedangkan wajah Ibu Ani yang cantik akan diganti dengan wajah Ibu Iriana yang manis. Rakyat akan kehilangan foto-foto bagus yang diambil ketika Ibu Ani duduk di podium kehormatan karena Ibu Iriana rupanya tidak menyukai kegiatan fotografi. Tetapi aktivitas lain menanti dan dengan talenta yang dimiliki Ibu Ani, minatnya pada fotografi justru akan berkembang. Sehingga rakyat tetap dapat menikmati angle-angle indah dan pesan bijak dari Ibu Ani Yudhoyono.

Terimakasih Ibu Ani karena sudah berbagi, semoga dengan keleluasaan waktu, ibu bisa semakin intens berbagi foto dan berkomunikasi dengan kami.

Terimakasih Bapak SBY karena memberikan ruang gerak pada Ibu Ani untuk menekuni minat dan talentanya. Betapa kami terharu ketika Bapak tidak merestui Ibu masuk ke gelanggang pencapresan 2014. Karena Bapaklah yang paling memahami Ibu dan keluarga. Terimakasih Bapak SBY karena telah memberikan keteladanan ketahanan keluarga sebagai soko guru pendidikan. Meski tanpa pidato berapi-api, bahkan tanpa kata, tapi sungguh mengena. Semoga bapak SBY sekeluarga senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Barakallah fi umrik.

sumber foto :
Instagram @aniyudhoyono

Comments