Aku, Pemulung Tanpa Nama


1357873442911785467
dok. MariaG. Soemitro

Sebetulnya namaku Usep, hanya Usep yang kuingat. Karena setelah mengelana, meninggalkan kampung halaman, nama menjadi tidak penting buatku. Tanpa kartu tanda penduduk , tanpa rumah tetap, tanpa pekerjaan menjanjikan, aku bak sesosok mahluk hidup tanpa identitas.

‘Mang, jangan ngacak-ngacak sampah atuh”, gertak seorang ibu dengan suara garang. Kali berikutnya ibu yang lain memanggilku: “Mang, dieu mang. Loba sampah plastik yeuh”. (Bhs. Sunda: Mang, kesini mang. Banyak sampah plastik nih)


Ya, aku memang pemulung, suatu profesi yang mengharuskanku mengaduk-aduk sampah untuk mencari barang yang yang bisa dijual ke pengepul. Tapi namaku bukan ‘Mang’, juga bukan ‘Siamang’, aku yakin namaku Usep, seperti sering diteriakkan ibuku ketika marah: ”Usepppppppppppppppppp !!!”, nah namaku Usep bukan? Karena ketika hatinya sedang senang , ibu hanya memanggil “Sep, makan Sep”. atau “Sep, tulungan ibu”. (Bhs. Sunda: tulungan = tolong). Dia melupakan ada huruf U di depan kata sep.

Sesudah ibu meninggal, namaku makin pudar dalam ingatan banyak orang. Aku bukan siapa-siapa di kampung, bukan orang kaya yang mampu menderum-derumkan sepeda motor barunya dengan keras ketika pulang kampung. Bukan pula orang yang mampu mendermakan uang cukup banyak bagi masjid dan kerabat. Mereka tahu, uang yang kubawa nyaris terlampau sedikit untuk anak istri.
Tapi itu dulu ketika aku masih menjadi kenek tukang bangunan dan terkadang pulang kampung. Seiring makin sedikitnya proyek bangunan, aku tersingkir. Tanpa kemampuan apa-apa. Anakku terkecil dibawa ibunya sedangkan si sulung bersamaku sekarang.

 Kami tinggal dalam bedeng darurat di belakang sebuah perumahan. Bersebelahan dengan saluran pembuangan air. Kata teman-temanku, kami aman. Ini tanah negara dan tibum (Satpol PP) enggan mengusir kami karena toh tidak nampak dari jalan umum.

Teman-temankupun memanggil “Mang” atau “Kang”. Tak ada nama disini, kalaupun ada, apa bedanya? Kami tak mengenal KTP, tak mengenal kartu keluarga, apalagi kartu berobat untuk orang tak mampu. Bahkan si Darwin, anak sulungku berubah namanya menjadi “Ujang”, nama panggilan anak laki-laki Sunda.

Si Ujang, eh si Darwin akhirnya berprofesi sama denganku: memulung. Umurnya baru 12 tahun. Tapi aku tak mampu menyekolahkannya. Walaupun katanya sekolah gratis, tapi aku tidak punya uang untuk membeli baju dan seragam. Pasti mahal dan tak terbeli, katanya beratus-ratus ribu rupiah sedangkan penghasilanku dan si Darwin hanya Rp 30.000 per hari. Hanya cukup untuk makan dan minum air putih. Hampir tidak bersisa untuk berobat apalagi untuk biaya sekolah si Darwin. Si Darwin juga tidak punya akte lahir, KTP orang tua, padahal katanya orang harus punya itu kalau mau sekolah.


Mata Darwin kerap berbinar ketika di gundukan sampah menemukan apel atau potongan ayam goreng yang aku tahu berasal dari restoran bergambar orang bule berpakaian kolonel berwarna merah. Kok kolonel berbaju merah ya? Tapi ah apa peduliku? Aku hanya bisa tersenyum melihat Darwin menggosokkan temuannya ke baju untuk menghilangkan kotoran yang menempel kemudian makan dengan lahap.

Hari ini Darwin tergolek sakit. Badannya panas. Aku sudah memberinya obat cacing kalung yang katanya mujarab. Harganya rp 2.000 seplastik kecil. Ibu penjual mie instan rebus yang bercerita bahwa obat itu bisa mengobati semua sakit, mulai panas biasa hingga demam berdarah dan tipus. Apakah penyakit anakku demam berdarah atau tipus? Entahlah, teman-temanku hanya mengatakan bahwa air hujan yang kerap membuat melimpahnya isi got di depan bedeng kami adalah penyebabnya. Selokan air itu biasanya penuh oleh sampah, sampah yang tidak bisa kami jual karena kebanyakan styrofoam dan keresek. Sedangkan lapak penerima hasil keringat kami tidak menerima keresek apalagi styrofoam. Seorang teman yang baru memulung pernah ditertawakan ketika membawa hasil berupa styrofoam yang besar-besar. Mungkin dipikirnya laku dijual karena berwarna putih kinclong. Hingga kantung besarnya penuh. Ah ternyataaaaaa………, keciannya kamuh :P

 Senja hampir menutup matahari yang tersisa, hasilku memulung hari ini belumlah banyak. Karena aku berangkat sesudah sinar matahari bersinar terik. Sesudah merawat si Darwin yang muntah-muntah. Badannya panas tapi dia kedinginan. Entah berapa lapis baju yang kupakai untuk menyelimutinya. Baju rombeng yang mulai berlubang, tapi cukup hangat.

1357874003712942225

 Kurengkuh karung plastik berisi berbagai plastik dan kertas, hanya sepertiga terisi. Mungkin karena semakin banyak orang memulung, semakin banyak saingan. Kuperkirakan hanya sepuluh ribu rupiah yang bisa kudapat hari ini. Ah, bisakah uang sepuluh ribu menyenangkan Darwin? Membelikannya bubur ayam kesukaannya dan obat cacing kalung lagi?

Semoga bisa, semoga cukup. Untuk perutku yang berteriak karena belum diisi sejak dini hari tadi, cukuplah semangkuk mie instan.  Akupun berbalik arah dan pulang, meninggalkan matahari tenggelam dibelakangku.

**Maria G. Soemitro**

13578741231421587330

Comments